PEEK A BOO

PEEK A BOO
SIDANG II



Sidang segera dimulai setelah hakim memasuki ruangan dan membacakan agenda sidang kali ini. Setelah hakim mengetok palu tiga kali, sidang pun dimulai dan meminta terdakwa untuk memasuki ruang sidang. Bersama pengacaranya, Pradigta memasuki ruangan. Semua orang yang hadir menatap kedatangannya. Tak terkecuali Satria dan ketua tim yang sudah berbaur di tengah para hadirin. Tetapi Pradigta tak perduli dengan semua mata yang manatapnya. Pandangannya hanya tertuju pada Emma yang fokus membaca jurnal di handphonenya. Diam – diam bibirnya tersenyum saat melihatnya.


Setelah Pradigta duduk, hakim segera meminta penuntut umum untuk membacakan dakwaan kepada terdakwa. Pradigta mengatakan keberatannya terhadap dakwaan yang diberikan padanya. Melihat itu, hakim mengijinkan penuntut umum untuk memanggil saksi. Emma pun segera berdiri dan menuju kursi saksi saat namanya dipanggil. Dalam kesaksiannya, dia mengatakan bahwa memang benar dia melihat wajah pelaku. Dia juga menjelaskan apa yang dilihatnya saat itu. Para hadirin yang mendengar kesaksiannya langsung riuh. Mereka terkejut mengetahui bahwa anak itu sudah menyaksikan orang tuanya tewas dengan cara yang kejam. Mereka semua merasa prihatin dan mengasihaninya karena harus melewati neraka seperti itu diusia mudanya. Tapi Satria yang masih diam menatap punggung Emma, tak bisa memungkiri bahwa anak itu memang benar – benar aneh. ‘nggak ada orang yang nggak bergetar jika harus menceritakan hal semacam itu’. Pikiran semacam itu semakin membuatnya yakin bahwa semua keluarga Jackson tidak ada yang beres. Penuntut umum kembali menanyakan apakah dia benar – benar melihat wajah terdakwa saat itu. Sejenak menatap lagit – langit, Emma mencoba mengingat lebih detail tentang apa yang dilihatnya waktu itu. Dengan percaya diri, Emma menjelaskan bahwa dia tak bisa melihatnya dengan jelas karena darah yang mengotori wajah pelaku. Tetapi dia ingat dengan mata pelaku yang menatapnya cukup lama sebelum dia berhasil melarikan diri. Setelah mendengar penjelasan Emma, penuntut umum mengeluarkan kantong plastik dengan pisau di dalamnya. Pisau itu berwarna perak, dengan noda darah yang sudah mengering di setiap bagiannya.


Penuntut umum menanyakan tentang pisau itu pada Emma. Dia bertanya apakah memang benar pisau itu yang digunakan pelaku saat itu. Dia juga menunjukkan gambar sidik jari pada layar. Sidik jari itu ditemukan pada gagang pisau, dan jelas menunjukkan bahwa itu adalah sidik jari tangan kanan. Emma mengiyakan pertanyaan penuntut umum. Dia yakin dengan penglihatan dan ingatannya. Dia mengatakan bahwa ada dua titik hitam di bagian pangkal gagang pisau itu. Dan benar saja, memang terdapat motif titik - titik hitam di gagangnya yang tertutup darah. Tanpa memeriksa ulang bukti yang ditunjukkan, hakim meminta penuntut umum untuk menunjukkan bukti lain jika ada.


“Tidak ada Yang Mulia!”


Penuntut umum menjawab pertanyaan hakim dengan suara yang percaya diri. Emma yang mendengar hal itu merasa terkejut dan menatap tajam kearah penuntut umum. Karena dia sangat tahu bahwa masih ada beberapa bukti yang belum ditunjukkannya. Sadar sedang ditatap, penuntut umum balik menatap dan tersenyum kecil kearah Emma. Melihat sikap semacam itu, membuatnya teringat dengan tokoh jahat di film yang pernah ditontonnya. Dan tiba – tiba bayangan kecelakaannya waktu itu muncul di kepalanya. ‘apa dia ada hubungannya dengan mereka yang menabrakku?’ mulai muncul sedikit kecurigaan dalam pikirannya.


Emma kembali duduk ditempatnya semula setelah dipersilahkan oleh hakim untuk kembali. Bersikap hati – hati, dia urungkan niatnya bertanya tentang bukti yang tak ditunjukkan dalam sidang oleh penuntut umum. Dia lebih memilih menghindari masalah dan menjalani hidupnya dengan tenang. Setelah penuntut umum menyelesaikan bagiannya, hakim mempersilahkan pengacara melakukan pembelaannya.


Pengacara langsung menyatakan keberatannya. Dia menolak semua bukti yang ditunjukkan penuntut umum tadi. Dia juga menjelaskan alibi Pradigta yang terdengar sangat logis di telinga semua orang yang hadir. Tapi itu belum cukup untuk menipu Satria dan ketua tim yang tahu kebenaran dibalik kasus ini. Pengacara dengan suaranya yang lantang mengatakan bahwa kliennya itu bekerja sebagai seorang ‘plumber’ yang bekerja untuk korban dan kehilangan pisaunya saat itu. Dia juga mengatakan bahwa Pradigta adalah pengguna tangan kiri. Dengan penuh percaya diri, dia mengatakan bahwa Pradigta orang kidal dan membuktikannya. Pengacara lalu memanggil seorang saksi dari pihaknya untuk membuktikan alibi Pradigta saat itu.


Dengan lancar, saksi yang dipanggilnya menceritakan kebohongan untuk membuktikan alibi Pradigta. Dia membenarkan tentang identitasnya sebagai seorang ‘plumber’ yang juga rekan satu timnya. Dia juga mengatakan bahwa dia juga ikut saat Pradigta pergi ke rumah korban dan mereka terus bersama sampai jam kerja mereka selesai. Sekali lagi, tanpa meninjau ulang bukti, hakim menerima penolakan pengacara. Dan meminta terdakwa untuk duduk di kursi pemeriksaan. Tapi pengacaranya langsung menolak dengan alasan kesehatan dan memberikan dokumen kesaksian terdakwa pada hakim. Dan lagi – lagi, hakim mengijinkannya tanpa syarat apapun setelah dia melihat isi dokumen yang diterimanya.


Dengan semua rangkaian sidang pembuktian sudah selesai, hakim meminta penuntut umum untuk mempersiapkan dokumen tuntutan yang akan dibahas jam dua siang nanti. Setelah mengetok palunya tiga kali, hakim memutuskan istirahat dan menunda sidang sampai jam dua siang nanti. Setelah menutup sidang pertama, hakim segera meninggalkan ruangan yang diikuti semua peserta sidang satu persatu.


“Hah... ini percuma. Kalau si Pradigta  memang tak akan dihukum, kenapa membuat kita melakukan kerja tambahan seperti ini?”


“Aku tak tahu apa Big Da...”


Hakim bersama penuntut umum memasuki kamar mandi. Penuntut umum dengan segera menghentikan ucapan hakim, khawatir ada orang lain yang mendengar. Dia mengatakan untuk lebih menjaga mulutnya jika tak ingin terkena masalah. Sadar dengan kecerobohannya, hakim segera tertawa dan mengalihkan pembicaraannya pada hal lain. Dan segera pergi setelah urusan mereka selesai disana.


“Emma, kau tahu.. ada yang tak beres dengan proses pengadilan ini”


“Kau tau, aku tadi dengar seseorang mengatakan hal yang aneh tentang ini”


Tanpa basa – basi, Rizwan segera menceritakan apa yang didengarnya tadi pada Emma. Melihat dia tak terkejut setelah mendengar ceritanya, Rizwan tahu bahwa anak itu juga mencurigai sesuatu. Sadar ada seorang lelaki duduk di bangku yang tak jauh dari tempat duduknya tadi, Rizwan segera menghentikan pembicaraan mereka dan mengajak Emma keluar mencari tempat lain untuk bicara.


“.. hah...”


Satria menghela nafas panjangnya, merasa frustasi mendengar pembicaraan antara Rizwan dan Emma. Dia merasa pekerjaanya akan bertambah nanti karena hal ini. Dengan perasaan jengkel, dia segera bangikit dari tempat duduknya dan menyusul Emma yang sudah lebih dulu pergi.


“Aku tak tahu”


Dengan senyum khasnya, Emma menjawab pertanyaan Rizwan setelah mereka kembali duduk di bangku taman yang mereka tempati tadi pagi. Dan untuk pertama kalinya, Rizwan merasa jengkel melihat Emma tersenyum. Emma sengaja tak memberitahukan kecurigaannya pada profesornya itu. Karena menurutnya, memberitahukan informasi yang tak berdasar hanya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk. Melihat Emma yang menutup mulut, Rizwan tahu bahwa dia tak bisa memaksanya berbicara.


“Akh!! Kau jelek!!”


“Iya.. kau memang jelek....”


Rizwan melampiaskan perasaan frustasinya pada Emma tetapi ditanggapinya dengan santai. Sedangkan Satria tertunduk menahan tawanya saat mendengar percakapan mereka dari jauh.