PEEK A BOO

PEEK A BOO
PERMINTAAN HIDUP BERSAMA



“Apa yang kau lakukan sendirian di sini?”


Dari belakang, Ares menyapa Emma yang tampak sedang berdiri sendirian di teras rumahnya. Hanya dengan mengenakan jaket rajutnya, gadis itu terlihat menikmati dinginnya angin dan langit malam yang cerah penuh bintang. Ares berjalan mendekat dan berdiri di samping gadis itu dan dengan santai melanjutkan pembicaraannya tanpa basa – basi. Dia mengatakan bahwa dia tahu tentang keadaan gadis itu yang harus mengonsumsi obat tidur dan tak bisa makan ataupun minum sesuka hati. Mendengar perkataan Ares, membuat Emma langsung mengalihkan pandangannya dan melihat Ares dengan penuh rasa ingin tahu.


“Apa si kembar yang mengatakan itu padamu?”


Emma penasaran karena dia hanya membicarakan hal itu kepada Vian dan Viona. Namun Ares menggeleng dan membalikkan tubuhnya hingga kini dia dan Emma saling berhadapan. Raut wajah Ares kini berubah serius, tetapi dari matanya jelas terlihat bahwa dia mengkhawatirkan sesuatu. Dan dengan penuh keyakinan, dia mengatakan hal yang mengejutkan siapapun yang mendengarnya.


“Ikut denganku dan kita akan tinggal bersama”


“Aku akan datangkan dokter terbaik untuk merawatmu”


Dengan menggenggam lembut kedua bahu Emma, Ares tampak bersungguh – sungguh dalam setiap ucapannya. Namun Emma hanya diam dan menatapnya tanpa bereaksi sedikitpun saat mendengar ajakan Ares. Semua kalimat itu membuatnya bingung karena sungguh tak ada alasan bagi Ares untuk berbuat sampai sejauh itu hanya untuk membantunya. Seakan mengerti kebingungan Emma dibalik sikap diamnya, Ares segera memutar otaknya untuk mencari alasan yang terdengar cukup masuk akal dan bisa diterima.


“Mungkin penyerangan itu akan terjadi lagi. Jadi berada di kota ini sudah bukan pilihan yang aman”


“Dan selagi kau di sana nanti, bukankah lebih baik untukmu juga melakukan perawatan?”


Melihat Emma yang tampak seperti meragukan alasannya, Ares lalu mengatakan dengan jujur bahwa dia sempat melihat Emma meminum obat tidur beberapa waktu lalu dan dia menyarankan gadis itu untuk melakukan konsultasi dengan dokter. Dia juga mengatakan bahwa kemungkinan hal itu terjadi karena trauma atas semua kejadian yang sudah dialaminya. Meskipun sudah mendengar penjelasan Ares yang cukup panjang, Emma tetap diam dan tak bergeming.


“Apa kau juga mengira aku sakit?! Kau mengira mentalku juga terganggu?!”


“Jangan bercanda!”


Dengan meninggikan suaranya, Emma berbicara serius sambil menatap mata Ares. Dadanya mulai terasa sakit, rasanya sangat menyesakkan saat mendengar perkataannya. Meskipun ini bukan pertama kali Emma mendengarnya, tapi kali ini terasa berbeda saat kalimat itu keluar dari mulut Ares.


Perkataan Emma terdengar seperti dia menyangkal perasaannya sendiri. Namun Ares tetap tak mau menyerah dan terus membujuk gadis itu untuk ikut bersamanya. Dia beranggapan bahwa jika dibiarkan, gadis itu akan berada dalam masalah besar dan dia tak bisa membiarkan hal itu sampai terjadi. Dia mulai memeras otaknya lagi dan mengatakan berbagai alasan bahkan dia sampai mengancam akan membakar rumah gadis itu jika dia tetap tak mau menurutinya. Namun Emma tetap tak bergeming mendengar ancaman klise semacam itu dan mempersilahkan Ares untuk melakukan apapun yang dia mau karena jika pria itu benar membakar rumahnya, dia hanya tinggal mencari rumah yang lain.


“ ... ”


“Kumohon ... ikutlah bersamaku ... .”


Merasa frustasi, Ares menggenggam lengan Emma dengan lebih kuat. Namun suaranya terdengar sangat pilu dan berat disaat bersamaan karena dia berusaha menahan rasa sedihnya saat teringat bagaimana menderitanya gadis itu dalam video yang dilihatnya. Dia hanya berharap bisa melakukan sesuatu untuknya meskipun itu hal kecil sekalipun.


 “Traktir aku makan saat dokter hebatmu itu berhasil”


Emma terpaksa menyetujui permintaan Ares karena dia merasa ada sesuatu yang kuat mendorongnya untuk tidak menolak pria itu. Rasanya seperti sedang berdiri sendirian di tengah hujan deras saat malam. Dingin dan terasa kosong saat melihat Ares memelas dengan suara yang tak lagi bertenaga. Terlihat sangat menyedihkan dan dia merasa tak ingin lebih lama melihatnya seperti itu.


Namun senyum Emma hanya bertahan beberapa detik, sebelum akhirnya dia merasakan sakit di bagian kepalanya. tak terlalu sakit, tapi rasanya hampir sama seperti sakit kepala yang sering dia alami setiap bulannya. Tetap saja hal itu membuat senyum kecilnya perlahan hilang dan dia mulai mengernyit, menahan rasa sakitnya. Namun Emma berusaha keras menahan sakit kepalanya dan sebisa mungkin tak menunjukkannya di depan Ares karena dia merasa kesal saat berfikir tawa pria itu akan hilang jika tahu tentang hal ini.


“Ah, kalau begitu ... “


“Aku permisi dulu ... .”


Dengan nafasnya yang mulai tersengal, Emma memutuskan untuk segera kembali ke kamarnya dan meminum obat tidur dengan dosis ganda karena menurutnya hal itu akan membantunya beristirahat lebih cepat dan menghilangkan rasa sakit kepalanya itu. Ares yang melihat Emma pergi, tetap tersenyum senang setelah mendengar jawaban Emma tanpa tahu apa yang dialami gadis itu tepat di depan matanya.


...


Karena obat tidurnya semalam, pagi ini Emma menjadi orang terakhir yang bangun meskipun sebelumnya Vian harus mengetuk pintu kamarnya beberapa kali. Dia bangun dengan tubuh yang terasa lebih ringan setelah rasa sakit di kepalanya sudah hilang tak berbekas. Dan seperti tak ada yang terjadi semalam, dia kembali tak merasakan apapun bahkan saat melihat Ares tersenyum menyapanya.


“Kudengar kau akan ikut mereka pulang hari ini?”


“Apa itu benar?”


Vian bertanya sambil menunjuk kearah Ares dan Satria saat Emma sudak duduk di dekatnya. Emma cukup terkejut mendengar pertanyaan Vian karena meskipun dia menyetujui permintaan Ares, pria itu tak pernah mengatakan bahwa dia akan kembali hari ini. Sontak Emma langsung menatap tajam Ares yang masih tersenyum tanpa rasa bersalah ke arahnya.


“Iya, aku ikut mereka kembali ke Jakarta Pusat”


“Tapi kenapa?!”


“Hm ... bisa dibilang dia memohon padaku sambil menangis”


“Apa?! Kau meninggalkan kami di sini hanya karena dia terlihat menyedihkan?!”


Vian tak percaya saat mendengar Emma meng-iyakan ucapan Ares padanya. Dia berbicara dengan meninggikan suaranya, berusaha untuk tidak terbawa emosi. Namun darahnya langsung mendidih saat mendengar alasan Emma setuju untuk ikut mereka pergi bahkan dia sampai hampir menggebrak meja di depannya.


“Aku tak pernah bilang akan pergi tanpa kalian”


Mendengar ucapan Emma, membuat emosi Vian seketika mereda dan wajahnya yang suram kembali cerah. Namun itu berbanding terbalik dengan reaksi Ares yang juga mendengar perkataan Emma. Dia terkejut bukan main saat mengetahui Emma akan mengajak dua bocah itu bersamanya.


“Ini balasanku karena kau tak bilang akan pergi hari ini”


Sejenak Emma menghentikan langkahnya saat menuju ke kamar mandi dan berdiri di samping Ares. Dia berbisik usil pada pria itu sebelum melanjutkan langkahnya. Mendengar hal itu, Ares langsung jengkel dibuatnya dan menatap Vian dengan kesal.