
Sidang putusan sudah berlangsung selama lima belas menit. Hakim membacakan hasil sidang sebelumnya dan mempersilahkan penuntut umum untuk membacakan tuntutan. Rizwan terlihat menahan emosinya karena dia tahu permainan yang mereka semua lakukan. Dia berharap bisa memasuki mimbar dan berteriak disana, memberi tahu semua orang tentang kelicikan mereka. Tapi dia sadar, bahwa dia sama sekali tak memiliki hak untuk itu.
“... dan kami menuntut hukuman penjara tiga tahun dan denda sebesar tiga ratus juta rupiah”
Penuntut umum pun mengakhiri pembacaan tuntutannya. Hakim kemudian mengizinkan terdakwa untuk melakukan pembelaan mereka. Namun pengacara menolak, karena menurutnya hal itu sudah tidak diperlukan lagi setelah pembuktian yang mereka lakukan. Setelah semua rangkaian selesai dilakukan, hakim melakukan pemeriksaan dokumen dan bersiap membacakan putusan.
Sementara itu, Pradigta tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari Emma. Dia ingin memandang anak itu sepuasnya, karena mungkin ini kali terakhir dia bisa melakukannya. ‘Aku akan membantumu dan mengurus sisanya. Tapi kau harus pergi. Kau harus menghilang dan menjauh dari semua ini. Aku jamin kau akan nyaman dengan hidup barumu nanti’. Kalimat itu kembali muncul di kepalanya. Mengingatkan dia tentang janjinya untuk segera pergi setelah semua ini berakhir. Dengan tenang dan seksama, Pradigta mendengarkan saat hakim membacakan putusan sidang meskipun matanya tetap fokus pada Emma. Tidak ada rasa senang ataupun terkejut bahkan saat hakim menyatakan dirinya tidak bersalah dan membebaskannya dari semua tuntutan. Dia sudah tahu bahwa dirinya akan bebas tanpa syarat. Tapi ada sedikit perasan kecewa. Dia berharap masih bisa terus melihat gadis itu meskipun harus dari jauh.
Sama seperti Pradigta, Emma juga tak begitu terkejut mendengar putusan hakim yang menyatakan Pradigta tak bersalah. Setidaknya dia sudah menduga bahwa hal ini mungkin akan terjadi mengingat bagaimana sikap penuntut umum dan bagaimana profesornya dengan heboh membicarakan percakapan yang didengarnya dikamar mandi. Tapi entah kenapa, perasaan aneh yang waktu itu kembali lagi. Setelah hakim membebaskan Pradigta dari semua tuntutan, Emma merasakan perutnya kembali berputar dan dadanya terasa sesak. Terasa berat sampai keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Rizwan sedikit terkejut melihat Emma yang merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Tanpa menunggu sidang ditutup, dia segera membawa Emma keluar dari ruang sidang. Berharap itu akan membuatnya lebih tenang. Namun tanpa mereka sadari, Pradigta terlihat cemas saat melihat Emma yang tiba – tiba meninggalkan ruang sidang.
Sudah lebih tenang, Rizwan membawanya ke tempat terbuka. Mereka kembali duduk di bangku taman, mencari angin segar. Rizwan bertanya apa yang terjadi tapi Emma tak bisa menjawabnya, karena dia sendiri juga tidak tahu kenapa tubuhnya menjadi seperti ini lagi. Melihat Emma yang tak merespon, refleks membuat Rizwan memeluknya.
Dia berusaha membuatnya lebih tenang, mencoba memberinya kekuatan. Meskipun dia harus menahan diri untuk tidak membicarakan tentang kecurigaannya.
Semakin sore, Rizwan membawa Emma kembali ke rumah sakit dan memastikan anak itu untuk berisirahat dengan nyaman di kamarnya. Untuk sementara, dia juga melarang anggota rumah sakit untuk mengunjunginya.
Semakin Emma mencoba beristirahat, tubuhnya terasa semakin lelah. Dia tak pernah merasa tubuhnya selelah sekarang, bahkan biasanya dia bisa tahan bertugas sampai tiga hari berturut – turut. Namun sekarang, bahkan dia terpaksa harus diinfus karena selalu memuntahkan makanannya. Dia sangat sulit untuk tidur. Sejak dia kembali sampai hampir pagi, dia masih belum bisa tidur. Seakan tubuhnya menolak semua perintahnya. Hari semakin siang, tapi Emma hanya duduk di sofa kamarnya. Menggeser – geser layar handphone, membaca setiap jurnal medis yang bisa ditemukannya. Kantung matanya yang menghitam sekarang semakin terlihat jelas. Dia sangat benci kondisinya sekarang. Dimana dia sama sekali tak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya.
Sedikit memaksakan diri, dengan membawa tiang infusnya, Emma pergi menuju ruang laboratorium. Disana, meminta petugas melakukan pemeriksaan darah lengkap. Setelah selesai, dia berpindah ke ruang radiologi. Disana dia juga minta mereka melakukan pemeriksaan lengkap. Setelah hasilnya sudah ditangan, dia tak menemukan adanya masalah pada tubuhnya. Hanya tersisa satu hal yang bisa dilakukannya. Dia hanya bisa bertanya pada orang yang dianggapnya lebih senior dalam hal ini yaitu Profesor Rizwan. Meskipun lelah dan nafasnya sudah terengah – engah, Emma tetap melanjutkan langkahnya menuju ruang Profesor Rizwan. Sudah hampir gila rasanya, dia sudah tak tahan dengan tubuhnya.
“Prof, apa ada yang salah selama operasiku kemarin?”
“Apa yang terjadi padamu!?”
Rizwan bertanya, heran melihat keadaan Emma yang sangat berbeda. Padahal hanya satu hari dia meninggalkannya. Tubuhnya terlihat kering dan matanya yang cekung, membuatnya terlihat sangat berbeda.
“Aku tak tahu lagi. Aku sudah melakukan pemeriksaan lengkap. Aku juga sudah mencarinya dibeberapa jurnal medis. Tapi tak ada yang menjelaskan kondisi semacam ini”
Walaupun dengan wajah datarnya, suara Emma tetap terdengar frustasi. Dia menyodorkan semua hasil pemeriksaannya. Tapi Rizwan hanya menghela nafas panjang dan memijit keningnya saat melihat semua laporan itu.
“Tidak semua hal bisa dijelaskan dengan buku dan data. Ada hal yang memang harus kau alami terlebih dahulu baru kau bisa tahu apa itu”
“Aku tahu sekarang kau sangat sedih dan merasa terpukul dengan semua yang terjadi. Tapi jangan siksa dirimu sampai seperti ini”
Rizwan memberikan nasihat pada Emma dengan tulus, dari hatinya. Dia merasa tak tega melihat muridnya sampai seperti ini. Tapi Emma tak paham dengan perkataan Rizwan. ‘tidak ada di buku?’ ‘dia bilang aku sedih? Aku terpukul?’ itu hal pertama yang muncul dipikirannya setelah mendengar perkataan Rizwan. Dia berfikir, bagaimana bisa dia merasakan semua itu padahal dia sendiri tak tahu apa dan bagaimana cara untuk sedih, terpukul, senang, ataupun marah. Dia tak pernah mengenal semua emosi yang selalu orang bicarakan itu. Tapi dia tak bisa mengatakan hal ini pada Rizwan atau siapapun. Dia tak mau tiba – tiba dianggap seperti orang gila karena hal ini. ‘Tubuhku, aku sendiri yang tahu’ Emma bergumam dalam hatinya, tak bisa menerima perkataan Rizwan.
“Sebaiknya kau bicarakan masalah sidang kemarin dengan pengacaramu dan cari solusinya”
“Mmm! Baiklah. Terimakasih prof”
Dengan senyumnya, Emma terlihat seakan menerima saran profesornya itu dan segera pergi, tak mau mendengar omong kosongnya lagi. Emma kembali ke kamarnya. Disana, dia terus mencari alasan logis tentang apa yang terjadi dengan tubuhnya. Tapi lagi – lagi dia menemui jalan buntu.’Mustahil aku merasakan hal semacam itu karena sidang kemarin. Aku bukan super hero pembela keadilan’ Emma merasa terganggu saat kembali teringat perkataan profesornya.