PEEK A BOO

PEEK A BOO
MARKAS PRATAMA



Setelah penyerangan yang tadi mereka alami, kini mereka semua termasuk Emma, Vian dan Viona sedang dalam perjalanan menuju ke suatu tempat. Tak terlalu lama, hanya sekitar setengah jam dengan kecepatan rata – rata mereka semua sudah sampai di depan sebuah gedung tinggi yang terlihat sangat terang saat malam. Ya, itu gedung keluarga Pratama. Ares sengaja membawa mereka semua kesana untuk bertemu seseorang dan untuk mengurus sesuatu.


Setelah menghentikan mobilnya begitu saja di depan gedung, mereka semua tak terkecuali si supir berjalan bersama memasuki gedung. Ares sengaja mengajak supirnya masuk bersama, karena dia ingin memastikan sesuatu tentangnya.


“Ini gedung Grup Pratama, kenapa kau membawa kami kesini?”


Viona yang tahu tentang tempat itu tentu  penasaran dengan niat Ares dan Satria yang membawa mereka kesana. Dari informasi yang Vian berikan, Viona tahu bahwa pria yang berkelahi dengannya tadi adalah Ares Johnson dan pria yang satunya lagi adalah Satria Nugraha. Viona tahu tentang keluarga Johnson dan menurut kabar angin yang didengarnya, mereka tak pernah saling berhubungan. Tapi apa yang dilihatnya ini? dia melihat Johnson muda yang memasuki gedung Pratama seperti rumahnya sendiri. Hal ini jelas mengganggu pikirannya terlebih dengan keadaan gedung yang kosong melompong seperti ini.


Dengan Ares yang memimpin jalan, mereka berjalan cepat menaiki lift dan langsung menuju lantai atas. Setelah sampai di depan ruangan besar yang sudah dimasukinya tadi siang, Ares langsung membuka pintu dan melihat seseorang sudah menunggunya.


“Apa yang sudah kau lakukan?”


Terlihat Hasan sedang duduk di kursi kerjanya dan tampak kesal melihat Ares. Ya, Hasan masih hidup. Saat itu, Satria hanya menembak beberapa anak buah Hasan sebagai bentuk kesepakatan mereka dan melaporkan kematian mereka sebagai kematian Hasa Pratama pada Ruvan Johnson.


Setelah mereka semua masuk dan duduk dengan santai, Hasan mulai mengeluhkan Ares yang tiba – tiba memberinya perintah begitu saja. Terlebih menurut orang – orangnya  yang sudah sampai di tempat yang Ares maksud, keadaan di sana sangat kacau. Bahkan mereka menemukan mayat dua pria di sana dan dua pria lagi yang babak belur terikat di bangunan setengah jadi di sana. Mereka sama sekali tak tahu apa yang terjadi, tapi mereka sudah mengurus semua itu dengan baik sesuai perintah Ares. Bahkan tentang orang – orang di permukiman itu pun juga sudah mereka urus.


“Siapkan ruangan di gedung ini untuk tempat kami tinggal sementara”


Dengan cara bicaranya yang tenang dan suara  beratnya yang khas, membuat mereka semua menatap Ares dengan tatapan penuh tanda tanya. Dia yang sebelumnya diam, tiba – tiba mengatakan hal yang sulit mereka percaya. Pasalnya, mereka sangat tahu bahwa dia tak mungkin kekurangan uang untuk mencari tempat menginap bahkan untuk membeli seluruh tempat itu pun bukan hal yang sulit untuknya. Tapi dia lebih memilih menginap di gedung perusahaan yang bahkan bukan miliknya.


“A ... Apa?! Kenapa harus di sini?”


“Aku bisa carikan hotel yang bagus untuk kalian”


Hasan dengan cepat menolak permintaan konyol Ares. Dia tak terima jika gedung perusahaanya di jadikan penginapan untuk orang – orang yang bahkan tak dikenalnya terlebih kata “kami” yang juga berarti Ares dan Satria akan ikut menginap bersama mereka.


“Selain Satria, yang lain harap tunggu dulu di luar”


“Ini tak akan memakan waktu lama”


Pandangannya masih tertuju pada Hasan saat dia meminta yang lain untuk keluar. Dan Hasan yang melihatnya pun langsung menelan ludahnya, gugup. Setelah di ruangan itu hanya tersisia dirinya, Satria dan Hasan, Ares langsung beranjak dan berjalan mendekati Hasan yang masih duduk di kursi kerjanya.


Semakin Ares mendekat, Hasan semakin berkeringat dingin. Tangannya mulai bergetar saat melihat pria itu sudah duduk di atas meja kerjanya. Hasan menatap Satria yang dengan santainya duduk di sofa menikmati buang anggurnya. Dia berusaha mengirim signal bantuan agar orang itu bisa menghentikan Ares secepatnya karena dia tahu, sejauh apa pria itu bisa bertindak untuk mendapatkan apa yang dia mau. Tapi semua usahanya sia – sia. Satria hanya tersenyum melihatnya, dan sangat jelas terlihat bahwa dia sangat menikmati situasi ini.


“Apa kau lupa?”


“Aku membantumu menghindari kakekku”


“Dan kau dengan sukarela memberikan gedung ini beserta isinya, sebagai upahku”


“Jadi ... .”


“A ... Aku tadi hanya bercanda”


“Aku tidak benar – benar menolak”


Hasan berusaha menghindari tatapan Ares padanya dan terpaksa menyetujui permintaan pria itu. ‘Jika mengampuni nyawaku berarti mengikatku seperti ini, lebih baik aku tolak saja!’ Hasan menyesal dan mulai menyalahkan kebodohannya sendiri yang kini membuatnya merasa seperti peliharaan Ares. Karena keputusan bodohnya, sekarang pria itu memiliki kendali penuh terhadap hidupnya.


Sebelum pergi, Ares menanyakan tentang dua pria yang babak belur itu. Dan Hasan menjelaskan bahwa mereka sudah diamankan di ruangan dengan fasilitas khususnya. Mendengar itu, Ares puas dengan apa yang Hasan lakukan dan meminta pria itu membawa supirnya untuk menemani mereka berdua disana. Hasan tahu apa yang mungkin akan terjadi pada supir malang itu, tapi dia sungguh tak bisa melakukan apapun untuk membantunya.


Tak lama setelah menunggu di luar, Ares dan Satria akhirnya muncul dari balik pintu dan memberikan kabar baik bagi mereka yang ada di luar. Dia mengatakan bahwa satu lantai di bawah tempat mereka berada sekarang, akan menjadi tempat tinggal mereka yang baru. Sontak saja, informasi ini membuat Viona dan Vian yang mendengarnya langsung terkejut dan menolak keras keputusan sepihak semacam itu.


“Bagaimana? Yang penting kau mau”


Tanpa memperdulikan Vian dan Viona yang menolak keputusannya, Ares langsung memalingkan wajahnya pada Emma dan bertanya pendapatnya tentang ini. Dia juga mengizinkannya untuk melakukan apa pun yang dia mau selama berada disana.


Sejak kematian orangtuanya, banyak hal yang tak Emma mengerti terutama tentang bagaimana seseorang bersikap. Dan tindakan Ares semakin membuatnya tak paham karena sungguh tak ada alasan baginya untuk membantu mereka sampai seperti itu.


“Kita tak saling mengenal. Tapi kenapa kau membantu kami seperti ini?”


Dengan tatapan bingungnya, Emma bertanya pada Ares. Mendengar perkataan gadis itu, membuat perasaan Ares sedikit terluka. ‘Apa kau sungguh tak ingat padaku? Apa kau sudah lupa dengan semua waktu kita bersama?’ Ares menatapnya sendu. Dan itu semakin membuat Emma tak bisa memahami apa yang pria itu pikirkan.


Ares mengepalkan tangan berusaha menahan perasaannya, dan memberikan alasan yang terdengar masuk akal. Ares terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa dia tahu Emma adalah seorang dokter bedah yang cukup hebat dan dia juga menawarkan bantuannya sebagai timbal balik jika dia mau menolongnya nanti.


Berpikir sejenak, Emma melihat Vian dan Viona yang juga menatapnya. Tapi dia berfikir bahwa dengan kejadian tadi, akan lebih aman jika menerima tawarannya. Dan tanpa ragu lagi, Emma pun segera mengiyakan kerja sama yang ditawarkannya.


Mendengar itu, Ares berusaha menyembunyikan rasa senangnya dan langsung mengajak mereka untuk melihat tempat tinggal mereka yang baru.


“Hah ... gue capek!”


Meskipun mengeluh, Satria tetap mengikuti mereka dari belakang. Dengan alasan lift yang tiba – tiba rusak, Ares mengajak mereka menggunakan tangga untuk turun. Padahal dia hanya ingin perjalananya sedikit lebih lama jadi dia juga bisa lebih lama berdekatan dengan Emma.


Sampai di lantai yang dimaksudkan tadi, ternyata tempat itu sudah dikosongkan bahkan tak ada satu pun peralatan kantor disana. Dengan semangat, Ares mengajak Emma melihat – lihat tempat itu dan dia juga sengaja meminta untuk diletakkan lebih dulu satu pohon cemara kecil di setiap sudut tempat itu karena dia tahu Emma menyukainya.


Tapi reaksi Emma sama sekali tak sesuai ekspektasi yang dibayangkan. Gadis itu berjalan melewati pohon – pohon kecil yang sudah dipersiapkannya begitu saja bahkan sama sekali tak meliriknya. Dan hal itu membuat Ares sedikit marah dan sedih.


“Kalau begitu, kami permisi dulu. Masih ada hal yang harus kami urus sebentar”


Kali ini, Ares berbicara tanpa menatap Emma dan pergi begitu saja setelah menyelesaikan kalimatnya. Dia tak mau jika harus menunjukkan emosinya pada Emma.