PEEK A BOO

PEEK A BOO
RENCANA ARES



“Selamat pagi, saya Zen”


“Santai saja, hari ini kita hanya akan mengobrol biasa ... .”


Zen memasuki sebuah ruangan dimana Emma sudah terlebih dahulu menunggunya. Dia berjalan dan langsung menyapa gadis yang menatap kedatangannya itu. Dengan senyum ramah dan jas putihnya, dia terlihat seperti seorang psikiater profesional. Namun Emma hanya diam dan tak membalas sapaan pria itu karena menurutnya semua psikiater pasti akan bersikap seperti itu.


“Hm ... Emma, bisa kita mulai dengan mendengar sedikit cerita tentangmu?”


Zen melanjutkan bicaranya. Dia berusaha membuat Emma menjadi lebih santai saat bersamanya karena sejak dia melihatnya tadi, gadis itu terlihat sangat kaku dan tertutup. Zen khawatir jika gadis itu tak merasa nyaman saat bersamanya, proses perawatannya nanti akan terhambat.


Setelah mendengar instruksi Zen, Emma mulai bercerita tentang dirinya. Namun dia hanya bercerita tentang orangtuanya dan pekerjaannya secara garis besar. Dia tak ingin berbicara tentang dirinya terlalu jauh karena dia merasa bahwa hal itu sama sekali tak berhubungan dengan masalahnya. Dia hanya berbicara tentang Albert dan Alexandra, tentang bagaimana kematian mereka, juga tentang pekerjaannya sendiri.


Meskipun tidak seperti yang dia harapkan, namun Emma bercerita seakan memberitahunya tentang sebab dan akibat yang membuat kondisinya sampai seperti itu. Dan dengan informasi yang dia dapatkan, Zen berfikir bahwa gadis itu mungkin mengalami hal yang umum terjadi setelah melihat orangtuanya tewas seperti itu. Ya, Zen berfikir mungkin saja Emma mengalami ASD -Suatu gejala stress akut yang umum terjadi setelah seseorang mengalami ataupun menyaksikan kejadian traumatis- tapi, dia langsung berubah fikiran setelah Emma mengatakan bahwa kondisinya itu sudah berlangsung lebih dari enam bulan lamanya.


“Sepertinya kau juga terkejut”


“Awalnya aku juga mengira ini adalah ASD, tapi hal ini terasa lebih kuat”


“Setelah keadaan ini terus berlanjut, aku juga sempat mengira bahwa ini mungkin saja PTSD”


“ ... Tapi apa yang kurasakan tak sampai se-ekstrim itu untuk bisa disebut PTSD”


Zen cukup terkejut mendengar Emma yang tiba – tiba memberikan penjelasan panjang lebar tentang kondisinya. Dilihat dari bagaimana cara dia menjelaskan, terlihat bahwa dia sangat mengerti tentang kondisi tubuhnya. Dia tak menyangka bahwa julukan jenius gadis itu ternyata bukan hanya isapan jempol semata karena saat dia melihat profil Emma, dia tak percaya bahwa gadis kecil sepertinya adalah seorang dokter bedah dan tahu tentang hal diluar bidangnya seperti ini. Terlebih, memang hanya beberapa orang yang bisa membedakan antara ASD dan PTSD. Jika ASD adalah gejala stress akut, maka PTSD adalah kondisi selanjutnya dari ASD yang tak tertangani dengan


baik.


Setelah mendengar penjelasan Emma, Zen juga berfikiran yang sama karena setelah melihat sikap gadis itu sejak pertama mereka bertemu dan dari cerita Ares padanya, perilakunya sama sekali tak seekstrim para pengidap PTSD, meskipun sikap apatis gadis itu cukup mengganggunya. Namun meskipun begitu, Zen memberikan beberapa lembar kuesioner untuk membantunya mengetahui kondisi mental Emma sebelum dia mengakhiri sesi


hari ini.


...


“Bagaimana? Apa kau dapat sesuatu?”


Setelah Ares kembali dari kantor, dia langsung berbicara dengan Zen di ruang kerjanya. Dia menanyakan tentang hasil pemeriksaannya pada Emma tadi pagi. Namun Zen tampak ragu untuk mengatakannya karena dia sendiri juga masih belum bisa memberikan jawaban pasti mengenai hal itu. Dia hanya bisa menjelaskan bahwa mereka perlu mengatasi sikap apatis Emma terlebih dahulu karena akan sangat menghalangi proses perawatannya. Ares kembali bertanya tentang cara terbaik untuk melakukan hal itu. Dan selama beberapa saat mereka hanya terdiam, memikirkan bagaimana cara melakukannya tanpa Emma harus curiga. Karena jika gadis itu tahu, mereka khawatir dia tak bisa diajak bekerjasama dengan baik.


“Ah, ternyata loe lagi sibuk”


“Gue bicara nanti saja”


Seketika perhatian mereka teralihkan saat Satria tiba – tiba membuka pintu ruang kerja Ares tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Seperti mendapatkan ide bagus, senyum Ares merekah dan dia segera mencegah Satria yang berniat pergi setelah melihatnya dan Zen berbicara serius. Zen yang melihatnya pun juga jadi penasaran dengan apa yang pria itu pikirkan.


Satria merasa tak nyaman saat melihat Ares yang tiba – tiba tersenyum padanya. Namun dia tak memiliki pilihan lain dan dengan terpaksa berjalan ke arah Ares yang memanggilnya. Meskipun begitu, langkahnya pelan penuh curiga karena setiap kali Ares melihatnya seperti itu, selalu saja ada hal yang buruk yang terjadi


padanya.


“Gue kesini cuma mau minta jatah libur gue!”


Dengan suara tinggi beratnya, Satria membentak Ares. Kecurigaannya ternyata benar saat Ares tiba – tiba menyuruhnya untuk menemani Emma ke tempat pelatihan dan mengajarinya beberapa hal. Dia merasa sangat terkejut dan tertipu karena sebelumnya, Ares sudah menjanjikannya hari libur yang sempat tertunda namun kali ini dia seperti menjilat ludahnya sendiri dan memberinya tugas lain terlebih ini tugas konyol tentang gadis itu.


“Setelah semuanya selesai, aku akan membiarkanmu libur tiga bulan penuh”


“Dan mobil yang kau bilang waktu itu, akan kubelikan”


Mendengar tawaran Ares yang sangat menggiurkan, membuat Satria sedikit goyah namun saat dia mengingat lagi bahwa dia harus bersama gadis itu dalam waktu yang tidak sebentar, membuat hatinya kembali mengeras.


“Loe keluar dulu”


“Gue mau bicara berdua sama Ares”


Dengan serius, Satria meminta Zen untuk keluar karena dia ingin membicarakan tentang hal pribadi dengan Ares.


“Kumohon”


Seakan tahu apa yang akan Satria katakan, Ares langsung berbicara setelah Zen keluar dari ruangannya. Dengan sepenuh hati dan wajah memelasnya, dia mengatakan bahwa dia menginginkan keadaan Emma membaik. Meskipun gadis itu tak pernah mengingatnya, hal itu tak masalah selama Emma bisa hidup sehat dan bahagia. Dengan wajah sedih palsunya, Ares berusaha keras untuk membuat Satria merasa iba dan menyetujui permintaannya.


“Bagiku dia tetap seorang Jackson”


“Berhenti! Namanya Reyna. Dan dia bukan putri Jackson!”


Ares terdengar sedikit emosi saat Satria terus menyebut Emma sebagai putri Jackson, padahal dia tahu yang sebenarnya. Melihat Ares yang mulai emosi, Satria segera menutup mulutnya karena dia tak ingin jika harus bertengkar dengannya disaat seperti ini dan kehilangan kesempatan liburnya untuk kesekian kalinya.


“Tapi kenapa harus tempat pelatihan?”


“Loe tahukan itu tempat khusus anggota organisasi?”


Menghela nafas panjangnya, Satria mencoba memahami pemikiran sahabatnya itu. Dia dengan serius menanyakan maksud Ares menyuruhnya mengajak Emma ke tempat pelatihan karena itu bukan tempat yang sembarang orang bisa memasukinya. Namun Ares malah balik bertanya “Apa kau mau jika kuminta menemaninya jalan – jalan ke taman? Seperti kencan?”. Mendengar kata kencan keluar dari mulut Ares, membuat Satria merinding dan langsung menolak dengan keras tawaran konyol Ares.


Dengan tenang, Ares pun menjelaskan alasannya memilih tempat pelatihan. Dia merasa bahwa Emma setidaknya bisa belajar melindungi dirinya dengan benar dibawah pengawasan orang yang paling dipercayanya. Meskipun dia ingin mendampinginya sendiri, tapi hal itu mustahil karena kakeknya pasti akan langsung tahu saat dia membawa Emma melewati pintu masuk perusahaan.


Sebenarnya, Satria masih berat hati untuk menerima permintaan Ares terlebih setelah dia tahu bagaimana sikap buruk gadis itu yang dinilai sangat tak menghargai orang lain. Namun Ares terus meyakinkannya karena dia tak ingin jika Satria hanya melakukannya dengan setengah hati. Dia menjelaskan bahwa itu semua adalah usaha mereka untuk mengatasi sikap apatisnya itu sehingga dia bisa lebih terbuka pada orang lain.


“Hah ... Gue tahu dia orangnya aneh”


“Tapi, apa loe yakin ini bisa membuatnya sedikit terlihat seperti manusia?”


Ares sedikit terkejut mendengar bagaimana cara Satria berbicara tentang Emma. Namun mengenai hal itu, dia sama sekali tak bisa protes karena dia juga sependapat dengannya. Ares pun hanya bisa mengangguk, setuju dengan semua perkataan Satria hingga dia akhirnya menyetujui permintaan Ares kali ini meskipun dengan catatat bahwa mereka benar – benar harus membuat perjanjian hitam di atas putih untuk janji yang sudah Ares


ucapkan.