PEEK A BOO

PEEK A BOO
KENYATAANNYA



Setelah membaca laporan dan menonton semua video di ruangan rahasia, Vian dan Viona seperti menemukan garis besar dari masalah ini dan hal itu membuat mereka tampak ketakutan. Namun meskipun begitu, mereka masih tak berani mengambil kesimpulan yang terburu – buru karena semua ini ada kaitannya dengan gadis yang sudah mereka anggap sebagai keluarga mereka sendiri. Meraka masih harus menanyakan satu hal pada Emma untuk memastikan dugaan mereka. Tapi sudah berkali – kali mereka menghubunginya, gadis itu tetap tak menjawab panggilan mereka sampai membuat Vian yang sudah tak tahan, memutuskan untuk bertanya langsung padanya. Dan setelah merapikan diri, mereka pun segera pergi menuju rumah pribadi Ares yang sudah seminggu ini mereka tinggalkan.


Selama di perjalanan, mereka berdua masih terlihat gelisah. Mata mereka juga terlihat merah dan sembab, setelah beberapa kali tak kuat emosi saat menonton semua video itu. Mereka berusaha sekuat tenaga menahan diri saat melihatnya, karena semua itu bisa membuatnya semakin dekat dengan kebenaran yang mereka cari.


Saat mereka sudah sampai di rumah Ares, tempat itu tampak lebih sepi dari saat terakhir mereka melihatnya. Bahkan pak Ko yang biasanya sudah membukakan pintu untuk mereka juga tak kelihatan dimana pun. Dan tanpa ragu, mereka membuka pintu rumah Ares dan mempersilahkan diri mereka sendiri untuk masuk.


“Mas Vian ... Mbak Vio ... .”


Dari belakang, seorang pelayan wanita menyapa dan bertanya tentang kabar mereka. Vian mengatakan bahwa mereka baik – baik saja, terlepas dari penampilan mereka yang terlihat sedikit berantakan dan bertanya tentang kemana semua orang pergi karena dia tak melihat siapa pun di sana selain pelayan itu.


Dengan suara pelan, pelayan itu menjelaskan bahwa mereka semua termasuk pak Ko sudah seminggu ini berada di rumah sakit. Jelas perkataan pelayan itu membuat mereka berpikir terjadi sesuatu dengan Emma. Dan benar saja, mereka semua pergi ke rumah sakit karena gadis itu sejak seminggu lalu sudah tak sadarkan diri sampai saat ini.


“Saat tuan Ares terluka, aku dengar tiba – tiba gadis itu masuk kamar dan tak ada yang melihatnya keluar setelah dua hari”


“Sampai tuan Satria terpaksa harus mendobrak pintu kamarnya karena dia sama sekali tak menjawab saat dipanggil”


“Kalian tahu, keadaan saat itu benar – benar kacau ... bahkan ... .”


Tanpa mendengar cerita pelayan itu secara keseluruhan, Vian dan Viona yang terkejut mendengar kabar bahwa Emma tak sadarkan diri dan sedang berada di rumah sakit, lagsung berlari dan mengendarai mobil mereka seperti orang gila. Mereka khawatir setengah mati, takut kejadian waktu itu terulang lagi dan semakin parah.


Saat sudah sampai di rumah sakit, mereka segera menuju bagian informasi untuk menanyakan dimana Emma dirawat. Setelah nomor kamar gadis itu sudah di tangan, mereka pun berlari sekuat tenaga bahkan tak perduli dengan semua mata yang melihat mereka dengan tatapan aneh. Nafas mereka masih terdengar berat dan terengah – engah saat mereka akhirnya menemukan kamar Emma dan langsung membukanya tanpa permisi.


Suara pintu yang terbuka dengan keras, membuat pak Ko yang sudah berumur sangat terkejut sampai memegangi dadanya yang berdebar. Tanpa memperdulikan Ares, Satria dan semua orang di sana, mereka segera masuk dan memastikan keadaan Emma dengan mata kepala mereka sendiri. Dan setelah memastikan bahwa gadis itu masih bernafas bahkan tampak seperti sedang tidur tenang, mereka langsung berbalik dan berjalan menuju Ares yang sedari tadi sudah menatapnya dengan penuh tanda tanya.


“Di ... dia kenapa?”


Dengan suara terbata – bata, Vian bertanya pada semua orang di ruangan itu. Dia tak memperdulikan Ares yang ternyata juga mengenakan baju pasien yang sama dengan yang Emma pakai. Profesor yang juga berada di sana, langsung menjelaskan bahwa kemungkinan Emma mengalami gangguan setelah mengkonsumsi over dosis obat tidurnya. Meskipun ragu, dia juga menjelaskan bahwa mungkin ini ada kaitannya dengan hasil pemeriksaan yang


dilakukannya waktu itu.


“Siapa kau? Apa maksudmu?”


Viona yang masih belum memastika dugaannya, tak bisa mengatakan hasil temuan mereka dan bertanya tentang maksud perkataan orang tua itu tentang hasil pemeriksan yang dikatakannya tadi.


“Dan ini hasil pemeriksaan yang kukatakan tadi”


Profesor mengeluarkan beberapa lembar hasil pemeriksaan Emma, termasuk pemeriksaan otak yang juga dilakukannya waktu itu. Melihat mereka berdua yang tampak bingung, profesor menjelaskan kondisi Emma berdasarkan hasil yang didapatnya.


“Ini menunjukkan bagian hipotalamus, pengatur hormon yang juga mempengaruhi kerja tubuh manusia. dan kerja hipotalamus yang Emma punya itu ... sedikit unik jika dibandingkan dengan milik orang lain. bisa dibilang, dia membuat keseimbangannya sendiri yang memungkinkan Emma untuk memaksimalkan kerja tubuhnya, baik secara pikiran maupun fisik tanpa harus kehabisan persediaan energi tubuhnya. Tapi dari apa yang saya lihat, hal itu juga mempengaruhi respon emosionalnya. Keseimbangan baru yang otaknya rancang, tak mengikutsertakan keseimbangan emosional dan malah memperlambat penyampaian emosionalnya”


Vian dan Viona seketika lemas setelah mendengar penjelasan singkat dari pria tua itu. Mereka sungguh tak menyangka bahwa dugaan terburuk merekalah yang ternyata benar. Dan hal itu membuat pikiran mereka berdua seakan kosong, tak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan untuk membuat Emma lebih baik.


“Kalau seperti ini ... apa yang harus kita lakukan?” Vian bergumam, bertanya pada dirinya sendiri


“Apa maksud omongan loe?” Satria yang mendengarnya pun langsung merespon ucapan Vian. Dan seketika semua mata tertuju pada Vian dan Viona, memaksa mereka untuk menjelaskan maksud perkataan mereka. Merasa buntu dan tak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan, Viona merasa tak ada pilihan lain selain jujur dan meminta bantuan mereka.


Selagi Viona menjelaskan secara singkat tentang apa yang sudah mereka temukan, Vian terus menatap sendu Emma yang masih terbaring tak sadarkan diri. “Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tak bangun, padahal aku dan Vio sudah datang” Vian bergumam dalam hatinya, sambil membelai lembut rambut Emma yang terurai. Dia merasa sangat frustasi karena ketidakberdayaannya sampai membuat gadis itu harus melalui semua ini sendiri.


“Apa?!”


“Ka ... kau bilang Emma dijadikan objek penelitian ... orang tuanya sendiri?!”


Dengan suaranya yang tinggi, Ares membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut termasuk Vian yang langsung mengalihkan pandangan padanya. Ares terlihat sangat tak percaya dengan semua yang Viona katakan karena menurutnya, gadis itu terlihat baik – baik saja dan tak ada masalah dengannya. Meskipun dalam rekam medis dan video Emma yang dilihatnya waktu dikatakan bahwa dia hanya mengalami insomnia berat yang membuat kondisinya drop, tapi sama sekali tak disebutkan tentang menjadi objek penelitian.


Ares tak bisa percaya dan pikirannya terus menolak semua yang Viona katakan. Namun saat tangan Satria menepuk lembut bahunya, Ares mendapati pria itu sedang menatapnya dengan wajah sendu. “Aku benci saat kau melihatku seperti itu” dengan suara pelannya, Ares bergumam saat Satria mengatakan kecurigaannya bahwa semua yang dikatakan Viona adalah benar. Melihat apa yang Satria lakukan, membuat Ares seketika langsung mempercayai semua ucapan Viona.


Melangkah perlahan, Ares berjalan menuju Emma dengan mata yang mulai berlinang air mata. Namun dengan sekuat tenaga, dia berusaha menahan perasaan campur aduknya. Dia tak tahu bagaimana lagi harus bersikap dalam situasi semcam ini karena ini yang pertama baginya. Tapi saat dia melihat wajah tidur Emma dengan lebih jelas, dia tak lagi bisa menahan semua luapan perasaan itu dan perlahan air mata mulai mengalir di pipinya. Dia menyesal tak bisa bersama adiknya itu lebih cepat dan harus membiarkannya melewati semua hal mengerikan itu seorang diri. “Seharusnya kuhabisi mereka lebih cepat tanpa harus menunggu Pradigta!” dalam hati, Ares menyesali tindakannya yang terlalu berhati – hati dan tak memikirkan tentang kemungkinan seperti ini. Padahal dia tahu seberapa gilanya keluarga Jackson itu.


“Apa loe nemuin sesuatu tentang kelompok kumbang merah di tempat Jackson?”


“Kumbang merah? Entahlah”


Satria tiba – tiba teringat dengan semua penyerangan yang Emma alami sejak dia mengikuti gadis itu, terutama dengan salah satu orang yang ditangkapnya di gedung pratama dulu. Namun Vian dan Viona sama sekali tak pernah melihat catatan tentang hal itu. Dan Ares yang mendengar nama kumbang merahdisebut, langsung berbalik dan menghubungi Hasan Pratama yang berada di Jakarta selatan. Dengan suara yang terdengar sedikit mengancam, dia menyuruh Hasan untuk mengerahkan semua orangnya dan mencari semua informasi tentang kelompok kumbang merah, apapun itu. Melihat sikapnya yang tiba –tiba berubah dingin, membuat mereka yang sudah mencari masalah dengannya akan menyesali perbuatannya bahkan setelah mereka mati.