
“Bang, kenapa dari kemarin mereka cuma melakukan hal – hal membosankan?”
“Entahlah ... dunia orang kaya memang berbeda”
Seorang pria yang sedang duduk di rooftop salah satu bangunan dekat gedung pratama, sedang berbincang dengan seorang pria lain yang juga sedang duduk disana sambil menikmati camilan sorenya. Dengan kulit gelap dan brewok tebal yang sengaja dibiarkan tumbuh sampai ke lehernya, mereka berdua terlihat seperti orang Timur Tengah terlebih dengan hidung mancung mereka. Selain itu, penampilan mereka juga terlihat kasar dengan beberapa bekas luka samar di wajah dan tangan mereka. Tapi meskipun begitu, mereka tetap bangga dengan semua bekas luka mereka karena semua itu adalah bukti keteguhan dan tekad kuat yang sudah menjadi harga mati bagi mereka.
Sejak tanpa sengaja melihat wajah Vian yang muncul dalam liputan berita salah satu reporter, pria pincang yang waktu itu sempat melarikan diri langsung menyuruh beberapa orangnya untuk memeriksa keberadaan gadis kejarannya itu disana. Dan benar saja, di hari pertama mereka sudah bisa menemukan target mereka berada diantara orang – orang itu. Namun pria pincang itu tak hanya memiliki mereka berdua untuk tugas ini. Dia juga sudah memperiapkan beberapa orang lainnya untuk bersiap menerima perintah kedua pria itu.
Dan sudah hampir dua hari mereka berdua secara bergantian terus mengamati gedung pratama tempat Emma dan yang lainnya menginap. Dengan memanfaatkan alat bidik di senapan penembak runduk model SPR-2, mereka bisa dengan jelas melihat keadaan di tempat itu tanpa ketahuan. Meskipun gedung tinggi tempat mereka memantau berjarak hampir satu kilometer dari gedung pratama, tapi hal itu tak menjadi halangan bagi SPR-2 yang bisa membidik target bahkan dari jarak dua kilometer sekalipun.
Meskipun ini sudah hari kedua mereka dan lagit juga semakin gelap, mereka sama sekali tak menemukan kesempatan untuk memulai aksinya. Namun mereka seperti anjing pemburu yang tak melepaskan buruannya barang sedetik saja meskipun mereka harus menunggu selama satu minggu lamanya.
“Kijang dua bersiap! Tikus mulai bergerak!”
Salah satu dari kedua pria itu menghubungi tim lain yang sudah berjaga di dekat gedung pratama saat akhirnya mereka melihat Emma dan yang lainnya bergerak menuju lift. Setelah mendengar instruksi langsung, seorang pria berpakaian seragam OB langsung keluar dari ruangan karyawan di lantai delapan gedung pratama dan bergegas menuju lift.
Namun dia hanya berdiri di dekat lorong dengan empat pintu lift disana. Dia tak tahu lift mana yang harus dimasukinya dan hanya bisa menunggu dan mengamati. Pintu satu, pintu dua dan pintu tiga sudah terbuka tapi dia tak menemukan orang yang dicarinya. Dan hal itu membuatnya tanpa berpikir panjang langsung berdiri di depan pintu lift keempat. Dan benar saja, di balik pintu lift keempat sudah ada Emma; Vian; Viona dan Satria yang menuju lantai dasar.
Melihat targetnya disana, dia langsung masuk dengan membawa troli penuh alat kebersihan bersamanya. Karena di dalam sana hanya berisi lima orang saja, membuatnya tak bisa bergerak dengan leluasa karena sedikit pergerakan saja akan langsung terlihat di dinding lift yang memantulkan bayangan setiap orang disana. Dengan berdiri di baris paling belakang, pria OB itu bergerak perlahan sampai dia berdiri tepat diantara Emma dan Viona. Dan dengan gerakan secepat kilat, dia berhasil menyelipkan alat pelacak setipis potongan kertas kedalam kantong celana salah satu dari mereka sesaat sebelum mereka keluar di lantai dasar gedung pratama.
“Kijang tiga bersiap! Tikus keluar!”
Pria pincang yang tak ingin kehilangan jejak untuk kedua kalinya, akhirnya menyuruh salah satu orangnya untuk menyelipkan alat pelacak jika keadaan memang tak memungkinkan untuk langsung melakukan penangkapan. Dan setelah menyelesaikan tugasnya, OB itu pun langsung memberikan laporan pada orang – orang yang sudah berjaga di luar gedung.
Sebagai orang yang paling dewasa dintara mereka berempat, Satria bertugas untuk menyetir dan Emma sebagai penunjuk jalannya sudah duduk tepat di sebelahnya. Karena sudah lumayan sepi, mereka pun dengan lancar keluar dari area basement dan segera meluncur ke arah utara menuju rumah Emma.
‘Hah ... ada yang nggak beres, nih!’ Satria dalam hatinya mengeluhkan masalah yang selalu dialaminya setiap dia bersama Emma dan anak – anak itu, dan kali ini dia melihat ada dua mobil van hitam yang sudah mengikuti mereka sejak keluar dari gedung pratama tadi.
“Hei! Gue tunggu lima belas menit. Cepat kirim mobil kesini”
Satria dengan sigap langsung menghubungi seseorang melalui ponselnya sesaat sebelum dia mendengar suara roda mobilnya meletus dan dia mulai kehilangan kendali. Tak ingin sampai terjadi kecelakaan, dia segera menghentikan laju mobilnya meskipun harus di tengah jalan. Beruntung, saat itu jalanan masih cukup sepi sehingga tak menimbulkan masalah yang tak perlu. Dan seperti dugaannya, dua mobil van itu juga berhenti tepat di belakang mobil mereka.
“Sebisa mungkin, jangan keluar”
Satria menyuruh anak – anak itu tetap berada dalam mobil saat dia melihat ada banyak pria bertubuh besar dan berkaos hitam ketat yang keluar dari kedua mobil van yang dilihatnya tadi dan mulai mengepung mobilnya.
Dengan balok kayu di tangan mereka, para pria itu memukul – mukul mobil Satria sampai membuatnya naik pitam dan mengurungkan niatnya untuk tetap berada dalam mobil sampai bantuan yang dimintanya tadi datang. Dia pun memembuka pintu mobil di sisi kanannnya dengan keras sampai membuat pria kekar yang ada di belakang pintu itu terdorong. Dan dengan cepat Satria juga melayangkan tendangannya pada pria yang berusaha masuk mabilnya saat dia membukanya tadi. Dan setelah tak ada siapapun di dekatnya, dia segera keluar dan dengan cepat menutup pintu mobilnya dan menguncinya dari luar secara otomatis.
Melihat Satria turun dari mobilnya, para pria bertubuh besar itu pun refleks mundur beberapa langkah terlebih saat mereka melihat tatapan tajam penuh nafsu membunuh dari matanya. Ya, benar. Saat ini Satria sedang naik pitam karena dengan ulah mereka kali ini, dia mungkin benar – benar akan kehilangan waktu berliburnya.
Ada hampir dua puluh orang yang menyerang mereka dan sepuluh diantaranya sedang sibuk melawan Satria yang mulai menggila sedangkan sepuluh yang lain terus memaksa mereka yang masih berada dalam mobil untuk keluar.
Bagi seorang pria, dua lawan satu memang pemainan anak – anak tapi sepuluh lawan satu itu sudah sangat keterlaluan. Meskipun Satria sudah mendaratkan banyak pukulan pada mereka, tetap saja dia masih tak bisa menghindari beberapa pukulan yang mereka berikan terlebih di saat bersamaan dia juga harus menjauhkan orang – orang itu dari mobilnya. Namun usahanya itu sia – sia saat mereka akhirnya berhasil merusak pintu mobilnya dan menarik anak – anak itu keluar dari sana. Satria sungguh takbisa pergi mencegah orang – orang itu untuk membawa mereka.
Tapi, semua kekhawatirannya itu juga sia – sia saat dia melihat Vian yang mulai melakuakn perlawanan dan saling melindungi bersama kedua gadis itu. Sesaat Satria ingat bahwa Vian adalah bocah yang tanpa ragu melepaskan tembakan pada seseorang waktu itu. Dan melihat hal itu, akhirnya Satria bisa fokus melawan para pria itu tanpa harus mengkhawatirkan mereka. Namun ketenangannya itu hanya sesaat, sampai dia mendengar suara orang tertembak di belakangnya.