PEEK A BOO

PEEK A BOO
PERNYATAAN PERANG



# Hai ... author kembali ... 🤗🤗 hari ini udah up loh ... selamat membaca ya ... . 😆😆 #


Ares dan Satria berlari sekuat tenaga ke arah Emma, tapi sekretarisnya terlalu takut untuk mengikuti atasannya itu dan lebih memilih untuk tetap bersembunyi. Ares langsung menarik Emma untuk bersembunyi di balik pagar tembok rumah Pradigta saat melihat gadis itu masih terdiam menahan tubuh Pradigta yang lemas penuh darah, tak menghiraukan tembakan yang hampir mengenainya tadi. Setelah itu, Satria juga menarik Vian dan Viona bersembunyi bersama Ares.


Sambil memeluk erat tubuh Emma, Ares meringkuk melindungi gadis itu dari tembakan yang mengarah pada mereka. Bukan hanya sekali, tapi tembakan itu sudah beberapa kali mengarah pada mereka. Pagar tembok tempat mereka berlindung pun perlahan mulai hancur, bahkan kaca rumah Pradigta juga sampai pecah terkena timah panas mereka.


 “Sat ... cari orang – orang itu!”


Suara Ares terdengar berat. Dia berusaha menahan amarahnya saat melihat wajah Emma yang berdarah terkena pecahan tembok. Suaranya jelas terdengar bahwa dia marah, tapi ada sedikit kesedihan yang terselip yang  di wajahnya. Dia mengusap peralahan wajah gadis itu, menghapus noda darah dari lukanya.


Vian yang juga melihat itu, tak kalah emosinya dengan Ares. Dan tanpa ragu, dia langsung keluar dari tempat persembunyian dan mencari tempat dimana dia bisa melihat arah datangnya tembakan itu dengan lebih jelas. Sedangkan Satria yang tak pernah melihat Ares semarah itu, tak bisa membantah perkataannya terlebih saat dia tahu apa arti gadis itu baginya. Dan dia pun mengintip, berusaha mencari arah dan celah. Saat sudah mendapatkan posisi mereka, dengan cepat dia berlari menuju tempat itu dan melihat Vian yang sudah berlari mendahuluinya.


Mereka berlari sekuat tenaga, hingga mereka sampai di depan bangunan tinggi setengah jadi yang tak terlalu jauh dari rumah Pradigta. Tempat itu masih sangat berantakan dengan banyaknya bahan bangunan yang dibiarkan saja di sana. Tak ada orang, karena hari memang sudah mulai malam dan para pekerja juga sudah pulang.


Tanpa membuang waktu, Vian dan Satria segera memasuki bangunan itu dan menaiki anak tangga yang bahkan batu batanya masih banyak yang tak tertutup semen. Lantai satu, lantai dua, dan lantai tiga. Dengan cepat mereka melewati setiap lantai setelah melihat bahwa tak ada satu pun orang disana. Tempat itu sangat dingin dan gelap, terutama pada bagian – bagian yang tak terkena sinar bulan.


Semakin dekat dengan lantai atas, Vian segera menarik pistol dari belakang celananya. Bahkan Satria yang berlari tepat dibelakangnya pun sangat terkejut melihat hal itu. Pasalnya, dia melihat wajah Vian yang masih tampak sangat muda tetapi sudah berani mengangkat senjata. ‘Siapa anak ini? Kenapa dia bisa bersama Emma?’ pikiran itu seketika muncul saat melihat apa yang ada di depannya.


“Dasar b*d*h!”


“Berikan padaku! Akan kupastikan mengenainya”


Satria mendengar seseorang berbicara dan segera menarik Vian yang ada di depannya untuk bersembunyi di balik tembok sesaat sebelum mereka sampai di lantai atas bangunan itu. Dengan kuat, dia menahan Vian yang mulai memberontak dan dia mencoba mengintip siapa mereka dari tempatnya bersembunyi.


Satria melihat hanya ada tiga orang  pria disana. Mereka berdiri di dekat dinding yang hanya selesai setengah bagiannya itu. Dua orang diantara mereka berbadan cukup kekar dan satu lagi pria paruh baya yang sedikit pincang kakinya. Dan sekilas dia juga melihat salah satu dari mereka menggunakan senapan laras panjang Winchester M-70. Meskipun senapan itu tergolong jenis klasik, tapi eksistensinya tetap tak terkalahkan terutama dikalangan para pemburu karena kemampuan menembak jarak jauhnya yang masih bisa diandalkan.


“Akh!”


Tiba – tiba Satria mengerang pelan saat Vian menyikut keras perutnya hingga membuat pegangannya pada Vian melonggar. Saat melihatnya tadi, Vian yakin Satria adalah orang mencurigakan yang waktu itu dilihatnya di depan rumah Emma. Mengingat apa yang sudah Emma alami, dia sama sekali tak bisa mempercayainya.


Tanpa menyiakan kesempatan, Vian segera melepaskan diri dari Satria. Meskipun meleset, Vian langsung menembak ke arah orang – orang itu, membuat mereka berhenti menembak dan menyadari kehadirannya. Satria yang masih berdiri di persembunyian hanya bisa menghela nafas panjang melihat tindakan ceroboh anak itu dan membuatnya terpaksa keluar dari tempat persembunyiannya.


“Hah ... loe siapa? Kok gue gak pernah lihat?”


‘Dor!’


Tiba – tiba Vian menembak pria yang berdiri dekat senapan dan melukai lengan pria itu. tembakan mendadak itu membuat Satria mengurungkan niatnya karena pria di dekatnya menjadi lebih waspada dan sudah bersiap melakukan perlawanan.


‘Semprol!’ Satria mengumpat dalam hatinya. Tembakan Vian tadi memaksa Satria untuk segera melayangkan pukulannya pada pria itu. Namun pukulan itu dengan cepat ditangkisnya. Sedikit terkejut, tapi Satria tak hanya berhenti di situ. Dia pemegang sabuk hitam karate tingkat tujuh dan akan sangat memalukan baginya jika tak bisa mengalahkan pria itu. Dan dengan cepat, Satria memberikan tendangan dan pukulan bertubi – tubi pada pria itu hingga membuatnya tersungkur.


Sedangkan Vian yang sudah menargetkan pria dengan senapan tadi masih tetap mengarahkan pistol padanya. Meskipun pria itu sudah bersembunyi, beberapa kali Vian tetap menembakkan peluru ke arahnya. Dia sudah seperti pria yang gelap mata, tak memperdulikan sekitar dan hanya fokus pada sasarannya. Mendekat dengan cepat, Vian memberi pria itu tendangan tepat diwajahnya sesaat sebelum pria itu sempat membalas tembakan Vian. Dia pun terjatuh dan tanpa memberi kesempatan untuk kembali berdiri, Vian menghajarnya habis – habisan bahkan sampai wajahnya sulit dikenali karena wajahnya yang penuh darah dan bengkak.


“Beraninya kau mengarahkan senapanmu pada kami?!”


Vian dengan emosinya yang masih menggebu, terus menghajar pria yang bahkan sudah tak sadarkan diri itu. Nafasnya mulai tersengal – sengal, tenaganya juga sudah banyak terkuras saat dia akhirnya berhenti menghajar pria itu dan menyadari bahwa dia sudah sangat babak belur.


“Loe udah kelar?”


Vian berbalik melihat Satria saat dia berbicara padanya dan melihat dia yang sudah merobohkan pria besar itu dan masih terlihat baik – baik saja. ‘Gayanya memang arogan, tapi ternyata dia tidak hanya besar di mulut saja’ Vian sedikit terkejut saat dia melihat Satria yang sudah duduk santai sambil mengangkat satu kakinya di atas pria bertubuh besar yang sudah terikat itu. Pria itu terlihat babak belur, tapi Satria tak terluka sedikit pun bahkan dia sama sekali tak terlihat lelah. Tapi hal itu tak membuat Vian takut jika nanti dia harus melawannya.


Satria berjalan ke arah Vian dan memberinya seutas tali untuk mengikat pria malang yang sudah anak itu hajar. Dia lalu melihat sekeliling dan baru sadar bahwa ada tiga orang yang dilihatnya tadi tapi sekarang hanya dua orang. Ya, dia tak melihat pria pincang itu. Dia lalu berkeliling sambil menunggu Vian selesai mengikat pria tadi. ‘Hah... Gue harap ini nggak akan jadi masalah’ pikirnya saat tak bisa menemukan pria itu.


... .


Di tempat lain, Ares; Emma dan Viona masih berlindung di balik pagar tembok yang kini hanya tersisa tiga perempat bagiannya saja. Dan mereka perlahan berdiri saat menyadari bahwa serangan orang – orang itu sudah berhenti. ‘Sepertinya Satria berhasil’ pikir Ares saat melihat keadaan yang sudah mulai tenang.


“Tuan ... Gadis itu ... .”


Ares terkejut mendengar suara sekretarisnya yang juga sudah keluar dari tempat persembunyian dan kini berdiri di dekatnya, bertanya tentang Emma yang berada di sebelah tuannyanya itu. ‘Sial!’ Ares sedikit mengumpat dalam hatinya saat menyadari bahwa sekretarisnya itu juga tahu tentang dirinya yang selama beberapa bulan ini mencari gadis itu.


‘Dor!’


Tanpa berfikir dua kali, dengan cepat dia melepaskan tembakan dan tepat mengenai kepala sekretarisnya itu. Dalam sekejap, pria itu langsung tumbang. Ares berfikir lebih baik segera menyingkirkannya dan memikirkan alasannya nanti, sebelum si pengkhianat itu melaporkannya pada kakek.