
Setelah apa yang terjadi kemarin, wajar jika mereka semua membutuhkan waktu tidur lebih lama. Bahkan sudah hampir jam tujuh pagi, tetapi hanya Emma yang sudah terlihat mondar – mandir di rumahnya. Dia mencari beberapa peralatan olahraganya yang sudah lama disimpan. Kali ini memang lebih siang dari biasanya, tapi dia akan tetap berolahraga lagi meskipun kakinya terluka dan masih terasa sedikit sakit, karena dia tak mempermasalahkannya selama dia bisa menjaga keseimbangan dalam tubuhnya.
Setelah mendapatkan matras gulug dan dumbbell kecil di tangannya, Emma segera menuju halaman tempat dia biasa berolah raga. Karena lukanya yang masih belum sembuh, sebisa mungkin dia menghindari olahraga yang terlalu berat dan membebani kakinya. Emma pun mengawali kegiatan olahraganya itu dengan melakukan stretching ringan yang kemudian dilanjutkan dengan melakukan beberapa gerakan upperbody gym seperti push-up dan sit-up. Dan dia terus melakukannya selama beberapa menit.
Selama Emma sibuk berolahraga, Satria keluar dari kamar dengan tampilan yang masih sangat kusut bahkan wajahnya masih tampak belum sepenuhnya bangun. Dia langsung berjalan menuju dapur dan mencari air dingin untuk menyegarkan tenggorokannya yang sudah terasa kering. Dan tanpa sengaja, Satria melihat Emma yang sedang berolahraga di halaman. Jelas saja itu langsung membuatnya sadar sepenuhnya dan segera berlari menuju Emma untuk menghentikan gadis itu.
“Apa yang kau lakukan?!”
Perasaan terkejut membuat Satria sedikit menaikkan suaranya saat dia menggenggam tangan Emma dan menghentikan apa yang gadis itu lakukan. Dengan mengerutkan dahinya, Satria menunjukkan kemarahannya pada gadis itu yang bahkan tak sadar dengan kondisi tubuhnya sendiri. Namun Emma hanya diam dan mendengarkan sampai Satria selesai bicara sebelum dia mengatakan bahwa dia tahu betul apa yang bisa dan yang tidak bisa tubuhnya lakukan.
Mendengar apa yang Emma katakan, Satria merasa bahwa semua rasa khawatirnya tak berguna di depan gadis yang bahkan tak tahu terimakasih itu. Dia pun segera melepakan genggamannya pada Emma dan menghela nafas panjang, berusaha untuk menahan emosinya mengingat apa yang sudah didengarnya semalam. Perlahan dia memberitahunya untuk berhenti, tapi gadis itu tetap bersikeras untuk melanjutkan olahraganya. Merasa tak punya pilihan lain, Satria terpaksa menawarkan diri untuk membantu gadis itu melatih otot - ototnya. Karena dia berpikir dengan melakukan itu, dia bisa mencegah Emma melukai dirinya lagi.
Sudah hampir selama satu jam Satria mengajari Emma beberapa gerakan sederhana untuknya. Mulai dari gerakan yoga bahkan sampai mengajarinya posisi yang benar dalam menggunakan dumbbell.
“Terimakasih”
Sebelum Satria pergi, Emma mengucapkan terimakasih sebagai bentuk formalitas setelah dia mendapatkan bantuan pria itu. Melihat Emma mengatakan itu dengan wajah datarnya yang menyebalkan, Satria berpikir untuk menggodanya. Dengan gestur tubuhnya, dia pun memberikan isyarat untuk Emma mengulagi perkataanya dan menambahkan sedikit senyum. Namun setelah melihat Emma tersenyum, suasana diantara mereka berdua menjadi sangat canggung. Satria juga merasa ada yang aneh dari caranya tersenyum, tapi dia tak tahu apa itu.
“Thanks”
Melihat wajah Satria yang terlihat tak puas dengan apa yang sudah dia lakukan, kali ini Emma berterimakasih dengan senyum yang sengaja dibuatnya semakin lebar. Dan kali ini Satria masih merasa tak puas dan sebelum pergi, pergi dia menyuruh gadis itu untuk melakukannya dengan lebih tulus lain kali. Namun Emma sunguh tak mengerti dengan maksud perkataan Satria. ‘Senyuman tulus?’ kalimat itu sedikit mengganggunya karena menurutnya cara dia tersenyum sudah sesuai dengan bagaimana orang lain melakukannya.
Merasa gerah setelah berolahraga, Emma pun segera pergi mandi dan tak ingin memikirkan hal itu lagi. Dengan handuk kecil dan gaun mandi di tangannya, Emma segera masuk dan mempersiapkan mandi busanya. Namun setelah akhirnya dia berendam, kata ‘tulus’ yang didengarnya tadi mulai menggangu pikirannya lagi. Bahkan setelah selesai mandi pun, dia masih cukup lama berdiri di depan cermin dan melihat sendiri bagaimana cara dia tersenyum.
“Tak ada yang aneh”
“Bukannya senyum memang seperti ini?”
Sudah berkali – kali dia memperhatikan senyumnya di cermin, tapi dia sama sekali tak menemukan hal yang aneh.
“Emma, apa kau masih lama?”
“Yang lain sudah menunggu di meja makan”
senyumnya.
Tak sesuai harapannya, Vian hanya diam menatapnya dengan wajah memerah tanpa memberinya respon apapun. Melihat Vian yang sama sekali tak mengatakan bahwa senyumnya terlihat aneh, Emma semakin yakin bahwa memang bukan dirinya melainkan Satria-lah yang aneh. Setelah memastikan hal itu, Emma segera pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian dan meninggalkan Vian yang masih membeku di depan pintu kamar mandi.
“Hm ... kenapa kau cuma minum susu?”
Hasan bertanya pada Emma yang kini sudah ikut bergabung dengan yang lain di meja makan untuk sarapan. Namun gadis itu hanya diam dan terus meminum susunya, sedangkan Vian dan Viona yang hanya bisa saling tatap saat mendengar pertanyaan Hasan. Sebenarnya mereka berdua ingin memberi tahu yang lain tentang alasan Emma melakukan hal itu, tapi mereka merasa hal itu tak sepatutnya mereka ceritakan jika orang yang bersangkutan bahkan tak mengatakan satu kata pun tentang hal itu.
“Apapun situasinya, kau tetap harus makan”
Satria yang juga tak tahu tentang kondisi Emma langsung menyodorkan pring penuh makanan pada gadis itu. Melihat itu, Emma berpikir mungkin sekarang sudah saatnya dia untuk mencoba hal ini karena pria itu pun juga sudah mati. Perlahan Emma meraih sendok dan mengambil makanan di depannya dan tanpa banyak berpikir lagi, dia langsung memasukkannya ke dalam mulut.
Vian dan Viona cukup terkejut melihat apa yang Emma lakukan. Namun mereka hanya diam dan membiarkan gadis itu melakukannya karena dia melakukan itu tanpa seorang pun yang memaksanya dan dalam hati, sebenarnya mereka juga ingin Emma mencoba mengatasi perasaannya itu. Emma terus memasukkan makanan itu dalam mulutnya hingga akhirnya dia berhasil makan sampai suapan keempat tanpa ada masalah.
Namun lagi – lagi Emma merasakan tenggorokannya tiba – tiba tak bisa menelan dan perutnya kembali bergejolak. Tak tahan lagi, dia segera berlari ke kamar mandi dan kembali memuntahkan semua yang dimakannya tadi ke toilet. Vian dan Satria yang melihatnya pun segera menyusul gadis itu dan merasa khawatir sekaligus bersalah karena telah membuatnya seperti ini.
Vian yang melihat Satria sudah berdiri di sampingnya, menjadi emosi saat dia mengingat bahwa pria itu yang sudah meminta Emma untuk makan. Namun kali ini, dia sungguh tak ingin termakan emosinya hingga menyebabkan masalah lagi untuk mereka semua. Dia pun hanya bisa menahan semua perasaannya itu dan berharap Emma baik – baik saja.
...
“Sat, sepertinya ada masalah sama anak itu”
Saat tengah malam dan semua sudah masuk kemarnya masing – masing selain Hasan yang memang tidur di sofa dan Satria yang sedang menghubungi Ares untuk memberikan laporanya tentang Emma. Secara singkat, Satria mengatakan apa yang didengarnya malam itu dan apa yang terjadi hari ini tentang gadis yang Ares suruh dia menjaganya.
Dan Ares yang saai ini sedang berada di rumah pribadinya, sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Satria. Dia khawatir sekaligus marah dengan dirinya yang tak bisa bersama gadis itu disaat seperti ini. Bahkan dia sampai melempar gelas kaca yang dipegangnya ke tembok sebagi bentuk pelampiasannya. Dan Satria yang mendengar suara keras pecahan kaca dari balik telfonnya pun bisa merasakan betapa marahnya pria itu saat ini.
“Aku segera kesana”
Tanpa memutus panggilan ponselnya, Ares pun memberi tahu Satria tentang apa yang harus dilakukannya sampai dia tiba di tempat mereka.