
😫 Maafkan keterlambatan author yaa 😫
🤗 Selamat membaca ... 🤗
“Kita mau kemana?”
“Diem aja. Nanti loe juga tau”
Satria dan Emma saat ini sedang dalam perjalanan menuju tempat pelatihan yang Ares maksud. Saat sarapan tadi, Ares memberitahu Emma untuk pergi bersama Satria tanpa menjelaskan lebih jauh tentang tempat tujuan mereka karena dia sadar bahwa tempat itu tetap harus tertutup untuk untuk orang lain. Mendengar itu, suasana diantara mereka semua termasuk Vian dan Viona seketika menjadi sedikit tegang. Karena Vian dan Viona sangat terkejut dan menolak keras keputusan Ares, mengingat kejadian tempo hari mereka merasa tak aman jika membiarkan Emma hanya pergi berdua dengan pria bar – bar seperti Satria. Namun Ares tetap tak memperdulikan penolakan mereka dan langsung menanyakan keputusan Emma yang hanya diam melihat mereka semua mulai ribut. Dan sikap si kembar seketika langsung tenang saat Emma menyatakan kesetujuannya untuk pergi bersama Satria karena dia merasa bahwa Ares tak akan merugikannya setelah apa yang sudah dia lakukan untuk mereka selama ini. Akhirnya, meskipun harus dengan berat hati Vian dan Viona terpaksa membiarkan Emma melakukan apa yang dia inginkan.
Perjalanan Emma dan Satria memakan waktu yang cukup lama, karena kondisi kota yang sangat padat terutama saat jam kantor seperti saat ini. Meskipun tempat tujuan mereka dan Ares sama, namun mereka terpaksa harus berangkat sedikit lebih siang karena Zen masih harus melakukan sesi paginya bersama Emma.
Hampir satu jam setengah, akhirnya Emma dan Satria tiba di depan gedung perusahaan Ares. Setelah Satria menghentikan mobilnya, dengan cepat dia membawa Emma masuk setelah dia memberikan kunci mobilnya pada salah satu pegawai yang kebetulan lewat. Dia mengganggam pergelangan tangan Emma dengan lembut saat menariknya masuk menuju lift karena dia tak ingin dapat masalah jika tangan kurus gadis itu sampai patah saat digengamnya.
Di dalam lift hanya ada mereka berdua dan Satria tampak menekan salah satu tombl namun bukan tombol angka yang umumnya menunjukkan posisi lantai yang kita tuju, tapi dia menekan tombol panah ke bawah yang letaknya agak terpisah dari tombol – tombol yang lain. Kemudian Satria menekan beberapa tombol angka yang juga ada di sana secara acak. Dan tanpa disadari, Emma baru merasakan bahwa lift sudah bergerak namun bukan keatas melainkan dia merasa bahwa mereka saat ini sedang menuju ke bawah namun entah kemana. Tak ada tanda – tanda lift akan berhenti sampai setelah tiga menit akhirnya pintu lift tiba – tiba terbuka.
“Apa kita ada di bawah tanah?”
“ ... ”
Emma bertanya sekedar untuk memastikan kecurigaannya. Namun Satria hanya mengangguk, membenarkan pertanyaan gadis itu tanpa menjelaskannya lebih detil. Setelah mendapatkan jawaban sekedarnya, Emma langsung mengedarkan pandangannya ke semua arah sambil terus berjalan megikuti Satria. Dan meskipun mereka sekarang berada di bawah tanah, tapi Emma sama sekali tak merasa seperti itu terlebih saat dia melihat seluruh tempat itu tampak sangat terang dengan banyaknya lampu dan banyak orang yang lalu lalang di sana.
Semakin jauh dia memasuki tempat itu, dia semakin merasa bahwa semua orang di sana sedang menatapnya. Sedikit risih, karena dia merasa sedang menjadi tontonan seperti di kebun binatang. Namun Satria seakan mengerti dengan ketidaknyamanan gadis itu dan langsung berteriak dengan suara lantangnya sampai semua orang disana bisa mendengarnya.
“Yang nggak fokus latihan, ketemu gue setelah ini!”
Setelah mendengar perkataan Satria, semua orang langsung membalikkan badan dan melanjutkan latihan mereka. Dan seketika suasana di tempat itu menjadi hening sampai terdengar suara Satria yang menutup pintu setelah dia dan Emma masuk ke satu – satunya ruangan berpintu di sana selain kamar mandi besar yang biasa digunakan bersama karena seluruh tempat itu hanya berupa lantai berdinding tanpa pintu dan terdapat banyak pagar kawat yang menjadi pembatas setiap ruangannya.
“Mulai sekarang loe akan belajar beberapa ilmu bela diri di tempat ini”
“Dan gue akan mengawasi loe secara langsung”
“Jadi, hati – hati”
Dengan senyum kecil di wajahnya, Satria terlihat seperti serigala licik yang menjebak si kerudung merah di hutan. Namun reaksi Emma sama sekali tak sesuai harapannya. Satria berharap bahwa gadis itu setidaknya menunjukkan sedikit keterkejutannya atau bahkan ketakutannya setelah mendengar apa yang dia katakan. Tapi gadis itu hanya diam dan mengangguk seperti memahami betul maksud dari ucapannya.
Tak lama, Emma pun keluar mengenakan setelan olah raga berwarna hitam dengan beberapa garis putih di bahu sampai lengannya. Namun Satria kehabisan kata – kata dan hanya menghela nafas panjangnya saat melihat Emma yang bahkan tak mengikat rambut sebahunya karena rambut sepanjang itu pun juga akan menghalanginya dalam berolahraga padahal dia sudah menjelaskan tujuan mereka datang ke tempat itu. Dan tanpa basa – basi, Satria berjalan mendekat kearah Emma sampai dia berdiri di belakang gadis itu. Dia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan dengan terampil mengikat rambut gadis itu, tanpa dia sadari tindakannya itu memancing rasa ingin tahu semua orang di tempat itu.
Sadar sedang menjadi tontonan, Satria memberikan tatapan tajam ke arah mereka yang membuat mereka semua seketika ciut dan langsung kembali ke tempat mereka masing masing meskipun masih berusaha mencuri pandang untuk melihat Satria dan Emma.
“Hm ... siapa mereka?”
“Akh ... mereka anak buah Ares dan ini tempat latihan mereka”
Emma bertanya setelah menyadari bahwa ada banyak sekali orang di tempat itu yang semuanya adalah laki – laki dengan tubuh yang cukup kekar. Namun Satria hanya memberikan jawaban sigkat seadanya karena dia tak ingin Emma tahu terlalu jauh tentang hal ini dan dia tahu bahwa itu juga yang diinginkan Ares.
“Sekarang, loe ikut gue pemanasan dulu”
Tak ingin membuang waktu, Satria segera mengajak Emma untuk memulai jadwal mereka hari ini dan dia memulainya dengan melakukan pemanasan. Untuk itu, dia membawanya ke suatu tempat tanpa pintu dan dinding, hanya ada pagar kawat besi yang membatasinya dengan ruangan lain. Di tempat itu, sudah terdapat beragam alat gym mulai dari treadmill hingga dumbbell beragam ukuran. Untuk permulaan, Satria dan Emma berlari menggunakan treatmill dengan kecepatan sedang selama hampir tiga puluh menit sebelum dia mulai melakukan peregangan selanjutnya.
Setelah cukup melakukan pemanasan, mereka berdua mulai berlatih boxing. Ini hal yang cukup baru bagi Emma karena sebelumnya dia tak pernah dengan serius melakukan olahraga ini. Dia hanya melakukan olahraga seadanya secara otodidak hanya untuk keperluan tubuhnya saja. Namun kali ini berbeda. Dengan arahan Satria, dia bisa merasakan setiap otot tubuhnya bergerak dengan penuh tenaga sampai dia bahkan tak menyadari bahwa waktu sudah cukup siang dan nafas Satria pun mulai terengah – engah .
“Istirahat dulu ... gue capek!”
Akhirnya, Satria menyerah dan tak tahan lagi untuk mengambil waktu istirahat. Awalnya dia merasa gengsi jika harus mengambil istirahat terlebih dahulu meskipun dia sudah merasa lelah karena Emma masih terlihat bugar bahkan keringat diwajahnya tak sebanyak keringat yang mengucur di wajah Satria. ‘Ah! Terserah! Makan gengsi, gue mati!!’ pikir Satria saat dia sudah tak tahan lagi. Namun saat mereka duduk berdua di sudut ruangan yang juga tanpa dinding dan pintu itu, Satria mulai merasa aneh melihat Emma. Pasalnya, meskipun setelah berjam – jam mereka berlatih tanpa istirahat, gadis itu sama sekali tak terlihat lelah bahkan nafasnya pun masi terdengar sangat teratur. Tapi Satria tak berpikiran aneh dan hanya beranggapan bahwa hal itu mungkin karena Emma selama ini rutin berolahraga.
Waktu sudah sangat sore, tapi tak ada satupun orang di tempat itu yang berani pergi terlebih dahulu karena mereka tahu bahwa Satria juga masih berlatih disana. Meskipun wajah mereka sudah terlihat pucat karena kelelahan, mereka tak berani jika mendahului pria yang menjadi komandan sekaligus pengawas mereka karena waktu evaluasi mereka yang sudah dekat, mereka tak ingin menjadi sasarannya mempersulit mereka.
“Kalian pulang satu jam lagi!”
Teriak Satria pada semua pria disana. Dengan penampilannya yang sudah rapi dan segar, dia dan Emma berjalan menuju lift tempat mereka masuk tadi. Setelah menyelesaikan latihan, mereka berdua segera membersihkan diri dan bersiap pulang karena mereka tak ingin terkena masalah jika sampai melewatkan jam makan malam.
“Ini akibat karena loe semua nggak nurut sama gue ... .”
Dengan santai, Satria bergumam pelan sambil berjalan. Dia merasa puas akhirnya bisa membalas mereka semua karena berani melihatnya dan Emma selama latihan tadi. Dan dengan wajah tengilnya, dia menatap semua pria yang melihatnya dengan wajah memelas sebelum akhirnya pintu lift tertutup.
Dengan cara yang sama, Satria menekan tombol panah ke bawah lalu menekan beberapa tombol angka juga namun kali ini bukan kebawah, tetapi lift bergerak ke atas dan membawa mereka sampai ke lantai satu gedung perusahaan. Berbeda dengan saat mereka masuk tadi, kali ini Satria dan Emma berjalan beriringan meskipun tak membicarakan sesuatu. Namun langkah Emma seketika terhenti saat dia melihat mobil Satria yang sudah terparkir di depan pintu masuk. Lebih tepatnya, dia seperti terpikirkan sesuatu saat melihat plat nomor mobil kuning itu. Dan Satria yang menyadari Emma sudah tak berada disebelahnya lagi, segera berbalik dan heran saat melihat gadis itu hanya berdiri diam seperti patung.