
“Apa yang kalian lakukan?!!”
Pria tua itu sangat marah melihat kekacauan yang sudah Ares dan Satria lakukan. Walaupun dia sudah tak lagi muda, tapi auranya masih sangat mendominasi mereka semua. Hanya usianya saja yang menua, tapi dengan tatapan tajam dan badannya yang masih kekar itu tak akan ada yang menyangka bahwa tahun ini usianya sudah menginjak enam puluh tiga tahun.
Dengan langkahnya yang tegap dan postur tubuhnya yang gagah, dia berjalan menghampiri mereka berdua yang sudah berdiri menyambut kedatangannya. Melihat wajah mereka penuh luka, dia bisa menebak apa yang sudah terjadi disana. Dan tanpa basa basi, dia langsung mendaratkan pukulan keras ke wajah Satria dan membuat anak itu terpental tersungkur di lantai.
“Dasar bocah liar!! Beraninya kau membuat kacau di tempatku?!!”
Pukulan itu langsung membuat bibir Satria berdarah. Merasakan sakitnya, dia tak mau berdiri dan memalingkan wajahnya. Menolak untuk menatap wajah pria yang selalu merendahkannya. Melihat anak itu tak bereaksi, pria tua itu langsung mengangkat kakinya dan menginjak tubuh Satria beberapa kali.
“Kakek!!”
Ares terkejut melihat semua itu terjadi begitu cepat dan membuatnya terlambat menyadari sikap kakeknya itu. Dia segera pasang badan untuk sahabatnya yang masih tergeletak di lantai dan menatap kakeknya dengan tajam.
“Sudah berulang kali kukatakan. Dia orangku. Kakek tak berhak memukulnya!”
Ares tahu bahwa hal ini bukan yang pertama kalinya terjadi. Sejak Ares membawa Satria dulu, sudah tak terhitung berapa kali kakeknya menghajar anak itu bahkan dia tak pernah ragu untuk menghajarnya sampai dia tak sadarkan diri. Meskipun begitu, dia tetap tak bisa berbuat apa – apa karena dia masih harus bertahan untuk mencari adiknya. Walaupun kakeknya dan semua orang mengatakan bahwa adiknya sudah mati, Ares masih yakin bahwa adiknya itu masih hidup entah dimana.
Melihat tatapan tajam Ares, dia menghentikan aksinya dan duduk dengan nyaman di sofa meninggalkan Satria yang babak belur di lantai. Dan dengan angkuhnya, dia menyuruh sekertaris cucunya dan juga Satria yang masih kesakitan untuk segera pergi meninggalkan mereka berdua. Tak ingin ada masalah lagi, Ares menyuruh mereka berdua untuk segera pergi. Walaupun harus dengan berat hati, Satria tetap pergi meninggalkan kakek dan cucunya itu untuk berbicara empat mata.
“Kudengar kau mencari seorang gadis?”
“Tentu saja tidak. Kakek dengar dari siapa omong kosong seperti itu?”
Mereka berdua mulai berbicara empat mata dan duduk saling berhadapan dalam ruang kerja yang terlihat kacau. Sambil menyilangkan kakinya, Ruvan mulai bertanya dengan menatap sinis kearah Ares tentang beberapa kabar tak enak yang didengarnya. Tapi dia tak terpengaruh tatapan kakeknya dan dengan santai menyangkal semua pertanyaan.
“Kau masih mencari anak itu? kenapa kau mencari orang yang sudah mati?”
Masih tak yakin dengan jawaban yang didengarnya, Ruvan kembali bertanya untuk memancing reaksi anak itu. Tapi mengerti maksud pertanyaannya, dia memberikan jawaban apa yang kakeknya ingin dengar. Mengatakan tidak perduli dan mengakui kematian adiknya. Walaupun dadanya terasa berat saat harus mengatakan semua itu, tapi dia tetap tersenyum dengan wajah polosnya. Bahkan kepalan tangannya pun mulai berdarah karena manahan emosi, namun dia tetap harus menyembunyikan kenyataan bahwa semua dugaan kakeknya itu benar dan membuatnya berhenti ikut campur dengan masalahnya. Saat Melihat sikap Ares yang tetap tenang, Ruvan tak ingin membahas masalah itu lagi dan langsung berbicara mengenai maksud kedatangannya.
“Dalam tiga hari, pergilah ke Jakarta Selatan. Ada bisnis yang harus kau urus disana”
“Temui Andi Putra. Dia akan membantumu sampai semua urusan disana selesai”
“Dan juga.... singkirkan Pradigta yang kau sembunyikan disana”
Ares sontak terkejut mendengat kalimat terakhir kakeknya. Pasalnya, tak ada yang tahu tentang hal ini selain dia, Satria dan sekertarisnya. ‘Sudah kuduga sekertaris itu tikusnya kakek’. Kali ini dia yakin bahwa orang yang selalu bersamanya itu adalah orang suruhan kakek untuk mengawasinya.
Dia tahu kakeknya sangat tak menyukai Pradigta karena dia adik dari wanita yang sudah membuat hidup putra semata wayangnya sengsara. Tapi dia tak pernah menyentuhnya karena putranya sudah menganggap pria itu seperti saudara. Namun hal itu tak berlaku setelah dia tahu kekacauan yang dibuatnya waktu itu. Padahal Ares sudah berusaha mati – matian untuk mencegah kakeknya mendengar tentang masalah itu, tapi tetap saja sia – sia.
“Aku benci kau bergaul dengan mereka. Tapi pilihlah, Pradigta atau si Anak liar itu”
Melihat Ares yang masih diam mendengar perintahnya, Ruvan memberikan pilihan yang mudah. Dia tahu bahwa cucunya itu pasti memilih Satria dari pada Pradigta. Dengan begini, tujuan untuk menyingkirkan pria itu bisa tercapai.
Mendengar hal itu, Ares tak punya pilihan. Dia marah pada dirinya sendiri karena tak bisa berbuat apa – apa selain mengikuti keinginan kakeknya.
“Baiklah.. aku turuti kemauan kakek...”
Dengan tak berdaya, sekali lagi Ares harus menyerah terhadap kakeknya. Mendengar jawaban yang diinginkannya, membuat Ruvan sangat puas dan tertawa terbahak – bahak.
“Kalau begitu, urusanku hari ini sudah selesai”
“Kakek pergi dulu, sampai bertemu di rumah saat makan malam”
Dengan suasana hati yang bagus, Ruvan pergi meninggalkan Ares yang menundukkan kepala memberikan salam pada kakeknya. Dengan perasaan yang kacau, saat ini dia hanya bisa pasrah menerima perintah.
“Ah.. percaya padaku, anak tak berguna itu sudah mati. Dan kau memang harus percaya itu”
Sebelum membuka pintu, Ruvan berbalik dan mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum pergi. Merasa berhasil mempermainkan emosi cucunya itu, dia tersenyum kecil sebelum akhirnya benar – benar pergi.
“Aaaaakkkhhhh!!!!”
“Brak!”
Ares sudah tak tahan mendengar kakeknya yang selalu berbicara buruk tentang adiknya. Dia meninju tembok kosong, mencari pelampiasan untuk semua emosinya. Terkejut mendengar teriakan Ares, Satria bergegas masuk melihat kondisi pria itu dan terkejut melihat tangannya terluka bahkan sampai mengucurkan darah segar.
“Dia masih hidup.. dan dia bukan anak yang tak berguna..”
Satria hanya diam melihat Ares tertunduk di depan tembok yang retak setelah dihajarnya. Mendengar gumamannya, dia tahu dengan jelas apa yang pria tua itu katakan sampai membuat Ares menjadi seperti itu. Tapi dalam situasi seperti ini, tak ada yang bisa dilakukannya selain menemaninya dalam diam.
“Hah...”
“Tiga hari lagi, kita ke Jakarta Selatan. Ada bisnis yang harus kita selesaikan. Detailnya, akan kuberitahukan nanti”
Ares menghela nafas panjang, mencoba mengumpulkan kembali kewarasannya sebelum berbalik dan berbicara pada Satria yang masih setia berdiri menemaninya. Dengan langkah tegap, Ares kembali duduk di kursi kerjanya seperti tak terjadi apa – apa.
“Kenapa?”
“Apa aku terlihat menyedihkan sekarang?”
Dengan senyum kecilnya, Ares menatap Satria yang melihatnya dengan tatapan aneh. Dia menyesal membuat sahabat yang sudah menjadi saudara baginya itu harus sekali lagi melihat sisi dirinya yang menyedihkan.
“Sampai kapanpun, loe selalu jadi kebanggaan gue”
Ares terkejut mendengar Satria mengungkapkan perasaannya dengan serius. Karena itu sama sekali bukan sifatnya.
“Kenapa sekarang kau sangat serius? kau pikir kau keren?”
“Hahahahaha...”
Dengan tawanya yang lebar, Ares seakan perlahan melepas semua rasa gundah di hatinya. Dia mengerti maksud ucapan Satria, dan bersyukur bahwa dia masih menjadi sahabatnya. Tapi di sisi lain, Satria yang melihat Ares menertawainya sedikit menyesal dengan apa yang sudah diucapkannya tadi dan bersumpah bahwa itu adalah pertama dan terakhir kalinya dia mengucapka hal keren untuk pria itu.