
“Kau tidak bisa mengelak lagi!”
“Aku tahu kau itu pecandu, kan?! Kau juga dokter malpraktek!”
“Katakan dengan jujur pada kami sekarang!”
Sepulang bekerja paruh waktu dan melakukan rutinitasnya, Emma, Vian dan Viona duduk di ruang makan dan terlihat sedang meributkan sesuatu. Sebelumnya, Emma sudah tahu kemana arah pembicaraan mereka dari e-mail yang Rizwan kirimkan. Emma hanya diam melihat mereka berdua ribut, karena apa yang mereka lakukan dan mereka pikirkan sama sekali bukan urusannya. Begitu juga sebaliknya, tentang masalahnya dan tentang siapa dia sama sekali bukan urusan mereka. Tapi dia tetap tak mengerti apa yang membuat mereka sampai melakukan semua hal merepotkan itu dan sekarang mereka malah mengajaknya duduk bertiga dan meriakkan hal – hal yang tak masuk akal. Rasanya dia ingin sekali segera masuk ke kamarnya meninggalkan mereka berdua, tapi pergi saat orang lain sedang berbicara denganmu itu hal yang tak sopan untuk dilakukan. Jadi Emma hanya bisa bertahan dengan semua omongan - omongan tak berdasar yang mereka lakukan.
“Diamlah dulu! Biar aku saja yang tanya”
“Kau diam dan cukup dengarkan saja”
Viona berusaha menahan adiknya yang semakin berapi – api. Dan dia mulai menanyakan hal yang sama pada Emma namun dengan cara bicara yang lebih tenang dan tidak menghakiminya. Tapi meskipun sudah ditanya baik – baik, Emma tetap menutup mulutnya. Dan hal itu membuat Vian mulai emosi. Untung disana masih ada Viona yang siap memukulnya setiap kali dia mulai berulah.
“Huh! Sudah kubilang dia bukan orang baik seperti dugaanmu. Tapi kenapa kau masih membelanya?”
Masih emosi, Vian menyindir cara Viona yang dianggapnya tak tegas menangani masalah ini. Tapi Emma mulai terganggu mendengar perkataan Vian yang seakan menyebutnya sebagai penjahat. Tak terima karena dia selalu melakukan semuanya sesuai aturan dan tak pernah membuat masalah, Emma tiba – tiba balik menanyakan kejelasan identitas mereka yang tak pernah dia permasalahkan sebelumnya.
“Ini terbalik. Bukankah seharusnya kalian yang jelaskan lebih dulu?”
“Siapa kalian dan kenapa kalian sampai melarikan diri dari para gangster itu? bahkan kalian sampai dihajar habis - habisan”
“Padahal kalian sudah bekerja cukup lama untuk mereka”
Emma mengatakan semua dugaan kasarnya pada mereka. Meskipun begitu, Vian dan Viona langsung terdiam mendengar perkataan Emma. Mereka terkejut karena mengira Emma tahu tentang semua hal itu. Suasana disana langsung berubah hening. Viona dan Vian saling bertukar pandang, bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. ‘Kenapa malah jadi seperti ini? kenapa malah dia yang tanya?’.
“Baiklah. Aku akan cerita”
“Tapi sebagai gantinya, kau juga harus jawab dengan jujur pertanyaan kami tadi”
Emma mengangguk setuju. Meskipun sebenarnya dia tak begitu perduli, tapi tetap tak ada salahnya untuk mengetahui sipa mereka. Dan tanpa bisa dihentikan, Viona mulai bercerita tentang asal usul mereka, tanpa memperdulikan Vian yang berusaha menghentikannya.
Viona memulai ceritanya dengan mengatakan bahwa mereka anak yatim piatu dan melarikan diri dari panti asuhan ‘Bunda’ lima tahun yang lalu. Hal itu mereka lakukan karena takut tiba - tiba akan menghilang seperti teman – teman mereka. Setelah keluar dari sana, hidup mereka berdua menjadi tak pasti. Mereka harus bertahan hidup dikehidupan jalanan yang keras. Dan satu keputusan bodoh yang mereka ambil saat hidup mereka berada di ujung tanduk, membuat mereka harus bekerja pada para gangster itu. Viona juga mengatakan bahwa selama tiga tahun mereka disana, banyak yang bisa mereka dapatkan selain uang. Memang hidup terasa lebih baik, tapi mereka selalu merasa tak tenang bahkan di setiap jam kehidupannya, mereka merasa takut orang – orang itu akan membunuhya. Di hari mereka bertemu Emma, adalah saat mereka sudah tak tahan dan memutuskan untuk lari. Memang terdengar seperti pengecut, bahwa mereka melarikan diri dari pilihan yang sudah mereka buat. Tapi tak masalah, selama mereka masih bisa melihat matahari esok dengan tenang.
Meskipun Viona bercerita dengan tegas, tapi suaranya tetap terdengar bergetar. Bahkan sangat jelas terlihat bahwa dia menahan air matanya saat mengingat semua yang pernah mereka lalui.
“Jadi benar dugaanku. Kalian memang anggota gangster yang melarikan diri”
Itu kalimat pertama yang Emma ucapkan setelah mendengar seluruh cerita Viona. Hal itu membuat Vian terkejut dan marah. Dia beranggapan bahwa gadis itu sedang mempermainkan mereka. Emosinya semakin meningkat saat dia melihat Viona yang jarang menangis sampai meneteskan air matanya karena perkataan gadis itu.
Awalnya, semua itu hanya dugaan tak berdasar Emma setelah melihat bagaimana kondisi mereka saat pertama kali bertemu. ‘Kalau memang benar, kenapa mereka marah?’ Emma yang menganggap dunia ini penuh kelicikan, merasa tak ada yang salah dengan tindakan dan ucapannya.
Vian hendak bangkit dari tempat duduknya dan memukul gadis itu. Tapi beruntung Viona sempat menghentikannya meskipun Vian sempat memberontak. Dan sekali lagi, suasana mereka menjadi canggung tanpa ada yang berbicara. Sambil menunggu mereka berdua membuka mulut, Emma menikmati segelas susu di depannya dengan santai.
“Kenapa? Bukankah ini giliranmu untuk jujur?”
Viona mulai memandang Emma dengan tatapan yang berbeda. Dia merasa sedikit kecewa dengan sikapnya yang seakan menganggap mereka menipu, padahal dia tak pernah berbohong hanya tak menceritakan hal itu lebih rinci padanya.
“Aku tak masalah jika kalian tahu, toh beberapa hari ini kalian sudah menyelidiki tentangku. Tapi biar kuperjelas, aku bukan pecandu. Kepalaku memang sering sakit dan orangtuaku memberikan suntikan itu setidaknya sebulan sekali untuk menghilangkan rasa sakitnya. Aku juga pindah kemari untuk mencari seseorang. Kalau tentang alasanya, kalian bisa cari berita tentang kasus keluarga Jackson”
Setelah mengatakan hal itu, Emma segera menghabiskan susunya dan pergi ke kamar. Vian dan Viona hanya diam melihat kepergian Emma dan mulai mencari tahu tentang berita yang dikatakannya tadi.
Betapa terkejutnya mereka saat mengetahui bahwa itu adalah berita tentang sidang kematian kedua orangtua Emma. Dan kalimat ‘... anak korban, nona E hadir sebagai saksi pembunuhan yang dilakukan tuan P...’ membuat mereka ngeri saat membayangkan apa yang sudah anak itu lalui.
“Apa karena ini, dia selalu minum obat tidur setiap malam?”
Ucapan Viona yang tiba – tiba, membuat Vian terkejut karena menurutnya Emma sama sekali tak terlihat seperti orang yang memiliki gangguan tidur. Pandangannya tentang gadis itu perlahan berubah. Dia merasa iba dan bersalah atas apa yang sudah diperbuatnya.
“Akukan selalu bilang, jangan memikirkan hal – hal yang sulit. Selalu saja begini setiap kali kau pakai otakmu itu”
Wajah Vian seketika berubah mendengar kata – kata yang keluar dari mulut Viona. Dia tak percaya saudarinya sendiri tega berbicara seperti itu. Tapi kali ini dia sadar, bahwa apa yang dilakukannya adalah salah karena dia hanya perduli dengan apa yang dipikirkannya tanpa melihat kebenaran dari dua sisi terlebih dahulu. Dan dia mulai harus belajar untuk lebih percaya dengan insting seorang wanita. Vian juga tak membantah saat Viona menyuruhnya untuk meminta maaf dan mulai memperlakukan gadis itu lebih baik.
“Emma, sebagai ucapan terimakasih dan rasa penyesalan, kami ingin membantumu”
“Aku tak butuh bantuan kalian”
Melihat bagaimana Emma menolak tawarannya, Viona mengira bahwa Emma masih marah atas kejadian kemarin. Dia terus berusaha meyakinkan Emma untuk mengizinkan mereka membantunya. Tapi Emma tetap menolak, karena menurutnya mereka tak seharusnya ikut campur dalam permasalahan itu.
“Meskipun kami terlihat seperti ini, aku dan Viona cukup bisa diandalkan”
“Dan...A.. Aku minta maaf karena menuduhmu dan menyelidikimu tanpa izin”
Emma yang awalnya tetap diam, langsung setuju untuk menerima bantuan mereka setelah mendengar
permintaan maaf Vian. ‘Hah! Dasar picik’ Vian tak habis pikir melihat perubahan sikapnya yang tiba – tiba.
“Kalau begitu, mulai sekarang kita bisa tinggal bersama”
“Dan pertama, kalian bisa membantuku mencari tahu tentang orang ini”
Tanpa membuang waktu, Emma langsung meminta bantuan mereka untuk mencari tahu tentang Pradigta. Sambil menyodorkan gambar wajah Pradigta yang digambarnya dulu, dia mengatakan semua hasil pencariannya selama ini. Viona menerima permintaan itu dengan senang hati dan langsung surfing untuk mulai mencari informasi tentang orang itu.