
“Tuan, kakek Anda datang dan baru saja melewati gerbang depan”
Setelah Ares menerima laporan dari penjaga gerbang rumahnya, dia yang sekarang masih berada di ruang kerjanya berjalan mendekati jendela dan melihat mobil hitam kakeknya sudah mendekati pintu rumahnya. Tak ingin jika kakeknya bertemu Emma, dengan cepat dia menghubungi Satria yang sekarang sedang bersama gadis itu. Dia tak tahu seberapa lama kakeknya akan tinggal, yang pasti Ares tak bisa membiarkan pria tua itu melihat Emma.
“Jangan kembali sebelum kuhubungi. Kakek datang”
Hanya secara singkat, Ares memberitahu Satria untuk tak kembali sebelum dia memastikan bahwa keadaan sudah benar – benar aman untuk Emma. dan setelah mengakhiri panggilannya dengan Satria, Ares segera keluar menuju pintu depan untuk menyambut kedatangan kakeknya.
“Selamat datang, kek”
Dengan senyum terpaksa yang terpasang di wajahnya, Ares menyambut kedatangan kakeknya itu. Meskipun dia tak tahu tujuan pria tua itu tiba – tiba datang ke rumahnya, setidaknya dia tetap harus menunjukkan sopan santun untuk menghormati mendiang orangtuanya. Namun, tanpa repot – repot membalas salam cucunya, Ruvan langsung masuk tanpa memperdulikan Ares yang masih berdiri di pintu masuk.
Melihat kakeknya yang sudah masuk bahkan tanpa dipersilahkan, dengan perasaan jengkelnya Ares langsung berbalik dan berjalan mengikuti kakeknya. Meskipun begitu, mereka berdua terus diam tanpa saling menanyakan kabar.
“Apa yang ... .”
“Kudengar kau dekat dengan seorang wanita?”
Ares menghentikan lagkahnya. Tubuhnya terasa kaku setelah mendengar perkataan Ruvan bahkan jantungnya berdetak lebih kencang dan keringat dingin juga perlahan mulai muncul di keningnya. Meskipun Ares berusaha bersikap tenang, tapi dia sama sekali tak bisa menutupi perasaan gelisahnya. Dan belum sempat mengelak, dia melihat bibir kakeknya sedikit tersenyum saat melihatnya yang tampak gugup. Dan itu membuat Ares semakin khawatir.
Ruvan terus berjalan dan duduk di sofa besar, di ruang tengah. Dari tempat itu, dia bisa melihat Ares yang masih berdiri kaku di dekat ruang tamu. Tak begitu jelas, tapi dia melihat mata Ares yang tampak bergetar saat dia menanyakan tentang wanita itu. Dan hal itu membutikan bahwa ucapannya benar. Tapi bukan senang, Ruvan malah merasa ada emosi yang mulai tersulut dalam hatinya. Dia tak suka jika Ares mendekati seoarang wanita yang bahkan dia sendiri tak tahu asal usulnya.
“Kenapa kau tak memperkenalkannya padaku?”
“Apa karena dia terlalu cantik?”
“Apa karena dia dari keluarga biasa?”
“Atau ... karena dia mirip dengan adikmu yang sudah mati itu?”
Dengan tatapan tajamnya, Ruvan bertanya dengan hati – hati, memperhatikan bagaimana Ares akan kembali bereaksi dengan pertanyaannya. Ruvan duduk dengan sangat nyaman tanpa mengalihkan pandangannya pada Ares yang perlahan mulai mendekatinya.
Ares sudah tak tahan dengan sikap kakeknya. Setelah jutaan kali dia mendengar kalimat “Adikmu yang sudah mati” dari mulut pria tua itu, kini telinganya terasa panas saat harus mendengarnya sekali lagi. Perasaan marah dengan cepat menguasai tubuh dan kesadarannya. Perasaan menyesal setelah dia mengatakan hal yang sama kepada Emma waktu itu, masih melekat kuat dalam hatinya. Dia sudah tak perduli jika kakeknya tahu tentang Emma. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah bagaimana cara membuat pria tua itu menutup mulutnya.
“Ah ... apa dia benar – benar mirip adikmu yang sudah mati?”
“Kau harus berhenti dan melupakan obsesimu itu”
“Bukan hanya kau yang sedih ... kakekmu yang tua ini juga sedih dengan kematian cucunya”
Kalimat simpati yang terucap dari mulut Ruvan tak selaras dengan bagaimana wajah dan cara dia berbicara. Dia tahu salah satu perkataannya sudah membuat Ares sedikit bereaksi. Namun itu belum cukup untuk membuat Ares mengatakan apa yang sedang dirahasiakannya. Dan satu – satunya cara untuk membuat anak itu hilang akal dan mengatakan semuanya, hanya dengan membicarakan kematian Reyna, adiknya.
“Apa kau tak suka aku berbicara tentang Reyna?”
Dengan senyuman sinisnya, Ruvan menatap tajam Ares yang kini sudah ada di depan matanya. Dia terus mengatakan hal – hal tentang Reyna karena dia tahu benar bagaimana sifat cucunya itu. Dia tahu bahwa Ares adalah type orang yang pemarah dan selalu bertindak tanpa berfikir setiap kali emosi sudah mulai menguasainya.
“Hentikan omong kosongmu!”
“Jangan pernah berbicara tentang Reyna dengan mulutmu itu”
Dengan cara bicara yang terdengar dingin, Ares perlahan memberi peringatan pada Ruvan untuk segera menutup mulutnya sebelum dia mulai bertindak kasar. Namun Ruvan sama sekali tak gentar mendengar gertakan bocah kecil seperti Ares dan terus berbicara untuk memancing emosi Ares.
Ares pun mulai tak tahan setelah mendengar kalimat sampah yang selalu di dengarnya sejak dia kecil. Kepalan tangannya pun mulai gemetar dan tanpa sadar, Ares sudah melayangkan pukulan bertenaganya ke wajah pria tua itu. Namun tinjunya terhenti tepat sebelum menyentuh wajah tua kakeknya saat dia menyadari ada sesuatu yang menyentuh perutnya. Ya, dengan sigap, Ruvan mengarahkan belatinya tepat di perut Ares. Dan dengan santai, dia memperingatkan Ares bahwa dia tak akan segan untuk menusuknya jika Ares sampai berani mengibarkan benderang perang dengannya.
Namun Ares sama sekali tak perduli dengan peringatan kakeknya dan memukul wajah pria tua itu dengan sekuat tenaga. Bukan hanya sekali, namun dia memukulnya beberapa kali dengan kekuatan penuh karena dia tahu, kulit keriput kakeknya itu hanya sekedar penutup untuk semua otot kekar di tubuhnya.
Ares menyerang, begitu juga dengan Ruvan. Dia benar – benar tak segan menusuk perut cucunya itu dengan belati di tangannya. Walapun dia masih bisa duduk santai menerima semua pukulan Ares, namun pantang baginya untuk menjilat kembali ludah yang sudah menyentuh bumi. Dan dengan tangan dinginnya, dia menusuk perut Ares semakin dalam untuk setiap pukulan yang diterimanya bahkan dia sama sekali tak mengedipkan mata untuk
melakukannya.
Ares yang perlahan mulai kehilangan kekuatannya, hanya bisa roboh di hadapan kakeknya. Namun harga dirinya menolak untuk berlutut di depan pria tua itu sehingga dia memaksa kedua kaki yang sudah gemetar itu untuk terus menopang tubuhnya walau sudah tak lagi seimbang.
“Berhenti mengatakan bahwa kau bersedih untuk kami!”
“Berhenti ikut campur dalam kehidupan kami!”
“Kau pikir aku tak tahu apa yang sudah kau lakukan?”
Dengan suara lemah, Ares berusaha berteriak pada kakeknya. Meskipun tubuhnya sudah meringkuk kesakitan, dia tetap berusaha mendekati Ruvan yang masih duduk tegap menatapnya. Namun, Ruvan yang terlihat tak senang dengan perkataan Ares langsung menendangnya keras sampai tubuh Ares terlempar dan membentur tembok. Seketika itu juga, darah segar langsung keluar dari mulutnya.
Ruvan langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Ares yang sudah tergeletak lemas penuh darah. Meskipun melihat keadaan cucunya yang menyedihkan, Ruvan tetap tak bergeming dan langsung berlalu melewati Ares yang mulai kehilangan kesadarannya. Saat dia mendekati pak Ko yang masih berdiri di tempatnya setelah semua kejadian itu, Ruvan mengatakan padanya untuk tetap menjaga Ares tetap hidup yang dijawab anggukan oleh pak Ko. Setelah itu, Ruvan langsung pergi meninggalkan tampat itu tanpa berhenti untuk kedua kalinya.
“Cari tahu tentang semua wanita di dekat Ares”
“Dan aku mau semua informasi tentang keluarga Jackson selama tiga belas tahun terakhir”
Setelah masuk mobilnya, Ruvan segera menghubingi seseorang untuk membuktikan kecurigaannya. Dari perkataan Ares yang didengarnya tadi, dia curiga Ares mengetahui sesuatu tentang Reyna. Sambil memandangi foto seorang wanita di handphonenya dengan tatapan yang berubah lembut, Ruvan mengungkapkan kerinduannya dengan mata berkaca – kaca. Dalam hati, dia berjanji dengan terus menatap foto itu untuk tidak akan membiarkan kesalahan seperti dulu terulang lagi.
Sedangkan di tempat lain, Emma dan Satria terlihat baru keluar dari ruang pemeriksaan setelah mengikuti Zen bertemu dengan profesornya. Meskpiun Satria terlihat biasa saja, namun Emma terlihat lebih diam dan tampak sedang memikirkan sesuatu.