
Emma harus pergi. Untuk sementar waktu, dia tak bisa menempati rumahnya karena kejadian itu. Setelah tak menemukan apapun di laboratorium rahasia, Emma pergi menuju hotel bintang lima yang tak terlalu jauh dari rumah sakit. Dia mulai merasa lelah, dan ingin segera berendam dalam air hangat penuh busa dengan sentuhan lilin aroma terapy disana. Untuk saat ini dia tak ingin memikirkan hal – hal yang terlalu rumit, hanya ingin memikirkan betapa nikmat mandi busanya nanti. Tapi hal itu sulit karena dia masih memikirkan perutnya yang masih terasa berputar. Selama menjadi dokter, dia tak pernah menemukan keadaan seperti ini. yakin bahwa apa yang dirasakannya bukan hal yang berbahaya, dia hanya berharap bahwa tubuhnya akan kembali seperti semula setelah dia istirahat nanti.
Berhenti di depan hotel, Emma segera memberikan kunci mobilnya pada petugas valet yang sudah berdiri di dekat mobilnya. Ini memang bukan pertama kalinya dia menginap di sana. Sudah seperti rumah keduanya, setiap kali dia harus tugas malam, atau kapanpun ada keperluan di rumah sakit, dia selalu memilih hotel itu untuk menginap. Sampai petugas valet pun hafal dengan mobil yang selalu dikendarainya itu. Memasuki lobby, Emma langsung memesan kamar suit room. Jenis kamar yang mirip dengan apartemen kecil dengan fasilitas yang cukup lengkap dengan ruang tamu dan dapur di dalamnya. Setelah mendapat kunci kartu untuk kamarnya, dia segera menuju lift. Mungkin karena ini musim libur sekolah, banyak orang yang menginap di sana dan membuat lift yang dinaikinya jadi sedikit sesak. Tapi satu persatu dari mereka turun di setiap lantai sampai hanya tersisa empat orang yang sepertinya menuju lantai yang sama. Mereka berdiri berjauhan. Dua diantaranya sibuk dengan handphone mereka masing – masing. Dan satu orang yang berdiri di depan, tampak sibuk bercermin merapika rambutnya yang berantakan. Dan benar saja, mereka semua turun di lantai yang sama, lantai lima belas. cukup tinggi memang, karena hotel ini termasuk salah satu hotel dengan bangunan tertinggi di Jakarta.
Mereka mulai berpisah jalan, menuju kamar mereka masing – masing. Tanpa membawa koper satu pun, Emma berjalan perlahan menyusuri lorong panjang, mencari nomor pintu kamarnya. Meskipun begitu, pandangannya terlalu fokus menatap layar handphonenya. Dia membaca jurnal online tentang kasus untuk operasinya. Sampai dia tak menyadari seseorang perlahan mengikutinya dari belakang.
Dari arah yang berlawanan, seorang pria berjalan menuju lift. Wajahnya terkejut, tak menyangka akan melihat Emma di sana. Dia memperlambat langkahnya, ingin lebih lama melihat Emma. Tapi perhatiannya teralihkan saat melihat sosok pria berjalan di belakang Emma. Dengan emosi, dia berlari menghampiri Emma saat melihat sesuatu di tangan pria aneh itu.
“Permisi, tangga darurat ke arah mana ya?”
Perhatian Emma teralihkan saat mendengar seseorang tiba – tiba bicara padanya. Dia menunjuk ke arah lift, dan memberitahunya bahwa di ujung lorong ada pintu tangga darurat. Dia terkejut, melihat pria yang berkaca di lift tadi masih ada di belakangnya. Pria itu hanya mengangguk memberi salam, dan mereka membalasnya. Dia sempat melirik tajam ke arah Emma, sebelum akhirnya berlalu dan hilang di balik persimpangan lorong.
“Ah.. aku mengerti. Terimakasih”
Ucapnya, setelah menyadari pria mencurigakan tadi sudah pergi. Emma dan pria itu saling menatap dalam diam. Dia heran, kenapa pria itu masih berdiri menghalanginya. ‘apa ada yang mau dia tanyakan lagi?’ pikirnya. Dan Emma merasa wajah pria itu sedikit tak asing. Dia berusaha menggali ingatannya, mencoba mengingat dimana dia pernah melihatnya. Setelah beberapa saat, pria itu mengucapkan selamat tinggal dan sekali lagi berterimakasih padanya. Tepat setelah pria itu berjalan melewatinya, Emma menyadari bahwa wajahnya mirip dengan sosok pria dalam mobil yang dilihatnya di pemakaman tadi. Sudah jauh, Emma tak sempat mengucapkan terimakasih untuk payung yang diberikannya tadi. Dan dia segera pergi menuju kamarnya.
Di sisi lain, pria yang tadi bersama Emma, penasaran dengan lelaki aneh yang mengikuti gadis itu tadi. Dia langsung menghubungi seseorang, meminta mereka untuk memeriksa cctv dan menyelidiki pria yang ditemuinya di lantai lima belas itu. Sambil terus berjalan menjauhi Emma, dia menghubungi orang lain lagi dengan handphonenya.
“Hei, aku kirim foto. Kau ikuti dan awasi dia”
“Kenapa harus gue!? Gue lagi libur...”
“Aku tahu, liburmu hanya di kamar. Jadi, cepatlah pergi!”
Tanpa memperdulikan protes lawan bicaranya itu, dia segera menutup telefon dan terus berjalan menuju lift.
Pagi ini Emma kembali ke rumah sakit dengan kondisi yang lebih baik setelah tidur malamnya. dia memasuki ruang operasi, dan menyapa timnya yang sudah bersiap di sana. Dengan senyum lebar yang selalu dibuatnya, dia kembali memasang wajah seorang remaja penuh karisma. Tapi dia merasa ada yang aneh dengan cara mereka menatapnya. Tak seperti biasanya, mereka terdiam melihat kedatangan Emma. Tapi dia hanya menganggap bahwa mereka hanya terkejut melihatnya yang tiba – tiba datang. Awalnya dia tak perduli, namun itu terjadi sepanjang hari hingga tiba waktunya makan siang. Saat antri makanan di cafetaria, bukan hanya timnya, tapi hampir semua anggota rumah sakit ikut menatapnya dengan aneh. Mereka segera mengalihkan pandangannya saat Emma membalas tatapan mereka. Emma mulai terganggu saat mendengar mereka berbisik membicarakannya. Dia tak habis pikir dengan sikap mereka yang tiba – tiba berubah. Merasa tak melakukan kesalahan, dia segera membawa makanannya ke meja pojok cafetaria. Melalui dinding kaca didekatnya, dia bisa menikmati makan siangnya dengan melihat pemandangan taman rumah sakit. Di sana banyak pasien yang lalu – lalang, mencari suasana baru
saat mereka merasa bosan di kamar.
Perhatiannya langsung teralihkan saat beberapa orang ikut bergabung di mejanya. Anggota timnya, termasuk Profesor Rizwan tiba – tiba duduk mengisi beberapa kursi kosong di dekatnya. Suasana sunyi saat dia duduk sendirian, menjadi berisik dengan kedatangan mereka.
“Jangan makan sendirian...”
Salah satu seniornya menjawab tatapan Emma, seakan mengerti maksudnya. Emma bingung dengan sikap mereka. Dari beberapa film yang pernah ditontonnya, dia yakin sedang dibully. Dan seharusnya tak ada yang mendekatinya saat dia duduk sendiri. Dengan wajah datar, Emma menanyakan alasan mereka duduk bersamanya dan alasan semua orang sampai membullynya, padahal dia tak pernah membuat masalah. Mendengar ucapannya, mereka semua tertawa keras sampai semua orang memperhatikan mereka. Mereka menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Mereka tak mengerti, kenapa Emma sampai menganggap mereka semua membullynya. Dan Profesor Rizwan menjelaskan, bahwa mereka semua tak pernah membullynya. Kabar bahwa Emma langsung melakukan operasi setelah mengantar orang tuanya ke ruang autopsi telah menyebar. Mereka hanya heran dengan sikapnya yang tenang seperti tak ada yang terjadi, padahal baru saja menyaksikan kedua orang tuanya menjadi korban pembunuhan.
“Apanya yang aneh? Bukannya mati itu hal yang pasti? Hanya caranya yang berbeda. Mereka sudah mati dan aku juga sudah memakamkan mereka. Bagianku sudah selesai. Masalah kasus pembunuhan, bukannya itu bagian polisi?”
Tanpa sadar Emma mengatakan apa yang ada dipikirannya. Mereka yang awalnya tertawa, kini diam saling pandang, tak tahu apa yang harus dikatakan setelah mendengar perkataanya. Mereka tak percaya, gadis manis yang mereka kenal mememiliki pemikirian semacam itu. bulu kuduk mereka berdiri saat tiba – tiba Emma tersenyum lebar setelah menerima telfon dari polisi dan pamit pergi menemui mereka yang sudah menunggunya.
Emma menemui dua petugas polisi berseragam lengkap yang sudah menunggunya, duduk di bangku taman rumah sakit. Dan sekali lagi, dia menjadi pusat perhatian karena petugas yang bersamanya. Menyadari ekspresi risih mereka, dia meminta kedua polisi itu untuk tak menghiraukan orang – orang yang menatapnya.
“Kami sudah mengintrogasi beberapa orang yang sesuai dengan gambaran dokter waktu itu. Tapi mereka semua mengelak dan memilih untuk diam”
“Apa dokter bisa ke kantor untuk memastikan?”
Dengan cepat Emma menjawab bahwa hari ini dia agak sibuk. Dan mungkin baru bisa ke kantor polisi besok pagi. Kedua petugas itu hanya bisa setuju. Karena kesaksian Emma menjadi penentu bagaimana langkah mereka selanjutnya.