
Tak terdengar lagi suara dari balik tembok. Di bawah langit gelap dan hujan yang mengguyur deras, seorang pria masih berdiri di sisi tembok rumah yang tampak mewah dari segalasisinya. Menanti saat yang tepat untuk masuk kedalam. Hari masih siang, tapi langit gelap dan hujan yang semakin deras membuat mereka yang tinggal disekitar daerah itu lebih memilih berdiam di rumah menikmati waktu bersama keluarga. Hal ini jelas membuatnya mendekat tanpa keraguan sedikit pun. Mencari celah, dia memanjat pagar tembok yang hanya sedikit lebih tinggi darinya di bagian belakang rumah. Mendarat dengan halus, dia segera mencari tempat untuk bersembunyi dari cctv disana. dia tahu persis semua lokasi cctv di rumah itu, setelah mengawasinya beberapa hari yang lalu.
Dia melanjutkan langkahnya perlahan, menuju tempat sekring listrik dengan tetap menghindar dari setiap cctv di setiap sudut rumah. Tanpa ragu, dia langsung memutus aliran listrik di seluruh rumah itu dan masuk dari pintu samping. Mengetahui kebiasaannya, dia tahu bahwa Albert dan Alexandra akan langsung menuju ruang baca di lantai dua setelah mereka kembali dari laboratorium mereka. Listrik yang padam membuat beberapa lampu darurat seketika menyala, dan menerangi rumah dengan cahaya temaram. Satu persatu dia menaiki anak tangga. Perasaannya semakin menggebu. Semakin dekat dengan mereka, jantungnya berdegub lebih kencang. Perasaan berdebar yang begitu nikmat. Sesaat dia berdiri, menatap pintu besar sebuah ruangan yang tertutup rapat. Tak ada suara yang terdengar dari sana. Menatap tangannya, dia penasaran dengan reaksi wanita tersayangnya itu jika tahu apa yang akan dilakukannya hari ini. ‘haha, mungkin dia akan menghajarku jika tau tentang ini’. Dengan segera dia menepis semua perasaan yang bisa menahannya. Menghela nafas panjang, dia berusaha untuk tenang , tak mau momen sekali seumur hidupnya ini jadi kacau. Dia benar – benar akan membuat mereka menyesali hidupnya. Tanpa perduli apa yang akan terjadi nanti, dia mendorong kuat pintu ruangan di depannya itu.
Mendengar suara pintu terbuka, perhatian Albert dan Alexandra teralihkan. Mereka yang berada cukup jauh dari pintu, tak dapat melihat jelas siapa yang sudah lancang memasuki rumah mereka, terlebih dengan cahaya lampu yang redup, hanya bayangannya yang terlihat jelas.
“Siapa kau? Bagaimana kau bisa masuk kesini?”
Sosok itu semakin mendekat dan Albert segera menuju kearah istrinya dan menyembunyikan wanita itu di belakang punggungnya. Tapi pertanyaanya tak mendapat jawaban dan sosok itu tetap mendekat. Perasaannya buruk tentang hal ini, dan Albert segera memberi isyarat agar Alexandra segera menjauh, mencari tempat berlindung. Alexandra merasa harga dirinya terluka jika harus bersembunyi seperti itu, tapi kali ini dia tak punya pilihan dan segera lari ke sudut ruangan, bersembunyi dibalik kursi. Dengan bolpoint sebagai senjata ditangannya, Albert bersiap menyambut siapapun yang mendekat. Wajahnya terkejut bukan main. Matanya terbelalak saat wajah sosok itu berada cukup dekat dengannya untuk bisa terlihat dengan jelas.
“P..P..Pradigta?”
Suara Albert gemetar melihat sosok yang dikenalnya. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Dia kembali teringat dengan perbuatannya tiga belas tahun yang lalu. Waktu itu saat dirinya dikuasai amarah dan perasaan dendam, dengan kedua tangannya sendiri, dia merenggut nyawa sahabat dekatnya. ‘kenapa dia kemari? Apa dia tahu sesuatu tentang kejadian itu?’ Albert berfikir keras, meyakinkan dirinya bahwa tak ada yang tahu tentang hari itu selain Alexandra. Jantung Albert berdetak lebih cepat. Dia merasakan seluruh tubuhnya menghangat dan keringat mulai mengalir di garis punggungnya saat melihat Pradigta menatapnya tajam, dengan senyum kecil di ujung bibirnya. Pradigta terus melangkah, tapi Albert perlahan mundur, berusaha menghindarinya.
“Kau tahu alasanku kemari, kan?”
Pradigta bertanya dengan menekan disetiap katanya. Albert hanya diam. Tapi di dalam hatinya dia tahu benar kenapa orang itu datang menemuinya. Dia terus melangkah mundur saat Pradigta mendekatinya. Tapi langkahnya terhenti, terantuk kursi yang didudukinya tadi.
“KAU TAHU KAN!!”
“APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN TANGAN KOTORMU ITU!”
“KAU HANCURKAN HIDUPKU! KAU MENGAMBILNYA DARIKU!!”
Pradigta berteriak, mulai mengeluarkan kekesalannya. Dan dengan kasar mendorong tubuh tua Albert, membuatnya terduduk. Setelah mengatur nafasnya mencoba untuk lebih tenang, Pradigta kembali menanyakan alasan mereka melakukan perbuatan keji itu. Dia memperotes mereka yang masih bisa melanjutkan hidup bahagianya setelah membuat hidupnya jadi tak berarti.
“Bahagia kau bilang?”
“KAU PIKIR KARENA SIAPA KAMI HIDUP MENYEDIHKAN SEPERTI INI?”
“Kau tahu bagaimana sekarang kami harus memohon dan menundukkan kepala pada ******** seperti mereka!?”
Walaupun dia tahu bahwa Pradigta mungkin datang bukan untuk kematian sahabatnya, tetapi untuk kakak perempuannya, Anatari. Wanita yang menjadi istri sahabatnya, yang ikut tewas hari itu karena perbuatannya. Meskipun begitu, Albert tetap emosi mendengar perkataannya, dan tanpa sadar langsung melayangkan tinju tepat ke wajah Pradigta yang membuatnya tersungkur dengan darah di bibirnya. Segera berdiri, Pradigta membalas pukulan Albert lebih keras. Meskipun jauh lebih tua darinya, Pradigta tak sungkan untuk membalas pukulannya. Dia menganggap orang sepertinya tak pantas mendapatkan rasa hormat darinya. Pukulan kerasnya jelas membuat Albert seketika jatuh. Alexandra emosi, tak terima melihat suaminya dipukul. Dengan cepat dia meraih lampu baca di dekatnya, dan memukul belakang kepala Pradigta dengan keras yang membuat kakinya sempoyongan. Darah mengalir dikepala Pradigta, membuat kepalanya terasa seperti berdengung. Matanya mulai berat, hampir tak sadarkan diri. Tapi dia menolak untuk jatuh. Rasa marahnya yang kembali meluap, memaksanya untuk tetap sadar.
“Kenapa kau tak ikut kakakmu, si Anatari ke neraka!?”
Pradigta mengepalkan tangannya, mendengar hinaan Alexandra. Dia berusaha menahan diri untuk tidak memukulnya. Tapi dia tidak terima jika nama kakaknya harus keluar dari mulut wanita itu. Tidak terima jika kakaknya harus mendapat hinaan yang tak pantas dia dapatkan, walaupun dia sudah mati sekalipun.
“Kau tahu, wanita itu sangat menyedihkan”
“Bahkan saat nyawanya di ujung tanduk pun, dia masih menangis memohon untuk bertemu lelaki tak tahu
diri itu!”
Kali ini ucapan Alexandra berhasil merusak pertahanannya. Dan dengan keras, Pradigta menampar wajah wanita itu. Pradigta merasakan berat di dadanya. Air matanya mulai mengalir. Dia tak bisa membendung perasaan emosionalnya, saat membayangkan bagaimana wajah kakaknya saat memohon pada mereka disisa nafasnya. Betapa hancur perasaa kakaknya saat tak bisa melihat pria tercintanya sampai kematian menjemput. Walau tak memiliki ikatan darah, tapi Anatari sudah menjadi cahaya penuntunnya sejak mereka hidup di panti asuhan. Dia tak terima jika kehidupan malang kakaknya juga harus berakhir dengan tragis seperti ini.
“A...AA...AAAKKHHH!!”
Teriakannya terdengar sangat frustasi. Pikirannya kalut. Dia tak lagi bisa berpikir dengan akal sehatnya. Perlahan, dia mengeluarkan sebilah pisau dari belakang bajunya. Pisau haus darah yang sedari tadi sudah menunggu perintah tuannya.
Dengan pisau di tangannya, dia melangkah perlahan, menghampiri Alexandra yang masih terduduk memegang pipinya yang memerah. Ketakutan terlihat jelas di wajah Alexandra saat listrik lembali menyala dan melihat Pradigta sudah berdiri di depannya dengan tatapankeras penuh dendam. Kakinya lemas, membayangkan apa yang akan diperbuat pria gila di depannya itu. Dengan mengesot, Alexandra membawa tubuhnya menjauh. Tapi itu sia – sia. Pradigta terus mendekatinya dan mengarahkan pisau pada tubuh wanita itu.
Belum berhasil mendekati wanita itu, tapi langkahnya terhenti. Albert yang tersadar, memaksa tubuh tuanya untuk bergerak dan menahan kaki Pradigta dari belakang. memeluknya dengan erat, membuat Pradigta sulit bergerak. Tak ingin dihalangi, Pradigta menendang tubuh Albert hingga terpental. Tapi usahanya tak berhenti di situ. Dia melempar buku tebal yang tergeletak di sampingnya ke arah Pradigta. Namun dia tetap tak bergeming dan semakin mendekati Alexandra yang masih meringkuk di lantai.
“Jangan bunuh aku! Pria tua itu yang melakukan semuanya!”
“Dia juga yang membunuh si Ani.... ukh!”
Kalimatnya terhenti saat pisau di tangan Pradigta menggorok leher Alexandra. Darah segar seketika
menyembur mengotori wajah Pradigta yang masih menatapnya dengan lekat.
“Sudah kubilang, jangan sebut nama kakakku dengan mulut kotormu!”
Alexandra tewas seketika dengan darah yang terus mengalir dari lehernya. Pradigta kembali menatap Albert yang tampak tak terkejut melihat istrinya tewas. Dia merasa dikhianati oleh istrinya, dan tak perduli jika Alexandra harus mati seperti itu. Dengan nada mengejek, Pradigta menyindir hubungan rumah tangga mereka yang sangat bahagia. Pradigta menghampiri Albert dan berjongkok di samping tubuhnya yang sudah tak berdaya.
“Tenang. Aku akan membuatmu mati perlahan”
Melihat apa yang bisa dilakukan Pradigta padanya, Albert berharap dia segera membunuhnya.