
Sudah tengah hari, dan juga sudah waktunya bagi Ares dan Satria menghadiri rapat final yang selama beberapa hari ini sudah mereka persiapkan. Postur tubuh Ares yang sangat proporsional dan cukup tinggi membuatnya terlihat gagah terlebih dengan setelan jas navy yang dikenakannya, membuatnya tak kalah tampan dengan oppa – oppa Korea yang banyak digemari anak – anak muda zaman sekarang. Setelah memastikan penampilannya sudah sempurna.
Saat membuka pintu, dia cukup terkejut melihat Satria yang juga mengenakan setelan jas dan sudah menunggunya di depan pintu. Setelan jas berwarna hijau army yang di kombinasikan dengan kemeja putih tanpa dasinya, membuat Satria tak kalah tampan jika disandingkan dengan Ares.
“Lama banget sih loe. Gue udah gerah nih, gak tahan”
Dengan cepat Satria mendorong tubuh Ares untuk cepat berangkat. Dan Ares hanya diam pasrah menerima perlakuan sahabatnya itu. Selama perjalanan, senyum Ares terus merekah melihat Satria yang sekarang sudah duduk disampingnya. Dia selalu merasa aneh setiap kali melihat pria itu berpakaian formal dan bersikap sok berwibawa. Karena Satria yang dia tahu adalah orang yang berjiwa bebas dengan prinsip ‘semau gue’.
“Tuan, kakek Anda ... .”
“Diam!”
“Tapi tuan ... .”
“Diam! Atau kubuat kau diam selamanya!”
Seketika senyum Ares hilang saat mendengar sekretarisnya berniat menyampaikan pesan kakeknya lagi. Suara Ares cukup keras hingga membuat pria itu diam ketakutan. Suasana hatinya kini jadi buruk karena Ares teringat lagi kenyataan bahwa sekretaris yang bersamanya selama ini adalah orang suruhan kakeknya. Semakin kesal, karena dia tidak bisa benar – benar menyingkirkannya karena kakeknya juga melindungi orang itu. Dalam sekejap, suasana dalam mobil terasa suram dan hening.
“Loe gila ya? kalo dia lapor tentang ini ke pak tua itu, gimana?”
Tiba – tiba, ponsel Ares bergetar. Dan ternyata, diam – diam Satria mengiriminya pesan. Dengan tetap memasang wajah serius, Ares juga secara diam – diam membalas pesan Satria dan mengatakan bahwa dia sama sekali tak perduli denga hal itu. Selama sisa perjalanan, mereka berdua terus saling bertukar pesan secara rahasia bahkan sesekali mereka mengetik tanpa melihat layar handphone agar sekretaris dan supirnya tak menaruh curiga pada mereka.
“Tuan, kita sudah sampai”
Sadar bahwa mereka sudah sampai di depan sebuah gedung tinggi pencakar langit, Ares dan Satria segera keluar dari mobil. Dengan langkah yang percaya diri, mereka berjalan melewati pintu masuk diikuti sekretarisnya yang mengikuti tepat di belakang mereka. Penampilan Ares dan Satria cukup noticeable dengan wajah yang cukup mencolok sehingga membuat kemunculan mereka tiba – tiba menjadi pusat perhatian. Setiap pekerja disana melihat mereka dengan tatapan yang berbeda – beda. Sebagian besar dari mereka adalah pekerja wanita yang mengagumi ketampanan dan kegagahan mereka yang terpancar disetiap langkahnya.
“Ah ... gue memang tampan”
Satria sedikit berbisik menyadari semua tatapan yang tertuju padanya. Mendengar itu, Ares hanya tersenyum kecil tak percaya dengan rasa percaya diri sahabatnya yang tinggi.
Menggunakan lift, Ares menuju lantai paling atas tempat pertemuan mereka akan dilaksanakan. Lantai itu terlihat jauh lebih sepi dari lantai dasar yang dilihatnya tadi. Disana hanya ada satu ruangan besar, dengan satu meja sekretaris di dekat pintu masuknya.
Tanpa basa – basi, mereka bertiga terus berjalan tak memperdulikan sekretaris wanita yang berusaha mencegahnya masuk. Tanpa permisi, Satria segera membuka pintu ruangan besar itu. Dan di dalamnya, Ares mendapati seorang pria yang tak terlalu tua sedang duduk santai di sofa sambil menikmati secangkir teh hangat. Dia Hasan Pratama, pemilik grup Pratama yang baru setelah kematian ayahnya tahun lalu.
“Tuan Johnson ... .”
Tanpa berdiri, pria itu menyapa Ares dengan santai dan mempersilahkannya duduk.
“Kenapa kau mengganggu bisnisku akhir – akhir ini?”
“Kau cari mati?”
“Meskipun kau penerus si Johnson tua itu, disini tetap wilayahku”
Dengan sikap arogannya, pria itu langsung berbicara membabi buta setelah mereka duduk saling berhadapan. Tapi Ares tetap tak bergeming dengan gertakan tempe semacam itu. Dan hanya memberinya tatapan tajam.
Selama beberapa hari kemarin sejak mereka tiba di Jakarta Selatan, Ares menemui Andi Putra sesuai perintah kakeknya dan dengan bantuan orang itu, mereka bisa lebih cepat mengumpulkan beberapa bukti pelanggaran wilayah yang Hasan Pratama lakukan. Dan Ares juga melakukan beberapa pekerjaan tambahan untuk memancing Hasan hingga akhirnya sekarang mereka bertemu dalam satu ruangan.
“Aku akan selesaikan ini dengan tenang jika kau mau bekerja sama”
Hasan terkejut begitu mendengar perkataan Ares dan terdiam karena tanpa dia sangka Ares tahu apa yang sudah dilakukannya. Tapi dia tetap tak mau menyerah begitu saja dan terus mengelak meskipun dia sudah seperti tikus yang terpojok.
Mulai kehilangan kesabaran, Ares mengeluarkan pistol revolver dari belakang celananya. Dia memainkan pistol itu perlahan, mengancam pria itu tanpa kata. Tapi Hasan tak mau terintimidasi dan segera memanggil beberapa anak buahnya. Dan sesaat kemudian, beberapa pria bertubuh besar sudah berdiri memenuhi ruangan itu dan mengepung Ares; Satria bahkan sekretarisnya juga. Tapi Ares sama sekali tak terpengaruh dengan hal itu.
“Suruh mereka pergi. Kita selesaikan saja ini dengan tenang”
Mendengar ucapan Ares yang tiba – tiba, Hasan tertawa keras menganggap semua ucapan itu hanya gurauannya semata. Sekali lagi, Hasan menegaskan bahwa mereka tidak sedang dalam posisi untuk memberinya perintah. Tapi Ares hanya tersenyum sinis mendengar perkataan pria itu. Melihat sikap Ares, emosinya mulai tersulut dan Hasan segera memerintahkan pria – pria itu untuk menyerang mereka. Dia bahkan tak perduli jika Ares adalah orang yang cukup berpengaruh dalam dunia perbisnisan mereka.
Melihat para pria itu mulai bergerak, dengan cepat Satria membuka setelan jas yang sudah membuatnya sesak itu dan menggulung lengan kemeja putihnya. Dan tanpa basa basi dia langsung menghajar para pria itu dengan tangan kosongnya.
‘Dor! Dor!’
Ares menembakkan pistolnya ke langit – langit, membuat suasana di sana langsung berubah hening. Satria juga menghentikan pukulannya dan melepaskan pria yang akan dihajarnya.
“Sudah kubilang aku mau ini selesai dengan tenang”
Perlahan Ares menghampiri Hasan yang masih duduk ditempatnya dan mengatakan bahwa nyawa pria itu sekarang ada ditangannya.
“Apa kau gila!? kau sung ... .”
Kalimatnya terhenti saat Ares mengarahkan pistolnya tepat ke kepala pria itu. Ares pun menjelaskan bahwa kakeknya hanya menginginkan kematian pria itu dan memastikan dia tak akan lolos setelah membuat masalah dengan kakeknya.
“Tapi aku akan menyelamatkanmu. Sebagai gantinya, serahkan semua milikmu”
“Tenang saja, kau masih bisa mengurus semuanya seperti biasa”
Ares mendekatkan wajahnya pada Hasan dan berbisik padanya. Dia tak ingin sekretarisnya tahu bahwa dia berniat melepaskan pria itu. Mengetahui bagaimana kejamnya seorang Ruvan Johnson, Hasan merasa tawaran Ares lebih aman untuknya dan mengangguk perlahan menyetujui tawaran itu.
Melihat jawaban pria itu, Ares segera menyuruh Satria untuk mengurus Hasan dan orang – orangnya. Setelah mengatakan itu, Ares dan sekretarisnya pun pergi meninggalkan ruangan yang tiba – tiba menjadi cukup gaduh itu.
“Dor! Dor! Dor! Dor!”
Terdengar beberapa kali suara tembakan dan seketika ruangan itu menjadi tenang tak terdengar suara sedikitpun. Dan Satria muncul dari balik pintu dengan sedikit percikan darah di wajahnya. Menganggap tugas mereka sudah selesai, sekretaris segera melaporkan kematian Hasan Pratama pada Ruvan. Dia lalu memberitahukan agenda mereka selanjutnya untuk menemui Pradigta dan membereskannya. Namun sebelum itu, Ares mengajak Satria untuk mampir di salah satu butik terkenal di daerah sana.
“Beli setelan jas hitam yang baru. Setidaknya itu cara kita menghormatinya”
Ares menyuruh Satria untuk segera membeli setelan jas baru. Setelah memilih cukup lama akhirnya pilihan mereka jatuh pada setelan jas dengan model yang sekilas terlihat mirip, dengan warna hitam polos dan terdapat garis putih di beberapa bagiannya.
“Hah.. cepat atau lambat, kita tetap harus melakukannya”
Menghela nafas panjang, Ares dengan malas menyuruh supirnya untuk bergegas pergi ke rumah Pradigta.
Di sisi yang lain, dan di waktu yang sama, Emma juga bersiap menuju rumah Pradigta bersama Vian dan Viona.