PEEK A BOO

PEEK A BOO
BERITA KEMATIAN



“Sat, sebentar lagi berita itu akan ditayangkan”


“Nanti akan ada banyak wartawan juga disana. Kau cukup suruh pengganti itu untuk menemui mereka”


“Ingat, tetap bersama Emma dan patikan Hasan tak keluar dari sana”


Ares yang saat ini sedang dalam perjalanan ke rumah kakeknya, menyempatkan diri untuk menghubungi Satria yang masih berada di Jakarta Selatan bersama Emma. Setelah dia sampai di rumah pribadinya tadi pagi, dia hanya memiliki waktu tidur selama dua jam sebelum menemui kakeknya. Dengan kemampuan menyetir yang sudah tak perlu dipertanyakan lagi, perjalanan jauhnya jadi tak memakan waktu lama dan hanya dalam waktu lima belas menit dia sudah sampai di depan gerbang rumah yang sangat besar.


Sebelum gerbang terbuka, seorang petugas terlihat berlari menghampirinya dan terkejut saat melihat Ares. Dengan cepat, petugas itu segera menghubungi rekannya melalui walkie talkie di tangannya. Dan tak lama, pintu gerbang besar itu pun terbuka secara otomatis. Sambil menunduk menunjukkan rasa hormatnya, petugas itu mempersilahkan Ares untuk lewat. Dan mobil Ares pun segera melaju melewati gerbang rumah kakeknya. Ya, Ares masih harus mengendarai mobil untuk sampai di depan rumah kakeknya. Dia juga akan melewati taman bunga tulip beraneka warna di sepanjang jalannya.


Mengapa bunga tulip? Karena bunga itu adalah bunga kesukaan nenek, wanita yang sangat dicintai kakeknya. Namun jika masuk dan melihat semua bunga itu dari dekat, maka akan terlihat bunga forget-me-not yang tersebar secara acak di antara bunga – bunga tulip itu. Penataannya memang terlihat tak begitu rapi, tapi kakeknya menanam sendiri bunga kecil berwarna biru itu satu persatu setiap hari sejak kematian neneknya sekitar dua puluh dua tahun yang lalu. Karena banyak orang yang mengatakan bahwa bunga itu sebagai lambang kesetiaan dan cinta sejati. Dengan begitu, neneknya akan tahu bahwa pria itu hanya akan mencintai satu wanita dalam hidupnya.


“Silahkan masuk tuan muda, tuan besar sudah menunggu Anda di dalam”


Seorang pria tua dengan penampilan khas seorang pelayan, mempersilahkan Ares masuk setelah dia sampai di depan rumah utama keluarganya. Sudah lama dia tak menginjakkan kaki di rumah itu. Lebih tepatnya selama tiga bulan terakhir, Ares tak pernah mengunjungi tempat yang pernah menjadi rumahnya itu. Langkah kakinya langsung menuju ke sebuah ruang keluarga dengan sofa besar dan televisi lebar disana. Dan Ares yang berdiri tegak langsung menundukkan kepala, memberi khormat saat dia melihat kakeknya sedang duduk santai disana.


“Ah ... kau sudah datang”


“Duduklah”


Dengan terus melihat acara yang sedang ditontonnya, Ruvan menyuruh Ares untuk segera duduk. Namun selama beberapa menit, mereka berdua hanya duduk diam disana tanpa ada yang berbicara.


“Bagaimana?”


Setelah acara yang ditontonnya selesai, akhirnya Ruvan mulai bersuara dan menanyakan tentang bisnis yang dia suruh Ares untuk mengurusnya.


“Sekretarisku pasti sudah melaporkannya pada kakek”


“Dan sebentar lagi berita tentang itu juga akan disiarkan”


Sambil meminum teh yang sudah disediakan untuknya, dengan santai Ares menjawab pertanyaan kakeknya. Lalu Ruvan juga menanyakan tentang sekretaris Ares yang  tiba – tiba menghilang. Dan Ares dengan tenang juga menjelaskan bahwa dia tak tahu tentang keberadaan orang suruhan kakeknya itu. Ruvan tertawa keras mendengar jawaban Ares karena anak itu jelas sudah tahu bahwa sekretarisnya adalah orang suruhannya dan yakin bahwa Ares sudah menyingkirkan pria itu dengan sangat rapi bahkan sampai seorang Ruvan Johnson pun tak bisa melacak keberadaannya.


Ruvan segera mematikan televisinya bahkan sebelum laporan beritanya belum selesai ditayangkan. Dia sudah merasa puas dengan cara cucunya menyelesaikan pekerjaan secara halus sampai kejadian itu terlihat seperti sebuah kecelakaan akibat kesalahan mesin biasa.


... .


Sedangkan di tempat lain, Hasan dan yang lainnya termasuk Emma dan Vian baru saja meyelesaikan sarapannya saat menonton berita itu. Berita tentang kematian Hasan. Jelas saja, Vian dan Viona terkejut setengah mati mendengar berita bahwa Hasan Pratama telah tewas. Padahal orang yang dikatakan sudah mati itu kini duduk diam dalam keadaan sehat di hadapan mereka. Tapi reaksi mereka sangat berbanding terbalik dengan Satria; Emma dan Andre yang terlihat sangat tenang bahkan setelah mendengar semua berita itu.


Namun berbeda dengan Vian dan Viona yang masih tak tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi, Emma sudah bisa melihat benang merah tentang pemalsuan kematian yang mereka lakukan ini. Namun dia lebih memilih untuk tetap diam dan tak ingin ikut campur terutama saat masalah itu sama sekali tak menyangkut tentang dirinya.


“Kau sudah tak bisa keluar dari tempat ini dengan bebas”


“Ingat, kau sudah mati”


Dengan suaranya yang terdengar dingin, Satria mengingatkan Hasan tentang situasinya saat ini. Dia juga memberitahunya bahwa jika dia nekat untuk melanggar hal itu, Ruvan akan tahu dan akan membalasnya dengan lebih kejam. Hasan hanya terdiam mendengar semua ucapan Satria padanya. Dalam hatinya, dia sebenarnya menyesal sudah menerima tawaran Ares yang akan terus mengikatnya. Namun dia juga bersyukur bisa lolos dari tangan kejaman Ruvan berkat tawaran Ares padanya.


“Biar aku urus ini”


Seperti yang sudah Ares katakan, dari sejak berita itu disiarkan sudah ada banyak reporter yang berkumpul di depan gedung pratama menunggu kejelasan tentang berita itu. Dan Satria yang melihat hal itu pun langsung menghubungi seseorang dan menyuruhnya untuk secara resmi mengumumkan tentang kematian Hasan dan menunjuk pengganti yang sudah disiapkannya sebagai pemilik grup pratama yang baru.


Memang penunjukan seperti ini perlu dilakukan karena Hasan yang merupakan anak tunggal dan kedua orang tuanya juga telah tiada sama sekali tak memiliki ahli waris. Dan akan sangat mencurigakan jika Ares secara terang – terangan mengumumkan kepemilikannya tentang bisnis keluarga pratama. Sehingga Ares tanpa sepengetahuan kakeknya, telah mempersiapkan seseorang untuk berperan sebagai pemilik bisnis pratama yang baru. Karena dia ingin tempat itu menjadi tempat untuknya bisa bebas melakukan apapun yang dia mau, tanpa ada orang – orang suruhan kakeknya yang akan mengawasi.


“Hei, apa kau juga melarangku untuk keluar?”


Tiba – tiba Emma menghampiri Satria yang masih berbicara di telfon dengan seseorang. Melihat gadis itu ingin berbicara dengannya, Satria segera mengakhiri panggilannya dan mulai berbicara berdua dengan Emma.


Vian yang sudah mulai tenang, kini kembali emosi saat dia melihat Emma dan Satria yang hanya berbicara berdua. Melihat itu, dia merasa jengkel dengan sikap Emma yang tetap tak menyadari kesalahannya dan sama sekali tak berusaha meminta maaf untuk apa yang sudah dia lakukan semalam. Namun dia tak ingin emosinya kali ini membuat hubungannya dengan Emma semakin cangung. Dan dia lebih memilih untuk diam – diam keluar dan menenangkan diri.


Melihat banyaknya reporter di depan gedung, Vian berusaha mengendap – endap keluar melalui pintu samping. Tapi tanpa Vian sadari, wajahnya sempat tertangkap kamera saat ada reporter yang sedang melakukan siaran langsung tentang situasi di depan gedung pratama.


Di tempat lain, pria pincang yang melarikan diri waktu itu, mengenali wajah Vian yang tanpa sengaja dilihatnya saat menyaksikan laporan berita tentang grup pratama. Dan itu membuatnya yakin bahwa gadis buruannya juga pasti ada disana. Dengan senyum di wajahnya, dia merasa senang dan tak ingin membuang waktu lagi. Dia pun segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi menghubungi seseorang.