PEEK A BOO

PEEK A BOO
JUJURLAH!!



Masih dari tempatnya berdiri, Emma berjalan mendekati jendela dan melihat kepergian Vian dan Viona. Karena Vian mengatakan ini bukan perpisahan, Emma tak berniat mengantar kepergian mereka meskipun dia merasa cukup terganggu dengan keputusan mereka. Setelah memastikan bahwa mereka sudah pergi cukup jauh, Emma segera keluar menemui Ares dan Satria yang masih berada di luar setelah mengantar kedua orang itu.


“Ayo pergi”


Suara Emma yang tiba – tiba muncul dan berdiri di samping Satria membuat mereka terkejut. Lagi – lagi, dengan wajah tanpa ekspersinya, Emma berbicara pada Satria dan mengajaknya untuk segera ke tempat pelatihan seperti biasa. Dan hal ini jelas membuat Satria yang melihatnya sedikit bingung dan jengkel. Pasalnya, Emma sama sekali terlihat tak perduli dengan kepergian kedua teman dekatnya itu bahkan dia juga tak mengantar mereka. Satria juga mulai bingung melihat emosi Emma yang terus berganti tanpa ritme yang jelas. Ada kalanya Satria melihat Emma seperti gadis remaja pada umunya namun seketika itu juga, dia melihat gadis itu langsung  berubah layaknya sebuah robot yang hanya menjalankan program sudah sudah diatur untuknya.


Karena Ares yang juga masih berdiri di dekatnya, Satria tak bisa benar – benar mengomel dan marah pada Emma. Dia tak ingin liburan dan bonusnya yang sudah lama dinanti menjadi taruhannya. Dia pun langsung setuju dan segera pergi mengambil mobilnya di garasi.


“Kau tak pergi?”


Emma bertanya pada Ares karena dia penasaran melihat pria itu yang masih memakai baju santainya padahal waktu sudah melebihi jam biasa dia berangkat ke kantor. Mendengar Emma yang mengajaknya bicara lebih dulu, Ares sungguh tak bisa menahan senyumnya. Dengan senyumannya yang semakin lebar, dia menjelaskan bahwa untuk hari ini dia ingin bekerja dari rumah saja karena ada seseorang tertentu yang tak ingin ditemuinya


hari ini di kantor.


Saat Emma akan bertanya lagi, tiba – tiba Satria sudah datang dengan mengendarai mobil kuning yang juga dipakainya waktu itu. Terasa sedikit aneh saat harus menaiki mobil yang sempat menguntitnya, tapi Emma tetap pergi bersama Satria meskipun tanpa berpamitan pada Ares yang masih berdiri memperhatikannya.


“Hari ini akan sepi lagi, iya kan pak Ko?”


Satria berbicara pada pak Ko yang terus mengikutinya masuk ke dalam rumah. Namun saat mendengar perkataan tuannya, dia hanya tersenyum karena terlihat jelas bahwa Ares sangat menyukai mereka semua dan menikmati setiap waktu yang sudah mereka habiskan bersama.


...


Di sepanjang perjalanannya menuju tempat pelatihan, Satria memutar musiknya cukup keras karena setidaknya itu akan membantunya meredam rasa jengkel pada gadis yang sedang duduk di sebelahnya itu. Dia juga sengaja memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk membuat Emma jengkel karena dia tahu gadis itu tak suka dengan hal semacam ini. Namun tak seperti yang dia bayangkan, Emma tetap diam dan duduk dengan tenang sambil memperhatikan jalanan yang mereka lewati.


“Ah! Gue udah nggak tahan!”


“Kenapa loe malah diam?!”


“Marah kek! Protes kek!”


“Kalau loe begini, kenapa loe nggak larang mereka pergi?!”


Satria segera menepi dan menghentikan mobilnya. Dia merasa tak tahan dengan sikap Emma yang semakin terlihat dingin dari biasanya. Walaupun sikap diam gadis itu bukan lagi pemandangan yang asing, tapi setidaknya dia akan merespon dengal hal – hal yang mengganggunya. Namun kali ini meskipun Satria sudah menyetir dengan kecepatan yang melewati batas dan menghidupkan musik dengan volume keras, Emma tetap diam dan tak menegurnya sama sekali.


Mendengar pertanyaan Satria padanya, Emma tak tahu apa yang sedang pria itu bicarakan. Tak ada yang salah dengan sikapnya dan si kembar juga pergi karena keinginan mereka sendiri. Namun saat Emma teringat lagi dengan perpisahan mereka yang mendadak seperti itu, dia mulai merasakan sesak di dadanya sampai membuatnya sedikit sulit untuk bernafas. Dia tak tahu apa yang membuatnya tiba – tiba seperti ini, tapi yang dia tahu, dia harus segera keluar dan mencari tempat yang cukup luas setidaknya untuk mengurangi rasa sesaknya.


Saat melihat Emma yang tiba – tiba keluar, Satria terkejut dan segera mengikuti gadis itu. Namun Emma ternyata tak pergi jauh. Dia hanya keluar dan berdiri di belakag mobil tanpa melakukan apapun. Tapi Satria yang melihatnya langsung terkejut saat menyadari ada yang aneh dengan tingkah gadis itu.


“Apa loe pusing lagi? Apa kita harus ke rumah sakit?”


“Hei ...  jawab gue!”


Dengan terburu – buru, Satria segera menghampiri Emma dan menggenggam erat pundak gadis itu sambil sedikit menggoncang – goncangkan tubuhnya. Jantungnya berdebar cukup kencang saat melihat Emma yang sedang kesulitan bernafas. Dia khawatir jika gadis itu sampai sakit dan pingsan seperti waktu itu karena sekarang mereka ada di tempat umum, dan Satria tak ingin disangka sebagai seorang pembully.


“Kau bilang lagi?”


“Mungkin karena kau sudah lama membuntuti jadi kau tahu tentang itu”


“Tapi hentikan. Ini bukan waktunya”


Melihat Emma yang sudah mulai tenang, Satria segera melepaskan genggamannya. Perlahan, dia mencerna perkataan gadis itu karena Satria merasa aneh dengan apa yang di ucapkannya. “Apa anak ini lupa kalo gue yang tolongin waktu itu?” Satria bertanya – tanya dalam hatinya. Namun dia langsung berhenti sampai di situ. Dia menghentikan dirinya untuk tidak semakin penasaran dan ikut campur dengan hidup Emma. Satria pun segera berbalik dan masuk ke mobilnya, tanpa mengatakan satu patah kata pun. Dan sekali lagi, perjalanan mereka sangat tenang bahkan musik keras yang sebelumnya Satria putar kini sudah tak terdengar lagi.


“Hari ini gue ajari loe menembak”


Setelah mereka tiba di tempat pelatihan, Emma dan Satria segera bersiap dan menuju tempat latihan menembak yang yang juga ada di sana. Tempat latihan menembak itu memang tampak cukup berdebu jika dibandingkan dengan tempat latihan yang lain karena tempat ini hanya digunakan bagi mereka yang masih pemula untuk membiasakan diri dengan senapan sebelum akhirnya mereka berlatih di tempat yang lebih luas.


Satria kali ini memilih latihan menembak. Selain karena hal itu akan cukup berguna bagi Emma yang kini sudah tak ada si kembar di dekatnya, dia juga khawatir jika harus melakukan kegiatan fisik yang cukup melelahkan untuk Emma terlebih setelah dia melihat gadis itu kesulitan bernafas tadi.


Hari ini, Emma merasa suasana di sana sedikit berbeda. Jika sebelumnya semua orang di sana akan melihat ke arahnya dan Satria hanya untuk memuaskan rasa penasaran mereka, kini mereka bersikap seolah dia dan Satria tak ada di sana. Mereka benar – benar mengabaikan keberadaannya karena mereka mengira Emma adalah wanitanya Ares, bos mereka dan tak ingin berakhir tragis karena mengganggunya.


Selama berjam – jam, Satria terus mengajari Emma bagaimana sikap tubuh yang benar untuk melakukan tembakan. Dia juga menyuruh gadis itu untuk beberapa kali melakukan tembakan ke arah salah satu target diam yang berjarak tidak lebih sepuluh meter darinya. Meskipun tak ada satupun peluru yang mengenai target, Satria tetap memuji Emma dengan mengatakan bahwa dia sudah melakukan yang terbaik untuk hari ini.


Belum cukup sore untuk mereka pulang, tapi Satria sudah mengakhiri sesi latihan mereka hari ini dan menyuruh Emma untuk bersiap pulang. Saat mereka berjalan menuju mobil, langkah mereka tiba – tiba terhenti saat melihat Zen yang sudah berdir di dekat mobil Satria, menyambut mereka dengan senyum ramahnya.


Saat Zen melihat dua orang yang kenalnya sudah muncul, dia segera menghampiri mereka dan tanpa basa – basi mengatakan tujuannya datang tanpa memberitahu mereka terlebih dahulu. Dia menjelaskan bahwa setelah dia menemui profesornya waktu, profesornya ingin bertemu langsung dengan Emma dan melakukan pemeriksaannya sendiri karena sepertinya dia mencurigai sesuatu. Zen langsung diam setelah dia menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya, dan saat itu juga handphone Satria bergetar.


“Ada perlu ap ... .”


“Jangan kembali sebelum kuhubungi. Kakek datang”


“Ah ... waktu yang tepat. Gue rasa, gue juga masih ada urusan”


Setelah menutup telfonnya, Satria segera mengajak Emma untuk memenuhi ajakan Zen menemui profesornya. Dan di sisi lain, Ares dengan senyum terpaksanya sudah berdiri di depan pintu, menyambut kakeknya yang baru turun dari mobil.