PEEK A BOO

PEEK A BOO
GADIS KECILKU



Hari masih belum terlalu malam saat Emma tiba di suatu tempat yang tampak seperti sebuah pabrik terbengkalai  jika dilihat dari luar. Dan beberapa penjaga juga terlihat jelas sedang mondar- mandir menjaga di setiap sudut tempat itu. Namun siapapun yang memasukinya tak akan percaya melihat keadaan di dalam yang tampak sangat berbeda, bahkan berbanding terbalik dengan keadaan luar tempat itu. Dari dalam, tempat itu sangat jauh dari kata kuno. Semua barang dan peralatan di sana tampak sangat modern dan baru. Dan jika dilihat secara keseluruhan, tempat itu tampak seperti sebuah laboratorium modern dengan satu ruangan kaca di tengahnya. Terlihat ada beberapa kabel dan selang kecil yang menghubungkan wadah besar mirip kapsul di tengah ruangan kaca itu dengan beberapa tabung kecil di bagian luar.


Dari pintu masuk, tampak dua orang lelaki bertubuh kekar tiba - tiba berjalan memasuki tempat itu dengan menggendong tubuh Emma yang tak sadarkan diri.


“Apa yang kalian lakukan?!!”


Zayan langsung berteriak saat dia tanpa sengaja melihat sikap kasar kedua orang itu saat membawa tubuh Emma. Dengan emosi, Zayan menghampiri mereka dan tanpa ragu menampar keras wajah kedua orang itu sampai pipi mereka terlihat merah. Dia merasa sangat marah saat melihat tangan kotor mereka menyentuh Emma dengan sangat sembrono. Tak ingin mereka berlama – lama menyentuh gadis itu, Zayan segera meminta beberapa penelitinya untuk segera memindahkan Emma ke ruangan kaca yang sudah dipersiapkannya.


Ditengah kesibukannya, Zayan meluangkan waktu untuk mengunjungi Emma yang masih terbaring tak sadarkan diri di ruang kaca seukuran satu kamar kos kecil. Tempat itu terlihat bersih dan bercahaya dengan banyaknya lampu yang meneranginya. Zayan pun perlahan menuju wadah kapsul yang kini dalam posisi terbuka, dengan Emma yang terbaring di dalamnya. Selama beberapa menit, dia hanya diam dan memandang wajah Emma sambil terus tersenyum. Dia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia karena gadis itu sudah berada di tangannya.


Terlihat banyak kabel yang terpasang di tubuh Emma bahkan beberapa jarum infus tampak menusuk venanya dan secara perlahan mengalirkan cairan aneh ke tubuhnya. Dan tangan Zayan pun tampak gemetar, berusaha keras menahan diri untuk tidak menyentuh Emma selama proses itu berlangsung. Entah cairan apa yang diberikannya, namun Emma yang masih tak sadarkan diri tampak sedang kesakitan.


“Tenang saja, aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik”


“Tak seperti si tua Jackson yang sering menelantarkan tubuh berhargamu ini”


Dengan senyum kecilnya, Zayan menyapa Emma dan segera meminta maaf pada gadis itu jika sikapnya sedikit kasar. Memang terlihat konyol saat dia berbicara dengan orang yang sedang tak sadar, tapi dia sungguh tak bisa menahan perasaannya yang meluap saat melihat Emma.


 “Semoga nanti kau senang bertemu denganku”


Zayan segera pamit undur diri pada Emma karena dia tak sabar ingin segera memulai pekerjaannya yang sudah lama tertunda karena si Jackson itu. Namun sebelum Zayan benar – benar pergi dari sana, dia sempat menyuntikkan cairan merah ke salah satu selang infus di tangan Emma. Setelah itu, dia segera keluar dan membiarkan Emma bersama dua penelitinya di sana sedangkan dia akan memantau keadaan dari tempat yang sudah tersedia.


“Halo bos ... maaf jika saya baru melapor”


“Sesuai perintah Anda, saya sudah membawa gadis itu kemari”


Dari tempatnya, Zayan tampak menghubungi seseorang sambil terus memperhatikan Emma yang perlahan mulai sadar setelah dia menyuntikkan cairan tadi. Setelah menutup telfonnya, Zayan terlihat semakin senang bahkan sampai tertawa keras karena merasa sudah selangkah lebih dekat dengan tujuannya. Bahkan dia mulai tak sabar untuk mendapatkan bonus dan kenaikat jabatannya.


Emma yang kini sudah membuka matanya, merasa heran melihat tempatnya berbaring sekarang. Tempat itu bukan kamarnya di rumah Ares, bukan juga kamar Vian dan Viona. Dia sama sekali tak tahu tempat apa itu. Terlihat sangat aneh baginya, terlebih dengan dua orang berjas putih panjang yang sedang mondar – mandir di dekatnya. Beberapa kali mereka menatap sampai membuatnya merasa risih. Namun saat dia berusaha untuk bangun dan berniat pergi dari tempat itu, dia terkejut dengan bayaknya kabel dan selang infus di tubuhnya. Saat dia akan melepas semua itu, tangannya seketika berhenti saat mendengar suara seseorang yang meggema di seluruh ruangan tempatnya berada sekarang.


“Lepaskan gasnya”


Saat Emma sedang berusaha mencerna situasinya, dia kembali dibuat bingung dengan kepergian dua orang berjas putih yang tiba – tiba setelah mendengar suara itu. Setelah mereka menutup pintu, seketika itu juga ada gas putih yang perlahan muncul dari setiap sisi ruangan.


Dengan sikap tenangnya, Emma berusaha mencari tahu apa yang akan mereka lakukan. “Bau eter” gumam Emma dalam hatinya saat dia mencium bau menyengat dari gas itu. Sadar akan apa yang akan terjadi, sekuat tenaga Emma berusaha untuk tak mengirup gas yang bisa membuatnya lemas itu. Namun usahanya sia – sia. Tak ada jalan lain baginya untuk lolos dari gas yang semakin memenuhi ruangan itu. Meskipun dadanya mulai sesak, Emma tetap tenang dan terus memutar otak memikirkan cara untuk lolos dari semua ini. Waktu semakin sempit, dan tak ada pilihan lain selain menghirup gas itu untuk bertahan hidup saat ini karena Emma sama sekali tak berencana untuk mati konyol di tempat seperti itu. Dengan menatap Zayan dan orang – orang yang terus melihatnya, Emma seakan mencatat wajah mereka dengan lekat dalam benaknya. Menandai mereka dalam daftar hitamnya. Sebelum dia benar – benar lemas dan terkubur dalam gas, sepintas dia melihat orang – orang itu tersenyum licik ke arahnya.


Di sisi lain, Ares terlihat sedang berada di kantornya bersama Satria dan yang lainnya. Dia sangat khawatir dengan apa yang mungkin terjadi dengan Emma, sampai dia mengerahkan semua anak buahnya untuk melacak keberadaan gadis itu. Satria dan Vian yang juga tak kalah cemas karena tak kunjung mendengar kabar dari orang – orang itu, mulai kehabisan kesabarannya.


“Zayan sialan! Kenapa sama sekali tak ada data tentangnya?!”


Ares berteriak dengan suara keras, meluapkan kekesalannya pada tim pelacak yang tak kunjung menemukan informasi tentang Zayan. Bahkan Viona yang juga ikut bergabung dengan mereka pun merasa kesulitan karena dalam data pemerintah sekalipun, pria dengan nama seperti itu juga tak ada. “Ini sepuluh kali lipat lebih sulit dari mencari Pradigta dulu” dalam hatinya Viona terus mengeluh dan mengutuk siapapun yang memberikan nama itu.


Meskipun perusahaan Ares tampak berjalan normal seperti biasa, tapi suasana di dalam ruangan Ares di lantai atas terasa sangat berat, tegang, bahkan dinginnya angin senja yang sudah mulai bertiup pun tak bisa mendinginkan suasana hati semua orang di sana.


Namun, diantara semua orang yang sedang terlihat bingung dan khawatir, pak Ko tampak sedang menyibukkan diri dengan membagikan minuman untuk semua orang. Meskipun wajahnya tampak tersenyum seperti biasa, tapi tatapannya terasa kosong dan tak fokus sampai membuatnya beberapa kali melakukan kesalahan.


Saat Ares dan yang lainnya sibuk mencari Emma, di tempat lain terlihat Ruvan yang masih duduk bersama pimpinan kelompok kumbang merah. Meskipun dia tak menyukai mereka, dia terpaksa harus berada dalam satu ruangan dengan orang – orang yang dianggapnya aneh itu karena urusannya yang masih belum terselesaikan.