
“Vio, apa sudah ada kabar terbaru?”
Sebelum Emma pergi untuk kerja paruh waktunya, dia menanyakan perkembangan tentang pencarian Pradigta. Tapi Viona hanya menggeleng. Mengerti maksudnya, Emma segera berangkat untuk kerja paruh waktu. Sudah hampir seminggu, tapi masih tak ada kepastian tentang keberadaan ataupun informasi tentang pria itu. Emma tak masalah jika mereka belum mendapatkan apa – apa hari ini, karena setelah melihat kemampuan Viona, dia yakin cepat atau lambat gadis itu pasti bisa menemukan Pradigta.
Memang dihari pertama pencariannya, Viona berhasil menyusup ke situs kependudukan pemerintah dan menemukan ratusan pendatang baru disekitar waktu kepergian Pradigta. Tapi tak ada satu pun diantara mereka yang terdaftar dengan nama Nandana Pradigta bahkan wajah yang mirip orang itu pun juga tak ada. Melihat hal ini, mereka bertiga pun yakin bahwa orang itu pasti masuk menggunakan identitas lain. Dan ini membuat mereka harus begadang menyeleksi para pendatang sampai akhirnya mereka berhasil menyisakan lima orang dengan ciri – ciri yang dianggapnya paling mirip dengan Pradigta.
Dan sudah beberapa hari ini, Viona berkutat di depan layar komputer. Dia menggunakan semua kemampuannya berkelana di dunia maya untuk mencari tahu dan mengamati kelima orang itu melalui nomor handphone yang didapat setelah usaha kerasnya menembus keamanan data dinas komunikasi daerah. Dan itu membuatnya bisa melacak jejak mereka melalui GPS selama handphone mereka masih menyala.
“Vio, bagimana tentang obat yang waktu itu? Terakhir kulihat, hanya sisa dua disana dan sudah kuambil satu”
“Kalau memang dia harus pakai itu setiap bulan, bukannya ini masalah besar?”
Vian dengan ragu bertanya pada Viona yang masih fokus pada layar komputer di depannya. Mendengar kekhawatiran adiknya, dia hanya bisa menghela nafas panjang. Dia juga membingungkan hal yang sama, tapi dia sadar bahwa kini nasi sudah menjadi bubur. Tak akan ada gunanya jika mereka mengkhawatirkan hal itu sekarang.
“Akan kucoba minta bantuan temanku untuk itu”
“Hmm..”
Viona mencoba menenangkan Vian yang terlihat sangat bingung. Jelas saja, karena dia mengambil persediaan obat gadis itu hanya untuk kebodohannya. Sekarang Vian yang sudah menyadari kesalahannya hanya bisa menyesal dan bergantung pada bantuan orang lain tanpa bisa berbuat apa – apa.
Hari sudah siang saat Viona menuliskan hasil pengamatannya sejauh ini pada selembar kertas putih berukuran cukup besar. Sejenak dia meninggalkan komputernya yang masih menunjukkan pergerakan kelima targetnya dan mengamati hasil yang sudah ditulisnya tadi. Sekilas memang tak ada yang aneh. Bahkan jejak salah satu dari mereka hanya sekitar kantor dan rumah sedangkan yang lainnya hanya mengunjungi beberapa tempat atau pergi keluar kota. Tapi jika dilihat lebih teliti, ada satu orang diantara mereka yang pergerakannya agak aneh. Menurut data yang dia peroleh, orang itu masih berusia muda dan belum menikah. Tapi dia tak pernah sekalipun keluar dari wilayah sekitar rumahnya. Ini membuat Viona penasaran dan mencoba untuk meretas handphonenya dengan mengirimkan banyak pesan spam.
Menggunakan cara ini memang tidak bisa cepat, tapi tak ada cara lain yang bisa dia gunakan. Satu jam berlanjut menjadi dua jam. Viona sudah lelah menunggu tapi tetap orang itu tak terpancing salah satu pesan spam yang dikirimnya. Dia lalu meninggalkan tempatnya dan mulai menyiapkan makan siangnya. Bahkan setelah semua makanan sudah tersaji di atas meja, tetap tak ada tanda jika orang itu terpancing.
‘Biip.. biip..’
Saat Viona baru akan mulai makan, tiba – tiba komputer yang dipakainya berbunyi. Sontak itu membuatnya terkejut dan bergegas pergi melihat apa yang terjadi. Dan ‘tara...’ akhirnya orang itu mengeklik salah satu pesan yang dikirimnya. Tanpa membuang waktu, Viona meninggalkan makanannya yang masih hangat dan mulai memainkan jarinya di atas keyboard. Tak butuh waktu lama untuknya bisa masuk dan menduplikat handphone orang itu. Namun setelah diperiksa, tak ada pesan ataupun daftar panggilan di ponselnya hanya ada satu pesan e-mail dengan nama pengirim ‘Big Daddy’. Dan tak ada kalimat yang tertulis dalam pesan itu, yang ada hanya satu tanda titik tanpa embel – embel apapun.
Meskipun belum mengerti maksud pesan itu, Viona segera menghubungi Emma dan memberitahu tentang apa yang sudah ditemukannya.
“Halo, Emma... apa kau pernah dengar tentang Big Daddy?”
Mendengar nama itu, Emma menghentikan pekerjaannya dan bertanya darimana Viona tahu tentang nama itu. Alih – alih memberitahunya, Viona langsung menyuruh Emma untuk pulang. Mendengar respon gadis itu, dia yakin bahwa mereka harus membicarakan ini secara langsung. Walaupun pekerjaannya belum sepenuhnya selesai, Emma memutuskan untuk segera kembali dan menyerahkan beberapa surat yang belum dikirimkan kepada rekan yang kebetulan berada dekat dengannya.
Emma segera pergi dan mengayuh pedal sepedanya lebih cepat tapi hal itu tak membuatnya kehabisan nafas. Mengingat informasi yang sudah menunggunya, dengan semangat dia semakin mempercepat laju sepedanya. Bahkan dia tak melambat saat harus melewati tanjakan di daerah rumahnya. Dan kali ini, perjalanannya tak memakan waktu begitu lama hanya sekitar dua puluh menit.
Hari masih belum terlalu malam saat Emma akhirnya sampai di rumah. Tanpa mengganti pakaiannya, dia langsung menemui Viona dan bertanya tentang informasi yang berhasil diperolehnya.
“Dari lima orang yang kita amati, hanya satu yang pergerakannya terlihat aneh”
“Jadi aku coba menyusup ke ponselnya dan melihat semua isi di dalamnya”
“Tapi hampir tak ada apa – apa disana dan aku hanya menemukan satu pesan e-mail dari orang bernama Big Daddy”
‘Biip.. biip..’
Waktu sudah menunjukkan jam tujuh pagi saat komputer Viona akhirnya berbunyi untuk kedua kalinya. Setelah memfokuskan target pencariannya, Viona langsung melacak GPS ponsel pria itu semalaman. Sialnya, pelacakan itu hanya bertahan sebentar dan hilang saat ponsel pria itu tiba – tiba mati. Namun setelah menunggu berjam – jam bahkan sampai pagi, akhirnya GPS pria itu kembali aktif. Tapi kali ini dia bergerak cukup jauh dari tempat tinggalnya. Dan Viona pun segera memberitahu Emma tentang hal ini.
Melihat dia bergerak cukup cepat, mereka bertiga bergegas pergi dan mengikuti jejaknya. Sayangnya, saat jarak mereka sudah cukup dekat, lagi – lagi jejaknya hilang.
“Arrhhh!”
Vian menggeram kesal saat tahu mereka kehilangan jejak orang itu untuk kedua kalinya. Tapi dengan tenang, Emma mengajak mereka untuk pergi ke titik lokasi terakhir yang ditunjukkannya. Dan betapa terkejutnya mereka saat jejak itu mengarah ke sebuah pemakaman umum.
“Ternyata dia sudah pergi”
Lagi – lagi Vian mengeluh melihat pemakaman itu tampak kosong tanpa ada satupun peziarah. Jelas saja, tak ada orang yang pergi ke pemakaman sepagi ini. Seperti menyadari sesuatu, Emma langsung menyuruh mereka untuk mencari makam dengan bunga segar di sana. Vian dan Viona saling pandang, tak mengerti maksud ucapan gadis itu.
“Biasanya orang yang berkunjung ke makam kan bawa bunga...”
Sambil mulai mencari, Emma menjelaskan secara singkat maksud ucapannya tadi. Setelah mengerti, Vian dan Vio mulai menyusuri setiap sudut pemakaman, mencari makam yang masih terdapat bunga segar di atasnya. Tapi mereka langsung berbalik dan menghampiri Emma saat mereka melihat gadis itu sudah berdiri di depan sebuah
makam.
“Reynand Anatari”
“Harry Johnson”
Viona membaca nama di kedua batu nisan yang dilihat Emma. Sesuai dugaannya, dari semua makam di sana hanya di makam mereka berdua yang masih terdapat bunga segar. Tapi melihat bagaimana Emma menatap makam mereka, dia yakin gadis itu juga tak tahu tentang siapa mereka. Tapi satu hal yang dia tahu, bahwa mereka pasti ada hubungan dengan orang yang sedang dicarinya.
“Kalian tahu tentang mereka?”
Saat mereka sudah dalam perjalanan pulang, Emma bertanya tentang nama dikedua makam tadi tapi tak satupun dari mereka yang tahu. Viona yang tahu bahwa gadis itu membutuhkan bantuannya dalam hal ini, meminta waktu sehari untuk mengumpulkan informasi tentang mereka.
Dan benar saja, keesokan paginya, Viona sudah mengantongi banyak informasi tentang kedua orang itu meskipun dia harus begadang semalaman untuk mencarinya.
“Baiklah. Yang pertama, dia Reynand Anatari. Seperti kami, dia juga berasal dari panti asuhan ‘Bunda’. Aku juga terkejut saat tahu tentang hal ini. Dan dia tewas saat umur dua puluh delapan tahun dalam kecelakaan bersama suaminya, Harry Johnson. Tak banyak yang bisa ditemukan tentang latar belakang wanita ini. bahkan akupun tak pernah mendengarnya saat masih di panti dulu. Tapi pernikahannya dengan keluarga Johnson cukup ramai jadi perbincangan waktu itu. Karena Harry yang merupakan seorang pewaris perusahaan dan juga salah satu peneliti asal Amerika yang pindah ke Indonesia, rela meninggalkan keluarganya untuk menikahi wanita ini dan memilih untuk hidup sederhana.”
Walaupun sangat lelah, Viona tetap berusaha mengumpulkan tenaganya untuk menjelaskan secara singkat apa yang sudah dia temukan. Wajah terkejut Vian yang mendengar bahwa wanita itu berasal dari panti yang sama dengannya berbanding terbalik dengan sikap Emma yang tetap tak merespon setelah mendengar semua informasi itu.
“Istirahatlah. Kita pergi ke panti asuhan setelah kau selesai. Aku mau pergi dulu”
Setelah mengatakan hal itu, Emma langsung pergi ke tempat kerja paruh waktunya untuk mengundurkan diri. Karena menurutnya dengan bantuan kedua orang yang kini tinggal bersamanya, sudah percuma untuk mencari informasi Pradigta dengan bekerja disana.