
“Loe kenapa?”
Satria bertanya pada Emma yang masih terdiam namun gadis itu hanya menatapnya tajam dan langsung pergi meninggalkan Satria yang masih kebingungan dengan sikap aneh gadis itu. Dan selama di perjalanan pulang, Emma terus diam meskipun Satria menanyakan beberapa hal padanya sampai membuat pria itu jengkel setengah mati dan terpaksa menghentikan mobilnya di pinggir jalan karena dia sangat tak suka jika sampai terjadi salah paham dengan siapapun meskipun itu Emma yang masih diangapnya sebagai putri seorang Jackson.
“Ada masalah apa loe sama gue?!”
Sedikit menahan rasa jengkelnya, Satria menatap Emma yang masih tetap membuang muka darinya. Tak tahan lagi, Satria memaksa membalik tubuh gadis itu sampai mereka berdua saling berhadapan dan mata mereka saling bertemu. Namun selama beberapa menit, mereka berdua hanya diam dan saling menatap, tak ada yang mau mengalah sampai akhirnya Emma membuka mulut.
“Ini mobilmu?”
“Punyamu sendiri?”
“Tak pernah kau sewakan?”
Pertanyaan – pertanyaan itu jelas membuat Satria bingung sampai menatap Emma dengan lebih lekat, berusaha memahami apa yang dipikirkan gadis itu. Tapi dia segera melepaskan genggaman tangannya pada bahu Emma saat dia menyerah dan sama sekali tak tahu apa yang ada dalam otaknya dan dengan jelas bertanya tentang maksud pertanyaan Emma.
“Kecelakaan lalulintas”
“Persidangan”
“Di depan rumah sakit”
“Di dekat cafe”
Satria semakin tak mengerti dengan perkataan Emma yang hanya setengah – setngah. Namun setelah beberapa saat dia berfikir dengan serius, raut wajahnya perlahan berubah seakan dia mengingat sesuatu. Perlahan dia melirik Emma yang masih terus melihatnya dengan tatapan datar. Meskipun sudah sering melihatnya, tapi kali ini Satria merasa tatapan gadis itu sedikit berbeda. Tampak menakutkan. Setelah mengerti maksud perkataan Emma, Satria sama sekali tak berani menatap gadis itu secara langsung.
“Sepertinya memang benar itu kau”
“Terimakasih sebelumnya karena sudah menolongku”
“Dan jelaskan kenapa kau sampai mengikutiku, karena aku berhak tahu tentang hal itu”
Dengan suara dinginnya, Emma mengatakan apa yang ada dalam pikirannya dan membuat Satria sampai berkeringan dingin dibuatnya. Namun pria itu berusaha duduk dengan lebih tegap, berusaha untuk mempertahankan sikap tenang dan cool-nya. “Ekhem!” dia berusaha membersihkan tenggorokannya yang tak serak sebelum dia akhirnya menjawab pertanyaan Emma.
“Y ... ya waktu itu gue memang ngikutin loe, tapi gue sama sekali nggak ngelakuin hal aneh – aneh”
“Tapi untuk alasannya, sorry gue nggak bisa cerita”
Satria mengakui perbuatannya dan merasa penasaran dengan Emma yang bisa tahu dan masih mengingat hal itu meskipun kejadiannya sudah lebih dari enam bulan yang lalu. Padahal saat itu dia sangat yakin sudah cukup menjaga jarak agar tak terlihat olehnya, tapi kini dia merasa itu semua sia – sia karena gadis itu ternyata sudah tahu tentang perbuatannya.
Tapi Emma hanya diam dan mengatakan bahwa dia sudah mengerti, tanpa menjawab rasa penasaran Satria dan meminta pria itu untuk melanjutkan perjalanan mereka. Satria yang melihat perubahan sikapnya yang sangat cepat, tak bisa berkata apa – apa dan tanpa sadar mengikuti perintah gadis itu. Di sepanjang perjalanan pulang, suasana diantara mereka menjadi sangat canggung dan mereka hanya diam tanpa saling bicara.
...
“Hei, katakan dulu ... loe tahu dari siapa?”
“Kau juga tak cerita alasannya, jadi berhentilah bertanya”
“Gue mau tahu ... ayo cepat cerita ... .”
“Aku cari jawabanku sendiri, dan kau cari sendiri jawabanmu”
Satria tak bisa lagi menahan rasa penasarannya dan membuat keributan di pintu masuk untuk memaksa Emma menjawab pertanyaannya. Dia terus memaksa meskipun Emma terus menolak karena gadis itu berpikir tak adil jika hanya dia yang menceritakan semuanya sedangkan Satria juga tidak menjawabnya. Suara mereka cukup ribut sampai membuat Ares yang sudah sibuk di ruang kerjanya, keluar untuk memeriksa apa yang sedang terjadi. Namun bukan hanya Ares, Vian pun yang sedari tadi sudah menunggu kepulangan Emma di ruang tamu juga langsung berlari menghampiri mereka karena khawatir Satria akan melukai Emma seperti waktu itu.
Satria terus mengikuti Emma yang berjalan semakin cepat. Dia merasa risih dengan sikap pria itu yang terus – menerus memaksanya. Namun lagi – lagi langkahnya terhenti saat Vian tiba – tiba menghalanginya yang juga membuat Satria berhenti dan mengalihkan padangan padanya. Tak ingin kejadian yang sama terulang lagi, Vian segera menarik Emma ke arahnya, menjauhkan gadis itu dari Satria. Namun Satria bersikap dewasa dan hanya diam membiarkan Vian melakukan apa yang diinginkannya. Saat dia melihat Vian menggenggam erat tangan Emma, dia tahu bahwa ini bukan saat yang tepat untuk terus memaksa gadis itu bicara dan memutuskan untuk mengakhirinya sampai di situ.
“Apa maumu?”
Tanpa membuang kesempatan, Vian langsung menghalangi Satria yang sudah berniat kembali ke kamarnya. Dia sangat terganggu mendengar Satria dan Emma sudah saling berbicara dengan akrab. Nyaris bertengkar, tapi suara Ares yang tiba – tiba mengejutkan mereka bertiga dan membuat suasana diantara mereka mereda.
Dari arah dalam, Ares berjalan mendekati mereka semua dan Viona juga Zen terlihat mengikutinya dari belakang. Ares tepat berdiri diantara Vian dan Satria, berusaha mencegah mereka berkelahi untuk kesekian kalinya. Dengan tegas dia pun bertanya tentang apa yang terjadi sampai mereka membuat keributan di rumahnya. Namun tak ada satu pun dari mereka yang mau bicara sedangkan Emma terus menatap Ares sampai pria itu menyadarinya.
“Apa ... ada yang mau kau katakan?”
“Ya. Kenapa kau menyuruh dia melakukannya?”
Berbeda dengan cara bicaranya barusan, Ares bertanya dengan lembut pada Emma. Dan tanpa basa – basi, gadis itu langsung bertanya di depan semua orang sampai membuat Ares dan Satria sangat terkejut mendengarnya. Hanya dengan satu pertanyaan itu sudah bisa membuat jantung Ares berdegub sangat kencang. Banyak pikiran yang tiba – tiba memasuki kepalanya. Pertanyaan Emma cukup ambigu, sampai membuat Ares berpikiran bahwa gadis itu tahu tentang semuanya, tentang Pradigta bahkan Satria. Dan Satria juga sangat terkejut karena gadis itu tahu bahwa Ares yang menyuruh dia mengikutinya.
Merasa sudah tertangkap basah, Ares berusaha menghindari tatapan Emma. Dia hanya diam menunduk, sama sekali tak terlihat seperti Ares yang selalu tampak bersemangat setiap Emma berbicara padanya. Dia merasa sangat takut gadis itu sampai membencinya jika benar – benar dia tahu tentang hal itu.
“Kenapa waktu itu kau suruh Satria mengikutiku?”
Kalimat Emma yang tiba – tiba, membuat Ares seketika merasa lega dan gugup disaat yang bersamaan. Dia lega karena hanya itu yang Emma tahu, tapi juga merasa gugup karena dia tak tahu bagaimana cara menjelaskan hal itu padanya. Dia menatap Satria, berharap pria itu bisa membantunya. Namun Satria langsung menghindari tatapan Ares seakan memberi isyarat bahwa dia juga tak tahu tentang hal itu.