PEEK A BOO

PEEK A BOO
HILANG? KEMANA?



“Selamat siang pak?”


“Anda direktur panti ini?”


“Ah ... ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda”


Satria tanpa ragu membuka pintu ruangan direktur panti dan menyapa pria tua yang langsung berdiri saat melihat seseorang tiba – tiba memasuki ruangannya. Selagi Satria terus berjalan dan mengalihkan perhatian direktur itu, Vian dengan hati – hati mengunci pintu ruangan dan menutup semua tirai jendelanya sehingga tak ada seorang pun yang tahu apa yang akan terjadi di sana.


Saat direktur itu sepintas melihat wajah Vian, seketika itu juga dia sadar bahwa situasinya saat ini sedang tidak baik dan berniat menekan tombol darurat yang tersembunyi di bawah meja kerjanya. Namun, tangannya kalah cepat dengan Ares yang menyadari aksinya dan dengan cepat memukul tengkuk pria tua itu sampai membuatnya tak sadarkan diri.


Vian yang terkejut dengan suara ribut di belakangnya, langsung berbalik dan menemukan direktur tua itu sudah jatuh tak sadarkan diri. Meskipun dia tahu perbuatan Satria tak patut dicontoh, tapi dia tetap merasa hal itu lebih baik karena dengan begitu mereka bisa dengan cepat mencari petunjuk apapun tentang kelompok kumbang merah. Setelah Vian mengikat tubuh direktur dengan tali yang ditemukannya di laci meja, dia segera bergabung dengan Satria untuk menggeledah seluruh ruangan itu.


Dan setelah beberapa menit berlalu, akhirnya direktur itu sadar dan seketika dia terkejut saat mendapati tubuhnya sudah terikat dan tak bisa bergerak di kursi putarnya dalam keadaan yang sedikit menyedihkan karena dia sama sekali tak bisa berbuat apa – apa untuk menghadapi dua bocah yang bahkan usianya terpaut cukup jauh dengan mereka.


“Ah ... Anda sudah sadar? Baguslah”


Satria yang melihat direktur itu sudah membuka mata dan mulai memberontak, segera menghampirinya dan menyeret pria itu ke dekat sofa tempat dia akan duduk. Tanpa basa – basi, Satria pun langsung menanyakan tentang hubungannya dengan kelompok kumbang merah. Dan Satria tersenyum kecil saat dia melihat bagaimana wajah pria tua itu yang langsung bereaksi saat dia menyebut nama kumbang merah di depannya. Namun dia tetap diam dan berusaha menghindari tatapan tajam Satria. Melihat sikap direktur, Satria tahu pasti bahwa cepat atau lambat dia pasti akan memukulnya. Dan benar. Selang beberapa menit, pria tua itu berhasil membuat Satria hendak memukulnya karena mulai hilang kesabaran. Namun beruntung, tiba – tiba Vian muncul sesaat tinjunya mendarat meluncur dengan sehelai bulu kemoceng di tangannya. Dengan senyum licik, Vian menggelitik telinga pria tua itu tanpa henti. Satria yang melihatnya hanya tertawa, tak habis pikir bocah emosional seperti Vian masih bisa menggunakan cara halus di saat seperti ini.


“Apa?”


“Kalo Emma tahu kita pukul orang ini, dia pasti ngomel”


“Panjang dan sangat lama”


Sadar sedang ditertawakan, dengan malu – malu Vian menjelaskan alasannya pada Satria meskipun pria itu tak bertanya apapun padanya. Namun mendengar alasan Vian, Satria langsung menghentikan tawanya dan mengangguk setuju. Sama seperti Vian, Satria juga tak mau jika Emma sampai mengomel panjang lebar padanya seperti yang biasa gadis itu lakukan setiap kali mereka bertemu.


Mendukung tindakan Vian, Satria juga ikut menggelitik tubuh pria tua itu. Memang membutuhkan waktu yang lebih lama, tapi akhirnya direktur menyerah setelah lelah dan kehabisan nafas.


“Aku benar – benar tak tahu tentang kelompok kumbang merah ... .”


“Aku cuma melakukan perintah pemilik panti ini, tuan Zayan”


“Dan kami hanya saling berhubungan melalui telfon”


Mendengar pernyataan direktur, mereka segera mencari dokumen tentang pemilik panti untuk membuktikan perkataan pria itu karena mereka tak bisa langsung mempercayai perkataannya. Saat mereka berdua tengah sibuk melihat setiap dokumen kepemilikan panti, tiba – tiba handphone direktur berbunyi dan Satria dengan cepat mengambil dan menjawab panggilan telfon itu meskipun tanpa bersuara. Dan terdengar suara seorang pria berbicara dari balik telfon.


“Kirimkan dua anak”


“Aku butuh malam ini, sebelum orang – orangku membawa gadis itu kemari”


Satria dan Vian merasakan dingin di seluruh tubuh mereka setelah mendengar perkataannya. Setelah tahu kedok panti itu, mereka tak ingin membayangkan lebih jauh hal mengerikan apa yang sudah mereka lakukan. Bahkan emosi Vian mulai mendidih pun hanya bisa menahan perasaannya tanpa berbuat lebih jauh. Dalam hati, dia meminta maaf kepada semua temannya karena tak bisa berbuat apa – apa untuk membalas semua orang dewasa itu, karena kini dia harus bertindak hati – hati demi Emma.


 “Tapi ... gadis itu?” Satria tampak sedang memikirkan perkataan pria tadi dan langsung terkejut setelah menyadari apa maksud parkataannya.


“Sial!!”


Satria mengumpat dan langsung berlari secepat yang dia bisa menuju mobil yang dia parkir di depan panti tanpa perduli Vian yang juga mengikutinya, terkejut tanpa tahu apa yang terjadi dan meninggalkan direktur yang masih terikat dengan mulutnya yang masih diplester.


Saat di dalam mobil, Vian yang ingin bertanya tentang alasan Satria tiba – tiba berlari, langsung mengurungkan niatnya setelah pria itu membentak dan mengatakan bahwa dia tak punya waktu untuk menjelaskan situasinya. Dan seperti di film – film action, Satria menyetir seperti orang gila. Dia menikung kekanan dan ke kiri dengan cepat, menyalip semua mobil tanpa mengurangi kecepatannya sampai membuat Vian harus berpegangan dengan kuat untuk menahan tubuhnya agar tak jatuh.


Dan benar saja, hanya butuh waktu setengah jam dari waktu satu jam lebih untuk mereka sampai di rumah sakit. Setelah dia memarkirkan mobilnya, dengan terburu – buru bahkan sampai tak mematikan mesin mobilnya, Satria berlari sekuat tenaga. Dia juga tak membuang waktu sia – sia untuk menunggu lift yang tak kunjung datang dan segera berlari menaiki tangga darurat menuju kamar tempat Emma dirawat.


Namun langkahnya terhenti saat dia membuka pintu kamar Emma. Dengan suara nafas yang terengah - engah, matanya terbelalak, terkejut melihat Zen, profesor bahkan pak Ko yang sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri dan hal yang paling membuatnya terkejut adalah saat melihat Emma sudah tak ada di tempat tidurnya lagi.


Vian yang masuk setelah Satria juga tak kalah terkejutnya dengan pria itu. Matanya yang langsung tertuju pada tempat tidur Emma setelah dia melihat kekacauan di tempat itu, tak bisa berpaling. Saat melihat Emma yang sudah tak ada di sana, membuat tubuh Vian terasa berat, kaku sampai membuatnya tak bisa bergerak.


Satria yang segera tanggap dengan situasi mereka saat ini, dengan cepat menghubungi Ares yang kini sedang berada di ruangan rahasia bersama Viona.


“Res! Loe mesti balik sekarang!”


“Orang – orang itu sudah bawa Emma!!”


Mendengar apa yang dikatakan Satria, membuat semua panca indra dalam tubuhnya seakan terangsang secara otomatis sampai bisa membuatnya berlari secepat angin dan mengendarai mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan kilat. Dengan sigap, dia pun segera menghubungi pihak kepolisian dan meminta mereka untuk menutup jalan kearah rumah sakit karena sekarang dia sungguh tak ingin ada siapapun yang menghalangi jalannya. Dia tak perduli bahkan jika kakeknya nanti tahu tentang apa yang dilakukannya ini.


Setelah Ares dan Viona tiba di kamar rawat Emma, nafas mereka berdua terdengar jelas saling memburu bahkan keringat sudah mulai mengalir membasahi kening mereka.


“Apa maksudmu?”


“Siapa yang membawa Emma?”


Ares segera memburu Satria dengan beberapa pertanyaan setelah dia melihat Zen dan dua orang lainnya masih tak sadarkan diri. Dengan singkat, Satria menjelaskan bahwa kemungkinan besar Zayan, pemilik panti yang melakukan semua ini. Dan dia juga mengatakan bahwa dia tak bisa menjelaskan lebih detil karena mereka tak memiliki banyak waktu, hanya sampai malam tiba.


Melihat waktu mereka semakin sempit, Ares dengan segera menghubungi semua orangnya termasuk mereka yang selalu berlatih di tempat latihan untuk mencari orang bernama Zayan dan melacak keberadaan Emma. Dia tak perduli dengan cara apa mereka melakukannya, dia akan melakukan semuanya meskipun dia harus mengobrak – abrik pulau Jawa untuk mencari mereka.


Di sisi lain, terlihat Emma yang masih tak sadarkan diri sedang berbaring di dalam mobil ambulance yang sedang menuju daerah pinggiran kota. Melaju perlahan dan tanpa henti. Melewati daerah – daerah yang semakin sedikit penduduknya, hingga akhirnya mereka memasuki daerah hutan. Semakin dalam, namun mobil ambulance itu terus melaju membawa Emma memasuki sebuat tempat yang tampak seperti pabrik terbengkalai dari luar dengan beberapa orang penjaga di setiap sudutnya.