
“Hei, Ada apa?!”
Viona terkejut saat mendapati Emma dan Vian yang terburu – buru memasuki mobil. Tanpa sempat menjelaskan semuanya, Emma segera meminta Viona untuk tancap gas. Gadis itu yang menyadari situasi saat melihat beberapa pria mengejar mereka, langsung pergi tanpa bertanya lebih jauh.
“Pak, target anda ada terlihat tapi kami gagal menangkapnya”
Namun tanpa mereka sadari, dari jauh direktur menatap tajam kepergian mereka sambil berbicara dengan seseorang di handphonenya.
“Siapa orang – orang tadi?”
“Apa mereka mengejarmu?”
Sembari fokus menyetir, Viona bertanya pada Vian yang masih terlihat lemas. Dengan sedikit emosi karena teringat pria yang memukulinya tadi, Vian menjelaskan bahwa diantara mereka bertiga yang paling mungkin menjadi target hanya dirinya dan Viona karena tak mungkin mereka mengejar orang yang baru pertama berkunjung kesana.
“Terus kenapa kau kena pukul? Bukannya kau ikut buat jaga Emma?”
Vian merasa malu mendengar pertanyaan Viona yang tiba – tiba. Dia merasa bersalah, karena bukannya menjaga gadis itu malah dia yang membantunya. Vian menatap Emma dengan penuh penyesalan. Dia ingin meminta maaf karena memperlihatkan sisi buruknya. Tapi Vian terkejut dan tak bisa berkata – kata saat tangan Emma tiba – tiba mengusap kepalanya. Dia menyukainya saat Emma melakukan itu. Tapi wajahnya yang mulai terasa panas dan jantungnya yang mulai menggila membuatnya tak nyaman dan menyuruh gadis itu untuk tidak sembarangan menyentuh tubuh seorang pria. ‘Bukankah Viona juga pernah melakukan ini?’ Emma mulai bingung dengan sikap Vian. Dia hanya mencoba melakukan apa yang sering Viona lakukan pada adiknya itu.
Sesampainya di rumah, Emma langsung mengambil kotak obatnya dan menyuruh Vian untuk duduk dengan tenang. Perlahan, Emma mengobati luka pria itu satu demi satu. Meskipun Emma tak memperhatikannya, tapi Viona yang baru masuk heran Vian terus menatap gadis itu dengan serius. Tak mau adiknya memikirkan hal yang aneh lagi, dia segera menyuruh Emma untuk beristirahat dan menggantikannya mengobati luka Vian. Dengan cuek, Emma memberikan obat Vian pada Viona dan segera masuk ke kamarnya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Kenapa kau melihatnya seperti itu?”
Viona langsung memukul ringan kepala Vian . Dan itu sontak membuatnya terkejut. Dengan sedikit kesal, dia menjelaskan bahwa dia hanya melakukan perintah kakaknya untuk memperlakukan gadis itu dengan lebih baik. Setelah mengatakan apa yang ingin dikatakannya, Viona menyodorkan obat pada Vian dan menyuruh anak itu untuk mengobati lukanya sendiri sebelum dia beranjak dan masuk ke kamarnya. Melihat tingkah saudarinya dia hanya bisa menghela nafas panjang, tak tahu apa yang harus dia perbuat.
Hari sudah semakin sore, dan mereka bertiga kini duduk berhadapan di ruang makan menikmati minuman hangat mereka masing – masing. Mereka hanya duduk diam, tak ada yang berbicara sampai akhirnya Viona membuka mulut.
“Anatari yang ternyata kakak Pradigta sudah tewas. Sekarang apa yang akan kita lakukan?”
“Tunggu. Bukankah sangat mungkin untuk perusahaan sebesar grup Jhonson memanipulasi data seseorang? Hm.. tapi kenapa?”
Perkataan masuk akal Vian yang tiba – tiba muncul membuat dua gadis itu menatapnya tak percaya. Meskipun sedikit tersinggung dengan cara mereka menatapnya, Vian tetap menjelaskan bahwa sangat mungkin grup itu ikut andil dalam masalah ini.
‘Mungkinkah kematian anatari ada hubungannya dengan daddy dan mommy?’Emma tiba – tiba teringat dengan kalimat yang Pradigta ucapkan pada daddynya di hari kejadian itu. Dia terdiam dan tenggelam dalam pikirannya.
“Apa kita bisa mencari tahu tentang hungan mereka bertiga dengan kematian orangtuaku?”
Emma penasaran dan bertanya pada Viona. Sedikit terkejut, karena itu bukan hal yang mudah tapi Viona berjanji akan mengusahakannya semaksimal mungkin. Dia juga berjanji akan terus melacak keberadaan Pradigta. Tapi untuk itu, Viona meminta Emma untuk segera mengisi kulkasnya karena dia butuh banyak energi untuk melakukan semua itu. Mendengar permintaan Viona padanya, Emma langsung bergegas pergi dan dengan cepat Vian segera
menyusulnya.
“Em.. kenapa kau disini?”
“Tadi Viona menyuruhku..”
Vian berbohong menjawab pertanyaan Emma. Sebenarnya tubuhnya masih terasa sakit di beberapa bagian, tapi dia khawatir jika membiarkan gadis itu pergi sendirian.
“Bukannya kau bilang kita saudara? Jadi tak masalahkan kalau aku ikut?”
“Bukankah orang yang tinggal serumah itu namanya keluarga? Kau tak lebih tua, jadi kau bukan kakak. Kau juga tak lebih muda, jadi kau bukan adik. Umur kita sama, jadi tak salah kan jika aku hanya menyebutmu saudara?”
Saat tiba di supermarket, Emma langsung mengambil troli belanja yang cukup besar. Melihat itu, Vian langsung menyuruh Emma untuk mengambil beberapa makanan sedangkan dia yang akan mendorong trolinya. Acara belanja mereka berlangsung cukup tenang sampai Vian menyadari bahwa selain susu, Emma hanya mengambil makanan –makanan kesukaan Viona.
“Kenapa kau hanya beli punya Viona?”
“Aku juga suka ini.. ini..”
Sambil menatap Emma, Vian menunjukkan beberapa snack kesukaannya. Kali ini dia benar – benar merasa tak ingin mengalah dengan kakaknya itu. Meskipun hanya sedikit, dia ingin Emma memperhatikannya juga.
“Aku lihat Viona sering makan ini, jadi aku beli”
“Kalau kau suka itu, beli saja”
Meskipun sedikit jengkel saat mendengar jawaban Emma yang terasa hambar di telinganya, Vian tetap memasukkan snack kesukaannya dalam troli. Saat semua barang sudah dibeli, Vian menitipkannya di tempat penitipan barang dan menarik Emma ke tempat permainan di lantai atas.
“Kita main sebentar”
Dengan senyumnya, Vian menatap Emma yang terlihat bingung dengan apa yang dilakukannya. Setelah memasuki tempat permainan, dengan cepat dia membeli beberapa koin untuknya dan Emma.
“Ini juga pertama kalinya aku kesini. Jadi kita coba saja semuanya..”
Seperti anak kecil, Vian menarik Emma untuk mencoba semua permainan disana. Tapi wajah mereka terlihat sangat bertolak belakang. Vian tampak bersemangat mengajak Emma bermain, sedangkan gadis itu tampak pasrah ditarik kesana – kemari mencoba semua permainan.
“Kau bilang ini pertama kalinya, tapi kau dapat kupon sebanyak itu”
Emma duduk dan melihat banyak kupon yang Vian pegang. Vian menatapnya kesal saat dia melihat kupon yang Emma bawa jauh lebih banyak dari miliknya. Sadar pria itu menatapnya, Emma mengira bahwa dia menginnginkan kupon miliknya. Dia pun menyodorkan semua kuponnya pada Vian dan mengatakan bahwa semua itu dia berikan padanya. Walaupun sedikit tersinggung, Vian menerima semua itu dan segera menukarkannya dengan boneka beruang besar.
‘Drrrttt... drrrttt...’
Handphone Vian bergetar saat dia baru selesai menukarkan kuponnya. Ternyata Viona menghubunginya untuk memberitahu tentang GPS Pradigta yang kembali muncul. Tapi Vian meminta saudarinya itu untuk tidak menghubungi Emma dan membiarkan gadis itu untuk bersantai meskipun hanya sebentar.
“Sepuluh menit”
Viona setuju dan hanya memberinya waktu sepuluh menit sebelum mereka kembali. Tanpa mendengarkan lebih lanjut perkataan Viona, dia segera mengakhiri panggilannya dan bergegas menghampiri Emma yang sudah menunggunya.
Melihat boneka beruang besar yang dibawa Vian, dia bingung dengan pria itu. Usia mereka beriga sama, tapi kenapa hanya Vian yang masih mau membawa boneka sebesar itu di supermarket. Dan betapa terkejutnya dia saat Vian memberikan boneka itu padanya. Setelah hadiahnya diterima, Vian lagi – lagi menarik Emma menuju caffe disana setidaknya untuk mengisi energi mereka yang berkurang di tempat permainan tadi.
Dan lagi – lagi, Emma hanya memesan susu hangat tanpa makanan apapun. Melihat itu, Vian terpaksa memilihkan makanan untuknya dan meminta gadis itu untuk memakannya. ‘Aku tak pernah mencobanya tapi mungkin keadaanku sudah membaik’ pikirnya sambil memasukkan sedikit makanan ke mulutnya. Tapi lagi – lagi perutnya menolak. Dia segera berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan semuanya disana, bahkan susu yang diminumnya tadi pagi pun juga ikut dimuntahkannya.
Vian khawatir melihat keadaan Emma tapi dia tak bisa menyusulnya masuk ke kamar mandi wanita dan hanya bisa menunggunya di depan pintu kamar mandi. Saat dia menunggu Emma dengan cemas, lagi – lagi handphonenya bergetar. Viona menelfon untuk kedua kalinya. dan dia meminta mereka untuk segera kembali. Mengingat kejadian di panti, sangat tak aman bagi mereka untuk keluar rumah terlalu lama. Tanpa perotes lagi, Vian mengiyakan permiantaan kakaknya itu.
“Kau.. tidak apa – apa?”
Dengan wajah menyesal, Vian segera menanyakan keadaan Emma setelah dia keluar dari kamar mandi. Melihat ekspresinya, Emma berniat mengusap kepala pria itu lagi tapi dia teringat dengan perkataannya waktu itu dan mengurungkan niatnya. Emma menjelaskan bahwa dia baik – baik saja. Dengan wajah sendunya, Vian lagi – lagi mengutuk kebodohannya yang menyuruh Emma untuk memakan makanan tadi. Dan sesuai permintaan Viona, dia langsung mengajak Emma untuk pulang.
“Tak boleh”
Emma menolak saat Vian menawarkan diri untuk menyetir padahal dia masih khawatir dengan kaedaan gadis itu. Meskipun sudah ditolak, Vian tetap memaksa untuk menyetir sampai ke rumah tapi lagi – lagi ditolak. Emma beralasan meskipun Vian bisa menyetir, dia masih tak memiliki SIM dan hal itu melanggar peraturan lalulintas. ‘Terus kenap Viona boleh?’ menahan rasa kesalnya, Vian duduk dikursi penumpang dengan tenang.