
Dalam ruangan yang kental dengan suasana Jepang, terlihat Ruvan dan anak buahnya sedang duduk bersama pimpinan kelompok kumbang merah dan asistennya. Wajah pria tua itu jelas terlihat bahwa dia sangat tidak menikmati waktunya bersama mereka. Sepanjang waktu pun dia hanya diam menikmati secangkir teh yang mereka suguhkan sambil mendengar pria aneh itu terus berbicara.
“Siapa sangka kita akan bekerjasama seperti ini”
“Tapi ... kenapa kau tahu tentang anak itu?”
Jack, pimpinan kelompok kumbang merah mulai menanyakan hubungan Ruvan dengan Emma setelah dia menerima laporan dari Zayan. Dia merasa aneh karena selama ini, Ruvan dan dia sama sekali tak pernah sepaham. Tapi tiba – tiba, pria tua itu datang dan memberikan informasi berharga padanya begitu saja. Dan yang membuatnya semakin terkejut, adalah keakuratan informasi yang langsung dibuktikannya itu.
Meskipun telah ditanya secara terang – terangan, Ruvan tetap bungkam. Melihat bagaiman sikap Ruvan pada atasannya, membuat asisten Jack yang duduk di dekatnya menjadi emosi sampai hampir memulai pertikaian diantara mereka. Namun Jack yang tak ingin mengakhiri pertemuan mereka begitu saja dan tak mendapatkan jawabannya, segera menghentikan asistennya itu dan meminta maaf atas kelancangan yang sudah dia lakukan.
“Apa kau kenal Jackson?”
“KudengarAlbert berkawan dekat dengan Harry”
Tanpa menyerah, Jack terus bertanya pada Ruvan. Namun Ruvan juga tetap diam. Namun saat menyebut nama Harry, Jack langsung teringat sesuatu. Dia ingat pernah mendengar bahwa saat meninggal, Harry Johnson meninggalkan dua orang anak. Meskipun anak perempuannya dikabarkan sudah mati tak lama setelah kematian orang tuanya, tapi Jack tak pernah mendengar berita pasti tentang hal itu.
“Apa dia cucumu?”
“Dia putri Harry, kan?”
Dengan wajah penuh semangat, Jack mengatakan apa yang ada di pikirannya dengan sangat antusias. Dan Jack langsung tertawa keras saat melihat bagaimana Ruvan bereaksi saat mendenar pertanyaannya. Melihat pria tua itu menatap tajam, dia yakin bahwa tebakannya benar.
“Jangan bodoh! Cucuku hanya Ares!”
Mulai emosi, Ruvan meninggikan suaranya sampai membuat Jack terkejut dan langsung menghentikan tawanya. Namun dengan tatapan usil, Jack kembali menggoda Ruvan dan mengatakan bahwa dengan menyangkalnya, hal itu semakin membuktikan bahwa semua ucapannya benar. Ruvan menghela nafasnya dalam – dalam. Berusaha menahan emosi yang sudah mulai mencuat dalam hatinya. Lalu, tanpa membenarkan ucapan Jack, Ruvan menyuruhnya untuk memastikan bahwa anak itu tak akan pernah keluar dari sana. Dia sama sekali tak perduli dengan apa yang akan Jack lakukan pada anak itu. Selama dia tak melihatnya lagi, apapun tak masalah. Setelah menentukan sikapnya, Ruvan segera beranjak pergi dari tempat itu dan berharap tak akan pernah berurusan lagi
dengan mereka.
Setelah Ruvan pergi, Jack tak bisa lagi menahan tawanya. Dia langsung tertawa lepas sampai membuat perutnya sakit. Dia tak habis pikir bahwa pria tua yang cukup disegani itu akan langsung kehilangan sikap tenangnya hanya dengan menyinggung masalah cucunya.
“Siapa sangka, gadis kecilku adalah cucu si pak tua Johnson”
“Ternyata tak selamanya darah lebih kental dari air”
Jack mengusap airmatanya yang mulai keluar karena terlalu banyak tertawa. Dia berusaha menenangkan diri sambil menghisap cerutu yang asistennya sodorkan.
“Loe jangan gila deh, Res”
“Bukan cuma loe yang khawatir”
“Tapi loe nggak bisa begini”
“Lihat! Mereka juga butuh istirahat biar bisa cari si br*ngs*k itu”
Satria yang juga tak kalah khawatirnya dengan Ares, berusaha mendinginkan suasana. Dia menunjuk orang – orang yang sudah bekerja seharian untuk mencari gadis itu, tak tega melihat mereka sudah tampak kelelahan. Tapi Ares tetap keras kepala sampai membuat Satria hampir kehilangan kesabarannya. Namun setelah melihat bagaimana kondisi anak buahnya, dengan berat hati dia menyuruh mereka semua untuk berhenti dan beristirahat. Meskipun begitu, Ares tetap menyuruh mereka untuk bermalam disana dan menggunakan semua fasilitas yang ada untuk keperluan mereka. Melihat wajah semua anak buahnya yang tampak lega, Ares ingin marah tapi dia sadar bahwa mereka semua juga manusia yang membutuhkan istirahat untuk mengisi lagi energi mereka.
Saat semua orang sudah tertidur, Ares terlihat masih duduk di meja kerjanya. Dia memandangi foto kecil Reyna bersama orang tuanya, merasa frustasi dengan keadaannya saat ini. “Jika terus begini ... aku bisa gila” Ares bergumam dalam hati dan langsung menyambar jas hitamnya di atas meja. Dia tak bisa tidur saat dia sendiri tak tahu bagaimana keadaan Emma disana. Dan dengan terburu – buru, Ares pergi keluar dari kantor dengan menggenggam kunci mobil di tangannya. Namun tanpa dia sadari, pak Ko yang juga masih terjaga menatap kepergian tuannya dari jauh dengan wajah sendu.
Dengan langkah terburu – buru, Ares segera turun ke lantar dasar dan mencari mobilnya. Dia dengan cepat menghidupkan mesin mobil dan langsung menginjak pedal gasnya dengan kuat. Dia pergi menyusuri sepanjang jalan kota meskipun tak tahu kemana tujuannya. Dengan kondisi jalan yang mulai lenggang karena sudah lewat tengah malam, Ares semakin mengendarai mobilnya dengan cepat layaknya seorang pembalap formula 1. Dia terus melaju mengelilingikota sepanjang malam dan kembali saat matahari sudah terbit. Dan hal itu dia lakukan terus selama tiga hari hingga akhirnya dia tumbang dan mendapat perintah istirahat total dari dokter karena selama tiga hari itu, dia hanya tidur selama satu sampai dua jam saja itupun karena Satria sudah hampir
menghajarnya.
Melihat tuannya yang masih berbaring di tempat tidur kantornya, pak Ko dengan kebulatan tekad memberanikan diri untuk menemui pria yang sudah dilayaninya sejak dulu. Melihat pak Ko yang semakin mendekat, Ares berusaha bangkit meskipun keadaannya masih cukup lemah sampai harus diinfus. Namun pak Ko hanya diam dan berdiri di depannya, menunduk dan tak mengatakan sepatah katapun. Jelas hal itu membuat Ares bingung dengan sikap pak Ko yang tiba – tiba jadi aneh.
“Ada apa?”
“Apa pak Ko mau membahas seuatu denganku?”
Dengan suara pelan, Ares berbicara dengan pelayan yang sangat dihormatinya itu. Sejak pak Ko mengundurkan diri dari rumah kakeknya dan lebih memilih untuk melayaninya, dia sudah menganggap pria tua itu seperti keluarga yang selalu ada untuknya.
Pak Ko yang mendengar suara sendu tuan mudanya, kembali ragu. Dia tak sampai hati untuk mengatakan maksud kedatangannya kali ini. Dia takut sampai membuat tangan tuanya itu tampak gemetar. Saat melihat pelayannya yang tampak aneh, Ares langsung bangkit dan menghampiri pak Ko yang terus berdiri menundukkan kepalanya. Dan dengan lembut, Ares merangkul bahu kecilnya dan perlahan mengajaknya duduk. Dan sekali lagi, Ares bertanya tentang apa yang terjadi sampai membuat pak Ko bersikap aneh seperti ini. Kekhawatiran terdengar dari caranya berbicara dan hal itu semakin membuat pak Ko tak bisa menahan perasaannya lagi.
“Maaf, tuan ... .”
“Maafkan saya ... .”
Akhirnya pak Ko membuka mulut. Dia berbicara dengan suara berat dan serak, sambil meneteskan airmatanya. Dan sontak hal itu membuat Ares terkejut dan tak tahu apa yang harus dilakukannya karena dia tak pernah
melihat pak Ko seperti ini.