
Setelah tak mendengar apapun, Vian yakin gadis itu benar – benar sudah pergi. Dia juga berniat untuk segera kembali, tapi tiba – tiba dia ragu. Langkahnya terhenti tepat di depan ruangan yang Emma gunakan tadi. Tak bisa menahan rasa penasarannya, perlahan dia menengok dan memasuki ruangan itu. Dilihatnya dengan seksama, ruangan itu sama sekali tak terlihat seperti kamar anak perempuan. Dengan tembok berwarna abu – abu tua dan sedikitnya barang di sana, dia yakin kamar itu milik si pria tua yang ada di foto tadi. Setelah melihat tak ada hal yang mencurigakan, pandangannya langsung tertuju pada laci yang ada di samping tempat tidur. Dia membukanya dan menemukan kotak besi yang Emma ambil tadi masih ada disana. Saat membuka kotak besi itu, dia terkejut melihat dua alat suntik bersisi cairan merah. ‘Apa ini? aku tak pernah melihat narkotika semacam ini’. Vian mengamati dengan lebih seksama cairan dalam alat suntik itu. Tapi tetap dia tak ingat pernah melihat cairan semacam itu. Tanpa berpikir dua kali, dia langsung memasukkan salah satu alat suntik itu ke kantung bajunya.
Dia hanya bersikap hati – hati dan berniat akan memberitahukan hal ini pada Viona nanti.
Setelah keluar dari ruangan itu, Vian langsung melanjutkan penjelajahannya. Dengan hati - hati, dia menyusuri setiap sudut di lantai satu. Hanya ada dua ruangan di sana dan semua sudah dia masuki tadi. Selain itu, ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur yang menyatu tanpa sekat membuat tempat itu terlihat lebih luas. Dia terus mengamati bahkan sampai di halaman belakang, tapi dia tak menemukan sesuatu yang mencurigakan disana.
Dia mendapati rumah itu sangat sepi dan terasa suram, meskipun sinar matahari menerangi seluruh ruangan, tetap membuat Vian tak ingin berlama – lama disana. Setelah melakukan apa yang dia mau, dia bergegas pergi dari sana. Tapi lagi – lagi langkahnya terhenti di depan tangga menuju lantai dua. Perasaannya tak enak melihat ujung tangga yang gelap. Namun rasa penasarannya terus mendorong untuk sekali lagi melakukan penjelajahan disana. Kakinya terasa berat, tapi dia tahu bahwa dia bisa gila jika tak memuaskan rasa ingin tahunya . Dan dia memaki dirinya sendiri karena hal ini. Perlahan, dia mulai menaiki anak tangga itu satu persatu. Di setiap langkah, dia meyakinkan dirinya bahwa diatas sana juga tak ada hal yang mencurigakan dan terus berusaha memaksa dirinya untuk segera pulang. Seakan tak perduli, kedua kakinya terus naik menuju lantai dua. Entah mengapa, semakin mendekat membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Dan tanpa dia sadari, kini dia sudah sampai di lantai dua. Menarik nafas panjang, Vian berusaha menghilangkan pikiran – pikiran negatifnya dan mulai menyusuri setiap sudut lantai dua. Ada dua ruangan lagi disana. Jika di lantai bawah itu kamar si pria tua, dia yakin ruangan dengan satu pintu di lantai dua ini adalah kamar Emma. Kali ini dia tak memasukinya, karena menurutnya sungguh tak sopan jika lelaki memasuki kamar seorang perempuan apalagi secara diam – diam seperti ini. Terus berjalan, dan perhatiannya langsung tertuju pada satu ruangan dengan dua pintu yang tertutup rapat. Dia berusaha membukanya tapi ruangan itu terkunci. Dengan menggunakan alat istimewanya yang selalu dibawa, perlahan dia berusaha membuka kunci pintu ruangan itu.
‘Klik’
Terdengar suara kunci terbuka setelah beberapa saat Vian mencoba. Tanpa ragu, dia langsung membuka pintu itu.
Betapa terkejutnya dia saat mencium bau anyir darah dari dalam ruangan itu. Walaupun sangat tipis bahkan hampir tak tercium, tapi sudah jelas dia mencium aroma anyir di seluruh ruangan. Dengan kebulatan tekadnya yang tiba – tiba muncul, dia terus masuk ke dalam, memeriksa ruangan itu secara perlahan. Ruangan itu masih tampak berantakan karena Emma pergi dengan meninggalkan keadaan ruangan itu masih sama seperti saat polisi
melakukan penyelidiknnya.
Bulu kuduknya seketika berdiri saat melihat bekas garis putih di lantai yang berbentuk tubuh manusia. Kehabisan kata – kata, dia terdiam tak bisa membayangkan apa yang mungkin sudah terjadi di ruangan itu.
“Hal gila macam apa yang sudah dia lakukan disini?”
Vian masih yakin bahwa semua ini adalah ulah Emma. Dan tanpa ragu lagi, dia mengambil foto gambar tubuh itu dengan ponselnya untuk diperlihatkan nanti pada Viona lalu dia melanjutkan penelusurannya lagi sampai ke bagian belakang ruang baca itu. Tapi selain apa yang sudah dilihatnya tadi, tak ada hal mencurigakan lagi yang bisa dia temukan.
“Hah.. anak aneh itu pasti sudah sampai rumah sekarang..”
Vian perlahan keluar dan menutup kembali pintu ruang baca. Tapi sesaat dia terdiam. Dia merasa melupakan sesuatu dan mencoba mengingatnya.
“Akh! Viona!”
Dia teringat dengan saudarinya yang sendirian di rumah. Emma sudah lebih dulu pergi dan mungkin sekarang sudah dekat dengan rumahnya. Vian merasa khawatir tentang keselamatan Viona setelah dia melihat semua kejadian hari ini. Dengan terburu – buru, dia segera keluar dari rumah itu dan memanggil taxi.
Dalam beberapa menit, taxi yang dipesannya sudah tiba. Tanpa membuang waktu lagi, dia segera naik dan meminta supir taxi untuk pergi secepat yang dia bisa. Perjalanan menuju Jakarta Selatan memakan waktu beberapa jam. Dan selama itu, Vian hampir gila rasanya jika membayangkan kakaknya hanya berdua di sana bersama gadis itu. Banyak pikiran buruk yang muncul dikepalanya membuatnya semakin gusar. Terlebih saat dia sudah beberapa kali menghubungi Viona tapi tak ada jawaban juga.
Dia berlari seperti orang gila, tak perduli dengan mereka yang menatapnya dengan heran. Tubuhnya basah karena keringat dan dadanya mulai terasa sesak. Tapi dia tak bisa berhenti disana. Apapun yang terjadi, dia harus cepat menemui kakaknya itu.
Beberapa kali dia coba menghubungi kakaknya lagi, tapi tetap tak ada jawaban. Kakinya mulai menyerah saat dia harus melewati tanjakan dan turunan untuk sampai ke rumah Emma. Namun dengan tekat kerasnya, memaksa kedua kaki itu untuk terus berlari bahkan tanpa memperlambat langkahnya. Hanya berjarak beberapa meter saja, rumah Emma sudah mulai terlihat. Semakin dekat, dia berusaha mempercepat langkahnya.
‘BRAK!’
Vian yang tiba – tiba datang mendobrak pintu gerbang, sontak membuat Viona dan Emma yang sedang menyiram tanaman terkejut. Viona menatap Vian yang masih berdiri di gerbang dengan tatapan aneh. Dengan nafasnya yang saling memburu, Vian sekali lagi memaksa kakinya yang sudah gemetar untuk berjalan kearah Viona. Dia mengamati kakaknya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Setelah memastikan bahwa kakaknya baik – baik saja, dia baru bisa bernafas lega dan memberikan tatapan tajamnya pada Emma yang berdiri di depannya. Tapi seperti biasa, Emma hanya diam tanpa berekspresi melihat tatapan tajam yang mengarah padanya.
Vian merasakan sakit dibahunya lalu melihat bajunya sudah berubah merah dan berfikir ‘ah..sial.. lukanya terbuka’. Tiba – tiba dia merasa pusing dan sosok Emma yang dilihatnya mulai kabur sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap dan hanya terdengar suara Viona yang berteriak memanggil namanya.
Langit sudah gelap saat Vian membuka matanya dan melihat Viona yang duduk di samping tempat tidurnya. Melihat adiknya sudah bangun, Viona berniat memanggil Emma yang sedang duduk di halaman tempatnya biasa berolahraga. Tapi seketika Vian mencegahnya. Dia melarangnya memanggil gadis itu dan mengatakan bahwa dia ingin bicara berdua saja dengannya.
“Apa yang kau lakukan!?”
Viona terkejut saat melihat Vian melepas infus di tangannya secara paksa. Dia masih tak percaya dan menaruh curiga pada Emma.
“Vio”
Vian memanggil kakaknya dengan suara berat dan menatapnya dengan tatapan serius. Tak pernah melihatnya seperti itu, membuat Viona setuju dan mendengarkan apa yang ingin diucapkannya dengan serius. Setelah mendengar semua yang diucapkan anak itu, Viona langsung memukul ringan kepala adiknya.
“Kau bilang Emma orang jahat?”
“Asal kau tahu, sejak kita pergi dari panti, hanya dia yang memperlakukan kita seperti manusia”
“Meskipun baru satu minggu, dia sudah membuat kita merasakan nikmatnya hidup tanpa harus merasa khawatir”
Vian hanya diam saat Viona mengomelinya. Dia ingin memberikan penjelasan lagi, tapi Viona segera menghentikannya dan menyuruhnya untuk beristirahat dan mereka akan berbicara besok setelah kondisinya lebih baik.