
Sudah sekitar sepuluh menit Emma, Vian dan Viona berada dalam mobil. Sejak mereka tiba di depan panti asuhan, tak ada satupun dari mereka yang keluar.
“Kalau kalian memang tak mau pergi, biar aku saja”
“Tak perlu sampai menahanku juga”
Emma mulai tak sabar dengan sikap mereka. Dia ingin segera masuk ke panti tapi kedua orang itu terus menahannya dan sekarang mereka malah diam, tak memberinya penjelasan apapun.
“Hah.. kalau begitu, biarkan aku...”
“Menyuruh Vian menemanimu”
Vian terkejut mendengar namanya tiba – tiba disebut. Belum sempat menolak, Emma sudah menariknya keluar dan dengan sangat terpaksa dia mengikutinya memasuki panti. ‘Vio.. kubalas kau nanti!’ dalam hati, Vian mengutuki kakaknya. meskipun sudah bertahun – tahun, tapi bayangan mereka tentang tempat ini masih tak berubah. Dan itulah yang menahan Vian dan Vio untuk masuk.
Meskipun dengan langkah ragu, dia terus mengikuti Emma mencari ruang Direktur. Tak ingin ada yang mengenalinya, dia berusaha menutupi wajah dengan topi yang dipakainya. Bahkan saat Emma berbicara dengan seseorang disana, dia hanya bisa menunduk dan mendengarkan saat gadis itu menanyakan arah. Meskipun dia tahu dimana ruang direktur, dia masih marah dan tak ingin memberitahunya.
Mereka berdua lalu berjalan melewati lorong yang cukup gelap. Disana dia melihat banyak ruangan yang dipenuhi anak – anak kecil yang sedang asik belajar. Mereka semua tertawa dengan pengajaran yang pengasuh mereka berikan. Dan hal itu membawa kembali kenanganya saat dia dan Viona masih tinggal di sana. Saat itu, mereka juga sama bahagianya dengan anak – anak itu tanpa tahu apa yang orang – orang dewasa itu sembunyikan dibalik punggung mereka.
Setelah mengikuti Emma cukup jauh, mereka akhirnya tiba di depan ruangan dengan papan nama direktur di pintunya.
‘tok tok’
Emma dengan yakin mengetuk pintu ruang direktur didepannya. Dan tanpa menunggu lama, seorang wanita tua berpakaian rapi keluar dari balik pintu. Dengan senyum ramahnya wanita itu menatap Emma sesaat sebelum mempersilahkan mereka untuk masuk dan menghidangkan segelas teh hangat untuk teman bicara mereka.
“Ada perlu apa kalian kemari?”
Dengan suara lembutnya, wanita itu bertanya pada Emma dan Vian yang kini sudah duduk dengan nyaman di depannya.
“Apa Anda mengenal anak bernama Reynand Anatari?”
“Hm.. sepertinya dulu pernah ada anak dengan nama itu disini”
Setelah menjawab pertanyaan Emma, wanita itu langsung beranjak dan menuju rak besar dengan banyak dokumen yang tersusun rapi disana. Dia lalu mengambil salah satu dokumen dan membaca isinya.
“Ah! Ini dia. Apa ini maksudmu?”
Wanita itu menyodorkan buku dengan foto anak perempuan di dalamnya. Nama dan tanggal lahir yang tertulis disana sama dengan yang dilihatnya di pemakaman kemarin. Meskipun tak pernah melihat wajahnya, Emma yakin bahwa anak perempuan di foto itu memang Anatari. Emma lanjut membaca data anak itu dan terkejut saat melihat foto anak laki – laki di halaman selanjutnya. Namanya sama dengan nama Pradigta, dan wajahnya pun juga mirip sekali dengannya.
“Anak itu Pradigta, dia adik Anatari. Mereka ditinggalkan di depan panti saat dia baru umur 3 tahun”
Direktur yang sedari tadi menatap Emma, mengatakan hal yang memang ingin gadis itu dengar. Dia juga menceritakan beberapa hal tentang mereka termasuk mereka yang tiba – tiba pergi saat Pradigta sudah berusia sepuluh tahun.
Mendengar hal itu, Vian terkejut dan tanpa sadar mengangkat kepalanya sampai dia dan direktur saling menatap. Merasa sudah ketahuan, Vian segera menurunkan kembali pandangannya dan mengajak Emma segera pergi dari sana. Tapi Emma tak menghiraukan permintaan pria malang itu dan heran melihat sikapnya yang tak bisa tenang.
“Apa dia temanmu?”
“Bukan”
Vian terkejut dan sedikit kecewa mendengar jawaban Emma. Tapi dia memaklumi, mengingat apa yang pernah dilakukan padanya.
“Dia saudaraku”
Vian tak percaya saat mendengar ucapan Emma yang tiba – tiba. Dia tak tahu bahwa gadis itu sudah menganggap mereka sebagai keluarganya. Ucapan Emma terus terngiang di telinganya, membuat anak itu tak bisa menyembunyikan senyumnya.
Setelah mendapatkan informasi tentang Pradigta, mereka langsung dan berbalik pergi meninggalkan direktur yang masih menatap kepergian mereka.
Tanpa Emma dan Vian sadari, wanita tua itu menghubungi seseorang untuk memberikan mereka salam perpisahan. Setelah mengakhiri panggilannya, dia menatap sebuah foto dan tersenyum licik. ‘Dengan ini, bos akan
memberiku bonus besar..’
“Ini ada yang aneh”
Vian langsung menghentikan senyumnya yang sedari tadi masih terus mengembang saat dia merasa ada yang salah dengan suasana panti yang tiba – tiba berubah. Anak – anak tadi juga sudah pergi bahkan hampir disepanjang jalan mereka menuju pintu keluar, tak ada seorang pun yang terlihat.
“Dari film yang pernah kutonton, biasanya setelah ini akan ada yang memukulimu”
Emma teringat dengan adegan film yang pernah dilihatnya. Dan Vian tak habis pikir melihat Emma jadi lebih waspada karena hal itu. Memang benar ada yang salah dengan panti ini, tapi bukan alasan yang benar untuk menggantungkan hidupmu pada sebuah film tanpa menyadarisituasi. ‘Tapi tak masalah selama gadis ini bisa lebih berhati – hati’
“Benar kan yang kubilang”
Emma yang kini dihadang beberapa pria berbadan cukup kekar, merasa bahwa yang dialaminya sekarang memang sesuai dengan film yang pernah dilihatnya itu. Mulai kesal, tapi Vian tak memperdulikan ucapan Emma yang berbicara tentang film itu lagi.
Tanpa basa basi, para pria itu langsung melangkah dengan cepat kearah mereka. Tapi saat mereka berbalik untuk melarikan diri, sudah ada beberapa pria kekar lain yang menghalangi niat mereka. ‘Mau tidak mau, kita harus melawan!’ Vian menyadari situasi mereka. Dan dia menyuruh Emma untuk melawan beberapa pria dan akan dia urus sisanya.
Vian mengambil posisi kuda – kuda, bersiap memulai pertarungan tangan kosongnya. Emma juga mengambil posisi siap menyerang dan dengan cepat mengeluarkan pisau kecil dari saku belakang celananya. Sejak menyadari bahwa kecelakaannya dulu karena kesangajaan, Emma selalu membawa pisau kecil kemanapun dia pergi, setidaknya itu bisa digunakan untuk menjaga diri.
Dengan kemampuan beladirinya, Vian dengan mudah melumpuhkan satu orang pria. Tapi dia tak berhenti di situ. Lelaki itu langsung mendaratkan tinjunya pada wajah pria kekar yang mendekatinya lagi. Dengan menyerang beberapa titik vitalnya, pria itu pun bisa tumbang tanpa sempat memberikan banyak perlawanan. Namun Vian mulai tersengal – sengal. Tenaganya sudah cukup terkuras untuk melumpuhkan dua pria yang bertubuh lebih besar darinya.
Di sisi lain, Emma yang seorang dokter bedah tahu dengan pasti bagaimana memainkan pisaunya itu untuk melawan mereka. Dengan lincah dia berhasil menghindari beberapa serangan mereka. Dia memukul bagian hidung dan tenggorokan, membuat pria kekar itu kehilangan keseimbangannya dan memberikan kesempatan pada Emma untuk memotong salah sau tendon di pergelangan pria itu. Gadis itu tak perduli jika mereka nantinya tak bisa lagi menggunakan kedua kakinya itu. Namun selama pria itu masih hidup, itu berarti Emma tak melanggar sumpahnya sebagai seorang dokter.
“Akh!!”
Perhatian Emma teralihkan saat dia mendengar teriakan Vian. Dan benar saja, dia sudah tertangkap dan bahkan menerima beberapa pukulan keras mereka. Sadar dengan kemampuan Vian, gadis itu tahu bahwa Vian masih bisa menahan beberapa pukulan lagi sampai dia selesai mengurus dua pria yang masih berdiri tegak di depannya.
Meskipun begitu, Emma tak ingin membuang waktu lagi dan tanpa basa basi dia langsung menggunakan beberapa tekhnik aikido yang sempat dipelajainya. Dan dalam sekejap, kedua pria itu langsung tumbang. Dengan cepat Emma memotong tendon kaki mereka, dan segera pergi menuju Vian yang sudah tampak lemas. Setelah memperhitungkan jarak dan kecepatan angin, sambil berlari Emma dengan yakin melempar pisaunya ke arah
pria yang menahan Vian.
“Akh!!”
Dengan cepat, pisau itu menancap dalam di paha pria itu dan membuatnya melepaskan Vian. Sadar bahwa dia sudah bebas, Vian dengan cepat melayangkan pukulannya pada titik vital di leher pria itu dan membuatnya tak sadarkan diri. Namun dia terdiam saat berbalik dan melihat Emma dengan berani melawan pria yang sudah memukulnya itu. Matanya masih fokus melihat Emma bahkan setelah gadis itu selesai dan berjalan ke arahnya.
“Kita pulang dan obati lukamu”
Tanpa kehabisan nafas, dia segera pergi setelah mengambil pisaunya yang masih tertancap di paha pria tadi dan membersihkan darah yang menempel disana.
“Ah.. kenapa jantungku jadi berdebar keras begini?”
“Tenanglah, atau kau akan meledak”
Vian memegangi dadanya yang jadi sangat berisik setelah melihat Emma melawan pria tadi. Dia juga menghela nafas panjangnya, berusaha menenangkan diri dan tak ada yang mendengar debaran gilanya itu.
“Apa yang kau lakukan?!”
Emma kembali dan dengan cepat menarik Vian yang masih berdiri diam meskipun orang - orang itu datang lagi dan mengejar mereka. Dengan kuat dia menarik pria itu menuju mobil dimana Viona sudah menunggu mereka.
“Hah.. kalau saja sekarang hujan, pasti bagus..”
Senyum Vian mengembang saat berlari mamandang pungung Emma, dan tak menghiraukan beberapa pria yang berteriak mengejarnya.