
“Maafkan saya tuan ... .”
Kata maaf yang tiba – tiba keluar dari mulut pak Ko jelas membuat Ares bingung. Tak ada alasan untuk pria itu meminta maaf sampai menangis di depannya karena dia tahu betul sebesar apa kontribusi pak Ko dalam hidupnya sejak dia memutuskan pergi dari rumah kakeknya.
Dengan situasi mereka semua yang sedang bingung mencari jejak Emma, Ares menganggap bahwa pak Ko hanya sedang lelah dan membiarkannya terus menangis sampai dia merasa lega. Ares memeluk tubuh tua pak Ko dengan kasih sayang yang bahkan tak pernah dia tunjukkan pada kakeknya. Namun hal itu membuat tangisan pak Ko semakin pecah. Air matanya semakin deras bahkan sampai membasahi baju Ares yang terus memeluknya. Dan hal itu membuat Ares memeluk pak Ko lebih erat, berusaha menenangkannya.
Namun sikap Ares itu membuat pak Ko semakin merasa bersalah, terlebih karena Ares terus memeluknya tanpa menanyakan apapun. Dan dengan kebulatan tekat, dia berusaha berbicara dengan Ares walaupun dengan suara yang mulai gemetar.
“Saya tahu Emma adalah nona Reyna, adik tuan”
Satu kalimat yang pak Ko ucapkan tiba – tiba, membuat Ares terkejut dan langsung melepaskan pelukannya. Dia lalu menatap pak Ko dengan penuh tanda tanya karena dia tak pernah membicarakan hal ini dengan siapapunselain Satria. Dan hal ini memaksa kepala Ares yang sudah terasa penuh untuk kembali memutar otak, memikirkan kemungkinan dari mana pak Ko mengetahui hal ini.
Ditatap dengan wajah penuh tanya dan curiga, membuat tekad pak Ko menciut. Tapi dia sudah tak bisa lagi menunda dan terus menanggung beban hati yang sudah tiga belas tahun ini menyiksanya. Dia berharap bisa hidup lebih tenang sambil menutup mata tentang permasalahan yang akan dibawanya mati itu. Namun saat melihat tuan mudanya yang perlahan runtuh, hatinya tak bisa kembali berpaling dan mengabaikannya.
“Mungkin Anda sudah tahu jika tuan Ruvan berniat membunuh nona Reyna setelah kematian tuan Harry”
“Tapi ... .”
Dan dengan tatapan sendunya, pak Ko mulai bercerita meskipun awalnya terlihat ragu. Pak Ko mengatakan bahwa setelah kematian Harry, ayah Ares, dia yang saat itu baru kembali setelah menjenguk cucu pertamanya, melihat Ruvan sedang menggendong Reyna kecil yang masih tertidur keluar dari kamarnya. “Wajahnya marah tapi saat itu tuan terlihat sedih” pak Ko menjelaskan bagaimana wajah Ruvan yang dilihatnya saat itu dengan jelas seperti baru
dilihatnya kemarin.
Pak Ko lalu melanjutkan, bahwa Ruvan saat itu meminta untuk mengantarnya menemui seseorang tanpa menjelaskan tujuan pastinya. Dan setelah tiba disana, barulah pak Ko tahu bahwa Ruvan membawa Reyna menemui Albert Jackson dan istrinya. Setelah itu, pak Ko cukup lama menunggu Ruvan keluar dan tiba – tiba pikiran aneh muncul dikepalanya. Pak Ko mengatakan bahwa dia juga tak tahu apa yang membuatnya berpikir seperti itu, tapi saat itu dia merasa aneh karena Ruvan yang selama ini cukup menjaga jarak dengan Reyna tiba – tiba membawa gadis kecil itu pergi.
“Saya mengikutinya ke dalam, dan mendengar bahwa tuan Ruvan meminta mereka untuk membuat nona Reyna tidur selamanya. Dan itu membuat saya terkejut”
Pak Ko menceritakan bahwa setelah itu, dia terus bersembunyi sampai Ruvan harus pergi ke kamar mandi dan secara sembunyi – sembunyi dia menemui Albert Jackson dan istrinya.
“Saya memohon pada mereka untuk tidak membunuh nona Reyna seperti permintaan tuan Ruvan”
“Saya meminta mereka untuk memalsukan kematian nona, dan mengijinkan mereka untuk melakukan apapun asal nona Reyna bisa tetap hidup”
Sedangkan Ares yang mendengarkan semua cerita pak Ko, hanya diam dengan wajah yang memperlihatkan betapa terkejutnya dia dengan semua yang didengarnya barusan. Perlahan, dia melepaskan tangannya dari pak Ko dan berusaha mencerna kembali perkataan pria tua itu. Namun semakin dia memikirkannya, emosi dalam dirinya semakin tersulut bahkan hampir meluap tak terbendung. Dia marah karena pak Ko denga sengaja meninggalkan Reyna yang masih kecil, sendirian di tengah kegilaan keluarga Jackson.
Tanpa menunggu Ares memberikan respon atas ceritanya, pak Ko dengan cepat beranjak dan mengatakan dengan jujur niatnya untuk pergi menemui Ruvan dan mencari tahu tentang kemungkinan keberadaan Emma karena dia berpikir bahwa hilangnya Emma secara tiba – tiba ini pasti ada hubungannya dengan Ruvan. Saat pak KO memberanikan diri untuk menceritakan semuanya, dia berharap bahwa Ares akan memahami niatnya itu dan tak menghalanginya untuk pergi karena dia tahu bahwa Ares sangat tak ingin orang – orangnya sampai berurusan terlalu dalam dengan kakeknya.
“Apa?!”
“Kakek bisa membunuhmu jika tahu!”
“... Apa bapak mau melarikan diri?”
Meskipun api dalam hatinya masih menyala, tapi dia juga tak ingin jika pria tua yang sudah merawatnya itu juga pergi seperti orang tuanya dulu. Dengan kalimat – kalimat pedasnya, Ares berusaha membuat pak Ko berubah pikiran dan mengurungkan niatnya untuk pergi. Namun pak Ko hanya tersenyum melihat bagaimana Ares yang tampak marah tetapi tetap menunjukkan perhatiannya itu. Dan tanpa memperdulikan Ares yang masih bicara, pak Ko langsung berbalik dan perlahan melangkah menuju pintu keluar. Namun tepat sebelum dia membuka pintu, Ares berbicara dengan sedikit meninggikan suaranya sampai membuat pak Ko berhenti.
“Pastikan bapak minta maaf sama Reyna”
“Saat itu, bapak juga akan kumaafkan”
Mendengar kalimat itu, pak Ko berbalik dan tersenyum memberikan salamnya sebelum dia membuka pintu dan benar – benar pergi dari hadapan Ares. Namun betapa terkejutnya pak Ko saat melihat Andre, putra semata wayangnya sudah berdiri di dekat pintu tempat dia dan Ares berbicara tadi. Andre menatap wajah ayahnya dengan penuh kesedihan. Dia tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi. Baginya, pak Ko adalah sosok seorang ayah sempurna yang selalu mengajarkannya apa arti kesetiaan dan harga diri. Namun seketika semua gambaran itu hancur saat dia tanpa sengaja mendengar pengakuan ayahnya pada Ares.
Yakin bahwa Andre pasti sudah mendengar semua pembicaraannya tadi dan berniat menghentikan niatnya, pak Ko tanpa pikir panjang langsung memukul keras tengkuk Andre sampai membuatnya langsung tak sadarkan diri.
“Jadilah ayah yang baik untuk anakmu”
“Semoga nanti aku bisa menemuimu dengan bangga”
“Dengan harga diri yang sudah kurebut lagi”
Setelah melihat Andre jatuh tak sadarkan diri, tanpa membuang waktu pak Ko segera pergi menemui Ruvan karena baginya kini keselamatan Emma dipertaruhkan disetiap detiknya dan dia tak mau mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Dan tanpa ada yang menyadarinya, pak Ko sudah pergi menuju kediaman utama keluarga Johnson yang pernah menjadi tempat mengabdinya dulu.