PEEK A BOO

PEEK A BOO
KOTAK PANDORA



‘Hidup ini tak pernah adil. Tapi kita bisa melakukan keadilan kita sendiri’


Kalimat yang dulu pernah didengarnya saat berusia lima tahun, kini kembali terngiang di kepalanya. Kalimat yang mereka ajarkan menjadi seperti boomerang bagi mereka. ‘apa yang kalian lakukan? Sampai membuat orang itu mengadili kalian seperti ini?’. Pertanyaan itu terus muncul di benaknya selama proses pemakaman. Emma terdiam menyaksikan tubuh kedua orang tuanya terbungkus dan perlahan memasuki tanah. Wajah mereka kini tak terlihat hebat lagi. Bukan lagi wajah keras yang selalu dilihatnya, namun wajah lemah tak berdaya. Perlahan – lahan tubuh mereka mulai tertimbun tanah. Semakin dalam dan semakin dalam. Sampai akhirnya hanya nama mereka yang tersisa di batu nisan.


Langit siang mulai terlihat mendung dengan angin dingin yang perlahan bertiup. Saat satu persatu peziarah mulai pergi, tapi Emma tetap berdiri diam di sana. Menatap mereka, yang kini hanya tinggal nama. Tak ada yang menahannya pergi, tapi sesuatu dalam dirinya bersikeras untuk tetap tinggal. Tanpa kata, dia hanya ingin semenit lebih lama melihat tempat orang tuanya berada. Namun tanpa disadari, dia sudah berdiri disana hampir setengah jam. Dia tak tahu apa yang membuatnya terasa berat untuk pergi. Padahal dia tahu, ada atau tidaknya mereka tak akan mempengaruhi hidupnya.


Namun Emma terkejut, saat tiba – tiba merasakan sesuatu mengalir di pipi kirinya. Dia menyentuhnya dan heran dengan pipinya yang basah padahal hujan belum turun. ‘ini.... air mata?’. Dia semakin bingung karena hal ini tak pernah terjadi sebelumnya. Dia tak merasa sedih, jadi kenapa air matanya keluar?. Dia sendiri tak tahu apa yang terjadi dengannya. Matanya menatap tajam batu nisan Albert dan Alexandra, menuntut penjelasan mereka meskipun dia tahu tak akan mendapatkan apa - apa.


Tanpa ia sadari, seorang pria muda mengawasinya dari jauh. Seseorang dengan tubuh tegap dan berkulit putih, menatap Emma dengan lembut. Memperhatikan setiap geraknya. Dia terus berdiri di sana bahkan setelah semua peziarah pergi.


“Tuan, kita harus pergi sekarang”


Seorang pria paruh baya menghampirinya, berbicara dengan penuh hormat. Langit mendung yang semakin gelap membuat pria itu khawatir hujan akan segera turun. Sesaat dia memandang Emma sebelum dia melangkah pergi menuju sebuah mobil sedan hitam yang diparkir tak jauh dari sana.


“Ambil payung, dan berikan padanya”


Pria paruh baya itu hanya menunduk mengiyakan permintaan tuannya, tak berani untuk bertanya lebih jauh. Padahal dia sangat ingin tahu tentang siapa dan kenapa tuannya sampai menunda pertemuan pentingnya. Tapi mengetahui sifat tuannya yang keras, dia menyimpan kembali rasa penasarannya. Pemuda itu tiba – tiba menghentikan langkahnya, sekali lagi untuk melihat Emma, sebelum dia pergi.


Tak ada yang bisa memberinya jawaban, Emma berniat pergi dan melakukan apa pun untuk menyingkirkan kebingungannya itu. Namun sebelum pergi, dia merasakan langkah pelan seseorang yang mendekatinya. Dan Emma terkejut. Saat berbalik, dia melihat seorang pria paruh baya dengan senyum ramah sedang berdiri di hadapannya. Wajah dengan keriput halus di sudut matanya, memberikan tatapan khas seorang pria usia lima


puluh tahunan.


“Sebentar lagi hujan, pakailah”


Dengan lembut, pria itu menyodorkan payung hitam padanya. Emma menatapnya sesaat, memeriksa dengan


Emma melanjutkan langkahnya untuk pergi dengan payung hitam ditangannya. Tapi hari ini dia tak bisa kembali ke rumah sakit. Setelah kejadian kemarin, Profesor Rizwan menyuruhnya untuk tidak muncul di rumah sakit beberapa hari kedepan. Dengan pipinya yang masih terasa basah, dia terfikir untuk kembali ke rumahnya, ke ruang baca tempat Albert memberikannya hadiah terakhir. Dia berharap Albert akan memberinya sesuatu yang berguna.


Rumahnya kini terlihat lebih sunyi. Para tetangga sebisa mungkin menghindari rumahnya, terlebih setelah polisi selesai menyelidiki tempat kejadian. Beberapa garis kuning polisi terlihat membentang di setiap penjuruh rumahnya. Tapi Emma dengan santai berjalan masuk, melewati setiap garis polisi yang menghalanginya. Dia langsung melangkah menuju ruang baca. Ruangan yang kini terlihat berantakan dengan jejak – jejak penyelidikan yang polisi lakukan. Tapi setiap buku di sana masih tertata rapi di tempatnya. Emma melangkah perlahan memasuki ruang baca, tak mau merusak tempat kejadian perkara. Lebih dalam, dia menuju bagian belakang ruang baca, mencoba mencari hadiah yang daddynya berikan.


Untuk beberapa waktu, dia melihat setiap buku di sana. Tapi tak ada hal istimewa yang menarik perhatiannya. Diabahkan sudah berkeliling ke seluruh bagian ruang baca beberapa kali. Namun tetap tak ada hal yang menarik. Hampir semua buku hanya tentang jurnal ilmiah dan buku – buku diary yang selama ini ditulisnya. Tak menemukan apapun, dia berniat untuk pergi. Namun langkahnya terhenti saat dia melihat hal yang terasa janggal. Dari seluruh rak buku yang ada disana, hanya satu baris rak di bagian bawah dekat pintu masuk yang memiliki buku sejarah di ruangan itu. ada beberapa judul buku di sana, tapi hanya satu buku yang mencuri perhatian Emma. Buku berjudul ‘Era Reformasi’. Dia yakin, bahwa hadiah daddynya berhubungan dengan buku itu.


Dia teringat dengan kata ‘magenta’ yang Albert katakan. Magenta yang merupakan warna dari hasil pencampuran antara merah dan ungu, memang bermakna keseimbangan. Tapi jika dilihat lebih mendasar, magenta tetaplah warna hasil pencampuran. Dan setiap pencampuran pasti menghasilkan perubahan dan memunculkan hal baru.


Tanpa ragu, Emma segera meraih buku yang tak terlalu tebal itu. dan.. ‘klik’. Tiba – tiba terdengar bunyi dari balik rak saat dia menarik buku itu. Tapi tak ada yang terjadi, sampai perhatiannya teralihkan dengan suara gesekan di bagian belakang ruang baca yang tadi sudah diperiksanya. Wajahnya sedikit terkejut saat melihat rak buku yang dilihatnya tadi sudah terbelah, memperlihatkan celah kecil di tengahnya. Emma langsung mengurungkan niatnya


untuk pergi dan segera memasuki celah kecil disana.


Ruangan di dalamnya sangat gelap, sama sekali tak ada cahaya. Emma yang masih berdiri di pintu masuk celah, tak bisa melangkah lebih jauh lagi. Tapi setelah beberapa detik dia berdiri disana, celah yang tadinya terbuka, tiba – tiba tertutup. Emma tak tahu apa yang harus dilakukannya. Pintu masuk yang dilewatinya tadi sudah tertutup, dan dalam gelap dia tak tahu ke arah mana dia harus pergi. Tapi ruangan gelap tadi mendadak jadi terang, dengan lampu yang tiba – tiba menyala satu persatu di sepanjang lorong tempatnya berdiri sekarang. Tak ada pilihan lain,


Emma hanya bisa menyusuri lorong yang tak begitu panjang dengan pintu besi di ujungnya. Tak seperti sebelumnya, kali ini tidak ada trik khusus untuk membuka pintu. Hanya perlu sedikit tenaga untuk menggesernya. Emma sama sekali tak menyangka ada ruangan yang cukup luas dibalik pintu besi yang dibukanya. Memang


jika dilihat dari luar, ukuran ruangan bacanya terlalu kecil jika dibandingkan dengan space yang digunakannya.


Dia mulai berjalan menyusuri setiap sudut ruangan. Tempat itu tampak berantakan dengan lembaran kertas yang berserakan, banyak alat penelitian dengan cairan berwarna merah dan ungu yang mengalir dari pipa satu ke pipa lainnya. Tapi satu hal yang membuatnya takjub. Sebuah tabung kaca besar penuh air dengan puluhan kabel yang menghubungkannya ke sebuah komputer utama di depannya. Bukan hanya itu, dia bahkan melihat beberapa tikus percobaan yang masih berdecit. Melihatnya lebih seksama, ruangan itu lebih terlihat seperti laboratorium di film yang pernah ditontonnya.


“Apa daddy memberikan ruangan ini padaku?”


Emma bertanya pada dirinya sendiri, tak percaya. Karena dia tahu, orang tuanya adalah orang yang sangat gila kerja. Melihat kondisi laboratorium ini, Emma yakin bahwa mereka bahkan sudah mencurahkan seluruh jiwa mereka untuk semua penelitiannya ini. Tak menemukan hal yang bisa digunakannya, Emma melanjutkan penelusurannya. Berjalan lebih jauh kedalam dan melewati lorong dengan dinding penuh buku. Perjalanannya sekali lagi terhenti saat dia melihat pintu besi di depannya. Dan terkejut saat tahu bahwa pintu itu terhubung ke halaman belakang rumahnya.