PEEK A BOO

PEEK A BOO
AWAL YANG BARU



‘Buk! Buk! Buk!’


Di halaman berumput sebuah rumah sederhana, Emma sedang berlatih fisik. Ada beberapa alat disana yang biasa dia gunakan mulai  dari samsak sampai beberapa alat gym. Sejak menempati rumah itu sekitar enam bulan yang lalu, dia mulai rutin melatih tubuhnya bahkan sesekali dia juga berlatih karate dan tinju karena dia pernah mendengar ungkapan di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Jadi dia berusaha setiap hari untuk berolahraga yang sangat jarang dilakukannya dulu. Setelah pindah dan berhenti menjadi dokter, dia berusaha untuk selalu ‘low profile’ sehingga hanya sedikit orang yang tahu tentangnya. Dia lebih sering menghabiskan waktunya diluar rumah, bekerja paruh waktu sekaligus berkeliling mencari info tentang keberadaan Pradigta.


Setelah hampir dua jam berolahraga, dia lalu beristirahat di kursi malasnya. Dengan angin pagi yang sejuk, membuat dirinya lebih rileks. Suasana tenang membuatnya kembali teringat saat – saat awal dia memutuskan untuk pergi. Waktu itu, butuh waktu hampir dua hari untuk benar – benar lepas dari penguntit yang selalu mengikutinya. Dia harus berkeliling kota melewati jalanan kecil yang bahkan belum pernah dilaluinya untuk bisa melepaskan diri. Hingga akhirnya dia bisa pergi dan tinggal di tempatnya sekarang. Memang tak ada banyak perubahan dengan kondisi kesehatannya sejak di rumah sakit waktu itu. Dia masih harus mengkonsumsi obat tidur hanya untuk bisa tidur beberapa jam saja. Walaupun dia msih memuntahkan semua makanannya, tapi setidaknya dia masih bisa menerima semua susu yang diminumnya. Sekarang tubuhnya terlihat lebih segar jika dibandingkan saat masih dirawat dulu, meskipun tubuhnya terlihat lebih kurus dan kantong matanya masih samar – samar terlihat. Setidaknya dia kini bisa lebih menata hidupnya.


‘Beep.. beep.. beep.. beep..’


Alarm handphonenya berbunyi, dan waktu menunjukkan sudah jam sepuluh pagi. Mendengar itu, Emma langsung bergegas dan bersiap berangkat untuk kerja paruh waktunya. Sudah tiga bulan ini, dia bekerja sebagai kurir sepeda. Setelah bersiap dengan helm dan beberapa pelindungnya, Emma segera mengayuh sepeda menuju tempat kerjanya. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga puluh menit jika ditempuh dengan mobil. Tapi Emma membutuhkan waktu sampai satu jam dengan mengendarai sepedanya. Jalanan yang macet tak mempengaruhi kecepatan kakinya mengayuh pedal sepeda. Angin yang cukup kencang meniup rambutya yang hanya sebahu, membuatnya berkobar seperti api.


Emma menghentikan sepedanya saat dia tiba di depan gedung yang tak terlalu besar, hanya terlihat seperti rumah biasa dengan banyak sepeda yang terparkir di depannya. Setelah mengunci sepedanya, dia segera masuk dan menemui petugas di dalam. Beberapa orang yang melihat, menyapanya dan dibalas dengan senyumnya yang profesional. ‘Em’. Begitulah mereka menyapanya, karena mereka hanya mengenalnya sebagai Emma, anak yatim piatu yang harus berjuang sendiri dalam hidupnya bukan sebagai Emma Jackson si dokter bedah jenius.


“Ini untuk daerah Kebayoran Baru”


Seorang wanita tua yang bertugas, memberika beberapa paket dan surat pada Emma. Hari ini sudah gilirannya untuk berkeliling daerah Kebayoran Baru. Setiap hari semua kurir memiliki daerah antarnya masing – masing dan itu selalu berbeda setiap harinya. Emma menerima semua paket dan surat dari wanita itu dengan senyum di wajahnyanya.


Emma mulai mengayuh sepedanya lagi. Walaupun dengan beban yang bertambah, hal itu tidak membuat laju sepedanya melambat. Dia bahkan sering mengambil jalur yang lebih jauh untuk menuju alamat tujuannya dan tak lupa menanyakan informasi tentang Pradigta disetiap rumah yang didatanginya. Walaupun kemungkinan dia bisa menemukannya dengan cara ini sangatlah kecil, dia tetap mencarinya dan bertaruh pada kemungkinan sekecil apapun.


“Apa Anda pernah melihat lelaki sekitar empat puluh tahunan, wajahnya tak terlalu lonjong, ada kumis dan brewok tipisnya”


“Apa Anda tahu orang yang namanya Pradigta?”


“Apa Anda kenal Pradigta?”


Pertanyaan – pertanyaan seperti itulah yang selalu ditanyakannya. Tapi tak satupun dari mereka yang memberikan jawaban positif. Sudah semakin sore dan waktu juga sudah menunjukkan jam setengah empat saat semua paket dan surat sudah diantar ke alamatnya masing – masing. Emma segera kembali ke kantor untuk melaporkan bahwa pekerjaannya hari ini sudah selesai. Setelah selesai melapor dan upahnya hari itupun juga telah diterimanya, Emma tak langsung pulang ke rumah. Tapi dia melanjutkan perjalanannya, berkeliling ke beberapa tempat mencari informasi apapun yang bisa didapatkan. Meskipun dia sering tersesat dan tak tahu daerah mana yang didatanginya, dia tak jera dan terus berkeliling menghabiskan energinya.


Di bawah sinar lampu jalan yang mulai terang, Emma menyusuri setiap jalan dan melewati setiap tikungan. Tapi tiba – tiba dia mengehentikan sepedanya, saat melihat warung internet yang masih buka di ujung jalan. Segera menghampirinya, dia langsung masuk yang menyewa salah satu komputer disana.


“Ok..”


Setelah dia berbicara dan memberikan uang pada petugas yang terlihat lebih muda darinya itu, dia langsung berlalu menuju komputer kosong nomor tiga di ujung deret sebelah kanan. Emma segera membuka browser pencarian setelah dia berhasil tersambung dengan server. Dan hal pertama yang dilakukannya adalah memeriksa e-mail.


Kepergiannya dari rumah sakit secara mendadak tentu membuat semua anggota timnya terkejut. Terlebih Rizwan yang sangat tak menduga saat mendengar kabar bahwa Emma mengundurkan diri dari rumah sakit. Karena terakhir kali bertemu, dia sama sekali tak membicarakan hal itu dengannya. Emma yang sadar setelah persidangan hari itu ada yang terus mengikutinya, di hari kepergiannya dari kota dia langsung mematikan semua alat komunikasi dan menggantinya dengan yang baru. Tapi sebelum pergi, dia sempat memberikan alamat e-mail yang sudah lama tak digunakannya kepada Rizwan. Karena Rizwan tahu tentang permainan di pengadilan kemarin, Emma merasa hal itu perlu dilakukan. Sejak saat itu, Rizwan selalu mengiriminya pesan setiap hari. Bahkan ditanggal kepergiannya, dia langsung menerima banyak pesan yang berisi omelan Rizwan karena tak memberitahunya terlebih dahulu tentang keputusannya itu. Percakapan mereka lebih sering terjadi satu arah. Rizwan hanya mengirimkan pesan tanpa menerima balasan dari Emma. Meskipun begitu, dia tetap mengirimkan pesan padanya.


“Ini sudah lama, tapi kau tetap tak mau memberitahuku alamatmu?”


“Dasar bocah gila! kenapa kau tak pernah membalas pesanku?”


“Berikan nomor handphonemu!”


“Emma... kapanpun kau bisa, tolong balas pesanku..”


Emma membaca pesan yang profesornya kirimkan hari ini. Setiap pesannya selalu berbeda, terkadang dia hanya asal cerita, dan terkadang dia marah – marah seperti ini. Karena melihat tak ada yang penting dari pesan yang diterimanya, Emma langsung log out dari akun e-mailnya. Dan lanjut mencari informasi tentang Pradigta.


Selain berkelililing di jalanan, Emma juga hampir setiap hari mencari informasi melalui internet. Tapi hasilnya sama saja. Pradigta seperti orang yang tak pernah ada, karena sulit sekali mencari informasi tentangnya meskipun itu hal kecil sekalipun. Meskipun ada, itu hanya berupa inisial dalam berita tentang persidangan waktu itu yang menyatakannya tidak bersalah.


Tetap tak menemukan apapun, Emma bersiap untuk pergi meskipun waktu sewa komputernya masih tersisa sekitar setengah jam lagi. Dia bergegas mengayuh sepedanya dan segera pulang. Seperti di daerah perbukitan, dia masih harus melewati tanjakan dan turunan untuk bisa sampai di rumahnya. Jalanan disekitar sana sudah sangat sepi saat dia sampai di lingkungan rumahnya. Bahkan anak – anak yang sering bermain di taman daerah sana juga sudah tak terlihat. Tak heran karena jam sudah menunjukkan hampir jam sebelas malam saat Emma


sampai di depan rumahnya.


Dia terkejut saat mendapati pintu gerbang rumahnya sudah tak terkunci, padahal dia selalu mengunci rumahnya setiap akan pergi. Tak mungkin lupa, karena dia sangat percaya diri dengan kemampuan ingatannya. ‘Apa penguntit itu sudah kembali lagi?’. pikiran itu muncul membuat Emma bersikap lebih hati – hati dan dengan perlahan membuka gerbang rumahnya.