PEEK A BOO

PEEK A BOO
MELIHATNYA LAGI



“Apa tempatnya masih jauh?”


Vian yang duduk di kursi belakang mulai mengeluhkan perjalanan mereka yang ternyata cukup lama. Setelah Emma mengatakan untuk segera pergi menemui Pradigta, Viona yang sudah memahami keadaan gadis itu pun segera mempersiapkan keberangkatan mereka. Namun tanpa sepengetahuan gadis itu, Vian dan Viona sudah membawa senjata mereka sendiri untuk berjaga – jaga meskipun mereka berharap tak perlu menggunakannya.


Dengan mengendarai mobilnya, mereka bertiga harus melalui perjalanan selama lebih dari setengah jam. Dan selama itu juga sudah beberapa kali mereka kehilangan posisi Pradigta. Meskipun sudah tahu dimana tempat tinggal pria itu, tapi mereka tetap khawatir setiap kali itu terjadi.


Tak ingin kehilangan jejaknya lagi, meskipun lebih sulit dari sebelumnya Viona berhasil meretas situs kantor perhubungan lagi dan melihat rekaman cctv di sekitar rumah Pradigta. Namun berbeda dengan sebelumnya, keamanan sistem mereka menjadi lebih ketat dan itu memaksa Viona untuk bekerja lebih cepat sebelum dia tertangkap.


“Tidak ada rekaman dia meninggalkan rumah”


Setelah main kejar kejaran dengan system keamanan, akhirnya Viona berhasil lolos dan memastikan bahwa pria itu masih tetap di dalam rumahnya. Mendengar itu, Emma mempercepat laju mobilnya tanpa melanggar batas kecepatan yang sudah ditentukan.


Emma menghentikan mobilnya saat dia sampai di depan sebuah gang kecil pinggir jalan raya. Meskipun disebut gang, lebih tepatnya itu adalah sebuah celah dari tembok dua rumah besar yang saling berdekatan di pinggir jalan. Ukurannya tak begitu besar, mungkin hanya cukup dilewati dua orang saja. Setelah memarkirkan mobilnya di depan toko seberang jalan, mereka bertiga memasuki gang dengan Vian yang berjalan di depan.


Tak terlalu jauh, hanya beberapa meter saja dan mereka sudah sampai di permukiman yang cukup padat. Seperti memasuki dimensi lain, keadaan rumah – rumah disana terlihat sangat berbanding terbalik dengan rumah – rumah yang mereka lihat di sepanjang jalan tadi. Hanya beberapa rumah yang terlihat sedikit lebih besar dari rumah lain disekitarnya. Karena hari juga masih sore, warga setempat masih banyak yang berada di luar rumah. Mereka berkumpul membentuk kelompok gosip mereka sendiri. Menyadari kehadiran orang asing, mata mereka langsung tertuju pada rombongan Emma saat mereka keluar dari gang kecil itu.


Risih dengan tatapan mereka, Viona segera mengambil alih komando dan mengarahkan Emma dan Vian untuk mencari rumah seperti yang terlihat di foto. Dia enggan untuk bertanya pada orang – orang itu, yang pasti sedang membicarakan mereka.


Mereka bertiga bersama - sama mencari rumah Pradigta, berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain. Sampai akhirnya mereka menemukan rumah yang terletak hampir di ujung permukiman, yang miripseperti di foto.


Sama seperti rumah lainnya, ukuran rumah itu tak terlalu besar dengan pagar tembok dan juga gerbang besinya yang bisa digeser. Terlihat sangat sederhana. Meskipun catnya mulai mengelupas di beberapa bagian, tapi warna hijaunya tetap mencolok diantara rumah lain yang berwarna putih atau biru. Namun jalan di sekitar rumah itu tampak berbeda karena hanya ada satu atau dua orang saja yang lewat.


Enggan masuk meskipun gerbang besinya terbuka, Emma hanya berdiri di depan rumah itu menatap pintunya yang tertutup rapat. Vian dan Viona kali ini hanya bisa membiarkan gadis itu melakukan apa yang dia mau tanpa memaksanya melakukan apapun. Yang bisa mereka lakukan sekarang hanya berdiri dan mendukung gadis malang itu.


‘Klik!’


Setelah  menunggu cukup lama bahkan sampai matahari sudah mulai terbenam, akhirnya pintu rumah itu terbuka dan seorang lelaki berpenampilan lusuh muncul dari sana. Emma dan lelaki itu terdiam saling pandang. Mereka berdua sama – sama terkejut melihat kemunculan satu sama lain. mungkin sudah terlalu lama, tapi Pradita yang sekarang dilihatnya tampak sangat berbeda dengan Pradigta yang ada diingatannya.


Meskipun usianya tak terlalu tua, tapi wajahnya sudah seperti pria usia lima puluh tahunan. Penampilannya lusuh seperti orang yang tak pernah merawat diri bahkan brewok lebatnya dia biarkan tumbuh sampai ke leher. Siapa pun yang melihat penampilannya pasti akan menganggapnya seorang pengemis.


Melihat Pradigta, Emma hanya diam meskipun jantungnya mulai berdetak kencang. Melihat pria itu dengan senyum kecil yang mengembang di wajahnya, membuat Emma merasa tak nyaman. Terlebih saat dia sudah berada di depannya.


“Kau baik – baik saja?”


“Kenapa kau telihat lebih kurus? Apa kau sakit?”


Pradigta yang kini sudah kembali berdiri, terlihat khawatir saat melihat gadis itu. Namun Emma tetap diam dan menatapnya, membiarkan pria itu berbicara sendiri.


“Seseorang mengatakan bahwa aku merasa sedih dan marah dengan kematian orangtuaku”


“Aku juga membaca bahwa hal semacam itu selalu membutuhkan tempat pelampiasan”


“Aku tak percaya, tapi apa boleh aku memukulmu?”


Dengan terus menatap Pradigta, Emma mengatakan apa yang ada di pikirannya. Dan sadar bahwa pria itu marah saat mendengar ucapannya.


“Kenapa kau harus sedih dan marah dengan kematian mereka?”


“Mereka pantas mati! Kau tak perlu menderita karena mereka!!”


Pradigta berteriak, mengungkapkan kekesalannya setelah mendengar perkataan Emma padanya. Dia tak terima jika Emma menunjukkan perhatiannya pada kedua orang itu meskipun hanya berupa kata – kata. Bahkan Viona yang mendengarnya pun mulai terpancing emosi bahkan hampir membiarkan Vian untuk menghajarnya lagi meskipun harus sampai babak belur.


Namun tanpa mereka sadari, Ares dan kedua pendampingnya sudah berdiri tak jauh dari tempat mereka. Ares yang berjalan di depan tiba – tiba menghentikan langkahnya saat melihat Emma berdiri saling berhadapan dengan Pradigta. Panik, dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Dia sangat terkejut melihat gadis itu bersama Pradigta. Penasaran dengan apa yang mereka lakukan, dia langsung bersembunyi di samping rumah yang berdekatan dengan rumah Pradigta. Meskipun begitu, jaraknya masih cukup dekat untuk bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Perhatiannya terlalu fokus pada Emma, sampai Ares melupakan keberadaan sekretarisnya yang juga tahu bahwa gadis itulah yang selama ini dicarinya.


Dengan serius, Ares berusaha mencari benang merah dari apa yang mereka bicarakan. Dan dia terkejut saat tiba – tiba melihat Pradigta dengan cepat menarik Emma kearahnya dan bertukar posisi dengannya lalu memeluknya erat.


‘Dor!’


Selang beberapa detik, terdengar suara tembakan yang cukup jelas dan seketika Pradigta roboh dengan darah yang mengalir dari tubuhnya.


Suara tembakan itu cukup keras sampai membuat semua warga yang mendengarnya menjerit ketakutan. Semua orang yang berada di luar dengan cepat berlari berusaha menyelamatkan diri dan menuju rumah terdekat yang bisa mereka masuki. Dan di tengah hiruk pikuk itu, dengan cepat Ares dan Satria keluar dari persembunyian mereka dengan menggenggam pistol yang siap membalas tembakan itu dan berlari ke arah Emma.