
Saat hari sudah pagi dan semuanya kembali melakukan kegiatan mereka masing – masing, Ares dan Satria segera membawa Vian dan Viona untuk berbicara di luar karena mereka tak mau jika Emma sampai mendengar pembicaraan mereka. Namun tak jauh, mereka hanya berbicara di ujung gang dekat rumah Emma.
Pembicaraan mereka awalnya berjalan dengan baik, sampai tiba – tiba Ares bertanya tentang kondisi Emma yang langsung membuat raut wajah Vian dan Viona berubah. Dia hanya ingin tahu apa kecurigaannya banar tentang gadis itu yang mengkonsumsi obat tidur dan jika pun benar, dia juga ingin tahu sudah berapa lama dia melakukan itu. Namun rasa penasarannya sama sekali tak menemukan titik terang karena Vian dan Viona menolak untuk menjawab pertanyaan Ares dengan alasan apapun. Karena mereka masih menganggap Ares dan Satria adalah orang asing yang tak seharusnya tahu tentang hal itu.
“Cepat katakan!”
“Katakan semua yang tahu!!”
Ares mendorong keras tubuh Vian sampai membentur tembok. Dia menatap bocah itu dengan tajam dan penuh emosi, bahkan Satria dan Viona yang sedari tadi hanya melihat mereka berbicara sampai harus bergerak dan bergegas memisahkan mereka. Namun Satria hampir tak bisa menahan kekuatan tubuh Ares yang sedang terbakar amarah untuk tidak lepas kendali dan menghajar Vian.
“Apa alasanmu untuk tahu itu semua?!”
Dengan nada tinggi, Vian yang sudah mulai terpancing emosinya kembali memberontak untuk membalas perbuatan Ares. Beruntung Viona masih bisa menahannya meskipun dengan susah payah. Namun sama seperti Vian yang menolak menjawab pertanyaannya, Ares juga terdiam saat Vian bertanya. Dia masih tak bisa memastikan keadaan dan tak mau jika ada yang tahu tentang hubungannya dengan Emma sehingga dia hanya bisa diam dan membuang muka.
“Tak ada gunanya aku berbicara dengan bocah sepertimu”
Dengan tatapan meremehkan, Ares menatap Vian yang masih terbakar emosinya sebelum dia akhirnya
berbalik dan pergi meninggalkan mereka berdua. ‘Meskipun tidak sekarang, cepat atau lambat aku pastikan akan mendapatkan jawaban yang kumau!’ Ares bergumam dalam hati, bersumpah untuk mendapatkan jawabannya apapun yang terjadi.
...
“Bagaimana menurutmu?”
“Aku sudah menghubungi dr. Reza dan bertanya tentang hal ini”
“Tapi dia tak bisa memberikan diagnosa pasti sebelum bertemu dan memeriksanya secara langsung”
“Jadi aku sudah membuat janji temu dengannya setelah dia kembali dari Jepang”
Ares yang kini sudah duduk saling berhadapan dengan Satria di caffe yang tak terlalu jauh dari rumah Emma, meminta pendapat sahabatnya tentang permasalahan ini. Tapi Satria tak menghiraukannya sama sekali dan menikmati secangkir moccachino hangat yang dipesannya. Dia tak ingin membuang energi untuk menjawab pertanyaan pria di depannya itu karena dia sungguh tak ingin terlalu ikut campur dengan gadis itu karena menurutnya, dia tetaplah seorang Jackson.
Perhatian Satria langsung teralihkan saat dia tiba – tiba melihat Emma yang berjalan sendirian, tanpa ada dua orang yang selalu mengikutinya itu. Namun saat dia hendak memberitahukan hal itu pada Ares, pria itu tampak sedang berdiri agak jauh dan menerima telfon penting dari seseorang. Meskipun Satria masih tak terlalu menyukai gadis itu, tapi tetap perasaannya mengatakan bahwa dia benar – benar harus mengawasinya. Terlebih saat dia tahu hubungan Ares dengannya.
Tanpa menunggu Ares selesai menerima telfonnya, Satria dengan langkah malas terpaksa harus segera keluar dan mengikuti gadis itu dari sisi jalan yang bersebrangan. Dia berjalan sejajar dan menyesuaikan langkah kakinya dengan Emma sambil sesekali dia melihat ke arah gadis itu, sekedar memastikan bahwa dia masih terlihat olehnya. Selama beberapa menit, mereka berjalan bersama namun Satria masih tak tahu kemana gadis itu ingin pergi sampai langkahnya melambat saat dia mendekati taman kota.
Emma tanpa ragu langsung masuk dan seakan sudah tahu kemana dia akan pergi, dia dengan cepat menuju tempat bermain anak disana. Tanpa memperdulikan tatapan bocah dan orang – orang yang juga sedang menggunakan taman itu, dia tanpa basa – basi langsung menaiki prosotan yang cukup tinggi tanpa atap di tengah taman. Jelas saja, hal itu membuatnya menjadi pusat perhatian. Namun Emma tak perduli dan terus naik lalu merebahkan tubuhnya saat dia sudah berada di puncak. Dari jauh, Satria cukup terkejut melihat tingkah Emma yang sangat tak sesuai dengan image-nya selama ini.
“Loe ngapain?”
“Jangan tidur disini”
“Entar ditangkap SATPOL PP baru tahu rasa loe ... .”
Satria cukup heran saat dia naik dan mendapati gadis itu sedang merebahkan diri sambil menutup matanya. Saat mendengar suara yang tak asing di telinganya, Emma membuka satu matanya dan melirik Satria yang sudah berjongkok di dekatnya. Namun dia sungguh tak mau diganggu dan terus berbaring sambil kembali menutup matanya. Tak ingin ada salah paham, Emma tiba – tiba mengatakan bahwa kakinya jadi sering nyeri terutama pada bagian yang terluka. Meskipun dia sudah berolahraga, tetap saja hal itu tak banyak membantunya dan dia berasumsi bahwa dia membutuhkan lebih banyak vitamin D untuk memberi kekuatan lebih pada tulang – tulang kakinya. Cara dia berbaring di tempat yang cukup tinggi dan tanpa halangan akan membuat tubuhnya lebih cepat dan lebih banyak menyerap sinar matahari.
“Apa loe, bocah?”
“Jangan konyol deh”
Satria tak percaya mendengar penjelasan Emma lalu menyuruhnya segera turun dan segera cari vitamin di apotek, tanpa harus melakukan hal konyol semacam itu.
“Aku katakan ini karena sepertinya kau tak tahu. Tapi vitamin D yang kau dapatkan secara langsung akan lebih baik dari pada harus mengkonsumsi suplemen. Dan meskipun ini sudah terlalu siang untuk itu, tetap saja ini lebih baik untuk dilakukan”
Mendengar Emma mengoceh, Satria mulai jengkel dan dengan cepat memutar tubuh gadis itu sampai berada di posisi siap meluncur. Emma yang tiba – tiba diganggu jelas mulai memberontak karena hal itu sudah menjadi salah satu insting manusia untuk bertahan. Mendapati Emma yang semakin memberontak, Satria tanpa ragu melepaskan peganyannya pada gadis itu sehingga membuatnya meluncur tepat di atas istana pasir seorang bocah perempuan yang dia buat bersama beberapa temannya. Sontak hal itu membuat gadis kecil dan teman - temannya mulai menangis. Namun Emma hanya berdiri disana melihat mereka dengan tatapan heran, tanpa berbuat sesuatu.
Melihat sikap Emma yang tampak seperti sedang membuli mereka, Satria segera meluncur dan mendarat di tempat yang sama juga. Dan hal itu membuat bocah perempuan tadi menangis semakin keras. Tak ingin orang – orang salah paham dan memanggil petugas, dia dengan cepat segera menarik tangan Emma dan membawa gadis itu pergi dari sana.
Satria mengurungkan niatan awalnya untuk membawa Emma kembali ke caffe tempatnya dan Ares mengobrol tadi karena tiba – tiba handphonenya berdering dan Ares memberitahunya bahwa Satria tak perlu kembali ke cafee terlebih saat dia mendengar Emma bersamanya karena dia sedang mengurus sesuatu dan meminta dia menemani Emma. Dan dia juga berjanji akan menceritakan padanya nanti.
Setelah menutup telfon Satria, Ares yang masih berada dalam caffe tampak sedang duduk bersama seorang pria berbaju hitam. Pria itu langsung menyodorkan sebuah flashdisk kecil pada Ares yang jelas membuatnya penasaran dan langsung menghubungkannya dengan handphonenya.
“Itu informasi yang Anda inginkan”
“Dan ini juga, salinan rekam medis yang Anda minta”
Pria berbaju hitam itu juga memberikan sebuah map kertas pada Ares namun perhatian Ares terus fokus melihat isi di dalam flashdisk tadi. Dia memutar video di dalamnya yang ternyata adalah rekaman CCTV saat Emma dirawat di rumah sakit setelah kecelakaan waktu itu. Melihat apa yang sudah dialami gadis itu, membuatnya marah dan sedih dalam waktu yang sama. Setelah melihat video itu, Ares dengan perasaannya yang masih tak karuan memaksa dirinya untuk melihat salinan rekam medis yang sudah ada ditangannya. Dan betapa terkejutnya dia melihat isi
laporan kesehatan gadis itu.
“Percepat kepulangan dr. Zen”
Dengar suara lemas, Ares berbicara pada pria itu. Setelah mendengar perintah tuannya, dia segera pamit dan beranjak pergi. Dia pergi meninggalkan Ares yang duduk sendiri dan tampak tak bersemangat. Dalam diam, dia menghela nafas panjang menahan kesedihannya saat dia tanpa sengaja melihat Satria dan Emma yang sedang berjalan bersama.