
“Sekarang, jawab pertanyaanku”
“Kenapa waktu itu kau suruh Satria mengikutiku?”
Emma menatap Ares yang kini sudah berdiri di depannya. Namun pria itu tetap diam sambil terus menundukkan kepalanya, membuat Emma harus menanyakan hal yang sama beberapa kali. Merasa bahwa Ares masih tak ingin bicara dengannya, Emma berniat pergi namun seketika itu juga Ares memegang tangannya, mencegah gadis itu menjauh darinya karena Ares tak ingin situasi canggung diantara mereka terus berlanjut sehingga dia tak punya pilihan lain.
“Ok ... aku hanya khawatir”
Ares hanya bisa mengatakan salah satu alasannya pada Emma dan berharap bahwa gadis itu tak akan bertanya lebih jauh. Seketika itu juga Emma mengurungkan niatnya untuk pergi dan kembali duduk di tempatnya, bersiap mendengar jawaban Ares atas pertanyaannya tadi. Namun kalimat Ares hanya berhenti di situ dan dia kembali diam. Dia berusaha mengulur waktu, memutar otaknya lebih keras untuk mencari alasan yang tepat untuknya.
“Kau sungguh mau cerita atau tidak?”
Emma mulai mendesaknya, membuat Ares menghela nafas panjang dan terpaksa bercerita apa adanya bahwa saat pertama dia bertemu Emma di pemakaman waktu itu, hari itu juga bertepatan dengan kematian kenalan orangtuanya. Sedikit ragu, Ares bercerita dengan suara serak menahan perasaan menyesalnya karena teringat dengan sikap ragu - ragunya yang membuat dia tak berani memunculkan diri saat itu. Dia lalu melanjutkan kalimatnya bahwa saat pertemuan kedua mereka di hotel, dia melihat ada orang aneh yang mengikuti gadis itu dan itulah saat dia memutuskan untuk menyuruh Satria mengikuti Emma.
“Aku melihatmu, dan ... .”
“Dan aku teringat dengan adikku yang sudah ... mati”
Ares langsung diam dan melihat Emma dengan tatapan sendu, berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh. Dia merasa tak berdaya saat harus menggunakan perkataan kakeknya dan mengakui kematian adiknya di depan Emma. Dia mengutuki sikap pengecutnya yang bahkan tak bisa mengatakan kebenarannya di depan gadis itu karena dia masih dibayangi perasaan takut dan khawatir dengan situasi mereka yang masih belum menentu.
Melihat mata sedih Ares yang menatapnya, Emma merasa ada sesuatu dalam dirinya yang memaksa tubuhnya untuk berdiri dan langsung menghampirinya, memeluk erat pria itu. Emma tak mengerti dengan apa yang dia lakukan, tapi dia juga tak ingin melepas pelukannya pada Ares.
“Jangan memasang wajah seperti itu”
“Jika kau memang teringat dengan adikmu, anggap saja aku seperti itu”
“Aku mengizinkanmu melakukannya”
Mendengar ucapan Emma, membuat Ares tak bisa lagi menahan air matanya. Perlahan, air matanya mulai mengalir. Dia menangis tersedu – sedu dalam diam, dan membalas pelukan Emma padanya. Dia sangat senang mendengar Emma mengatakannya meskipun gadis itu tak ingat apapun tentangnya.
“Jadi, berhentilah menatapku seperti itu”
Emma bergumam sambil mengusap pelan punggung Ares yang langsung dibalas anggukan olehnya. Selama beberapa saat, mereka terus berpelukan sampai Emma merasakan sakit di kepalanya datang lagi. Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini kepalanya terasa seperti sedang dipukul berkali kali dengan palu besi. Rasanya sangat tak tertahankan. Pening. Dia segera melepaskan pelukannya pada Ares dan terburu – buru kembali ke kamarnya, tak ingin jika Ares sampai tahu tentang hal itu.
Ares merasa aneh saat melihat sikap Emma yang tiba – tiba berubah. Belum sempat dia bertanya, gadis itu langsung mengatakan bahwa dia hanya ingin istirahat. Ares pun berpikir, akan sangat tak sopan jika dia terus bertanya dan menahan gadis itu lebih lama. Dia tak ingin hubungannya dengan Emma yang sudah mulai dekat, kembali jauh hanya karena hal ini. Sehingga Ares hanya bisa menatap punggung Emma dan membiarkannya pergi maskipun dia masih sangat ingin bersamanya maskipun dia masih sangat ingin bersamanya.
Dengan langkah tertatih, Emma sudah tak bisa menahan rasa sakit di kepalanya. Meskipun jarak kamarnya hanya tinggal beberapa langkah lagi, namun tubuhnya sudah terasa berat. Padangannya juga sudah mulai kabur. Meskipun disetiap langkahnya terasa seperti neraka, tapi tujuannya hanya satu yakni dia ingin segera masuk ke kamarnya karena dia tak mau jika Ares sampai melihat dirinya yang tampak menyedihkan seperti ini.
Hanya tinggal sedikit lagi sampai dia meraih kenop pintu kamarnya, tapi tubuhnya seakan sudah tak bertenaga lagi dan kedua kakinya juga sudah mulai menyerah. Tak kuat lagi, tubuhnya perlahan jatuh.
“Hei!”
“Biar aku yang urus”
Melihat Emma yang kesakitan, membuat Vian teringat dengan hari itu. Saat dimana dia mengikuti Emma dan melihat gadis itu menyuntikkan obat ke tubuhnya. Tanpa membuang waktu, Vian langsung menggendong Emma di punggungnya dan menghubungi Viona untuk segera mempersiapkan mobil untuknya.
Dengan langkah terburu – buru, Vian segera membawa Emma keluar dan dari tempatnya berdiri, Satria terus memandangi mereka. Dia berusaha untuk tak perduli, namun pandangannya tak bisa lepas dari mereka bahkan saat mereka sudah tak lagi terlihat oleh matanya, jantungnya terus berdebar cepat dan pikirannya terus terbayang wajah Emma yang tampak kesakitan.
“Res ... loe barusan bicara sama Emma, kan?”
“Ya, kenapa?”
“Apa ada yang aneh?”
“Nggak. Dia Cuma bilang mau istirahat”
“Ok”
Tanpa beranjak dari tempatnya, Satria menghubungi Ares yang masih duduk di dekat kolam dengan perasaan bahagianya. Dia tak bisa mendengar suara seseorang yang keluar dari rumahnya, karena tempatnya sekarang yang cukup jauh dari pintu masuk. Satria segera menutup telfonnya setelah mendengar bahwa Ares tak tahu tentang hal ini karena itu berarti Emma memang tak ingin memberitahu pria itu. Tak tahan lagi dengan rasa khawatirnya, Satria segera menyusul Vian yang sudah terlebih dahulu pergi.
Namun sialnya, mobil Vian sudah tak terlihat lagi di tempat parkir. Menyadari itu Satria pun segera menaiki mobilnya dan membawanya melaju secepat yang dia bisa, berharap masih sempat menyusul mereka. Sudah cukup jauh Satria mengejar, tapi dia sama sekali tak menemukan jejak mereka. Mereka seperti hilang begitu saja dalam sekejap mata.
“Gila”
“Gue udah gila”
Satria segera menepi dan menghentikan mobilnya saat sadar dengan apa yang sudah dia lakukan. Seketika itu juga, dia menyesali perbuatannya karena dia sudah seperti orang munafik yang menjilati ludahnya sendiri. Padahal, dengan mulutnya sendiri dia mengatakan bahwa dirinya tak akan perduli dan ikut campur dengan permasalahan gadis itu namun dengan tubuhnya itu juga dia mencarinya, mengkhawatirkannya seperti orang bodoh. Tapi tak ingin terus larut, Satria kembali mengendarai mobilnya namun kali ini bukan untuk mencari mereka, tapi hanya sekedar berkeliling mencari kewarasannya sekaligus menyegarkan kembali pikirannya.
...
“A ... kh!”
“A ... kh!”
Emma yang duduk di bangku belakang, terlihat sangat kesakitan. Sakit kepalanya kali ini sungguh tak tertahankan. Kepalanya terasa mau pecah meskipun dia sudah menekan kuat di tempat yang terasa paling sakit, tapi itu sama sekali tak berpengaruh. Beberapa kali Emma mengerang kesakitan, tak tahan dengan kepalanya yang terasa semakin sakit. Dan itu membuat Vian yang duduk di belakang kemudi menjadi gugup, sampai dia beberapa kali kehilangan fokusnya di jalan dan membuat Viona yang sedari tadi menemani Emma juga harus berteriak, meminta Vian untuk fokus mengemudi jika tak ingin mereka semua mati tertabrak.
“Emma, bertahanlah sebentar lagi ... .”
Vian semakin menambah kecepatannya. Dia sudah tak perduli lagi jika harus melanggar peraturan lalu lintas karena yang ada di pikirannya sekarang hanya bagaimana cara membawa Emma dengan cepat dan memberikan obatnya.
Dan dengan kecepatannya, Vian akhirnya bisa membawa Emma kembali kerumah orang tuanya hanya dalam waktu sepuluh menit. Tanpa banyak berpikir, setelah dia menghentikan mobilnya begitu saja bahkan sampai tak mematikan mesinnya, dia segera membawa Emma ke kamar yang dilihatnya waktu itu. Dengan cepat, dia juga membuka laci tempat Emma meletakkan persediaan obatnya selagi Viona berusaha menenangkan Emma yang terus mengerang kesakitan dan segera menyuntikkan cairan itu tepat di pembuluh darahnya. Namun berbeda dengan harapannya, Vian melihat tubuh Emma sudah lemas tak bergerak.