PEEK A BOO

PEEK A BOO
IZINKU UNTUKMU



“E ... Emma ... Emma!!”


“Buka matamu! Jangan bercanda seperti ini!!”


Viona yang menopang tubuh Emma mulai takut saat melihat tubuh gadis itu tak bergerak bahkan setelah beberapa kali dia goncang tubuhnya, tetap tak ada respon. Vian dan Viona takut, mereka khawatir terjadi sesuatu yang buruk karena keterlambatan mereka. Mereka terus memanggil Emma sambil menepuk pelan wajah gadis itu, berharap dia bisa cepat membuka matanya. Tangan mereka mulai gemetar dan mata mereka juga mulai berkaca - kaca. Mereka takut semua yang mereka lakukan sudah terlambat. Saat air mata sudah mulai jatuh, kejaiban seakan menghampiri mereka. Viona merasakan jemari Emma mulai bergerak dan gadis itu perlahan juga membuka matanya. Meskipun tubuhnya masih terlihat pucat dan tatapannya juga masih sangat lemah, namun mereka lega akhirnya Emma bisa kembali sadar.


Ingin Emma beristirahat dan segera membaik, mereka berdua langsung meninggalkannya setelah membaringkan tubuh gadis itu di atas ranjang.


“Apa yang kau pikirkan?”


“Tadi itu obat terakhirnya. Bagaimana untuk selanjutnya? Apa yang akan kita lakukan?”


“ ... .”


Sambil menyelimuti Vian yang tengah duduk sendiri di teras halaman belakang rumah Emma, Viona ingin tahu apa yang adiknya itu pikirkan sampai membuatnya termenung seperti itu. Dan setelah mendengar perkataan Vian, Viona juga ikut khawatir tentang kelanjutan keadaan Emma. Pasalnya, dia masih belum mendapatkan kabar apapun dari kenalannya yang meneliti obat yang diberikannya waktu itu.


Selama beberapa jam, dan saat waktu sudah tepat menunjukkan jam delapan pagi, akhirnya Emma mulai bangun dari tidurnya. Dia terlihat seperti orang yang baik – baik saja, yang hidupnya tak pernah berada di ujung tanduk seperti tadi. Saat dia membuka mata, tak ada jejak rasa sakit di tubuhnya. Dia tak ingat bagaimana dia bisa berada di rumah lamanya. Hal yang dia ingat setelah berbicara dengan Ares hanya wajah sedih Vian dan Viona yang hampir menangis. Dia pun mengira bahwa mereka lah yang sudah membawa dan memberinya obat. Namun dia tak tahu dari mana mereka tahu tentang tempat ini. Emma lalu mengambil kotak obatnya, tempat dimana dia menyimpan alat suntiknya dan terkejut saat melihat kotak itu kosong.


“Selamat pagi”


Emma keluar kamar dan langsung menyapa Viona yang terlihat sedang mempersiapkan beberapa makanan instan yang baru dikeluarkannya dari kanong plastik. Dan betapa senangnya gadis itu saat melihat Emma yang sudah berdiri di depannya bahkan sampai tak ragu untuk memberikan pelukan hangat padanya. Melihat wajah Emma yang tetap tak tersenyum, Viona tahu bahwa dia sudah baik – baik saja. Vian yang baru saja masuk dengan beberapa kantong plastik penuh makanan di tangannya, merasa terkejut dan tak bisa berkata – kata saat melihat Emma yang sudah berdiri menatapnya. Tubuhnya seketika terasa kaku dan pandangannya hanya bisa terpaku pada Emma, tak menghiraukan Viona yang sudah memanggilnya beberapa kali.


“Apa kau beli sesuatu untukku?”


Emma mengejutkan Vian dengan perkataannya yang tiba – tiba. Pria itu pun langsung menunjukkan sebotol susu pada Emma dan langsung pergi untuk menghangatkannya. Vian berusaha menghindari tatapan Emma dan Viona karena dia tak ingin mereka melihat wajahnya yang memerah karena berusaha menahan air matanya. Dia merasa sangat lega dan bersyukur Emma sudah terlihat baik – baik saja. Jika mengingat Emma yang terus mengerang kesakitan tadi, dia sangat takut gadis itu juga akan meninggalkannya dan Viona seperti apa yang dilakukan orangtua mereka dulu.


Setelah makanan siap, mereka duduk bertiga saling berhadapan di meja makan. Sudah lama mereka tak menikmati makanan hanya dengan mereka bertiga seperti ini, dengan tenang tanpa ada yang mengganggu. Vian sungguh sangat menikmati suasana yang menghangatkan ini. Namun jantungnya seketika tersentak saat mendengar pertanyaan Emma yang tiba - tiba.


 “Apa kalian pakai alat suntik di dalam kotak, di laci kamar?”


“Meskipun begitu, seharusnya masih ada sisa alat suntik lagi. Tapi kotak itu benar – benar kosong”


Sambil menikmati secangkir susu hangatnya, Emma menghujani Vian dan Viona dengan beberapa pertanyaan yang sejak tadi sudah mengganggunya. Dia tidak berniat menuduh, tapi dalam hal ini hidupnya-lah yang menjadi taruhannya. Dia hanya ingin tahu kemana dan untuk apa obatnya menghilang karena dia percaya bahwa semua yang terjadi bukan hanya karena kebetulan.


“Kami suntikkan padamu tadi”


Viona segera menjawab pertanyaan Emma saat melihat adiknya itu tetap diam. Dia tahu tentang apa yang sudah Vian lakukan waktu itu adalah untuk menjaganya, jadi dia tak sampai hati jika harus menyalahkannya meskipun dia tahu cara yang Vian lakukan adalah salah. Setelah mendengar jawaban Viona, Emma tetap diam dan terus menatap Viona karena dia tahu ada yang sedang gadis itu sembunyikan darinya saat dia melihat Viona beberapa kali berusaha menghindari tatapannya.


Melihat Emma yang tetap menatap kakaknya dengan curiga, Vian tak ada pilihan selain jujur dan mengakui kesalahannya karena dia tak ingin merusah hubungan baik kedua wanita hebat di depannya itu. Dengan suara pelan, dia mengakui perbuatannya waktu itu yang sudah mengikuti Emma dan melihatnya menyuntikkan obat. Dia mengaku bahwa dia juga mengambil salah satu alat suntik di kotak dalam laci itu dan mengatakan jika dia juga sudah menyerahkan obat itu pada salah satu kenalannya untuk diperiksa. Vian merasa sangat menyesal dan meminta maaf atas perbuatannya waktu itu.


“Jadi, apa kau sudah mendapat kabar dari kenalanmu itu?”


Tanpa mempermasalahkan hal itu lebih jauh, Emma langsung bertanya tentang perkembangan pemeriksaan obatnya itu. Namun mereka berdua hanya menggeleng. Dan dengan suara yang masih pelan, Vian kemudia bertanya tentang Emma yang tak menyalahkannya karena sudah mengambil persediaan terakhir obatnya. Emma lalu mengatakannya dengan jujur bahwa dia sebenarnya juga tak tahu apapun tentang obat yang orang tuanya berikan itu. Dia juga tak tahu kemana dia harus mencarinya jika persediaan obat itu sudah habis karena orang tuanya sendiri-lah yang membuatnya dan tak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


“Menurutku ini sangat menguntungkan dan membantu sekali”


Dalam kalimatnya, Emma terdengar menaruh harapan besar pada teman mereka yang melakukan pemeriksaan obat itu. Belum sempat mereka menyelesaikan sarapan yang sudah tersedia di meja, Emma mengajak mereka berdua menuju ke lantai dua. Di sana mereka langsung dibawa menuju ruang baca yang menjadi tempat dimana semuanya berawal.


“Kalian boleh kemari dan mencari apapun yang kalian butuhkan untuk pemeriksaan obat itu”


Emma berjalan perlahan mengajak Vian dan Viona berkeliling melihat tempat yang sudah berdebu cukup tebal itu. Dan saat mereka berdua sedang sibuk mengagumi semua koleksi buku yang masih tertata rapi walaupun dengan sarang laba – laba yang sudah memanjang diantara bukunya, Emma berjalan menuju tempat buku rahasianya di dekat pintu masuk.


Vian dan Viona seketika terkejut saat melihat rak buku di dekat mereka perlahan bergerak. Mereka berdua terdiam, tak tahu apa yang harus dilakukannya karena mereka sama sekali tak menyangka tentang adanya pintu rahasia ini. Perlahan, Vian mengintip ke dalam celah yang terbuka karena bergesernya rak buku itu. Namun yang dilihatnya hanya warna hitam gelap bahkan dia tak bisa menebak apa yang ada di dalam sana. Sangat gelap, sampai membuatnya takut untuk melihat lebih jauh lagi. Tubuhnya sampai merinding saat membayangkan jika tiba – tiba sesuatu yang menyeramkan keluar dari sana.


“Ayo masuk”


Suara Emma mengejutkan mereka yang masih fokus memperhatikan celah itu. Emma lalu berjalan melewati mereka, masuk kedalam celah gelap itu terlebih dahulu dan meyakinkan mereka bahwa di dalam tempat itu tak ada hal yang berbahaya ataupun menakutkan. Namun Vian dan Viona tetap diam dan hanya saling bertukar pandang. Ragu. Dan tanpa berpikir panjang, Emma langsung meraih tangan Vian yang berdiri lebih dekat dengannya dan menarik pria itu untuk masuk. Lalu menyuruh Viona untuk segera mengikutinya.


Setelah mereka semua berdiri di belakang rak buku itu, tiba – tiba rak itu kembali bergerak dan menutup. Sontak hal itu membuat Vian dan Viona semakin terkejut. ‘Apa yang harus kita lakukan jika terjebak di tempat ini selamanya?’ ‘Kenapa pintunya tertutup?’ mereka berdua semakin khawatir saat tak bisa menggerakkan rak buku itu dari dalam. Namun ketakutan mereka seketika sirna saat mereka melihat ada cahaya yang perlahan muncul menyinari tempat itu. Mereka menoleh, merasa penasaran dengan apa yang terjadi. Dan mereka melihat satu per satu lampu di dinding, di sepanjang lorong itu perlahan menyala. Mereka juga baru menyadari bahwa tempat mereka berdiri sekarang hanya berupa lorong dengan ujungnya yang bersinar.


Tanpa mengatakan apa – apa, Emma langsung memimpin jalan yang juga diikuti olah Vian dan Viona. Mereka bertiga berjalan perlahan di sepanjang lorong yang ternyata tak terlalu panjang itu dan terkejut saat melihat ada tempat yang luas berada di ujungnya.


“Kalian juga boleh masuk kesini”


“Ini tempat penelitian mommy dan daddy-ku”


“Mereka berdua adalah peneliti yang gila kerja, bahkan sampai membuat tempat seperti ini di rumah”


Sambil terus berjalan, Emma sedikit bercerita tentang tempat yang juga tak lama dia ketahui keberadaannya itu. Dia sejenak berbalik dan melihat Vian dan Viona yang tampak sedang mengagumi tempatnya itu. Wajah mereka tampak sangat tak percaya saat menyadari ada tempat sebesar ini di bawah sebuah rumah. Namun langkah Emma terhenti saat tiba – tiba dia merasakan handphonya bergetar.


“Akhirnya loe jawab telfon gue”


“Loe dimana?! Cepet balik! Ares mulai gila nyari loe!”


Tanpa menunggu jawaban Emma, Satria langsung mengakhiri panggilannya. Namun saat mendengar bahwa Ares sedang mencarinya, Entah kenapa lagi – lagi dia merasakan jantungnya berdetak lebih keras dan ingin segera kembali menemui pria itu. Tanpa mengatakan apapun pada Vian dan Viona yang masih mengikutinya, Emma dengan cepat langsung berlari menuju pintu keluar yang juga terhubung dengan halaman belakang rumahnya.