
“Kenapa waktu itu kau suruh Satria mengikutiku?”
Satu pertanyaan yang seketika membuat seluruh suasana menjadi hening. Semua mata langsung tertuju pada Ares yang juga sama terkejutnya dengan mereka semua. Matanya terbelalak, tak percaya dengan apa yang didengarnya karena dia sama sekali tak pernah mendunga bahwa pertanyaam itu akan keluar dari mulut Emma. Meskipun dia merasa lega karena Emma hanya tahu bagian itu, tapi Ares tetap saja bingung tentang bagaimana cara dia menjelaskannya.
“Kalian pasti capek, istirahat saja dulu ... .”
Berusaha tenang, Ares mengalihkan pembicaraan dengan mengajak mereka semua segera masuk dan beristirahat karena sudah hampir waktunya makan malam. Meski sebenarnya Emma ingin terus mendesak Ares yang tampak menyembunyikan sesuatu darinya, tapi tiba – tiba kepalanya terasa sakit dan dia berpikir bahwa masih ada lain waktu untuk bicara dengan pria itu. Dan akhirnya tanpa perlawanan, Emma pun mengikuti Ares dan yang lainnya kembali ke kamar masing - masing.
Sedangkan Vian dan Viona yang tak pernah mendengar Emma membicarakan hal itu, langsung terkejut sekaligus juga ingin tahu lebih jelas tentang hubungan diantara mereka bertiga. Namun mereka berusaha menahan rasa ingin tahunya dan akan membiarkan gadis itu untuk beristirahat terlebih dahulu.
“Bagaimana dia bisa tahu?”
“Bukannya kau bilang itu berjalan lancar?”
Sedikit emosi, Ares bertanya pada Satria yang kini sudah berada di ruang kerjanya. Dia merasa khawatir tentang apa yang akan terjadi jika gadis itu sampai tahu tentang semua perbuatannya. Meskipun jika Emma tetap tak ingat padanya bahkan untuk selamanya, Ares sama sekali tak keberatan tapi beda cerita jika gadis itu sampai harus membencinya karena apa yang sudah dia lakukan.
Dengan cara bicara yang tetap santai, Satria menjelaskan bahwa dia awalnya juga terkejut saat mendengar Emma tahu bahwa dia-lah yang mengikutinya dulu. Dia juga menceritakan tentang sikap Emma yang tiba – tiba berubah sesaat sebelum mereka keluar gedung. Satria mengungkapkan kecurigaannya yang terdengar sedikit konyol bahwa bisa jadi gadis itu tahu saat melihat plat nomor mobilnya. Dan setelah mendengar penjelasan Satria yang cukup panjang, Ares juga berpikiran yang sama dan tak habis pikir dengan ingatan Emma yang sangat tajam. Namun sesaat setelahnya, Ares langsung tertawa lepas. Dia merasa sangat kagum dengan kemampuan adiknya itu. Bukan hanya sudah menjadi dokter diusianya yang masih muda, tapi dia juga memiliki daya ingat yang sangat kuat.
“ ... tapi dia tahu itu perbuatan loe”
Seketika tawa Ares hilang setelah mendengar ucapan Satria. Dia langsung teringat dengan masalah besar yang ada di depan matanya dan meminta Satria untuk membantunya memikirkan alasan yang terdengar cukup masuk akal untuk dikatakan pada Emma nanti. Namun Satria sangat malas dan tak mau dibuat pusing dengan masalah yang bahkan bukan miliknya. Dengan usil, dia tersenyum ke arah Ares dan langsung berjalan keluar meninggalkan pria itu yang mulai jengkel dengan perbuatannya.
Selama makan malam bersama, Emma terus menatap Ares yang selalu berusaha menghindari tatapan matanya. Bahkan setelah makan malam pun, Ares tetap berusaha menghindari Emma dengan terus berada di ruang kerjanya dan hanya keluar saat tengah malam setelah semuanya sudah kembali ke kamar mereka masing – masing. Namun tak hanya berhenti sampai di situ, Ares juga meminta Zen untuk membantunya.
“Aku bukan meminta, tapi ini perintah dan kau harus melakukannya”
“Lakukan saja. Majukan jadwal sesi paginya, dan tambahkan juga durasinya”
Zen heran saat melihat sikap kenalannya sejak kuliah itu sudah aneh sejak pagi, bahkan ayam pun tak akan mengganggu tuannya sepagi ini. Pria yang selama ini dia kenal cukup serius dan keras dalam menjalani hidupnya, kini terlihat sedikit lucu sampai membuatnya ingin tertawa. Meskipun tak tahu alasannya, dia yakin Ares sedang menghindari Emma karena pertanyaan gadis itu.
“Bicarakan saja dengannya ... hari ini tak ada sesi”
“Nanti aku mau pergi menemui profesor”
Meskipun jadwal temu dengan profesornya masih sekitar jam dua belas siang nanti, Zen tetap akan pergi setelah sarapan karena menurutnya sangat lucu melihat Ares yang tampak kebingungan seperti itu. Setelah mengatakan penolakannya, dengan tersenyum senang Zen segera pergi meninggalkan Ares yang tak tahu lagi harus bagaimana. Melihat sikap dua kawannya, Ares benar – benar merasa bahwa mereka sangat tak setia kawan.
Meskipun masih sangat pagi, Ares segera bersiap berangkat ke kantor bahkan sampai melewatkan sarapannya karena dia tahu Emma selalu bangun lebih awal untuk berolahraga. Dan karena hal ini, semua pegawai juga terpaksa harus datang lebih pagi karena Ares tak mau menjadi satu – satunya orang yang ada di gedung sebesar itu. Namun kali ini dia tak bisa mengikutsertakan Satria karena pria itu masih harus menemani Emma ke tempat pelatihannya nanti.
“Mana Ares?”
“Tuan Ares sudah berangkat. Ada rapat pagi sekali katanya”
Saat Emma dan yang lain sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan, Satria sama sekali tak melihat Ares. Biasanya, pria itu datang dengan semangat karena bisa makan di satu meja dengan Emma. Namun saat pak Ken menjelaskan keberadaan tuannya, Satria tak bisa menahan suara tawanya bahkan Zen yang biasanya tenang sampai ikut tertawa mendengar ucapan pak Ken. Mereka tak habis pikir. Bagaimana bisa seorang Ares melakukan hal kuno semacam itu yang membuatnya sangat terlihat jelas bahwa dia sedang menghindari Emma. Bahkan mereka pun yakin gadis itu pasti langsung tahu tentang sikapnya itu.
Tapi ternyata dugaan mereka salah besar. Berbeda dengan mereka yang langsung tahu bahwa Ares sengaja melakukannya, Emma malah terlihat tenang. Gadis itu mengangguk sambil meraih segelas susu hangatnya, seakan dia paham dengan kesibukan Ares. Dan hal itu membuat tawa Satria semakin menjadi, sampai perutnya sakit karena ternyata Emma sama konyolnga dengan Ares. Sedangkan yang lain hanya saling bertukar pandang, bingung dengan apa yang sebenarya terjadi.
...
“Apa dia memang sesibuk itu?”
Emma yang kini sedang dalam perjalanan pulang dari tempat latihan bergumam pada dirinya sendiri karena sejak pagi sampai saat ini, dia sama sekali tak melihat Ares bahkan waktu dia dan Satria berada di gedung perusahaannya, dia tetap tak bisa menemuinya. Emma yang awalnya tak begitu menyadarinya, kini merasa ada yang salah karena sejak kemarin pria itu jadi sangat sulit untuk ditemui.
“Loe tunggu saja sampai tengah malam”
Satria tak tahu jika Emma memiliki sisi polos seperti ini yang membuatnya sampai tak curiga bahwa Ares memang berusaha menghindarinya. Dan hal itu membuatnya merasa kasihan melihat gadis itu kebingungan dengan sikap Ares. Satria hanya bisa memberikan sedikit petunjuk karena dia tetap tak ingin ikut campur terlalu jauh. Menurutnya hal itu hanya akan sangat merepotkan.
Sesuai nasihat Satria, malam ini Emma tak meminum obat tidurnya dan tetap terjaga menunggu Ares yang bisa muncul kapan saja. Dan benar, saat waktu sudah menunjukkan jam dua dini hari, Ares tiba – tiba keluar dari balik pintu ruang kerjanya. Langkahnya mengendap – endap saat dia keluar dari sana. Dan dia sangat terkejut saat melihat Emma yang memang sudah menunggu di ruang keluarga, dekat dengan ruang kerjanya.
“A ... Apa yang kau lakukan disini?”
“Ke ... kenapa kau belum tidur?”
Terkejut, Ares tergagap saat melihat Emma yang berjalan pelan menghampirinya. Kali ini dia sudah tertangkap basah dan akan sangat canggung baginya jika tiba – tiba dia masuk kembali ke ruang kerjanya, sehingga dia sama sekali tak memiliki pilihan lain selain menghadapi gadis itu secara langsung.
Ares mengajak Emma ke dekat kolam renang di halaman belakang rumahnya. Di tempat terbuka seperti itu, dia berharap bisa mengurangi sedikit perasaan gugupnya. Namun meskipun begitu, suasana mereka berdua tetap terasa cangung dan Ares tetap tak berani melihat mata Emma dan mereka hanya duduk diam di sana selama beberapa menit.
“Jawab pertanyaanku”
Merasa sudah terlalu lama, tanpa basa – basi Emma langsung mengatakan keinginannya. Dan hal itu jelas membuat Ares semakin bingung sampai keringat dingin mulai mengalir di keningnya.