PEEK A BOO

PEEK A BOO
TITIK TERANG



‘klik’


Viona yang mendengar suara pintu terbuka, segera mengalihkan pandangannya dan terkejut saat Emma masuk membawa bonek beruang besar yang bahkan hampir sebesar tubuhnya. Setelah melihat sikap Emma selama ini, dia yakin bukan gadis itu yang membelinya sendiri.


“Ada apa dengan bonekanya? Kau yang beli?”


“Nggak”


Viona curiga itu ulah adiknya, Vian. Dia bertanya tentang boneka itu padanya tapi dia mengelak dan menjelaskan bahwa itu hadiahnya setelah bermain game di supermarket tadi. Setelah Emma membawa semua belanjaan ke dapur, Vian menceritakan semua yang terjadi selama mereka pergi belanja termasuk saat Emma memmuntahkan makanannya di caffe. Beberapa kali Viona memukul punggung Vian setelah dia mendengar kelakuan adiknya sampai membuat Emma seperti itu. Tapi Vian sama sekali tak melawan karena baginya, itu semua memang salahnya dan semua pukulan ini adalah hukumannya.


“Kau baik – baik saja?”


Viona mengkhawatirkan keadaan gadis itu dan mengajak Vian untuk meminta maaf atas sikapnya. Emma tak paham kenapa mereka bersikap berlebihan tentang hal ini padahal dia sama sekali tak mempermasalahkan hal sepele seperti itu.


“Aku sungguh baik – baik saja. Jadi kalian tak perlu berlebihan”


Dengan cuek, Emma membalas pertanyaan mereka berdua sambil mondar – mandir memasukkan belanjaannya ke dalam kulkas. Melihat wajah gadis itu, Viona tak tahu apa dia sungguh baik – baik saja atau tidak. Tapi Viona tak ingin terus memikirkannya dan membuat gadis itu semakin tak nyaman.


“Ah! Kau tahu,  Vio bilang jejak orang itu sudah muncul lagi!”


Meskipun masih merasa bersalah tentang kejadian tadi, Vian tak ingin ada rasa canggung antara dirinya dan Emma. Dan dengan semangat seperti biasa, dia memberitahu gadis itu tentang apa yang sudah Viona temukan. Mendengar ucapan Vian, membuat Emma dengan cepat membereskan pekerjaannya dan meminta penjelasan lebih lengkap pada Viona.


Viona yang mulai terbiasa dengan sikap Emma yang seperti ini, hanya bisa menghela nafas panjang tak bisa berbuat apa – apa. Dia pun segera mengajak kedua orang itu untuk melihat hasil pemantauannya.


Sambil menunjuk layar komputer yang memperlihatkan satu titik merah yang berkedip, Viona menjelaskan bahwa sejak titik itu muncul lagi, orang itu tak pergi kemanapun. Meskipun hanya sebentar, dia juga sudah berhasil meretas situs kantor perhubungan yang mengawasi cctv di sekitar sana dan mengambil beberapa rekaman.


“Dan ini”


Viona menunjukkan gambar dari salah satu rekaman cctv yang didapatnya. Walaupun sedikit nge-blur, disana jelas terlihat seorang pria berjaket hitam yang memasuki sebuah rumah. Dan dengan cekatan, tangan Viona bergerak di atas keyboard mengutak – atik gambar itu. Tara...!! dalam sekejap gambar yang tadi nge-blur sekarang sudah terlihat jelas.


Dan benar saja, pria di foto itu adalah Pradigta. Walaupun dia sudah menduganya, tapi hal ini menjadi pasti setelah melihat gambar itu.


“Apa yang akan kau lakukan sekarang? Kita bisa menemuinya saat ini juga”


“Tidak. Kita awasi saja dulu. Hal yang terburu – buru hasilnya tak akan bagus”


Viona mengiyakan keinginan Emma dan siap untuk melanjutkan tugasnya. Meskipun Emma sudah mendapatkan lokasi Pradigta, bukannya lega dia malah bingung dan tak tahu apa yang harus diperbuatnya sekarang. Pikirannya penuh dengan hal – hal yang bisa terjadi nanti saat dia menemuinya.


Emma yang sekarang sedang menikmati mandi busanya, berharap pikirannya akan menjadi lebih tenang. Mandi malam dengan air hangat, membuatnya lebih rileks. Otot – ototnya yang kaku menjadi lebih lemas. Dia juga sangat menikmati waktu santainya ini sampai membuatnya lupa waktu. Dan sudah hampir satu jam dia dikamar mandi, tanpa mengetahui Vian yang sedari tadi menunggunya dengan cemas.


Viona yang kebetulan lewat, tak sengaja melihat Vian berdiri di depan pintu kamar mandi dengan handuk putih di tangannya. Berusaha tak menunjukkan rasa cemasnya, dia mengatakan pada Viona bahwa Emma sudah lama berada di dalam sana. Meskipun Viona menyuruhnya untuk tidak khawatir karena wanita mandinya memang lama, tapi Vian tetap tak bisa berhenti mencemaskan gadis itu.


Vian tetap berdiri di depan pintu kamar mandi sampai akhirnya Emma keluar dengan menggunakan gaun mandi putihnya. Melihat rambut gadis itu yang masih basah, dia bersyukur sudah membawakan handuk untuknya. Vian dengan cepat menyodorkan handuk di tangannya itu dan menyuruh Emma untuk segera mengeringkan rambutnya jika tidak ingin masuk angin. Setelah Emma menerimanya, Vian pun segera pergi.


Waktu sudah menunjukkan hampir jam sepuluh malam saat Emma yang sudah berganti pakaian, kini berdiri di balkon rumahnya menikmati dinginnya angin malam. Dari arah dapur, Vian yang sedari tadi melihatnya, membawakan segelas susu hangat dan handuk kecil untuknya.


“Kenapa rambutmu masih basah?”


Emma terkejut melihat Vian yang tiba – tiba sudah berdiri di sampingnya dan menyodorkan segelas susu hangat. Setelah itu Vian langsung berdiri di belakang Emma, dan perlahan dia membantu Emma mengeringkan rambutnya yang masih terlihat basah. Sebenarnya Vian merasa senang karena Emma tak menolak dan membiarkannya melakukan hal itu, tapi sebisa mungkin dia menyembunyikannya.


“Kenapa kau kesini?”


“Aku melihatmu, jadi aku kesini. Kau kenapa belum tidur?”


 “Hmm.. Entah”


Emma menjawab sambil menikmati susu hangatnya. Vian yang merasa sedikit kesal mendengar jawabannya yang tak niat, berusaha untuk mentolerir sikap gadis itu karena dia tahu Emma memang orang semacam itu.


“Terus kenapa kau masih menunggu? Bukannya kau mau cepat membalas perbuatannya?”


Vian yang masih mengeringkan rambut Emma, berusaha mencari topik untuk mereka mengobrol. Namun dia terkejut saat mendengar Emma menjawab bahwa dia tak tahu apa yang akan dilakukannya saat bertemu Pradigta. Dan lebih terkejut lagi, saat dia mendengar bahwa tujuannya mencari orang itu bukanlah untuk membalasnya. Karena menurut Emma, orang yang sudah mati tak akan perduli dengan hal itu.


“Kau sudah lihat sendiri bagaimana kondisiku. Aku tak bisa makan ataupun tidur kapanpun aku mau. Dan ini terjadi sejak aku melihat kejadian itu. Aku mencarinya, karena aku ingin mencari tahu apakah kondisiku ini ada hubungannya dengan orang itu”


Dengan santai, Emma menceritakan itu semua tanpa melihat wajah Vian yang terlihat marah setelah mengetahui penyebab gadis itu menderita. Mereka berdua tetap berdiri disana, bersama menikmati dinginnya angin malam, tanpa ada seorang pun yang bersuara.


.................


“Pak, saya sudah tau dimana target berada. Saya akan membawa beberapa orang dan memulai perburuannya”


“Setelah itu, penelitian ini akan segera menunjukkan hasil dan Anda bisa berkuasa”


Di sisi lain, dalam ruangan gelap yang hanya disinari cahaya bulan, terlihat seorang pria yang berjalan pincang berbicara dengan seseorang pria lain yang berdiri dengan gagah menikmati indahnya bulan malam itu.


“Ah.. akhirnya gadis kecilku akan datang”


Pria itu masih berdiri tegap sambil memandangi foto seorang anak perempuan di tangannya.