
“Tahan. Jangan lakukan apapun sampai aku tiba”
Setelah pembicaraannya dengan Emma, Ares langsung kembali ke ruangan Hasan dan melihat pria itu sedang berbicara dengan seseorang di handphonenya. Melihat kedatangan Ares dan Satria, Hasan langsung mengakhiri panggilannya dan heran melihat wajah Ares yang tampak muram bahkan siapa pun yang melihat pasti bisa merasakan aura hitam di sekelilingnya.
“Ah! Dua pria yang babak belur itu sudah sadarkan diri”
“Dan aku sudah tempatkan supirmu bersama mereka, tapi di ruangan yang berbeda”
Hasan segera menjelaskan bahwa dia sudah melakukan tugas yang diterimanya dan akan mengantar mereka kesana. Tapi Ares sama sekali tak merespon dan langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun. Dan Satria yang bahkan belum sempat duduk juga terpaksa mengikutinya.
Sedangkan di tempat lain, tepat setelah Ares dan Satria pergi meninggalkan Emma, banyak orang yang keluar masuk lantai itu membawa banyak perabotan rumah dan kebutuhan sehari – hari. Dan mereka semua menyulap tempat kosong itu sehingga tampilannya sekarang lebih mirip sebuah apartemen mewah dengan pemandangan kota yang terlihat sangat jelas.
Hari sudah malam dan juga sudah lewat jam tidurnya, tapi Emma masih mondar mandir tak bisa tidur. Dia tak membawa obat tidurnya karena dia tak mengira akan meninggalkan rumah selama ini dan memutuskan untuk pergi ke apotek 24 jam untuk membelinya. Namun saat dia melihat Vian dan Viona yang tertidur karena lelah setelah mengatur barang – barang itu, dia memilih untuk pergi diam – diam dan tak ingin membangunkan mereka. Dan Emma pun segera pergi setelah mengenakan jaket dan sepatunya. Namun Vian tiba – tiba terbangun dan melihat Emma pergi menuju lift. Melihat itu, dengan terburu – buru bahkan tanpa mencuci wajah dan hanya memakai sandal dia segera pergi menyusul Emma.
“Emma! Tunggu!”
Vian segera memanggil Emma setelah dia berhasil menyusul gadis itu. Dan Emma yang mendengar namanya dipanggil, langsung menoleh kearah datangnya suara dan terkejut melihat Vian sudah ada di belakangnya. Emma mengamati menampilan pria itu dari atas sampai ke bawah. Sadar dengan tatapan Emma, Vian segera menjelaskan bahwa dia sangat terburu – buru mengejarnya sampai lupa tak memakai sepatu. Dia juga langsung menawarkan diri untuk menemaninya keluar, meskipun dia belum tahu kemana gadis itu mau pergi.
“Ah, handphoneku tertinggal”
“Biar aku ambil dulu”
Saat tiba di lantai dasar, Emma sadar handphonenya masih ada di kamar. Dia pun menyuruh Vian untuk duduk selagi dia pergi mengambilnya. Tapi langkahnya terhenti saat akan memasuki lift karena dia melihat Ares; Satria dan Hasan berjalan bersama ke arah basement. Dia tak tahu pasti kemana ketiga orang itu akan pergi, tapi dia merasa harus mengikutinya karena masih tak yakin dengan tujuan mereka membantunya.
Melangkah perlahan, Emma sebisa mungkin mengikuti mereka dengan jarak yang masih aman. Dia bersembunyi di balik mobil satu ke mobil yang lain saat mereka melewati basement. Dilihatnya, mereka tiba – tiba berhenti di depan pintu dan melihat keadaan sekitar sebelum akhirnya masuk. Tanpa curiga, Emma terus mengikuti mereka masuk ke dalam ruangan itu.
Ruangan itu ternyata cukup gelap, dan dia harus melewati lorong kecil sebelum akhirnya melihat satu cahaya lampu di ujung ruangan. Dan perlahan, dia semakin masuk ke dalam tempat itu.
“Katakan!”
“Kenapa kau melakukannya?! Dan siapa yang menyuruhmu?!”
Emma berhenti tepat di persimpangan dekat lampu, saat dia mendengar suara seseorang berteriak. Dia bersembunyi dibalik tembok lalu memajukan kepalanya, sedikit mengintip apa yang terjadi disana. Dan dia pun terkejut melihat dua orang yang wajahnya babak belur duduk dengan kondisi kedua tangan dan kaki yang terikat di kursi. Tubuh mereka basah kuyub dan hanya memakai celana pendek di atas lutut tanpa mengenakan pakaian apapun.
Melihat lebih seksama, ternyata Ares sudah berdiri di depan mereka dengan sebuah tongkat rotan panjang di tangannya. Dengan suara kerasnya, dia membentak dan bertanya tentang identitas mereka. Tapi dua orang itu sama sekali tak menjawabnya dan terus menutup mulut. Emma langsung mengerti arah pembicaraan mereka saat Ares berteriak “Kenapa kau menembak mereka? siapa yang menyuruhmu?”. Dia yakin bahwa kedua orang itulah yang sudah menembaki mereka tadi.
Tapi mereka berdua tetap menutup mulutnya, menolak untuk memberikan informasi. Hal itu jelas membuat Ares semakin emosi dan tanpa ragu memukul keras tubuh basah mereka berkali – kali dengan rotan bahkan salah satu dari mereka sampai mengeluarkan darah dari mulutnya.
Dari tempatnya bersembunyi, Emma melihat gelagat aneh dari kedua pria yang diikat di kursi itu. Nafas mereka tiba – tiba tak teratur bahkan salah satu dari mereka sampai muntah. Menyadari sesuatu, Emma langsung berlari dan dengan cepat melepaskan ikatan salah satu dari mereka lalu membaringkannya diatas lantai. Dan tanpa mengatakan apapun pada Ares; Satria dan Hasan yang terkejut dengan kemunculan gadis itu yang tiba – tiba, Emma langsung bersiap melakukan tindakan CPR pada salah satu dari kedua orang itu.
“A ... apa yang kau lakukan?!”
“Apa yang kalian lakuakan? Cepat carikan oksigen”
Dengan suara yang tetap tenang, Emma meminta salah satu dari ketiga pria yang hanya berdiri menonton itu untuk segera mencarikannya oksigen karena orang itu tak bisa bertahan lama hanya dengan CPR yang dia lakukan. Mendengar itu, Ares menyuruh Hasan untuk segera mencarikan apa yang gadis itu minta.
Setelah beberapa menit Emma melakukan CPR, akhirnya Hasan kembali dengan tabung oksigen penuh berukuran sedang lengkap dengan tabung humidifiernya yang sudah terisi air.
“Pasangkan maskernya, dan putar regulator yang hijau sampai bolanya naik di angka enam”
Dengan terus menekan dada pria itu, Emma memberikan instruksi pada Hasan untuk segera memasangkannya oksigen. Dan setelah oksigen terpasang, Emma pun menghentikan tindakan CPR-nya dan melirik pada pria yang satu lagi, yang sudah lemas tak bernyawa.
“Kenapa kau bisa disini?”
Ares bertanya dengan cara yang sama sekali berbeda dengan yang Emma dengar tadi. Emma menatapnya dan menjelaskan bahwa dia mengikuti mereka dari sebelum mereka memasuki basement. Ares hanya mendengarkan tanpa merespon dan berusaha menghindari tatapan Emma, dia khawatir gadis itu akan takut padanya setelah melihat apa yang dia lakukan tadi.
“Mereka kenapa?”
Satria yang menyadari situasinya, segera mengalihkan pembicaraan dan menatap dua pria yang terlihat kacau itu. Ditanya seperti itu, Emma lalu berjongkok di dekat mayat korban yang mulutnya sudah berbusa itu. Dia mengamati tubuhnya dengan lebih seksama dan mendapati beberapa keanehan disana.
“Aku curiga mereka menyimpan kapsul sianida dalam mulutnya untuk bunuh diri”
Emma mengatakan kecurigaannya setelah melihat tubuh pria itu yang kemerahan dengan mulut yang berbusa dan dia juga sempat melihat pria itu mengalami kejang sebelum akhirnya tak sadarkan diri dan mati.
“Itu hanya dugaan awalku saja, karena masih harus dilakukan beberapa tes untuk memastikannya”
“Tapi untuk saat ini, pertolongan pertama sudah dilakukan dan selanjutnya kau bisa bawa dia ke rumah sakit ... .”
“Atau tidak”
Emma berdiri dan menatap mereka yang sama sekali tak terkejut mendengar penjelasannya. Emma tahu dengan jelas dari film yang juga pernah ditontonnya, jika orang – orang seperti mereka selalu memiliki cara tersendiri untuk mengurusnya tanpa harus membawanya ke rumah sakit.
Tak ingin Emma berlama – lama di tempat seperti itu, Ares segera memberikan Hasan isyarat untuk segera mengurus kedua pria itu dan mengajak Emma untuk segera pergi.
“Setelah ini, aku harus pulang dulu tapi, kau tetap disini jaga Emma. Aku juga sudah panggil Paman Andre untuk membantumu”
“Ah! Pak supir juga ada di tempat tadi. Kau tahu apa yang harus dilakukan, tapi pastikan Emma dan dua temannya itu tak tahu tentang hal ini”
Ares dan Satria yang berjalan di belakang Emma, saling berbisik tak ingin sampai ada yang mendengar percakapan mereka. Mendengar apa yang harus dilakukannya, Satria mulai mengeluhkan Ares yang tak pernah benar – benar memberinya waktu untuk berlibur. Namun dia hanya terkekeh mendengar keluhan sahabatnya itu.
Saat berjalan memasuki lantai dasar gedung pratama, Satria dan Emma tampak mengobrol dengan santai tanpa menyadari tatapan benci Vian yang melihatnya dari kejauhan.