PEEK A BOO

PEEK A BOO
CEMBURU



“Kenapa dia lama?”


“Apa terjadi sesuatu padanya?”


Cukup lama Vian menunggu Emma mengambil handphonenya tapi, sudah hampir setengah jam gadis itu belum juga kembali. Vian mulai khawatir dan dengan cepat bangkit dari tempat duduknya, berniat menyusul Emma. Tapi langkahnya langsung terhenti saat dia melihat Emma berjalan bersama Ares dan Satria.


Vian tak suka Emma berdekatan dengan mereka. Benci. Dan dalam sesaat, akal sehatnya secara penuh dikuasai perasaan emosi dan kebencian pada mereka. Perasaan itulah yang seakan mendorongnya untuk berlari menghampiri mereka.


Dan tanpa basa – basi, Vian langsung memberi Satria pukulan keras di wajahnya sampai membuat pria itu hampir jatuh tapi beruntung kakinya cukup kuat untuk menahan keseimbangan tubuhnya. Setelah itu, dengan cepat Vian menarik Emma sampai membuat gadis itu berdiri di belakangnya. Dia terus menggenggam tangan Emma untuk mencegahnya pergi.


Mendapat pukulan tiba – tiba tanpa alasan,  jelas membuat Satria emosi dan membalasnya degan pukulan yang lebih keras sampai membuat Vian tersungkur di lantai. Emosi Vian yang mulai reda, kini kembali tersulut dengan pukulan itu sampai membuatnya memberikan pukulan balasan. Dan mereka berdua pun berakhir saling pukul.


Ares terbawa emosi melihat tingkah Vian dan hampir ikut memukulnya, tapi Emma mendahuluinya dan menendang pantat Vian sampai membuatnya jatuh untuk kedua kalinya. Namun tak berhenti sampai disitu, Emma juga memukul pelan kepala Vian sebagai bentuk hukuman karena dia sudah menariknya tadi.


Ares dan Satria yang melihat itu semua, terkejut sampai tak bisa berkata – kata karena mereka tak tahu jika Emma bisa melakukan hal semacam itu.


“Kenapa kau pukul aku?!”


“Pukul saja dia!”


Vian protes dengan perlakuan Emma padanya. Dia sama sekali tak merasa bahwa tindakannya itu salah. Karena menurutnya, dia hanya berusaha melindungi gadis itu dari dua orang asing yang tak dikenalnya.


“Kau yang salah”


“Kenapa aku harus pukul dia?”


Emma menunjuk Satria dengan kepalanya. Dia menjelaskan bahwa tindakannya yang memukul orang sembarangan itu adalah salah. Dan Emma terus berbicara tanpa memberi kesempatan Vian untuk menjelaskan. Vian jengkel karena Emma sama sekali tak bisa memahaminya yang hanya berniat melindunginya, bahkan dia sampai rela bangun dan langsung keluar tanpa menggunakan sepatu dimalam yang dingin seperti ini.


Merasa usahanya sia - sia, Vian segera bangkit dan pergi meninggalkan mereka bertiga tanpa mengatakan apapun. Emma yang melihat Vian berjalan menuju lift, tahu bahwa pria itu hanya kembali ke kamarnya dan membiarkan pria itu pergi begitu saja. Emma yang juga menyadari bahwa waktu sudah terlalu malam untuknya keluar, juga mengurungkan niatnya untuk pergi dan langsung kembali ke kamarnya. Meninggalkan Ares dan Satria yang masih terdiam melihat mereka pergi.


... .


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh saat Vian dan Emma keluar dari kamar mereka. Namun pagi ini, Vian tak terlihat seperti biasanya. Dia lebih banyak diam dan wajahnya sama sekali tak terlihat segar dengan matanya yang tampak layu. Memang, setelah kejadian semalam, Vian langsung masuk ke kamarnya dan tak bisa kembali tidur. Dia sedih sekaligus marah dengan apa yang Emma lakukan padanya di depan kedua pria itu. Namun meskipun begitu, dia sama sekali tak bisa meluapkan emosinya begitu saja pada gadis itu karena dia tak ingin mereka menjadi canggung setelahnya. Jadi, dia hanya butuh waktu untuk menyendiri dan mengatasi emosinya itu.


Berbanding terbalik dengan Vian, pagi ini Emma terlihat seperti biasa. Selain mata pandanya yang terlihat lebih jelas, tidak ada perubahan yang terlihat dari sikapnya. Saat keluar dari kamarnya, Emma juga melihat Vian keluar dari kamarnya. Namun dia hanya melihatnya sebentar lalu pergi untuk mandi. Vian yang melihatnya pun kembali jengkel dengan sikap Emma. Dia yang sudah berniat untuk berdamai dan melupakan kejadian semalam, akhirnya berubah pikiran dan memutuskan untuk menunggu Emma yang meminta maaf terlebih dahulu karena saat dia berpikir ulang, dalam hal ini dirinya sama sekali tak bersalah.


Viona yang baru keluar dari dapur dengan semangkuk besar sup hangat di tangannya bertanya tentang Ares pada Satria karena mereka berdua yang selalu terlihat bersama kini hanya ada Satria disana. Sambil membantu Viona menata meja untuk mereka sarapan, Satria mengatakan bahwa pria itu pulang sebentar setelah Paman Andre tiba.


Setelah menerima jawabannya, Viona pun kembali ke dapur melanjutkan acara memasaknya bersama pria paruh baya yang sudah sedari tadi mondar – mandir di dapur dengan penampilan rapi dan clemek hitamnya. Ya, pria paruh baya itu adalah Andre. Pria yang Ares dan Satria panggil dengan sebutan paman itu, sudah tiba disana bahkan saat matahari belum muncul. Dia akan tinggal bersama mereka untuk membantu semua keperluan dan kebutuhan mereka, termasuk masalah makanan seperti yang saat ini dia lakukan.


Setelah semua makanan sudah siap di atas meja, Andre memberitahu mereka semua untuk segera berkumpul di meja makan. Namun saat Vian hendak duduk, dia sadar tak ada susu di meja mereka. Dan segera beranjak menuju dapur untuk membuat susu hangat selagi Emma belum keluar dari kamarnya.


“Duduklah ... .”


“Dan makan ini ... ini juga”


Satria yang melihat Emma sudah keluar dari kamarnya, segera menyuruh gadis itu untuk duduk menikmati sarapan mereka. Namun Emma hanya melihat semua makanan di meja, seperti mencari sesuatu disana. Melihat itu, Satria langsung meletakkan beberapa sayur dan udang  yang terlihat sangat menggoda dengan siraman saus pedas manis di atasnya ke piring kosong di depan Emma.


“Cobalah”


Satria menyuruh gadis itu untuk mencoba makanan yang sudah ada di piringnya. Dan Viona yang melihatnya pun terkejut saat Emma memegang garpu dan hendak menyantap udang di depannya itu. Viona hendak menghentikan Emma karena dia teringat dengan cerita Vian tentang bagaiman kondisi Emma sampai membuat gadis itu tak bisa makan sesuka hatinya.


“Dia nggak makan ini”


Namun Viona kalah cepat dengan Vian yang baru kembali dari dapur dan dengan cepat mengambil garpu dari tangan Emma. Dia langsung memberikan segelas susu hangat yang dibuatnya kepada gadis itu dan segera menyingkirkan sepiring makanan di depan Emma dan berterimakasih pada Satria karena sudah mengambilkan


makanan untuknya.


Tanpa sekalipun melihat Emma, Vian kembali duduk di tempatnya dan memasukkan udang yang tadi sudah sempat menyentuh bibir Emma ke dalam mulutnya. Dia terus menatap Satria dengan tatapan yang kurang menyenangkan, tak perduli dengan dengan suasana sarapan mereka yang jadi canggung karenanya.


Tiba – tiba handphone Satria bergetar. Dia menerima panggilan dari sahabatnya, Ares yang kini sudah dalam perjalanan menemui kakeknya. Tak ingin mengganggun acara sarapan mereka, Satria pun segera berdiri dan menjauh untuk menerima panggilannya.


“Sat, sebentar lagi berita itu akan ditayangkan”


“Dan akan ada banyak wartawan juga disana. Kau cukup suruh pengganti itu untuk menemui mereka”


“Ingat, tetap bersama Emma dan patikan Hasan tak keluar dari sana”


Dengan cepat, Ares memberikan perintahnya pada Satria dan segera mengakhiri panggilannya setelah Satria mengiyakan perintahnya.