PEEK A BOO

PEEK A BOO
AKHIRNYA BERNAFAS LEGA



“Ada apa?”


“Ares mencariku”


Setelah mengikuti Emma yang tiba – tiba berlari di tengah penjelajahan mereka, Vian dan Viona cukup terkejut mendengar alasannya. Mereka mengira bahwa mereka sudah tak perlu lagi kembali ke rumah Ares, tapi ternyata Emma berpikiran lain. Namun saat mereka tanya lebih lanjut tentang  alasannya pergi begitu cepat, Emma hanya menjawab bahwa Ares sedang mencarinya. Hanya itu. Dia tak bisa menjelaskan lebih jauh karena dia juga tak tahu tentang alasan yang membuatnya sampai seperti ini. Dia hanya merasa ingin segera pergi dan menemui pria itu. Mendengar alasan Emma, Vian semakin merasa bahwa akhir – akhir ini Emma menjadi lebih akrab dengan Ares dan Satria. Dia merasa seakan mereka berdua akan menculik Emma perlahan darinya.


“Kau terdengar sangat dekat dengannya”


“Apa itu berarti kau juga memberitahu mereka tentang ruangan rahasia tadi?”


Dengan suara pelan, Vian terdengar seperti sedang merajuk. Dia tak berniat bertanya, hanya sedang bicara dengan dirinya sendiri. Namun Emma dan Viona tetap bisa mendengar suaranya dengan sangat jelas. Meskipun Viona merasa sedikit geli melihat tingkah adiknya, dia juga jadi penasaran dengan jawaban Emma tentang pertanyaan itu karena dia ingin tahu apakah Emma juga menganggap dekat hubungan mereka atau tidak.


“Hanya kalian”


Emma yang fokus menyetir, hanya menjawab pertanyaan Vian dengan singkat, padat dan jelas. Meskipun begitu, Vian dan Viona yang mendengarnya langsung merasa bahagia seperti ada banyak bunga bermekaran dalam hatinya. Jawaban itu seakan menjelaskan bahwa hubungan mereka bertiga memang benar – benar dekat dan solid, bukan hanya di mulut saja. Vian yang juga merasa puas dengan jawaban Emma, berhenti merajuk dan bersikap tenang selama di perjalanan.


Emma, Vian dan Viona kini sudah sampai di depan pintu rumah Ares. Namun tak seperti sebelumnya, Emma merasa lebih tenang. Perasaan gelisah yang membuatnya sampai menyetir mobilnya secepat itu, seketika hilang saat dia sudah menginjakkan kakinya di rumah Ares. Perlahan, mereka bertiga berjalan menuju pintu masuk, setelah memarkirkan mobil mereka dengan rapi di garasi.


Di telfon, Satria memberi tahunya jika Ares sampai menggila karena sedang mencarinya. Namun di ruang tamu berukuran besar yang mereka lewati, Emma tak melihat seorang pun di sana bahkan pak Ko yang selalu membukakan pintu untuknya juga tak terlihat di sana. Tempat itu terasa lebih sunyi dari yang dia bayangkan. Mereka pun melanjutkan langkah mereka menuju ruang tengah, tempat dimana semua penghuni rumah itu bisa saling bertemu meskipun hanya sekedar lewat dan bertegur sapa.


Namun langkah mereka seketika berhenti saat melihat ruang tengah itu sudah dipenuhi dengan pria berkaos hitam yang mengingatkannya dengan malam penyerangan waktu itu saat mereka keluar dari gedung Pratama.  Tapi saat Emma melihatnya lebih teliti wajah mereka semua, dia tahu bahwa mereka adalah orang – orang Ares yang ditemuinya di tempat pelatihan.


Semua pria itu tampak sangat sibuk. Beberapa diantaranya sibuk di depan layar laptop yang sudah berjajar rapi di atas meja sedangkan beberapa lainnya ada yang sibuk menerima instruksi Ares dan ada juga yang sedang fokus mendengar penjelasan seseorang yang menunjukkan lokasi di sebuah peta yang di letakkan di atas meja. Menyadari kedatangan mereka bertiga, semua pria itu seketika berhenti. Mereka tampak membatu dan menatap kemunculan mereka bertiga degan wajah penuh heran. Entah kepada siapan tatapan terkejut itu mereka tujukan, Namun yang jelas mereka semua tampak sangat lega tak terkecuali Ares.


Pria itu tanpa diragukan lagi, sedang berjalanke arah Emma. Lebih dari siapapun di ruangan itu, Ares tampak sangat lega. Saat dia mendengar bahwa Emma pergi dan tak ada yang tahu kemana gadis itu pergi, dia merasa sangat khawatir. Terlebih saat dia tahu bahwa Vian dan Viona juga ikut pergi bersamanya karena dia takut Emma tak akan pernah kembali padanya.


Ares perlahan menghampirinya tanpa sekali pun mengalihkan pandangannya. Saat tangannya menyentuh tubuh gadis itu, tanpa ragu dia langsung memeluknya dengan erat seperti anak kecil yang yang tak ingin kehilangan ibunya. Beberapa kali dia berbisik pelan, mengucapkan rasa syukur dan terimakasihnya kepada Emma yang sudah kembali dalam keadaan baik.


Berbeda dari sebelumnya saat melihat wajah sendu Ares, kini Emma tak lagi merasakan gejolak dalam dirinya. Dia bahkan tak merasakan dorongan aneh itu lagi. Biasa saja. Namun meski pun begitu, Emma merasakan sedikit ketenangan saat Ares memeluknya seperti itu dan dia sangat menikmati hal ini sampai dia tak ingin jika Ares melepas pelukannya. Tapi jelas dia tak bisa mengatakan hal konyol semacam itu pada Ares, terlebih di depan banyak orang seperti itu karena dia tak ingin jika Ares sampai berfikiran aneh tentangnya. Namun , tanpa ada satupun yang menyadarinya, selain Ares, Satria menjadi orang yang juga sangat bersyukur bahwa Emma sudah kembali dan terlihat baik – baik saja seperti tak ada yang terjadi.


“Kau bilang Ares jadi gila?”


“Dan kenapa semua orang di tempat pelatihan ada di sini?”


Emma bertanya pada Satria yang masih terus memandanginya. Dan saat mendengar perkataan Emma, Ares langsung melepaskan pelukannya dan berbalik menatap Satria dengan tatapan yang seolah meminta Satria memberinya penjelasan.


“Loe lihat aja tempat ini”


Dengan santai, Satria menjelaskan pada Emma. Dari cara bicaranya, terdengar jelas bahwa dia sedang menyindir sikap kekanakan Ares yang sampai membuat kekacauan seperti ini. Malu, Ares menundukkan kepalanya dan berharap ada lubang besar yang tiba – tiba muncul untuk tempatnya sembunyi. Tanpa memperdulikan perkataan Satria, Vian segera mengajak Emma untuk segera kembali ke kamarnya dan beristirahat. Satria yang juga menyadari gadis itu masih tampak sedikit pucat, menyuruh Vian dan Viona untuk menemani Emma. Namun Vian yang mendengarnya mulai merasa emosi karena Satria menyuruhnya melakukan sesuatu yang memang akan dia lakukan meskipun tanpa ada yang menyuruhnya. Dan sebelum pergi, Vian memberikan tatapan bencinya pada Satria yang terus melihat Emma meskipun gadis itu sudah berjalan menjauh.


Keadaan sudah mulai tenang meskipun masih terlihat beberapa pria berkaos hitam yang masih berjaga di rumah itu.


“Pak, katakan padaku ... .”


“Dia sungguh gadis yang kau ajak ke tempat pelatihan, kan?”


“Gadis yang tadi Bos cari ... .”


Salah satu dari pria berkaos hitam yang sedang duduk di ruang tengah bersama Satria, berbicara dengan suara yang cukup pelan. Dia berusaha tak ada orang lain yang akan mendengar percakapan mereka. Usianya masih cukup muda, sehingga dia sungguhh tak bisa menahan rasa penasaran terhadap sesuatu yang mengganggu pikirannya. Tapi kali ini dia sama sekali lupa dengan siapa dia sedang bicara sekarang sehingga membuatnya tanpa ragu menanyakan hal yang bersifat pribadi pada Satria. Dan jelas saja dia mendapatkan lirikan tajam dari komandannnya itu. Satria tak suka dengan bagaimana cara pria itu bertanya yang terdengar seperti ibu – ibu


penggosip.


“Gue mau makan pecel mbah Rus”


Mendengar jawaban Satria, membuat pria itu seketika gugup. Dia langsung sadar siapa lawan bicaranya itu dan berniat meminta maaf karena dia sungguh hanya ingin bercanda. Tapi belum sempat mengatakannya, Satria terlebih dahulu tersenyum ke arahnya sambil mengulangi perkataannya tadi. ‘Mati aku ...’ pria itu perlahan berdiri dan menyesali perbuatannya. Bagaimana tidak, makanan yang Satria minta bukan di Jakarta Pusat ataupun Jakarta Selatan, tapi tempat itu ada di pedalaman salah satu desa di daerah Yogyakarta yang pernah mereka kunjungi beberapa waktu lalu. Saat dia mendengar bahwa Satria menginginkan pecel mbah Rus, itu berarti dia tak bisa kembali untuk beberapa waktu sampai dia mendapatkan apa yang komandannya itu inginkan.


Mendengar pertanyaan bawahannya tentang Emma, membuat Satria kembali khawatir dengan gadis itu. Dia teringat dengan  wajah Emma yang masih tampak pucat dan segera pergi menuju dapur untuk membuatkan segelas susu hangat untuknya. Meskipun beberapa kali dia tampak bingung, tapi Satria tetap melanjutkannya dengan serius. Walaupun beberapa pelayan di sana sudah berusaha menghentikannya dan menawarkan bantuan untuk membuatnya, Satria tetap bersikeras untuk membuatnya sendiri karena entah mengapa dia hanya ingin melakukan itu.


...


“Seperti yang kukatakan tadi, jangan beri tahu siapapun terutama Ares”


“Yang tahu tentang obat dan ruangan itu hanya kita bertiga”


Emma tahu apa yang dikatakannya ini adalah hal yang cukup aneh karena dia masih belum lama mengenal Ares, tapi dia benar – benar merasakannya. Mau berapa kali pun dia memikirkannya, Emma tetap tak ingin jika Ares sampai tahu tentang obat ataupun ruang rahasianya. Hanya membayangkan saat Ares tahu tentang hal itu saja, sudah membuatnya tak tenang bahkan jantungnya pun jadi berdebar keras.


Vian dan Viona yang sedari tadi mendengarkan perkataan Emma, hanya bisa diam karena ini baru pertama kalinya mereka melihat gadis itu menaruh perhatian lebih pada seseorang. Biasanya, Emma akan bersikap dan memperlakukan semua orang di sekitarnya dengan cara yang sama bahkan bisa dibilang bahwa dia selalu bersikap dingin dengan semua orang. Namun mereka tak tahu, entah harus senang atau tidak saat melihat perubahan sikap Emma yang seperti ini.


“Kalau kami melakukannya, apa kau akan senang?”


“Entahlah. Aku tak tahu bagaimana bisa senang hanya dengan hal seperti itu. Tapi kurasa itu akan cukup mengurangi beban pikiranku”


Vian bertanya hanya karena dia merasa penasaran. Namun saat mendengar jawaban Emma, terasa ada yang meredup dalam hatinya. Entah itu kecewa atau perasaan marah, tapi yang jelas dia akan melakukan apapun itu jika bisa membuat gadis itu merasa lebih baik. Setelah mencapai kesepakatan bersama, mereka terus mengobrol dan membicarakan banyak hal tanpa menyadari ada Satria yang mendengar semua percakapan mereka dari balik pintu.