PEEK A BOO

PEEK A BOO
KEKHAWATIRAN



“Loe ikut gue”


Satria langsung mematikan mesin mobilnya dan keluar membuka sisi pintu tempat Emma duduk. Dia melepas sabuk pengaman yang masih melilitnya dan menarik gadis itu dengan lembut, mengajaknya pergi ke suatu tempat tanpa perduli mobilnya yang menghalangi pengendara lain di belakangnya.


Satria terus menarik tangan Emma dan membawanya ke tempat anak – anak jalanan itu bermain. Sebelum dia benar – benar membawa Emma ke sana, Satria terlebih dahulu membicarakan sesuatu dengan anak – anak itu. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi mereka tampak sudah mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Setelah berbicara dengan Satria, anak – anak itu terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya dan langsung berlari menuju suatu tempat, tak lupa mengajak Satria dan Emma untuk terus mengikuti mereka.


Mereka semua berjalan melewati perlintasan kereta api di dekat jembatan, menjauhi lokasi kecelakaan. Dan tak terlalu jauh, mereka akhirnya tiba di sebuah tanah lapang dengan beberapa rumah penduduk yang bisa mereka lihat dari sana.


“Ayo mulai!”


“Gue gabung sama tim mereka. Dan loe gabung ke tim mereka”


“Kita bakal tanding bola”


Dengan semangat, Satria membagi anak – anak itu menjadi dua tim dengan dia dan Emma berada di tim yang berbeda. Namun Emma sama sekali tak mengerti tentang apa maksud Satria melakukan hal ini dan hanya bisa berdiri di tengah lapangan, bingung dan tak tahu apa yang harus dilakukannya karena jujur dia tak pernah melakukan hal semacam ini sebelumnya.


“Kak, kau hanya perlu mengoper bola pada kami atau memasukkan bola ke sana”


Seorang gadis kecil berbaju lusuh, menghampiri Emma yang masih tampak bingung dan menunjuk siapa anggota tim mereka dan kemana arah gawang lawan. Emma paham betul tentang permainan ini dari buku yang dia baca, hanya saja dia tak tahu apa yang harus dilakukannya jika benar – benar melakukannya.


Setelah mendengar perkataan gadis kecil tadi, Emma sejenak mengamati bagaimana cara mereka bermain. Namun tak butuh waktu lama, dia sudah mengerti bagaimana mengaplikasikan pengetahuannya dari buku ke dalam permainan ini. Dan dia pun mengambil langkah awal lalu perlahan mulai ikut dalam permainan mereka. Satria yang melihatnya dari jauh pun langsung tersenyum saat melihat Emma yang akhirnya bisa berbaur dan mulai ikut dalam permainan.


 Emma berlari kesana kemari, menggiring bola dan melewati setiap anak yang menghadangnya termasuk Satria. Dia menganggap serius permainan bola mereka sampai dia tak perduli bahwa lawannya hanyalah beberapa bocah kecil yang bahkan sudah mulai terengah – engah, tak bisa mengimbangi permainan Emma yang terlalu cepat. Dia terus menggiring bola ke arah gawang lawan tanpa sekalipun dia mengoper pada teman setimnya. Satria yang melihat tingkah gadis itu pun hanya bisa menghela nafas panjang dan segera menghentikan permainan mereka karena dia tak tega melihat anak – anak itu yang sudah mulai kelelahan.


“Kakak yang itu memang cukup bodoh”


“Tapi permainan kalian keren”


“Nih ... Bagi dengan kawan yang lain”


Satria menghampiri salah seorang anak yang duduk di tengah lapangan dengan nafas yang masih tersengal – sengal. Dia berjongkok, berbicara lembut dan tersenyum ramah kearahnya. Satria juga memuji permainan kompak mereka semua sebelum dia memberikan dua lembar uang seratus ribu sebagai imbalan mereka karena sudah menemaninya bermain. Setelah menerima uangnya, anak itu langsung bangkit dengan semangat dan berteriak memanggil semua temannya, mengajak mereka untuk makan.


Emma yang menyadari permainan mereka tiba – tiba berheti, langsung menghampiri Satria yang masih menatap kepergian anak – anak itu.


“Kenapa kau hentikan?”


Perkataan Emma membuat Satria terkejut dan langsung menatap gadis itu dengan tatapan tidak percaya. Dia tak habis pikir, Emma bermain sekeras itu saat lawan mereka hanyalah beberapa anak kecil yang sudah jelas stamina mereka tak sebanding dengannya. Awalnya, Satria yakin cara seperti itu bisa membuat Emma yang tampak lesu bisa semangat lagi dan bersenang – senang sejenak untuk melupakan semua permasalahannya seperti yang selalu dilihatnya di drama. Tapi kenyataan memang selalu tak seindah di drama. Dalam hati, diam – diam dia mengutuk semua drama yang sudah menipunya.


Satria merasa enggan untuk menjawab pertanyaan Emma dan langsung berbalik pergi meninggalkan gadis itu. Namun belum jauh dia melangkah, lagi – lagi handphonenya bergetar dan kali ini bukan nama Ares yang muncul melainkan hanya nomor tanpa nama. Namun dia tahu betul nomor siapa itu. Ya, itu nomor rumah pribadi Ares yang berarti kali ini pak Ko yang sedang menelfonnya.


“Tuan Satria ... .”


Sesuai dugaannya. Suara pak Ko-lah yang pertama menyapanya. Namun ada yang aneh. Suaranya terdengar sedikit gemetar, kalimatnya terputus – putus. Sehingga dengan suara rendahnya, Satria meminta pak Ko untuk bicara dengan lebih tenang. Namun betapa terkejutnya dia saat mendengar kabar bahwa Ares saat ini sedang terluka. Seketika pikirannya langsung kosong, tak tahu apa yang harus dilakukannya terlebih saat membayangkan betapa serius keadaan kawannya sampai membuat pak Ko gemetar saat membicarakannya. Tak mau buang waktu lagi, Satria segera meraih tangan Emma yang sudah berdiri di belakangnya dan berlari sekuat tenaga menuju mobilnya yang masih terparkir di dekat kolong jembatan.


Beruntung setelah dia kembali, keadaan lalu lintas ternyata sudah kembali lenggang. Dengan semakin meningkatkan kecepatan laju mobilnya, Satria kali ini benar – benar tak perduli jika sampai ada polisi yang mengejarnya karena melanggar batas kecepatan. Dia hanya memikirkan keadaan Ares dan berharap sahabatnya itu baik – baik saja. Sedangkan Emma hanya bisa melihat sikap Satria yang tiba – tiba berubah, tanpa ingin bertanya ataupun menegurnya karena dia yakin pasti ada alasan kuat untuk semua itu.


Saat mereka tiba di depan pintu rumah Ares, dengan terburu – buru Satria segera berlari melewati pak Ko yang menyambut kedatangan mereka sampai membuat Emma yang tak tahu apa – apa juga ikut berlari. Dengan wajah seriusnya, Satria membuka pintu kamar Ares dan melihat pria itu sedang menatap dengan senyuman bodohnya.


“Bisa – bisanya loe!”


“Ah ... jangan pukul, badanku masih sakit ... aduh, aduh”


Wajah Ares memelas dan mengeluh sakit sambil memegang perutnya yang terluka sampai membuat Satria yang berniat memukulnya, langsung mengurungkan niatnya. Ares tertawa kecil melihat wajah jengkel Satria yang langsung duduk di diekatnya. Namun tawanya seketika berhenti saat dia melihat Emma yang berdiri di pintu, menatapnya dalam diam.


“Aku baik – baik saja”


“Masuklah ... .”


Ares berniat untuk bangun dan menyapa Emma, tapi Satria segera menahannya dan mendorong tubuh Ares untuk kembali berbaring. Dan lagi – lagi, Emma merasakan sesuatu yang benar – benar kuat sedang mendorongnya untuk masuk dan memastikan sendiri keadaan Ares. Namun langkahnya langsung terhenti setelah dua langkah dia memasuki kamar itu karena tiba – tiba sakit kepala yang seharusnya belum muncul, langsung menyerang tanpa peringatan terlebih dahulu. Seketika semuanya tampak berputar dan nafasnya juga mulai terasa sesak bahkan kakinya sempat goyah, tak kuat lagi menjaga keseimbangan tubuhnya. Tak ingin Ares tahu dan mambuat pria itu khawatir, Emma langsung berbalik dan berlari menuju kamarnya. Dia tak perduli dengan Ares dan Satria yang menatap kepergiannya dengan penuh tanya.


Emma yang merasakan sakit kepalanya semakin menjadi, langsung mengunci kamar dan mencari obat tidurnya. Jelas, sakit kepalanya kali ini bukan sakit kepala yang biasa dia alami karena belum lama sejak terakhir dia menyuntikkan obatnya dan berpikir bahwa ini terjadi hanya karena dia akhir – akhir ini terlambat tidur sampai kurang istirahat. Saat di kamarnya, Emma pun segera meraih botol obat kecil dalam lacinya, mengeluarkan dua kapsul tidur dan langsung meminumnya. Dia berharap bisa cepat tertidur dan sakit kepala ini akan hilang saat dia bangun nanti.