PEEK A BOO

PEEK A BOO
RAHASIA ANTARA KAU DAN AKU



Sementara itu, Satria segera pergi meninggalkan rumah Emma setelah mendapat telfon dari kantor yang memberitahunya bahwa Ares baru saja datang. Kabar ini jelas membuatnya pergi secepat yang dia bisa karena sudah hampir enam bulan ini dia merasa pria itu selalu menghindarinya.


“Jangan beritahu kalo gue kesana. Sebisa mungkin loe cegah kalo dia mau pergi”


“Siap, pak!”


Satria bebicara dengan sekertaris Ares yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Sejak dia tak bisa menemui Ares, sekertaris Areslah yang selalu menjadi sasaran amukannya. Dan karena hal ini, kali ini dia tak memiliki pilihan lain selain mengikuti printah Satria dan untuk pertama kali mengkhianati bosnya.


Dengan kecepatan tinggi, Satria melewati setiap mobil di jalan. Dia tak perduli dengan batas kecepatan yang dilanggarnya karena menurutnya ini hal yang cukup gawat, setidaknya untuk dirinya sendiri. Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di kantornya. Jarak yang cukup jauh itu hanya ditempuh sekitar sepuluh menit. Sesampainya di depan kantor, dia melemparkan kunci mobilnya pada salah satu pegawai yang kebetulan lewat. Tapi seakan sudah mengerti, pegawai tadi langsung menuju kearah mobil kuning di depan pintu masuk kantor dan memarkirkannya di basement.


Satria yang memasuki kantor dengan terburu – buru, semakin mempercepat langkahnya bahkan sampai berlari memasuki lift. Tak sabar, tapi dia harus menahannya karena ruangan Ares yang berasa di lantai atas membuatnya harus menggunakan lift untuk kesana.


‘Ding’


Saat pintu lift terbuka, Satria adalah orang pertama yang keluar dari sana dan langsung berlari secepat yang dia bisa menuju ruangan Ares. Semakin dekat, ruangan itu semakin jelas terlihat. Tak sabar untuk menunggu lagi, dia langsung membuka pintu ruangan itu tanpa memberitahukan kedatangannya.


“Wah... Big Daddy.. apa yang Anda lakukan?”


Dengan nada tak percaya, dia sedikit terkejut melihat apa yang sahabatnya itu lakukan. Melihat pria itu mengarahkan pistolnya pada lelaki yang sudah babak belur , bukanlah pemandangan yang bisa dinikmatinya setiap hari. Ares yang menyadari kedatangan Satria dan hanya meliriknya sebentar sebelum memalingkan pandangan pada sekertarisnya yang berdiri di samping meja, berusaha menghindari tatapan tajam bosnya itu. Tak ingin mengganggu apapun yang dilakukan sahabatnya itu, Satria memilih untuk duduk nyaman di sofa dan menikmati pertunjukannya.


“Kalau kau membuat kesalahan seperti ini lagi, pistol ini akan mengarah langsung ke otak kecilmu itu! kau mengerti!!”


Ares mengancam pria itu sebelum kembali duduk di kursi kerjanya. Meskipun dia tahu alasan Satria datang menemuinya, tapi dia masih enggan berbicara dengannya. Dia masih menyimpan rasa marahnya karena anak itu sudah kehilangan Emma enam bula lalu. Dan perasaan itu kembali menggebu saat melihat wajah menjengkelkannya lagi.


“Hei, kenapa loe berhenti!?”


Dengan sikap cueknya, Satria bertanya sembari berjalan menuju meja sahabatnya itu melewati pria babak belur yang berlari keluar. Tapi Ares tak menjawab dan tetap fokus dengan lembaran dokumen di depannya. Dia berusaha keras menahan keinginannya untuk menghajar anak itu. Namun Satria mulai kesal melihat sikap Ares yang tak memperdulikannya.


“Loe marah?! Kenapa? Karena bocah aneh itu?”


Ares mulai tak bisa menahan emosinya saat mendengar ucapan Satria bahkan kepalan tangannya pun mulai gemetar. Melihat reaksinya, Satria terus berbicara tentang Emma sesuka hatinya dan membuat Ares semakin naik pitam. Usahanya berhasil saat melihat pria itu menutup dokumen dan mulai melihat kearahnya.


Dengan senyum sinisnya, Ares menatap Satria yang masih berdiri di dekatnya. Tanpa membuang kesempatan, Satria segera bertanya tentang siapa Emma sampai masalah hilangnya dia membuat mereka tak saling sapa selama enam bulan ini. Tapi usahanya sia – sia saja, karena Ares masih menolak untuk berbicara tentang hal itu. Tak tahan lagi, Satria tiba – tiba melayangkan tinjunya pada Ares yang tetap bungkam dan membuatnya jatuh tersungkur. Ares terkejut dengan pukulannya yang tiba – tiba dan tak percaya anak itu berani memukulnya setelah apa yang sudah dilakukannya. Pipinya memerah, terasa panas ditempat Satria memukulnya. Tak terima, Ares langsung bangkit dan membalas pukulannya dengan keras. Tapi masih tak cukup keras untuk membuatnya jatuh. Sama – sama tak terima, Satria langsung memukul Ares untuk kedua kalinya dan mereka berdua berakhir berkelahi dengan saling pukul.


Suara ribut yang terjadi membuat semua pegawai yang mendengarnya ikut takut. Namun rasa penasaran mereka lebih besar dan membuat mereka nekat mengintip dari pintu kaca ruangan Ares, melihat lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi. Karena hal ini sangat jarang terjadi diantara mereka yang dikenal sebagai dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Bahkan menurut rumor, tak ada orang yang bisa kembali selamat setelah membuat masalah dengan mereka.


Ares dan Satria terus saling pukul dan membuat seluruh ruangan menjadi kacau berantakan. Satria terus bertanya tentang Emma tapi Ares semakin keras memukulnya dan semakin memancing emosi anak itu. Mereka berkelahi seperti orang gila sampai sekertarisnya pun yang masih berdiri disana tak berani memisahkan mereka.


“Hah.. hah... hah... cepat cerita, atau gue pukul lagi loe?”


Dengan wajah yang sudah babak belur, Satria menghentikan tinjunya dan sekali lagi bertanya pada sahabatnya itu. Nafas mereka mulai saling memburu bahkan wajah tampan mereka tertutup lebam dan luka karena semua pukulan itu. Sesaat Ares tetap diam. Dia masih ragu untuk memberitahunya sekarang karena dia tahu seluruh tempat itu tidaklah aman bahkan tembokpun sudah tak bisa dipercaya. Tapi dia tak mau semakin lama menyembunyikan hal ini dan berusaha sendiri mencari anak itu. Karena selama enam bulan ini dia sudah mencarinya ke banyak daerah di Indonesia tapi tak ada hasil. Dia sangat membutuhkan bantuan sahabatnya untuk hal ini.


“Dia orang yang pernah kuceritakan padamu dulu..”


“Jadi, berhentilah memukul dan mulailah membantuku”


Tapi Satria bingung dengan jawaban yang dia berikan. Dia tetap merasa tak puas dengan jawaban yang sama sekali tak menjawab pertanyaannya itu dan terus menyuruhnya untuk berbicara lebih jelas.


“Yang aku ceritakan dulu waktu kita berkelahi pertama kali...”


Satria tetap tak bisa mengingat apa yang diucakpannya waktu itu karena kejadian itu sudah lama sekali, lebih tepatnya saat mereka baru berusia enam tahun. ‘Gila ya... loe suruh gue inget ucapan waktu kita masih bocah?’ Dia menatapnya dengan lekat, memberikan isyarat bahwa dia tak percaya dengan apa yang sahabatnya itu pikirkan. Tapi saat melihat raut wajah Ares yang berubah sendu, dia seperti teringat sesuatu.


“Akh! Maksudmu dia itu ad..!”


Belum selesai bicara, Ares segera menutup mulut Satria, menghentikannya berbicara lebih jauh. Terkejut, tapi dia mengerti maksud tindakannya itu dan mengangguk setuju untuk menutup mulut.


‘Tapi kenapa loe gak pernah cerita masalah ini sama gue? Loe gak percaya gue?’


‘Aku tahu kau sedikit gila, jadi aku tak cerita’


Dalam diam, mereka saling berbicara dengan ekspresi wajah dan bahasa tubuh. Membuat para pegawai yang masih menonton dari luar merasa bingung melihat mereka yang sekarang sudah duduk berdua dilantai kembali terlihat akur. Mereka bersikap seperti tak terjadi apa – apa. Tak perduli sedang menjadi tontonan para pegawai, karena suasana hati mereka sedang bagus. Tapi mereka heran saat melihat semua penontonnya langsung hilang dalam sekejap mata. Belum sempat memikirkan apa yang mungkin terjadi, seseorang pria tua tiba – tiba masuk dan membuat mereka berdua terkejut setengah mati mendengar suaranya yang menggelegar.