PEEK A BOO

PEEK A BOO
AYO BERGERAK!!



“Apa loe nemuin sesuatu tentang kelompok kumbang merah di tempat Jackson?”


“Kumbang merah? Entahlah”


Satria tiba – tiba teringat dengan orang – orang yang mengejar Emma sejak dia mengikutinya dulu. Namun Vian dan Viona sama sekali tak tahu dan bertanya siapa kumbang merah yang sedang Satria bicarakan itu.


Sejenak Satria melihat Ares, ragu apakah dia benar – benar bisa membicarakan tentang hal ini dengan mereka semua. Namun saat melihat wajah Ares yang terlihat sedikit menakutkan, dia tahu bahwa apapun caranya dan siapapun mereka, tak lagi penting untuk pria itu. Dan Satria pun menjelaskan bahwa kemungkinan kelompok kumbang merah ada kaitannya dengan penyerangan yang selama ini Emma alami. Dia juga menjelaskan bahwa sebelum gadis itu lepas dari pengawasannya, sudah beberapa kali juga dia mengalami penyerangan bahkan sampai harus masuk rumah sakit karena hal itu.


“Kalau begitu, apa mungkin penyerangan di panti waktu itu juga ulah mereka?”


Vian bergumam, bertanya pada dirinya sendiri. Namun saat mendengar ada penyarangan yang tak diketahuinya, Satria dan Ares meminta Vian untuk berbicara lebih jelas mengenai kejadian itu. Dan setelah mengerti garis besar permasalahannya, dengan tegas Ares menyuruh mereka untuk kembali mengumpulkan informasi. Dia dan Viona akan kembali ke rumah Jackson sedangkan Satria dan Vian akan pergi ke panti, dimana kemungkinan besar mereka bisa dapatan petunjuk penting di sana.


Sedangkan di tempat lain, Ruvan yang akhirnya menerima kabar dari anak buahnya, langsung geram dan menggila. Bukan hanya karena Ares yang ternyata benar – benar sedang dekat dengan seorang wanita, tapi kenyataan bahwa selama ini Albert dan Alexandra Jackson sudah menipunya-lah yang membuat dia menggila.


“Hah!! Beraninya mereka menipuku!”


“Dan membiarkan anak itu hidup?! Tiga belas tahun?!”


“Meskipun kalian sudah mati, kupastikan kalian menyesal di sana karena sudah membodohiku!”


Ruvan yang kini sedang duduk di ruang kerjanya terlihat sangat marah setelah mengetahui kenyataannya, bahkan sampai melempar semua benda di dekatnya. Dan tak berhenti sampai di situ, dia bahkan tak ragu untuk melampiaskan kemarahannya dengan menghajar sekretaris yang berdiri di dekatnya. Bukan satu atau dua pukulan, dia banar – benar menghajar wanita cantik itu sampai wajahnya penuh darah dan jatuh tak sadarkan diri.


“A ... kh!!”


Dia berteriak sekuat tenaga, berusaha mengeluarkan sisa emosi dalam benaknya, sampai membuat anak buahnya yang masih berdiri di sana tersentak karena terkejut. “Sial!” di hatinya, Ruvan mengumpat. Seketika itu, dia teringat dengan apa yang dia lakukan saat setelah kematian putranya. Saat itu, dia membawa Reyna yang masih berusia lima tahun untuk menemui Albert Jackson dan istrinya saat anak itu masih tertidur pulas. Dia sungguh tak tahan melihat gadis kecil itu yang terlihat sangat mirip dengan Reynand Anatari, wanita yang sudah membuat dia harus menjalani kehidupan seperti di neraka, masih bisa terus hidup dengan nyaman bahkan setelah kematian putranya. Saat itu, Ruvan tahu bahwa kawan anaknya itu sedang membutuhkan banyak uang untuk memulai penelitiannya, apapun itu. Dan dia berani menjanjikan mereka banyak uang jika mereka mau membuat Reyna tertidur untuk selamanya. Dalam hati, dia ingin melakuaknnya sendiri tapi karena permintaan wanitanya dulu, dia sudah lama berhenti melakukan hal semacam itu dan dia akan terus menjaga janjinya itu.


“Tuan!”


Suara salah satu orangnya yang tiba – taba masuk setelah dia mendengar keributan dari dalam ruang kerja tuannya, dan membuat Ruvan tersadar dan dia pun langsung melirik tubuh wanita yang masih tergeletak lemas di lantai dan menyuruh anak buahnya itu untuk mengurusnya.


“Usahakan untuk membuatnya tetap hidup”


Setelah mengatakan hal itu, Ruvan langsung berjalan keluar untuk menenangkan diri dan pria yang melapor padanya masih tetap mengikuti tuannya itu dengan lekat.


“Tuan, sepertinya kelompok kumbang merah juga sedang mencari putri Jackson itu”


Ruvan terdiam mendengar perkataan pria itu dan memintanya untuk mengatakannya dengan lebih detil.


“Kenapa harus mereka?”


Setelah mendengar penjelasan bawahannya, di tak habis pikir bahwa sekarang dia harus berurusan dengan orang – orang gila itu. Meskipun banyak yang mengatakan bahwa kelompok kumbang merah hanyalah mitos belaka yang kenyataannya tak pernah ada, tapi Ruvan tahu betul tentang mereka dan apa yang mereka lakukan.


Setelah mengambil tongkat kebesarannya, dia menaiki mobil hitam yang sudah disiapkan di depan pintu rumahnya dan segera pergi menemui orang – orang yang tak terlalu disukainya itu. “Kali ini akan kupastikan kau akan pergi selamanya” gumamnya dalam hati, sambil memegang erat sebuah foto dengan gambar Emma, Ares dan Satria yang sedang bersama.


Perjalanannya cukup jauh karena tampat yang mereka tuju berada di pinggir kota, jauh dari keramaian. Setelah dia tiba di depan satu – satunya rumah besar bergaya rumah tradisional Jepang dengan banyak pohon besar di sana, Ruvan segera turun dan langsung di sambut beberapa pria berbaju hitam yang menghadangnya.


“Siapa kau?”


“Mau apa kau kemari?”


Ruvan tak suka dengan cara bicara dua orang yang berdiri di depannya. Dan tanpa basa – basi, dia langsung memukul K.O kedua pria itu dengan sekali pukulan tanpa memberi mereka kesempatan untuk melawan. Melihat kedua rekannya yang jatuh tak sadarkan diri, jelas membuat beberapa pria lainnya menjadi geram dan berusaha melawan Ruvan bersama – sama. Namun keributan itu tak bertahan lama. Tak sampai lima menit, semua pria yang menghadangnya juga jatuh tersungkur di tanah setelah menerima pukulan keras Ruvan di titik vital mereka. Tak ingin membuang waktu, Ruvan langsung membuka pintu gerbang rumah besar itu tanpa permisi dan lagi – lagi ada banyak pria yang sudah menunggunya di balik pintu bahkan mereka juga tampak dilengkapi senjata tajam.


Ruvan sungguh emosi melihat banyaknya orang yang menghalanginya. Dengan tangan kosong, dia maju seorang diri dan memerintahkan anak buah yang mengikutinya untuk tidak mengganggu. Setelah menggulung lengan bajunya, Ruvan melawan mereka semua dengan serius dan keributan pun tak lagi bisa dihindari sampai membuat halaman depan rumah itu jadi terlihat kacau dan berantakan. Meskipun tubuh dan usianya yang sudah tak lagi muda, tapi Ruvan masih bukan tandingan bocah ingusan seperti mereka.


“Hentikan!”


“Berani sekali kalian melakukan ini pada tuan Johnson kita yang terhormat?!”


Seseorang tiba – tiba keluar dan berteriak dan membuat keributan itu berhenti seketika. Dari dalam rumah, terlihat seorang pria keluar mengenakan baju tradisional jepang nagagi, lengkap dengan hakama dan haorinya. Persis seperti pakaian bangsawan kuno jepang yang sering anak – anak lihat di acara kartun pagi.


“Apa kali ini kau mau cosplay?”


“Dasar gila”


Melihat orang yang dicarinya sudah muncul, Ruvan segera melepaskan cengkramannya pad a baju pria yang hendak dipukulnya tadi dan menghempaskan tubuh pria itu begitu saja. Setelah merapikan kembali bajunya, dia segera berjalan masuk dan diikuti anak buahnya. Sesaat sebelum dia benar benar masuk, dia menatap aneh pada pria yang menyambutnya tadi.


“Ini tuan”


Seorang pria paruh baya yang sedari tadi berdiri di belakang pria berpakaian jepang itu memberikan sebuah handuk kecil pada Ruvan untuk membersihkan noda darah yang menempel di tangannya. Setelah tangannya bersih, dia tak perduli dan langsung membuang handuk itu, berjalan masuk mengikuti pria aneh tadi dengan anak buahnya yang setia mengikuti.


“Cepat bereskan tempat ini”


Pria paruh baya tadi memungut handuk yang dibuang Ruvan dan memerintakan para pria yang terlihat masih kesakitan itu untuk segera membereskan kekacauan yang mereka buat sendiri. Setelah itu, dia berbalik dan berjalan menyusul tuannya yang sudah lebih dahulu masuk. Namun, langkah pria itu terlihat sedikit aneh. Dia berjalan dengan sedikit menyeret salah satu kakinya sampai membuatnya terlihat sedikit pincang.


Dan disaat yang sama, Satria dan Vian sudah sampai di panti asuhan yang sempat Emma kunjungi waktu itu. Sedangkan Ares dan Viona juga sudah memulai pencariannya di rumah Albert Jackson.