PEEK A BOO

PEEK A BOO
MENGINGATNYA



“Tuan!”


Setelah Ruvan pergi, pak Ko segera menghampiri Ares yang sudah tergolek lemah. Dia berusaha memastikan kondisi tuannya sebelum mengambil tindakan apapun karena dia tak ingin mengambil keputusan yang terburu – buru dan berakhir merugikan keluarga Johnson yang selama ini dilayaninya. Namun luka Ares ternyata cukup dalam dan darah segar terus mengalir dari sana. Melihat wajah tuannya yang mulai pucat dan keringan dingin yang juga mulai membasahi tubuhnya, membuat pak Ko tak punya pilihan lain selain memanggil ambulance. Tapi dengan suara lemahnya, Ares berhasil menghentikan pak Ko tepat sebelum pria itu benar – benar menghubungi ambulance.


“Bawa aku ke kamar dan hubungi dokter untuk menanganinya di sini”


“Tapi tuan, kondisi Anda ... .”


“Aku tak mau ada keributan karena hal sepele ini”


Setelah mengatakan itu, Ares langsung kehilangan kesadarannya. Namun pak Ko mengerti jika Ares tak mau berita tentang terlukanya dia, akan membuat kehebohan yang bisa mempengaruhi perusahaan nantinya dan lebih memilih untuk menanganinya dalam diam dan tenang membuat pak Ko juga tak bisa berbuat apa – apa selain mengikuti perintah tuannya.


Beberapa jam sudah berlalu, dan Ares yang kini sudah terbaring di kamarnya pun mulai membuka mata. Meskipun masih belum terlalu jelas, tapi Ares tahu pak Ko yang berdiri di dekatnya sedang menatap penuh khawatir. Dia juga melihat beberapa dokter berjas putih dengan stetoskop yang mereka kalungkan di lehernya juga sedang berdiri di


belakang pak Ko menatapnya.


Melihat Ares yang mulai sadar, dokter segera melakukan pemeriksaan lengkap tentang kondisi pria itu. Dan setelah selesai dengan pemeriksaannya, Ares meminta semua orang termasuk pak Ko untuk keluar karena dia ingin menenangkan pikirannya terlebih dahulu. Perasaannya masih tak nyaman setelah berbicara dengan kakeknya tadi.


Dalam keadaan tenang, Ares sangat menyesali emosinya yang tak terkontrol bahkan sampai membuat situasi menjadi kacau, bukan hanya untuknya namun juga untuk Emma. Perkataan Ruvan juga masih terus terngiang di kepalanya, membuat dia teringat dengan hari dimana dia sadar bahwa dunia tempatnya tinggal adalah tempat penuh kebohongan dan tipu daya.


-Flashback-


Hari itu cuaca sangat bagus, bahkan terlalu bagus jika sekedar dihabiskan untuk berdiam diri dalam rumah. Ares yang statusnya masih seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Amerika, sedang dalam perjalanan ke Indonesia untuk menghabiskan liburan musim panasnya bersama Satria. Dia merasa sangat bersemangat karena sudah cukup lama dia tak bertemu dengan sahabat kecilnya itu.


Dan sesuai dugannya, Satria dan beberapa pria suruhan kakeknya sudah menunggu di pintu kedatangan untuk menjemputnya. Dengan wajah cuek yang selalu dia tunjukkan, Satria perlahan tersenyum saat melihat Ares yang juga tersenyum kearahnya. Dan tanpa membuang waktu, Ares segera memberikan semua barang bawaannya pada seorang pria yang juga menjemputnya itu dan mengatakan padanya untuk kembali duluan karena dia masih ingin pergi ke suatu tempat dengan Satria. Saat itu, Ares dengan kepolosan remajanya, langsung pergi dengan senang hati tanpa mendengarkan perkataan pria suruhan kakeknya itu.


Dengan mengendarai mobilnya, Satria mengajak Ares untuk makan di kedai kecil yang sempat dia bicarakan dengannya di telfon sebelum mereka menuju game center, tujuan utama mereka hari itu. Mereka makan dan membicarakan banyak hal. Seperti remaja biasa yang bermain tanpa memperdulikan dunia.


Dan tak terasa, mereka juga sudah menghabiskan waktu berjam – jam untuk bermain di game center dan Ares merasa bahwa dia sudah harus kembali dan  memberi salam pada kakeknya. Meskipun selama ini hubungan mereka sama sekali tak dekat, namun ia mengingat pesan mendiang ibunya untuk selalu menghormati kekeknya.


Ares dan Satria tinggal dalam satu lingkungan di rumah utama keluarga Johnson, meskipun tempat Satria tinggal bisa dibilang cukup terpisah dari tempat Ares di rumah utama. Namun hal itu tak menghalangi mereka untuk sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama sampai membuat kakeknya sering marah karena hal itu. Sifat kakeknya yang keras membuat mereka sering dihukum bahkan Satria sering menjadi target pukulan untuk setiap kesalahan yang Ares lakukan .Kakeknya tak suka jika Ares terus bergaul dengan Satria yang selalu dianggapnya sebagai seorang bocah jalanan yang sengaja Ares pungut dan dia ajak tinggal bersama.


Setelah berpisah dengan Satria, Ares segera berjalan menuju ruang kerja kakeknya. Saat dia akan mengetuk pintu ruangan itu, seketika tubuhnya kaku saat mendengar suara keras kakeknya yang seperti sedang berbicara dengan seseorang di telfon.


“Kau pikir aku bodoh?”


“Aku sudah memberikan banyak uang untuk dua orang itu!”


“Tak mungkin jika tiba – tiba kau lihat anak yang mirip dengannya”


“Aku tak mau dengar omong kosongmu lagi! jangan pernah bicarakan hal gila ini lagi denganku!”


“Reyna sudah mati! dan selamanya dia akan tetap mati!”


Tubuh Ares gemetar dan jantungnya berdebar sangat kencang. Dia tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya itu. Dia berusaha mencerna perkataan kakeknya dan menganggap bahwa Reyna, adiknya mungkin saja masih hidup. Memang benar selama ini kakeknya selalu mengatakan bahwa Reyna sudah mati, tapi tak pernah sekalipun dia melihat jasad adiknya itu. Kemarahan mulai muncul dalam hatinya. Karena itu berarti, kakeknya-lah yang sudah berusaha menyingkirkan adiknya dan sudah membodohinya selama bertahun - tahun. Dan mulai detik itu juga, Ares bersumpah untuk mendiang orang tuanya bahwa jika Reyna benar masih hidup, dia pasti akan menemukannya dimanapun gadis itu berada.


-Flashback end-


Setelah menenagkan dirinya, Ares kembali sadar dan membuka matanya. Namun kali ini dia tak melihat siapapun di dekatnya. Dalam sunyi, dia tiba – tiba merindukan sosok adik kecilnya yang kini sudah mulai beranjak dewasa. Ares lalu mengeluarkan sebuah foto berukuran kecil yang ada gambar dia dan Reyna saat mereka berdua tampak masih sangat kecil. Dia senang bahwa adiknya sudah tumbuh menjadi seorang gadis cantik yang menakjubkan, meskipun dia tak hadir di semua waktu itu. Memandang fotonya lebih lama, Ares hanya tersenyum dan tak sabar untuk menemui Emma saat gadis itu pulang nanti.


...


Di tempat lain, Emma dan Satria yang kini sedang dalam perjalanan pulang setelah menemui Zen dan profesornya, sedang terjebak kemacetan kota yang cukup panjang. Mobil mereka hanya bisa bergerak perlahan karena proses evakuasi kecelakaan jalur kereta api di depan mereka berjalan sangat lambat.


Sama seperti saat mereka berangkat tadi, Emma kini juga diam dan seperti tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Dia terlihat fokus menatap anak – anak jalanan yang bermain di kolong jembatan. Melihat mereka yang tertawa lepas satu sama lain seperti tak memperdulikan kehidupan keras yang masih harus mereka hadapi, membuat Emma teringat dengan perkataan profesor tadi padanya.


Selama pertemuannya tadi dengan profesor, pria tua itu terus mencoba berbicara santai dengannya meskipun Emma tahu bahwa dia sedang melakukan pemeriksaan padanya. Untuk setiap pertanyaan yang diajukannya,


Emma bisa jawab dengan tepat bahkan terlalu tepat sampai terdengar seperti mendengarkan buku teks yang berbicara. Dan saat dia diminta untuk melakukan beberapa pemeriksaan fisik, Emma juga mengikutinya dengan sangat baik. Namun satu pertanyaan profesor yang terus terngiang dan cukup mengganggunya adalah saat dia ditanya tentang arti kebahagiaan baginya dan momen yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Saat itu Emma hanya diam karena dalam buku yang dibacanya, ada banyak alasan seseorang untuk bahagia namun tak ada penjelasan tentang hal yang profesor tanyakan itu. Dan saat melihat Emma yang diam, profesor langsung menghentikan sesi pemeriksaannya dan menyuruh mereka untuk kembali saat hasilnya sudah keluar.


“Kau tahu tentang kebahagiaan?”


“Waktu itu kau menyuruhku untuk tersenyum lebih tulus”


“Jika aku melakukannya, apa itu bisa jadi momen bahagiaku?”


Satria langsung menoleh ke arah Emma setelah mendengar pertanyaan gadis itu. Namun Emma masih terus memperhatikan anak – anak jalanan itu, membuat Satria bingung dan merasa aneh saat mendengarnya. Tiba – tiba Satria tersenyum kecil seperti teringat sesuatu.


“Loe ikut gue”


Satria langsung mematikan mesin mobilnya dan keluar membuka sisi pintu tempat Emma duduk. Dia melepaskan sabuk pengaman yang masih melilit tubuh gadis itu, dan menarik dia dengan lembut, mengajaknya pergi ke suatu tempat tanpa perduli mobilnya yang mungkin saja menghalangi pengendara lain di belakangnya.