
‘tok tok tok’
Hari masih sangat pagi, tetapi sudah terdengar suara seseorang mengetuk pintu gerbang rumah Emma. Namun dia harus menunggu cukup lama sebelum akhirnya Emma keluar dan membukakannya pintu karena saat itu, Emma satu – satunya orang yang sudah bangun disana sedang berolahraga di halaman samping rumahnya.
Emma terdiam saat membuka pintu dan melihat Ares sudah berdiri di depan rumahnya. Begitu juga dengan Ares yang terdiam saat melihat Emma. Dan selama beberapa menit, mereka hanya terdiam dan saling pandang sebelum akhirnya Emma mempersilahkannya masuk. Merasa senang akhirnya bisa melihat gadis itu setelah beberapa hari dia pergi, Ares berjalan pelan mengikuti Emma masuk sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah sederhana itu. Namun dia cukup puas dengan keadaan rumah yang sudah terlihat lebih rapi itu.
“Sebentar lagi Satria bangun. Kau bisa duduk di sini dan menunggunya”
Perhatian Ares teralihkan setelah Emma tiba – tiba berbicara padanya. Gadis itu menyuruh Ares untuk duduk di sofa tempat Hasan berbaring dan menunggu sampai Satria muncul. Setelah mengatakan itu, Emma langsung berbalik dan berjalan menuju tempat olahraganya lagi. Namun Ares yang terus memperhatikan Emma pun terkejut saat melihat perban yang melilit kaki gadis itu.
“Kau terluka?”
“Ah, iya”
Langkah Emma terhenti begitu mendengar Ares bertanya padanya. Dia lalu memperhatikan Ares yang terus melihat luka di kakinya dan merasa risih dengan sikap pria itu.Tak ingin berlama – lama, Emma hanya memberinya jawaban singkat padat dan jelas sebelum akhirnya dia pergi. Namun jawaban singkat Emma sama sekali tak membuat Ares puas. Dia pun bingung tentang bagaimana gadis itu bisa terluka karena Satria sama sekali tak menyebutkan hal ini dalam laporannya.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Satria keluar dari kamarnya . Sambil menguap, dia berjalan menuju dapur tapi langkahnya seketika berhenti saat melihat Ares yang sudah duduk di dekat Hasan yang masih tertidur. Dia begitu terkejut sampai membuatnya seketika tersadar dari rasa kantuknya yang masih tersisa dan segera duduk di dekat pria itu. Saat melihat Ares yang hanya diam dan menatapnya, Satria tahu bahwa dia sedang penasaran tentang sesuatu.
“Laporan ... .”
Meskipun begitu, mendengar kata laporan dari mulut Ares tetap membuat Satria sedikit panik dan mengajak pria itu untuk berbicara di tempat yang lebih tenang karena dia tak ingin ada yang tahu bahwa dia selalu melaporkan semuanya pada pria itu. Mendengar alasannya, Ares pun setuju dan mereka berdua pun segera menuju kamar tempat Satria tidur semalam.
“Tertembak?! Kau ... .”
Dengan nada yang meninggi, Ares terkejut mendengar tentang luka di kaki Emma. Namun Satria yang melihat sahabatnya langsung marah tanpa memberinya kesempatan berbicara juga mulai merasa jengkel.
“Hei! Loe lihat dulu bagaimana muka gue!”
“Loe pikir gue cuma duduk manis sampai anak itu terluka?!”
Tak mau mengalah, Satria juga berbicara dengan nada yang tak kalah tinggi bahkan sampai membuat Ares sedikit terkejut dan langsung terdiam mendengarnya. Dia juga menunjukkan beberapa beberapa luka dan lebam yang masih ada di wajahnya sebagai bukti bahwa dia tak hanya diam saat itu.
Setelah mereka berdua mulai tenang, Ares meminta Satria untuk memberinya laporan lengkap sejak kepulangannya waktu itu. Dan Satria pun dengan cuek memberikan penjelasan lengkap bahkan tentang penyerangan yang waktu itu pun dia ceritakan dengan rinci sampai akhirnya mereka tiba di rumah Emma. Darah Ares pun terasa mendidih setelah mendengar semua penjelasan Satria. Dia bersumpah untuk mencari siapapun dalang dibalik semua penyerangan itu. Melihat sahabatnya yang mulai emosi, Satria hanya diam dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Ah! Gue juga sudah interogasi supir loe dan ternyata dia sungguh bukan suruhan pak tua itu”
“Tapi ... sepertinya masalah ini nggak sesederhana seperti yang loe kira karena gue lihat tatto kumbang kecil di belakang telinganya”
Begitu Satria mengatakan bahwa dia melihat totto kumbang kecil pada pria yang ditangkapnya waktu itu, Ares sangat terkejut sampai membelalakkan matanya karena dia tak tahu bagaimana bisa Emma berhubungan dengan orang – orang itu. Sepanjang yang Ares tahu, tatto kumbang merah kecil hanya dimiliki anggota dari grup kumbang merah dimana banyak anggota grup itu bukanlah orang sembarangan yang bisa diusik ketenangannya begitu saja. Bahkan juga beredar kabar bahwa salah satu petinggi grup itu juga memiliki pengaruh yang cukup besar dalam pemerintahan.
Tapi hal itu tetap tak bisa menghentikan niat Ares untuk membalas mereka yang sudah berani mengganggunya. Dia pun mengatakan niatnya untuk membawa Emma bersamanya dan meminta pria itu untuk membantu Emma belajar hal – hal untuk pertahanan dirinya. Tapi Satria langsung menolak keinginan Ares untuk membawa Emma bersamanya karena dia tak tahu tahu apa yang akan terjadi jika kakek Ares tahu tentang hal itu. Namun Ares sama sekali tak mempunyai pilihan lain karena rumah pribadinya adalah tempat yang paling aman untuk gadis itu saat ini. Dan setelah mendengar penjelasan Ares, Satria juga tak bisa mengatakan apapun untuk protes karena dia juga berpikir demikian.
“Ah ... apa anak itu sakit? Soalnya semalam gue dengar Vian bicara tentang anak itu yang nggak minum
obat”
Melihat bagaimana wajah Ares yang lagi – lagi terkejut setelah mendengar ucapannya, jelas bahwa dia juga sama sekali tak tahu tentang hal itu. Ares pun langsung menghubungi seseorang untuk mencari tahu tentang rekam medis gadis itu untuk membuktikan kecurigaan Satria tadi.
“Sampai aku membawanya pergi, aku akan tinggal di sini bersama kalian”
Kali ini giliran Satria yang terkejut mendengar ucapan Ares yang sangat tiba – tiba dan terdengar sedikit konyol itu. Namun Satria langsung menolak keras niat Ares karena dia tak ingin situasi mereka semua di sana menjadi sangat canggung dengan kehadiran Ares di tengah – tengah mereka. Tapi penolakannya itu percuma saja karena sekali Ares sudah memutuskan sesuatu, dia akan sangat sulit untuk digoyahkan.
“Kalian semua ... dia Ares dan Ares, ini mereka ... .”
“Dan selama pria ini di kota ini, dia akan tinggal di sini sama kita”
Dengan malas, Satria bercanda dengan memperkenalkan Ares pada semuanya saat mereka sudah berkumpul di meja makan karena dia tahu apa yang dikatakannya akan membuat suasana menjadi aneh. Dan benar dugaannya. Suasana di meja makan seketika menjadi hening setelah dia mengatakan niatan Ares untuk tinggal bersama mereka selama beberapa hari, bahkan Hasan pun sampai tersedak saat meneguk minumannya. Dia sangat terkejut karena jika Ares akan tinggal bersama mereka, itu berarti hidupnya akan menjadi tak tenang. Dia juga menatap dengan sedikit memelas kepada Satria dan berharap bahwa yang didengarnya itu hanya bercandaan mereka. Namun harapannya sia – sia, karena wajah Satria sama sekali tak menunjukkan bahwa dia sedang bercanda.
Dan tanpa ada yang memperhatikan, Ares diam – diam melihat Emma yang hanya meminum segelas susu tanpa menyentuh makanannya sedikitpun, sesuai dengan apa yang Satria laporankan padanya. Namun berbeda saat hanya mendengar laporannya, Ares kini merasa sedihan saat melihat gadis itu sama sekali tak menyentuh makanannya.
...
Tak seburuk seperti yang mereka semua bayangkan, keberadaan Ares bersama mereka ternyata sama sekali tak berpengaruh besar. Sama seperti hari sebelumnya, mereka semua melakukan kegiatan mereka masing – masing tanpa mengganggu satu sama lain begitu juga dengan Ares yang sejak mereka selesai sarapan tadi dia langsung sibuk menelfon kesana kemari mengurus bisnisnya secara daring.
Meskipun sudah sangat larut dan Ares baru selesai dengan pekerjaannya setelah sepanjang hari dia terus berada di dalam kamar Satria bahkan sampai melewatkan makan malam bersama dengan penghuni lainnya, tapi dia sungguh tak bisa tidur. Terlebih saat dia mengingat kembali apa yang dilihatnya tadi saat sarapan bersama Emma. Pikirannya terasa buntu, tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk membantu gadis itu. Ares pun berniat mencari udara dengan berjalan – jalan di sekitar rumah, berharap itu bisa membantunya berpikir lebih jernih lagi.
Namun belum jauh kakinya melangkah, dia melihat pintu kamar Emma sedikit terbuka dengan lampu kamarnya yang masih menyala. Melihat gadis itu masih terjaga, Ares segera mengambil beberapa camilan di dapur dan akan diberikannya pada Emma. Dengan dua kue manis di tangannya, Ares berjalan menuju kamar Emma. Namun betapa terkejutnya dia saat melihat Emma menenggak sebutir pil kecil yang diambilnya dari laci di dekat tempat tidurnya sebelum akhirnya gadis itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Melihat itu, Ares berbalik dan mengurungkan niatnya. Dia lalu duduk sendirian di ruang makan dengan cahaya lampu yang redup dan terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dia seketika teringat dengan ucapan Satria tadi pagi dan menduga bahwa Emma mengkonsumsi obat tidur. Tanpa membuang waktu, Ares pun langsung menghubungi seseorang tanpa perduli waktu yang sudah menunjukkan hampir jam dua malam.