
“Kau pergi kemana kemarin?”
“Kalau aku cerita, apa kau akan percaya?”
“Cerita saja selama kau tak bicara omong kosong lagi”
Vian dan Viona duduk berdua di ruang tamu setelah Emma pergi untuk kerja paruh waktunya. Seperti yang sudah dijanjikan, siang ini mereka akan berbicara empat mata tentang masalah kemarin. Sebenarnya Viona tetap tak mau mendengarkan cerita Vian karena insting wanitanya tak pernah salah. Namun melihat kesungguhan diwajahnya adiknya itu membuat Viona tak bisa menolak.
Sebelum memulai bercerita, karena dia tak ingin dianggap menuduh tanpa bukti, Vian menyodorkan alat suntik yang diambilnya kemarin pada Viona. Tapi kakaknya tak bereaksi sedikitpun melihat alat suntik itu.
“Aku mengikutinya kemarin ke sebuah rumah di Jakarta Pusat. Dan dia menyuntikkan ini di lengan kirinya”
Vian mulai menceritakan semuanya dengan lengkap dan runtut, tak terlewat satu pun. Bahkan dia juga bercerita tentang apa yang dilihatnya di lantai dua rumah yang didatanginya kemarin. Tentang bau darah dan gambar manusia di lantai. Dia juga mengatakan bahwa ruangan itu terlihat seperti tempat kejahatan.
Mendengar ceritanya, Viona tak bisa lagi untuk tak perduli. Meskipun dia sudah merasa nyaman dengan kondisi mereka saat ini, tapi dia tetap tak mau egois dan mengesampingkan keselamatan mereka. Jika memang benar, Emma yang sudah dianggapnya seperti saudara ternyata orang yang berbahaya seperti yang Vian katakan, dia tak ingin adiknya itu berada dalam bahaya. Tapi dia juga tak ingin meninggalkan gadis malang itu sendirian.
“Aku akan meminta bantuan kenalanku untuk memeriksa obat ini”
Viona mengambil alat suntik yang Vian tunjukkan padanya. Tak ingin buru – buru mengambil keputusan yang bisa merugikan semua pihak, dia berniat menyelidiki hal ini terlebih dahulu. Setelah mengatakan semua yang ingin dikatakannya, Vian segera beranjak dari tempatnya dan mengatakan pada Viona bahwa dia mungkin kembali nanti malam sebelum Emma pulang. Viona tak merespon ataupun menolak keinginan Vian. Karena dia tahu bagaimana sifat adiknya itu.
“Hai.. aku butuh bantuanmu. Aku akan kesana sekarang”
Viona terlihat menghubungi seseorang setelah melihat Vian sudah keluar. Setelah menutup telfonnya, Viona pun bergegas pergi menemui orang yang ditelefonnya tadi.
Vian yakin bahwa Viona masih meragukan perkataannya. Dia memutuskan untuk pergi dan kembali mencari bukti untuk meyakinkan kakaknya itu. Hal pertama yang dilakukannya adalah kembali ke rumah itu, dimana dia melihat semua yang Emma lakukan kemarin. Menggunakan taxi, Vian kembali menempuh perjalanan panjangnya ke daerah Jakarta Pusat. Selama perjalanannya, dia mencatat beberapa point penting yang sudah didapatnya sejak kemarin.
Kini, sekali lagi dia berdiri di depan rumah gadis itu. ‘Meskipun dari luar, rumah ini tetap menyeramkan’ perasaannya masih sama saat dia memasuki rumah itu lagi dan langsung menuju ke lantai dua memasuki ruang baca. Tanpa memperdulikan perasaan ngerinya, dia terus memeriksa setiap sudut ruangan itu.
“Ada banyak macam buku, tapi kenapa ada lebih banyak buku diary yang disimpan disini?”
Penasaran, dia mengambil salah satu diary secara acak dari rak buku disana dan membacanya dengan seksama.
“4 Januari 2019. Tidak banyak yang akan aku tulis. Hari ini aku mulai jam delapan tepat. Mamang lebih awal, karena aku ada janji konsultasi dengan pasien. Dan seperti biasa, empat operasiku hari ini berjalan lancar. Setelah operasi, aku melakukan pemeriksaan rutin pada pasien. Mereka hari ini bicara padaku lebih banyak dari biasanya, dan itu membuat wajahku sampai kram karena harus senyum dan tertawa lebih banyak juga saat bicara pada mereka. Dan kurasa untuk selanjutnya, aku akan periksa saat mereka tidur”.
Dengan serius, Vian membaca salah satu catatan. Meskipun terdengar biasa saja, tapi dia tetap merasa ada yang aneh. Yang dia baca itu buku diary, tapi sama sekali tak terasa seperti itu.
“Ah.. diakan memang kaku orangnya..”
Dia teringat bagaimana sikap Emma selama ini dan yakin hanya gadis itu satu – satunya orang yang akan menulis diary semacam ini. Setelah mengangap tak ada yang penting dia segera meletakkan catatan itu ketempatnya, dan meninggalkan ruang baca dengan kondisi yang sama saat dia masuk tadi. Seluruh tempat di rumah itu sudah dia periksa kecuali kamar Emma di lantai dua. Tak ingin ambil resiko, dia mengesampingkan sopan santunnya dan perlahan membuka pintu kamar itu.
“Permisi....”
Dia keluar dari kamar itu dan berniat untuk pergi ke rumah sakit tempat Emma bekerja. Tapi dia terkejut dan langsung bersembunyi di balik pintu saat melihat lelaki yang turun dari mobil kuning dan untuk beberapa saat berdiri di depan rumah Emma. Dari tempatnya bersembunyi, dia masih bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Entah apa yang dipikirkannya, tapi tatapannya itu sama sekali bukan rindu. Semakin lama menunggu, jantungnya berdegub kencang dan adrenalinnya meningkat. Sudah tak tahan tapi untuk menghindari hal – hal yang tak perlu, dia harus tetap sembunyi sebelum pria itu pergi. Hampir menyerah, tapi saat dia akan bangkit dan keluar, dia melihat pria itu buru – buru pergi setelah menerima telfon.
“Akhirnya pergi juga”
Setelah bebas, dia segera memesan taxi dan bergegas pergi ke rumah sakit. Tak terlalu jauh, ternyata tempat itu hanya berjarak lima belas menit dari rumah Emma. Saat tiba disana, dia tak tahu harus kemana. Tapi dia teringat dengan buku diary yang dibacanya tadi dan segera pergi ke unit bedah.
“Hah.. siapa sangka hal itu akan bermanfaat disaat seperti ini”
Vian bangga dengan dirinya yang masih ingat dengan tulisan yang dianggapnya tak penting itu. Sesampainya di unit bedah, dia melihat daftar dokter dan perawat yang terpajang di lorong dekat pintu masuk.
“Emma Ja...”
Walaupun namanya sudah dicoret, dia tetap bisa melihat nama gadis itu dengan jelas meskipun hanya nama depannya. Untuk memastikan, dia bertanya pada seorang perawat yang baru kembali setelah melakukan pemeriksaan. Dengan menunjukkan foto Emma, dia bertanya apakah dokter Emma itu memang benar Emma yang dikenalnya. Dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui bahwa gadis itu memang salah satu dokter bedah ortopedi disana yang juga dokter termuda di rumah sakit itu.
“Apa Anda tidak tahu? Dokter Emma sudah lama berhenti dan tak ada yang tahu bagaimana kabarnya”
Tak kalah terkejutnya dia mendengar jawaban perawat itu saat dia bertanya lebih lanjut tentang Emma padanya. ‘Dia pasti melakukan kesalahan sampai pergi meninggalkan hidup nyaman seperti ini’. Setelah mendapat informasi yang dia inginkan dari perawat tadi, Vian segera pergi. Dia duduk di lobi rumah sakit dan fokus mencatat semua penemuannya tanpa menyadari seseorang yang sudah memperhatikannya sejak dia berbicara dengan perawat unit bedah tadi.
‘Drrrrtt...drrrtttt...’
Ponsel Vian bergetar dan membuyarkan konsentrasinya. Saat dilihat, ternyata Viona yang menelfon. Berharap mendapatkan kabar baik, dia segera menjawabnya.
“Cepat pulang sekarang. Ada yang harus kukatakan padamu!”
Mendengar cara bicara Viona yang serius, Vian segera bangkit dan pergi dari rumah sakit. Melihat dia sudah pergi, pria yang memperhatikannya sedari tadi langsung mengetikkan sesuatu di handphonenya.
“Semoga Emma cepat membaca pesanku”
Ternyata Rizwan yang sudah memperhatikan Vian sejak dia mendengar anak itu menyebut nama Emma. Dia curiga dengannya yang muncul entah dari mana dan bertanya tentang Emma di rumah sakit. Berharap gadis itu lebih berhati – hati di luar sana, dia langsung mengirimkan e-mail melaporkan kejadian itu padanya.
Vian tiba di rumah Emma tapi dia tak ingin memberitahu kakaknya lebih dulu tentang apa yang sudah ditemukannya. Untuk itu, dia segera memburu Viona dengan banyak pertanyaan tentang apa yang ingin dikatakannya tadi.
“Menurut kenalanku, obat yang kau berikan tadi fungsinya mirip obat penyeimbang dan obat penenang. Di dalamnya juga ada sejenis morfin”
“Meskipun dia masih memeriksanya lebih lanjut, tapi dia yakin dengan hal itu”
“Jika yang kau lihat kemarin itu memang benar, aku khawatir dengan keadaan Emma”
Viona memberikan penjelasan panjang lebar pada Vian yang menyimaknya dengan tenang. Tapi dia tak habis fikir bahwa kakaknya masih mengkhawatirkan anak itu meskipun sudah tahu tentang obat yang diberikannya tadi.