PEEK A BOO

PEEK A BOO
BERTEMU DENGANMU



Sedikit terlambat dari waktu yang disepakati, akhirnya Emma tiba di kantor polisi setelah sebelumnya terjebak banjir karena hujan deras yang turun sejak semalam. Masih gerimis, dia dengan cepat meraih payung hitam yang diterimanya dari pria paruh baya di pemakaman waktu itu. Belum sempat terpakai, payung itu masih tetap berada di kursi belakang mobilnya. Dengan mempercepat langkahnya, Emma memasuki kantor polisi. Melewati pintu dan berjalan di sepanjang lorong penuh petugas polisi yang lalu lalang. Tak tahu harus pergi kearah mana, dia langsung menuju bagian informasi di sana.


“Permisi, saya mencari Pak Hasan”


“... sepertinya dia sedang melakukan interogasi. Ada kepentingan apa?...”


“Kami sudah ada janji bertemu. Bisa tunjukkan jalannya?”


Melihat Emma berdiri di depan meja informasi, membuat petugas itu merasa heran dengan apa yang anak – anak lakukan di kantor polisi dan mencari seorang penyidik. Petugas informasi itu langsung menjawab pertanyaan Emma dengan ramah dan senyum yang melebar di wajahnya. Melihatnya terseyum, Emma juga membalas dengan wajah tersenyum penuh tutorialnya. Petugas informasi hanya menatapnya, dan merasa aneh dengan anak yang berdiri di depannya itu. ‘anak ini mencari penyidik Ha, apa mungkin ini tentang kasus pembunuhan kemarin?’ sesaat dia mencoba menebak alasannya datang ke kantor polisi. Tapi dengan segera dia bangkit dan mengantarnya ke ruang intrerogasi, takut seniornya itu marah jika apa yang dikatakannya benar. Emma dengan tenang mengikutinya dan memperhatikan suasana di sana karena ini adalah kali pertamanya dia datang ke kantor polisi. Tapi perhatiannya beralih ke pintu besi di depannya saat petugas mamberitahu bahwa orang yang dicarinya mungkin ada di balik pintu itu. Tanpa membuang waktu, petugas mengajaknya masuk setelah dia mengintip kedalam dan memastikan bahwa penyidik Hasan ada di dalam.


“Ah, dokter, kau sudah datang”


Emma mengangguk memberi salam saat salah satu petugas yang menemuinya kemarin menyapanya. Dia melangkah perlahan memasuki ruangan yang hanya muat beberapa orang saja dengan cermin dua arah berukuran cukup besar di salah satu dindingnya, yang membuat orang – orang disana dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di ruangan depan mereka. Mengetahui kedatangannya, seorang pria yang berdiri bersama kedua penyidik itu hanya melirik sesaat dan tak merespon lebih lanjut. Hanya tinggal mereka berempat setelah petugas informasi pergi. Untuk beberapa saat suasana sunyi tanpa ada yang bersuara. Mereka menyaksikan dengan tenang saat seorang petugas melakukan interogasi pada tiga orang di balik cermin. Respon mereka bertiga sangat beragam, dua diantara mereka berbicara penuh emosi, tak terima dengan tuduhan yang tak pernah mereka lakukan. Sedangkan seorang lagi diam dengan tenang. Dia terus menatap cermin di depannya seakan tahu ada seseorang disana.


“Yang mana orang yang kau lihat waktu itu?”


Dengan tetap menatap cermin dua arah didepanya, pria yang berdiri di samping Emma mulai bersuara. Dengan berbicara tanpa melihatnya, Emma sangat tahu bahwa pria itu tak perduli dengan kehadirannya. Melihat kedua petugas tak bereaksi dengan sikap arogan semacam itu, dia yakin bahwa pria itu mungkin ketua tim penyidik untuk kasus ini.


Mendengar pertanyaannya, Emma langsung mengalihkan pandangan pada beberapa orang yang kini tampak duduk tenang. Melihat mereka satu persatu, tapi matanya berhenti saat melihat seorang pria yang tersenyum kearahnya. Emma sangat ingat dengan senyum dan tatapan pria yang sudah dua kali ini dilihatnya itu. Tatapan lembut penuh kerinduan. Tanpa noda darah, wajahnya kini terlihat sangat jelas. Wajah manis dengan brewok dan kumis tipis membuatnya tak terlihat seperti seorang pembunuh. Bahkan orang yang tidak menyaksikan kejadian waktu itu pun tak akan pernah percaya bahwa dia yang melakukan semua itu.


“Baiklah... kita akan menyelidikinya lebih lanjut”


Ketua tim tersenyum sinis melihat Emma menunjuk salah satu dari orang – orang itu. Dan memerintahkan penyidik di dalam sana untuk mengeluarkan mereka yang tak ditunjuk.


“Siapa dia?”


“Ah, dia Pradigta. Nandana Pradigta. Dia cuma pegawai kantor biasa. Tapi sudah berhenti bulan lalu”


“Apa dia punya keluarga?”


“Tidak ada. menurut laporannya, dia yatim piatu”


Salah satu penyidik menjawab setiap pertanyaan Emma. Ketua tim terlihat tak suka jika Emma bertanya lebih dari itu dan mengisyaratkan para penyidik untuk pergi. Kini, hanya ada Emma dan ketua tim di ruangan itu. Emma menyadari ada cctv yang terpasang disana, dan memilih diam sebelum ketua berbicara. Tak ingin buat masalah. Selama beberapa menit, mereka hanya diam, dan menatap Pradigta yang masih duduk menatap kearah mereka.


“Setelah menginterogasinya, kami akan serahkan kasus pada kejaksaan. Dan kasus ini akan masuk ke persidangan. Aku akan menghubungimu saat surat pemberitahuan sidang sudah keluar”


Ketua tim tiba – tiba bersuara, memecahkan kesunyian diantara mereka. Setelah mengerti, Emma tak bertanya lebih jauh karena menurutnya ini sudah bagian mereka, para polisi. Dia pun pergi setelah mengucapkan selamat tinggal pada ketua dan melihat Pradigta yang masih duduk dengan wajah yang tak berubah.


Setelah Emma pergi, terlihat ketua tim menghampiri Pradigta. Dia memberikan secangkir kopi hangat dan handphone untuknya.


“Big Daddy menyuruhmu tetap disini sampai hari persidangan”


“Baiklah. Tapi bisa kau buatkan aku mie instan? Aku lapar”


Ketua tim yang baru saja duduk, terlihat sangat malas mengikuti permintaan Pradigta. Walaupun begitu, dia tetap harus melakukannya karena perintah big daddy untuk menjaganya.


Sementara itu, Emma yang mengendarai mobilnya kembali ke rumah sakit, terpaksa harus melewati rute lain meskipun sedikit lebih jauh. Untuk menghindari kepadatan lalu lintas akibat kecelakaan beruntun yang baru terjadi disana.


‘BRRAAKKK’!!


bangku supir. Tapi mereka terkejut melihat seorang wanita keluar dari mobil yang sudah ringsek itu. Meskipun langkahnya goyah dan dengan tubuh penuh luka, mereka tetap terkejut bahwa dia masih bisa berdiri dengan tabrakan sekeras tadi. Kepala Emma memang terasa lebih berat. Tapi dia masih bisa melihat jelas beberapa


pria keluar dari jeep yang menabraknya. Melihat mereka sama sekali tak panik dengan kecelakaan ini, dia menebak bahwa mereka sengaja melakukannya. Dengan susah payah Emma berusaha mempertahankan kesadarannya, tapi pandangannya mulai kabur. ‘sial, kurasa tulang selangka dan tulang rusukku patah’ batinnya merasakan sakit saat bergerak. Salah satu tangannya berpegang pada pintu mobilnya yang terbuka, mencoba menopang tubuhnya yang mulai terasa berat. Semakin buram,sayup – sayup dia melihat bayangan mobil kuning berhenti di belakang para pria itu. Dia berfikir ‘ah, apa dia teman mereka?’ tapi fikirannya berubah saat mendengar suara teriakan dan pukulan yang saling bersahut. Tak kuat lagi, tubuh Emma mulai lemas dan semuanya jadi semakin gelap. Tapi dia merasakan tangan keras seseorang menahan tubuhnya saat dia mulai jatuh.


“Yah.. yah.. dia pingsan kan...”


Emma mendengar suara lelaki didekatnya, sebelum hilang kesadaran sepenuhnya. Seperti menggendong princess, lelaki itu membawa Emma yang pingsan ke mobilnya dan melaju cepat menuju rumah sakit. Meninggalkan beberapa pria tadi tergeletak dijalan.


Lelaki itu membawanya ke rumah sakit tempat Emma bekerja. Semua petugas di IGD terkejut melihat Emma penuh luka dan tak sadarkan diri dalam gendongan seorang lelaki.


“Siapkan ruang operasi dan hubungi Profesor Rizwan!!”


Seorang dokter berteriak kepada perawat yang bertugas, setelah memeriksa keadaan Emma. Dengan tatapan curiga, dokter yang juga teman Emma sejak masa kuliah dulu menatap tajam lelaki yang menggendongnya tadi.


“Gue tadi cuma kebetulan lewat. Terus anak itu langsung gue bawa kesini”


Merasa dicurigai, lelaki itu memberikan penjelasan bohong padanya. Dia memperhatikan para petugas dengan sigap memasang beberapa alat ditubuh Emma dan membawanya ke ruang operasi.


Dia berbalik berniat pergi, tapi matanya langsung tertuju pada dokumen rekam medis yang dibawa perawat dengan nama yang tak asing baginya. ‘Emma Jackson’. Dia terkejut melihat namanya. Merasa ragu, dia bertanya pada perawat yang membawa dokumen tadi untuk memastikan sesuatu.


“Dokumen ini....”


“Oh, ini punya dokter Emma. Yang barusan kau antar kemari”


Meskipun tak boleh membicarakan masalah rekam medis seseorang pada orang lain, tapi perawat itu merasa setidaknya dia boleh tahu nama orang yang ditolongnya. Setelah memenuhi rasa penasarannya, lelaki itu pergi dengan perasaan yang penuh tanda tanya. Memang benar sudah dua hari dia mengikutinya sejak mendapat perintah untuk mengawasinya. Tapi perintah itu datang hanya dengan foto, tanpa penjelasan lainnya. Dia tidak masalah dengan hal ini. Tapi yang mengganggu fikirannya adalah nama Jackson yang tertera di belakang nama gadis itu. Pasalnya, dia tahu dengan sangat jelas bahwa Pradigta sangat ingin membunuh keluarga Jackson. ‘tapi kenapa dia membiarkan anak itu hidup? Dan kenapa juga aku harus mengawasinya?’ pikiran itu membuatnya semakin bingung. Dia merogoh handphone di saku celananya, dan menghubungi seseorang.


“Res, loe gila ya!? dia itu anak Albert Jackson! kenapa loe malah....”


“Stop. Kuharap kau tak bicara seperti itu tentangnya”


“Kalo gitu jelasin, biar gue bisa paham!”


“Nanti... aku akan jelaskan padamu nanti..”


Tahu dengan sifat Ares yang sedang berbicara dengannya, dia tidak bertanya lebih jauh. Karena orang itu akan sangat menyebalkan nantinya jika dia nekat memojokkannya.


“Hah...! terserah loe!. Gue cuma mau kasih tau kalo kecurigaan loe bener. Ada yang mengincarnya. Dan sekarang dia di rumah sakit, habis ditabrak. Sekarang gue mau pulang”


“.......”


“Hah... dia lagi dioperasi, tapi gue rasa dia bakal baik – baik saja. ....Ok, gue bakal lanjutin ini. Tapi kalo loe tetep nggak mau jelasin waktu kita ketemu nanti, jangan salahkan gue, kalo gue cari tahu dengan cara gue sendiri”


“...thanks...”


Sekali lagi dia mendesah, merasa frustasi dengan sikap kawannya itu. Tapi dia bukan type orang yang mengingkari ucapannya sendiri, maka dari itu dia hanya harus bertahan dan menunda niatnya untuk pulang, melanjutkan tugas pengawasan setidaknya sampai anak itu sadar.