
Meskipun Emma tahu bahwa proses pengadilan kemarin penuh permainan, dia berencana melepasnya begitu saja. Dia tak mau membuang waktunya untuk menyelidiki hal semacam itu. Karena menurutnya, orang tuanya yang sudah mati tak akan protes tentang apapun yang terjadi meskipun itu merugikan mereka.
“Tak ada penjelasan lain. Kurasa memang harus kucoba”
Dia selalu mengelaknya, tapi tak ada penjelasan lain yang bisa ditemukannya. Emma kemudian menghubungi pengacaranya dan membuat janji temu besok sore.
Sama seperti sebelumnya, sepanjang malam ini, lagi – lagi Emma tak bisa tidur. Dia terus terjaga, meskipun tak ada yang dilakukannya. Dia sudah mencoba beberapa cara yang mungkin bisa membuatnya tidur malam ini. Mulai dari membaca buku sampai menghitung domba sudah dicobanya, tapi tetap saja tak ada hasil. Sampai matahari mulai terbit, Emma tetap tak bisa memejamkan matanya. Dia sungguh sangat ingin tidur, tapi matanya menolak dan masih terbuka lebar.
“Bisa.... kau beri aku obat tidurnya?”
Emma menatap perawat yang datang saat subuh itu dengan tatapan memohon. Tapi perawat itu hanya diam, karena Profesor Rizwan yang bertanggung jawab tak meresepkan obat tidur untuknya.
“Kumohon... lakukan apapun... beri aku apapun.... aku sungguh ingin tidur...”
Emma mulai memohon. Setelah dua hari tanpa tidur, dia merasakan sakit dikepalanya. Perawat itu hanya bisa iba menatap Emma yang terlihat lemas. Wajahnya kusam, lingkaran matanya menghitam. Dia tak tega melihanya yang biasanya selalu tersenyum dan penuh energi, kini terlihat seperti orang depresi. Setelah menyelesaikan urusannya disana, perawat itu segera pergi tanpa menghiraukan Emma yang terus menatapnya pilu.
Suasana kembali sunyi, sampai tiba – tiba terdengar suara langkah kaki. Emma memalingkan wajahnya dengan malas, dan tak menduga profesornya akan berkunjung.
Melihat Rizwan mendekat, Emma mengatakan semua yang dialaminya. Dengan nada frustasi, Emma meminta Rizwan untuk mambuatnya tertidur. Tak masalah walau hanya sebentar, dia hanya ingin menutup matanya dan pergi tidur. Melihat keadaannya, Rizwan meneteskan air mata. Dia tak tega melihatnya seperti itu
“Kau sedih prof? Kenapa?”
Emma bertanya saat melihat air mata mengalir di pipi Rizwan saat dia menyuntikkan sesuatu melalui jarum infusnya. Rizwan menghapus air matanya, dan menyuruh Emma beristirahat, sebelum dia berbalik pergi
meninggalkan Emma.
“Ah.. akhirnya...”
masih belum bangun.
Pagi berganti siang dan siang sekarang sudah menjadi malam. Emma akhirnya terbangun dari tidurnya. Sadar bahwa dia sudah melewatkan janji temu dengan pengacaranya, dia berniat untuk mengunjunginya besok pagi.
Setelah tidur cukup lama, meskipun tak ada yang berubah dengan kondisinya tapi kini otaknya kembali bisa berfikir secara rasional.
Mengingat bagaimana tubuhnya saat ini, dia berniat untuk berhenti sementara dari profesi dokternya. Jika apa yang Rizwan katakan memang benar, Emma semakin yakin harus mengatasi penyebabnya terlebih dahulu sebelum kembali. Makadari itu, Emma memutuskan untuk pergi malam ini juga saat tak banyak orang yang lalu lalang di rumah sakit. Perlahan, Emma mengendap – endap menuju lantai dasar rumah sakit. Dengan hati – hati, dia menghindari beberapa perawat dan dokter jaga disana. Sesampainya di depan rumah sakit, dia bergegas memanggil taxi dan menaikinya. Tujuan pertama yang terpikir saat itu adalah rumah orang tuanya. Selama perjalanan, dia menyadari ada mobil yang mengikutinya sejak dia keluar dari rumah sakit. Tapi dia tak perduli selama orang itu tak mengganggunya.
Saat di rumah, Emma kembali memasuki laboratorium rahasia di ruang baca lantai dua. Dia mencari apapun yang mungkin bisa membantunya mencari tahu tentang apa yang terjadi padanya. Tapi Emma tetap tak menemukan apapun yang berguna meski dia sudah mencarinya sepanjang malam. Dia hanya menemukan tumpukan data tentang penelitian mereka. ‘Magenta’. Itu judul penelitian yang mereka lakukan. Hampir semua data yang ditemukannya hanya berupa kode – kode yang Emma sama sekali tak mengerti. Dan tanpa disadarinya, hari sudah kembali pagi dan Emma bergegas menemui pengacaranya.
Dengan mengendarai mobil orang tuanya, Emma berangkat menuju kantor pengacara. Dan mobil yang mengikutinya kemarin masih tetap mengekorinya bahkan sampai dia tiba di kantor pengacara.
“Maaf, pak Gio sedang tidak ditempat. Apa Anda sudah buat janji temu?”
Petugas resepsionis bertanya pada Emma saat dia meminta bertemu dengan pengacaranya. Tapi Emma tak menggubris pertanyaan itu dan memilih untuk kembali beberapa jam lagi. Tanpa tempat tujuan, Emma pergi ke cafe dekat kantor pengacaranya. Walaupun sedang tak ingin makan ataupun minum, Emma tetap memesan segelas susu kesukaanya. Kebiasaan yang sulit hilang.
Sambil mendengarkan musik dengan headset-nya, Emma terus membaca jurnal medis di handphonenya. Bahkan saat pelayan mengantarkan pesanannya, dia tetap tak bergeming. Tampilannya yang terlihat lusuh, membuat orang – orang disana menatapnya penuh tanda tanya. Tapi Emma tak ambil pusing dengan hal itu meskipun mereka mulai berbisik membicarakannya. Namun perhatiannya teralihkan saat tiba – tiba mendengar suara yang dikenalnya. Di meja dekat jendela yang tak jauh dari tempatnya, dia melihat hakim, penuntut umum, pengacara Pradigta, dan bahkan pengacaranya sendiri sedang duduk bersama menikmati kopi hangat. Mereka tertawa akrab, seperti tidak ada yang terjadi diantara mereka. ‘Mereka benar – benar sekongkol?’ kecurigaannya muncul saat melihat kedekatan mereka. Emma terus menatap, mencoba mendengar apa yang mereka bicarakan. Dan benar saja, kecurigaannya terbukti saat dia mendengar bahwa Pradigta berada di daerah Jakarta Selatan, walaupun tak terdengar jelas daerah pastinya. Tapi tak ada satupun dari mereka yang terkejut mendengar hal itu.
Merasa cukup dengan apa yang didengarnya, Emma memutuskan untuk pergi. Tapi langkahnya terhenti saat melihat mobil pengacaranya yang terparkir di depan cafe. Tak bisa menahan keinginannya, dia menggores body mobil itu dengan bolpoint yang ada di sakunya. Tak perduli dengan bunyi alarm yang menyala, dia tetap menggoresnya dan pergi saat melihat pengacaranya mulai berlari.
Di sisi lain, Satria tertawa keras setelah melihat seluruh kejadian itu dengan jelas. Dia tak habis fikir bahwa seorang Jackson akan berani melakukan hal semacam itu di tempat umum. Menyadari Emma sudah cukup jauh meninggalkan cafe, Satria berusaha menghentikan tawanya dan segera menyusul Emma.
Emma yang dikhianati, merasa bahwa tak ada orang yang bisa dipercaya dan memutuskan untuk melakukan semuanya sendiri. Untuk itu, dia memutuskan pindah ke Jakarta Selatan meskipun dia tak tahu dimana lokasi pastinya, dia tetap akan mencari Pradigta disana. Walaupun dia tak tahu apa tubuhnya akan kembali normal atau tidak saat sudah menemukannya, setidaknya ada usaha yang bisa dilakukannya untuk mengatasi hal itu. Dan langkah pertama untuk memulai semua itu adalah terbebas dari pengikutnya.