PEEK A BOO

PEEK A BOO
BERPISAH DENGANMU



Setelah membuatkan segelas susu hangat untuk Emma, Satria segera berjalan menuju kamar gadis itu. Namun lagkahnya langsung terhenti sesaat sebelum dia mengetuk pintu kamar itu karena tanpa sengaja dia mendengar suatu hal yang membuatnya terkejut. “Obat? Ruangan?” “Apa yang mereka bicarakan?” dalam hatinya, Satria terus bergumam setelah mendengar percakapan Emma dan si kembar. Dengan rasa penasaran, dia semakin mendekatkan telinganya pada pintu dan berusaha mendengar lebih jelas percakapan mereka. Namun belum sempat dia mendengar percakapan mereka lebih jauh, Satria berusaha menyadarkan dirinya tentang hal konyol yang akan dilakukannya.


Beberapa kali Satria berbalik dan berjalan pergi, berusaha untuk tak perduli pada mereka. Namun setelah beberapa langkah dia menjauh, dia langsung berbalik lagi dan kembali. Dia teringat wajah kesakitan gadis itu dan ingin tahu tentang apa yang terjadi. Dan saat ini, dia sedang berkelahi dengan dirinya sendiri yang tergoda untuk terus menguping pembicaraan mereka. Memang bukan hal tabu bagi Satria untuk mendengarkan pembicaaran orang lain. Namun tanpa alasan yang jelas, pikiran dan hatinya kini tak bisa bekerja dalam satu suara dan saling bertolak belakang. Pikirannya dengan jelas mengatakan untuk tak terlalu ikut campur dengan masalah Emma, tapi hatinya yang mengkhawatirkan dengan gadis itu terus mendorongnya untuk mencari tahu apa yang mereka bicarakan. Merasa lelah, Satria segera meletakkan segelas susu itu di depan kamar Emma dan memutuskan untuk cepat pergi dari sana sebelum dia berubah pikiran.


...


Vian dan Viona masih terus berada di kamar Emma, bahkan setelah lewat tengah malam pun mereka terus bersamanya. Setelah melihat Emma yang langsung tertidur seperti orang pingsan setelah meminum obat tidurnya, Vian terlihat mendekati Viona dengan langkah kecilnya. Dia tampak ragu dan berhati – hati.


“Kurasa ... kita tak punya banyak waktu”


“Apa ... .”


Viona menghentikan kalimatnya setelah melihat wajah Vian yang sudah duduk di sampingnya. Wajah kecewa penuh kesedihan. Viona yang tak pernah melihat wajah adiknya seperti itu bahkan saat mereka harus tinggal di panti asuhan setelah kematian orang tua mereka, merasa sedikit terkejut dan langsung menyadari apa yang adiknya itu ingin katakan. Sama seperti Vian, Viona juga ingin segera menemukan obat pengganti untuk perempuan yang sudah dianggapnya sebagai keluarga itu. Terlebih setelah melihat langsung bagaimana tersiksanya Emma, mereka tak ingin saat seperti itu terjadi lagi. Untuk sesaat, mereka hanya duduk berdampingan dalam diam sambil memikirkan jalan keluarnya.


“Kurasa kita harus berpisah sementara dengannya”


Dengan suara lirih, tiba – tiba Viona mengatakan hal yang membuat Vian sangat terkejut. Namun, belum sempat dia menolak ide saudarinya itu, Viona langsung menjelaskan bahwa mereka benar – benar harus mencari tahu tentang penyakit Emma, juga tentang obat yang selalu dipakainya. Dia merasa bahwa mereka sudah tak punya banyak waktu jika hanya bergantung kepada penelitian kenalannya itu.


“Apa yang bisa kita lakukan?”


Dengan suara pelan, Vian bertanya lebih jelas tentang rencana Viona. Meskipun dalam dirinya dia merasa sangat berat jika harus meninggalkan Emma, tapi dia tak ingin gadis itu melalui saat – saat yang menyakitkan itu lagi sehingga dengan sangat terpaksa, dia setuju dengan apapun rencana Viona selama itu bisa membuat Emma lebih baik.


Viona melihat wajah Vian yang langsung tampak lesu setelah mendengar usulnya. Namun dia menutup mata dan menjelaskan pada Vian jika mereka akan tinggal di rumah orang tua Emma. Dia juga mengatakan bahwa mereka bisa mencari tahu dari catatat dan jurnal yang ada di rumah itu karena dari apa yang Emma katakan bahwa orang tuanya adalah penggila kerja, dia yakin sedikit banyak mereka akan menemukan petunjuk tentang penyakit Emma.


“Sebaiknya kita pergi besok pagi”


“Setelah kita berpamitan pada semuanya”


Setelah beberapa saat tak ada respon dari Vian atas idenya, Viona cukup terkejut saat tiba – tiba mendengar Vian langsung menyetujui perkataannya dan ingin melakukannya secepat mungkin. Melihat bagaimana sikapnya, dia tahu bahwa adiknya itu sudah mulai dewasa dan perlahan sudah bisa membuka hatinya untuk orang lain.


Setelah membahas rencana mereka lebih jauh, Vian dan Viona langsung beranjak menuju pintu keluar. Mereka berniat kembali ke kamar mereka masing – masing, setidaknya untuk membereskan beberapa barang sebelum mereka pergi. Namun saat Vian membuka pintu kamar Emma, dia melihat segelas susu yang sudah dingin berada di depan kamar Emma dan segera membawanya karena dia tak ingin membuang waktu lagi.


Setelah sampai di kamarnya, Vian sadar bahwa dia masih membawa gelas susu tadi di tangannya. Meskipun dia tak tahu kenapa benda itu diletakkan di depan kamar Emma, namun dia tahu bahwa salah satu diantara Ares atau Satria-lah yang meletakkannya di sana. Awalnya, dia berniat membuang semua isinya ke kamar mandi. Namun dia sadar, bahwa setelah hari ini dia harus mempercayai dua orang itu. Percaya bahwa mereka akan bisa menemani Emma seperti saat dia dan Viona menemaninya.


“Seharusnya mereka berterimakasih aku mau meminum ini”


Dengan berat hati, Vian dengan cepat meminum habis isi gelas itu meskipun susu di dalamnya sudah terasa dingin dan sedikit hambar. Dia memaksa dirinya untuk melakukan itu sebagai bentuk pembuktian kepada dirinya bahwa dia sudah mempercayai mereka.


“Kami berdua akan pergi”


Tapi belum sempat Viona menemukan waktu yang tepat, Vian sudah terlebih dahulu mengatakannya setelah dia memakan suapan nasinya yang terakhir. “Dasar tak sabaran!” Viona hanya bisa bergumam dalam hati meskipun dia ingin memukul adiknya itu karena tak bisa membaca situasi dan terburu - buru, tapi dia harus bisa menahannya.


“Aku dan Viona ada pekerjaan lain. Jadi kami harus pergi”


Dengan  menatap Emma yang terus melihat ke arahnya, Vian melanjutkan kalimatnya. Dia terpaksa berbohong tentang pekerjaannya karena tak ingin Satria atau pun Ares tahu tentang apa yang akan mereka lakukan. Namun berbeda dari apa yang dibayangkan, ternyata Satria dan Ares cukup terkejut bahkan sampai beberapa kali menunjukkan ketidak setujuannya meskipun mereka melakukannya dengan sangat halus.


“Tidak buruk”


Melihat bagaimana sikap Ares dan Satria, Vian merasa puas karena ternyata mereka berdua tak seburuk apa yang dia pikirkan. Dan setelah mengatakan semua yang ingin dikatakannya, tanpa memberikan kesempatan Viona untuk bicara, Vian langsung mengajaknya untuk pergi mengambil beberapa barang mereka. Seketika suasana di ruang makan itu tiba – tiba berubah sunyi. Ares dan Satria sudah tak bernafsu untuk melanjutkan sarapan mereka. Namun berbeda dengan mereka, Emma masih terlihat duduk dengan tenang.


Tapi itu tak bertahan lama karena setelah beberapa saat dia terdiam, Emma segera bangkit dan menyusul Vian dan Viona yang masih belum kembali dari kamar mereka. “Benar begitu” Satria bergumam, sedikit tersenyum melihat sikap Emma yang berubah karena setidaknya tubuhnya masih memiliki hati.


“Apa maksud kalian?”


Emma berdiri di depan Vian dan Viona, menghadang mereka yang sudah mau pergi untuk tidak melangkah lebih jauh lagi. Melihat Emma berdiri di depannya, Vian merasa kakinya semakin berat untuk melangkah sampai tanpa sadar dia menggenggam lengan Viona terlalu keras yang membuat gadis itu meringis kesakitan. Mengerti perasaan adiknya, Viona mulai bicara.


Tanpa kehadiran Ares dan Satria, Vioan mengatakan rencana mereka yang sebenarnya untuk tinggal di rumah orang tua Emma dan mencari informasi tentang obat gadis itu dari semua buku dan catatan di sana.


“ ...Ok”


Mendengar penjelasan Viona, Emma sadar bahwa itu adalah langkah yang cukup efektif untuk dilakukan. Tapi meskipun begitu, entah kenapa dia merasa sedikit berat untuk membiarkan mereka pergi dan melakukan hal merepotkan itu untuknya.


“Cari buku Era Reformasi di ruang baca lantai dua”


“... nanti aku mampir”


Emma langsung memberitahu mereka cara untuk masuk ke ruang rahasianya. Setelah mengatakan semua itu, Emma tak beranjak dari tempatnya berdiridan melihat Vian dan Viona yang berjalan semakin jauh darinya. Namun dia sedikit tak menyangka saat melihat Vian yang tiba – tiba berheti dan berbalik menghampirinnya. Untuk beberapa saat, Vian hanya menatap Emma sebelum akhirnya dia memberanikan diri untuk memeluk gadis itu karena dia merasa sungguh tak adil jika harus berpisah seperti ini.


“Aku tak akan ucapkan selamat tinggal”


“Karena ini bukan perpisahan. Aku akan menemuimu lagi”


Vian berbisik pada Emma yang membuat Emma tanpa sadar tersenyum kecil saat mendengarnya dan Vian yang menyadari itupun langsung merasa senang, bahagia karena gadis itu sangat jarang bahkan hampir tidak pernah menunjukkan senyumnya pada siapapun. Setelah berpamitan, Vian segera melepaskan pelukanya dan dengan cepat pergi dari sana karena dia tak ingin perasaannya menjadi ragu lagi untuk pergi. Meskipun dia tak melihat Emma mengantar kepergiannya, tapi senyum gadis itu sudah cukup memberinya semangat untuk segera menyelesaikan misinya ini.