
Suasana rumah kini tak lagi sepi karena sudah hampir seminggu Viona dan Vian tingal bersama Emma. Meskipun jarang bertemu, setiap pagi mereka selalu duduk bersama di meja makan. Viona akan sibuk di dapur sejak dia bangun tidur. Sedangkan Vian dan Emma akan berolahraga di halaman mulai jam lima pagi. Kegiatan pagi seperti itu sudah menjadi rutinitas baru mereka sejak tinggal bersama.
“Kuda – kudamu salah. Tubuhmu kurang turun”
Vian yang sedang menggunakan treadmill memberikan sarannya saat dia melihat Emma membuat kesalahan dalam latihan. Tanpa mengatakan apapun, Emma langsung membenahi postur tubuhnya. Melihat sikap Emma yang bahkan tak berterimakasih padanya, Vian hanya bisa diam menahan rasa jengkelnya mengingat bantuan yang sudah Emma berikan padanya dan Viona.
“Seharusnya kau sudah bisa melatih bahumu”
Tiba – tiba Emma berbicara ditengah latihannya. Dia merasa waktu seminggu sudah cukup untuk bahunya beristirahat dan mulai melatih pergerakannya. Mendengar Emma yang tiba – tiba bersuara membuat Vian sedikit terkejut dan lebih jengkel dari sebelumnya. Karena menurutnya sangat tak sopan berbicara tanpa melihat lawan bicaranya. Vian mulai menunjukkan rasa jengkelnya pada Emma. Dia mengomel tanpa jeda seperti wanita tua dan berhenti sebelum Viona mendengarnya. Namun Emma tetap tak perduli dengan tingkahnya dan fokus melanjutkan latihan.
Setelah seminggu mereka tinggal bersama, Vian semakin yakin dengan instingnya yang mengatakan bahwa ada yang aneh dengan gadis itu. Awalnya dia tak begitu memperhatikannya, tapi hal ini jadi mengganggunya setiap kali mereka bertemu dan melihat wajah datar Emma. Karena yang dia tahu seorang wanita notabene adalah makhluk emosional yang selalu ekpresif dengan emosi sekecil apapun yang mereka rasakan. Jadi mustahil bagi mereka bisa terus menyembunyikan hal semacam itu sepanjang waktu. Karena pengalaman hidupnya, membuat Vian harus selalu waspada dengan siapapun yang ditemuinya. Dia tak mau membuat dirinya dan saudarinya berada dalam bahaya lagi akibat salah mengambil langkah untuk kedua kalinya.
Kini, di meja makan sudah tersedia tiga porsi nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya. Meskipun Emma tak pernah memakan masakannya, Viona tetap menyediakan tiga porsi makanan setiap pagi dan malam. Tak tahu alasannya, dia beranggapan bahwa semua masakannya tak sesuai dengan selera Emma dan membuatnya selalu mencoba menu baru setiap harinya. Melihat saudarinya yang selalu berusaha keras tanpa dihargai, membuat Vian merasa lebih jengkel pada Emma. Tapi dia harus menahannya karena Viona bisa mengomelinya sepanjang hari jika dia sampai memukul anak itu. Mencium aroma sedap dari arah dapur, Emma tahu bahwa sudah tiba waktunya sarapan dan menghentikan semua yang dikerjakannya. Dengan keringat yang masih basah, Emma dan Vian segera duduk di meja makan. Melihat mereka, Viona memberikan beberapa lembar tisu basah. Setidaknya itu bisa sedikit membuat mereka lebih segar.
Emma tiba – tiba merasakan sedikit sakit di kepalanya saat akan meraih segelas susu di depannya. Gerakan tangannya seketika berhenti dan dia mulai mengatur nafas, berusaha mengurangi rasa sakitnya.
“Terimakasih”
Emma segera pergi ke kamarnya setelah setelah menghabiskan susunya. Viona dan Vian yang belum sempat menyentuh makanan mereka hanya bisa diam, terkejut melihat sikap Emma.
Kepalanya terasa sangat sakit seperti ada palu besar yang memukulnya. Terasa berat. Dia menekan keras bagian belakang kepalanya yang terasa paling sakit, berharap itu bisa sedikit membantunya. ‘kali ini hanya tiga hari’ pikirnya. Memang sudah tiga hari ini kepalanya sedikit sakit tapi kali ini rasa sakitnya sudah tak tertahan. ‘kurasa aku memang harus mengambilnya ketempat itu hari ini’. Dengan langkah yang mulai tak seimbang, dia bergegas meraih kunci mobil yang ada di atas laci meja kamarnya. Berusaha berjalan lurus sambil menahan rasa sakit di kepalanya, Emma terus berjalan dan membuka pintu kamarnya
“Aku pergi”
“Aku mau temani dia”
Wajah Emma yang terlihat menahan sakit membuat Vian penasaran karena ini pertama kalinya dia melihat ekspresi Emma seperti itu. Dan ini membuatnya semakin bersemangat untuk menemukan apa yang anak aneh itu sembunyikan.
Melihat Emma yang sudah pergi dengan mobilnya, Vian segera berlari dan memanggil taxi. Dengan jarak yang dirasa cukup, dia meminta supir taxi untuk terus mengikuti mobil Emma. Semakin jauh, Vian semakin penasaran kemana gadis itu pergi dengan terburu – buru bahkan sampai tak sempat mengganti bajunya. Setelah sekitar tiga jam perjalanan, ternyata bukan untuk keliling daerah sekitar seperti yang biasa dia lakukan, tapi mobilnya terus melaju dan mengarah ke daerah Jakarta Pusat. Meskipun begitu, Vian tak mau kehilangan kesempatan dan terus mengikutinya.
Memasuki kompleks perumahan, laju mobilnya mulai melambat. Setelah melewati pos penjaga, mereka masih harus melewati dua tikungan lagi sebelum mereka berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar. Ternyata Emma kembali kerumahnya setelah enam bulan lamanya. Sesaat Vian mengamati rumah besar yang dimasuki Emma itu. ‘Rumah siapa itu? kenapa dia jauh – jauh kesini?’ Vian mulai memikirkan kejanggalan yang dia temukan. Setelah beberapa saat Emma masuk, dia segera menyusul mengikutinya dengan lekat. Diam - diam dia melihat anak itu tanpa ragu masuk ke sebuah kamar dilantai satu dekat ruang keluarga. Dari celah pintu kamar yang tak ditutup rapat itu dia bisa melihat semua yang Emma lakukan di dalam sana.
Dengan berpegangan pada tempat tidur disana, Emma terlihat perlahan membuka laci di samping tempat tidur dan mengambil kotak besi kecil didalamnya. Dia terdiam sesaat melihat isi di dalamnya.
“Hanya sisa tiga. Aku harus coba bertahan lebih lama sampai aku dapat obat penggantinya”
Emma berbicara sendiri saat melihat hanya ada tiga alat suntik berisi cairan merah dalam kotak besi yang dibukanya. Tak tahan lagi dengan sakit kepalanya yang semakin menjadi, dia segera mengambil satu alat suntik dan menyuntikkannya ke lengan kirinya. Seketika Emma terlihat lebih santai setelah semua cairan itu masuk ketubuhnya. Seakan tak ada lagi yang menyiksanya, wajahnya terlihat sangat tenang. Sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Emma menikmati waktunya saat sakit kepalanya perlahan hilang.
‘Apa dia pecandu?’ itu yang Vian pikirkan saat terkejut melihat apa yang terjadi. Dia melihat reaksi Emma sama seperti reaksi para pecandu yang sekali lagi bisamenyentuh barang haram semacam itu. Otaknya berfikir keras saat mengingat bahwa gadis itu sama sekali tak menunjukkan ciri – ciri seorang pecandu. Tapi hal itu tetap tak membuatnya melepas kecurigaan pada Emma.
Vian kembali ke alam sadarnya dan terkejut saat melihat Emma yang sudah berjalan menghampiri pintu. Tanpa pikir panjang, dia langsung membuka pintu ruangan di sebelah kamar yang Emma tempati tadi. Menahan nafasnya, Vian berusaha tak menimbulkan suara apapun sampai dia tak lagi mendengar langkah kaki seseorang. Setelah terdegar suara pintu ditutup, dia baru bisa bernafas lega dan menyadari ruangan yang dimasukinya sangat gelap.
Dengan hati – hati, dia melihat keseluruh ruangan dengan menggunakan cahaya handphonenya. Dia sadar bahwa ruangan itu tak begitu besar, mungkin hanya seukuran tiga kali empat meter. Disana, dia melihat beberapa patung dan lukisan. Dia juga melihat ada beberapa foto yang terpajang di dindingnya. Foto dengan gambar seorang pria dan wanita bersama gadis kecil di depan sebuah taman kanak – kanak. Juga ada beberapa foto yang sama tetapi dengan gadis kecil tadi yang terlihat sedikit lebih besar. Dan Vian terdiam menyadari semua itu foto keluarga Emma saat melihat gambar gadis itu bersama pria dan wanita yang sama seperti di beberapa foto lain yang juga terpajang disana.