
“Dari hasil pemeriksaan, saya akan jadwalkan Anda untuk biopsi. Ini untuk memeriksa lebih lanjut tentang benjolan yang Anda alami sekarang”
Emma sedang melakukan konsultasi dengan salah seorang pasien di ruangannya. Konsultasi berlangsung cukup singkat tanpa banyak pertanyaan. Pasien lebih banyak mendengarkan penjelasan Emma, pasrah dan menerima semua saran yang diberikan. Saat pasien hendak pergi, Profesor Rizwan tiba – tiba masuk.
“Apa hari ini kau ada jadwal operasi?”
Rizwan langsung bertanya tanpa basa – basi. Didengar dari cara bicaranya yang terburu – buru, Emma yakin ini hal yang cukup mendesak sampai profesor datang sendiri menemuinya. Dan Emma menjelaskan jika jadwal operasinya masih nanti siang. Mendengar hal itu, Rizwan sedikit lega. Pasalnya dia ingin meminta bantuan untuk melakukan operasi bersamanya dua jam lagi, menggantikan assistennya yang tiba – tiba sakit. Meskipun sedikit tak enak hati, karena dia tahu Emma sudah menggantikan jadwal beberapa seniornya sampai hari ini. Tapi tak ada pilihan lain. Disaat mendesak seperti ini, dia merasa hanya Emma yang bisa diandalkannya. Tak bisa menolak, Emma menerima permintaan profesor sekaligus pembimbingnya itu. Tapi dengan syarat untuk mengizinkannya pulang sebentar sebelum melaksanakan operasi. Rizwan langsung menyetujuinya, dan percaya bahwa anak itu akan kembali tepat waktu sebelum waktunya operasi. Setelah mengantongi izin profesornya, Emma segera pergi. Hari semakin siang, tapi hujan deras membuat langit tampak seperti langit sore. Gelap, dengan angin dingin yang cukup kencang. Dengan memakai celana hitam panjang dan kemeja biru mudanya, Emma berjalan menuju
gedung parkir.
Jarak rumah Emma tak terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar lima belas menit dari rumah sakit. Tapi jalanan yang macet akibat hujan yang semakin deras, membuat perjalanan lima menit lebih lama dari biasanya. Mobil orang tuanya terlihat sudah terparkir di dalam. Emma tahu bahwa mereka sudah pulang. Sambil membersihkan bajunya yang sedikit basah terkena hujan, Emma berdiri di samping mobil orang tuanya dan menyadari bahwa listrik rumahnya padam. Dia langsung menuju tempat sekring listrik dan menghidupkannya kembali dan masuk melalui pintu samping di dekat sekring listrik. Lampu yang kembali menyala, menerangi seluruh ruangan tempat Emma berdiri sekarang. Dia terkejut melihat jejak sepatu ukuran pria dewasa tercetak jelas di lantai. Jejak – jejak itu menuju langsung ke lantai dua.
Perlahan, Emma berjalan mengikuti jejak yang menuntunnya tepat di depan ruang baca orang tuanya. Pintu ruangan yang selalu tertutup itu kini terbuka lebar. Dengan cahaya lampu terang di dalamnya, memperlihatkan bukan hanya puluhan bahkan mungkin ratusan buku disana. Emma terkejut melihatnya, karena selama ini Albert dan Alexandra selalu melarangnya memasuki ruangan itu. Namun perhatiannya teralihkan saat melihat cairan merah yang mengalir di depan matanya. Cairan merah dengan bau anyir yang dikenalnya. Emma ragu untuk masuk dan memastikan apa yang dilihatnya itu.
“Sekarang kau bisa meminta pengampunan mereka”
Emma mendengar suara pria yang tak dikenalnya dari dalam sana. Dan hal ini membuatnya langsung bergerak, tanpa berfikir lebih lama lagi. Namun langkah Emma terhenti. Dia terdiam melihat apa yang ada di depannya. Dengan wajah datar, dia melihat seorang pria asing menusuk tubuh daddynya dengan pisau berlumuran darah ditangannya. Sesaat dia mengalihkan pandangannya dan melihat tubuh mommynya yang terbaring tak bergerak di sudut ruangan. Tubuhnya penuh darah yang masih mengalir dari luka robek di lehernya yang mengaga. Dengan keadaan seperti itu, dia tahu bahwa mommynya sudah tewas. Dan dia kembali menatap pria yang juga terdiam menatapnya itu. Wajah pria itu sangat terkejut. Dia tak menyangka akan bertemu Emma. Sadar dengan situasinya, pria itu bergegas menarik pisau dari tubuh Albert yang membuatnya mengerang kesakitan dan berusaha membersihkan noda darah di tubuhnya. Tapi hal itu sia – sia. Bau darahnya semakin menyengat. Menyadari hal itu, dia mulai panik. Dan berusaha menyembunyikan wajahnya, tak mau jika Emma melihatnya dalam keadaan seperti itu. Tapi gadis itu hanya menatapnya dengan diam, memperhatikan setiap geraknya.
Emma sangat tak suka dengan hal yang terjadi diluar kendalinya. Dia penganut gaya hidup disiplin, dengan setiap kegiatannya yang selalu terjadwal dan tertata rapi . Dia merasa tak nyaman dengan situasi yang bisa mengganggu jadwalnya itu. Dia selalu menghindari bahkan menghilangkan setiap variabel – variabel tak menentu.
“Ah... kurag ajar kau”
Emma menatapnya, sambil perlahan mendekat. Dia merasa terganggu dengan keadaan ini, karena hal ini bisa membuatnya terlambat kembali ke rumah sakit untuk janji operasi bersama profesornya. ‘kau mengumpat hanya karena orang seperti mereka?’ Pradigta tak suka mendengar perkataan Emma. Pradigta terdiam dan menatapnya dengan lekat. Wajahnya berkernyit, tampak kesal. Dia kembali menatap Albert dan menendang - nendang tubuhnya yang terbaring lemas di lantai, melampiaskan kekesalannya. Dia terus menendang luka di perut Albert yang masih berdarah yang membuatnya mengerang kesakitan. Emma yang mendekat langsung mendorong Pradigta menjauhi tubuh Albert yang semakin lemas. Melihat itu, Pradigta tampak semakin emosi. Dia menganggkat kepalan tangannya, berniat memukul Emma yang berdiri di depannya. Tapi tangannya tertahan. Melihat wajah Emma dari dekat, membuat hati kecilnya tak mau melukai anak itu. Dia memandang Emma dengan lekat, sebelum mendorongnya hingga jatuh kelantai dan berlari melarikan diri.
Dengan cepat pria itu lari. Emma tak perduli dan segera menghampiri Albert yang masih sadar meskipun dengan tubuh lemah dan penuh luka. Dia duduk didekatnya, menatap Albert dari dekat. Melihat kondisinya, Emma sadar bahwa Albert tak akan bertahan lama dan segera menghubungi polisi untuk meminta bantuan.
“Daddy, kondisimu sangat parah. Kau mungkin tak akan bertahan sampai polisi datang”
Albert tertawa mendengar perkataan Emma. Lukanya yang sakit semakin terasa sakit setiap kali dia tertawa. Dia sendiri juga sadar bahwa ini akan menjadi akhir hidupnya. Tapi Emma membuatnya terdengar sedikit menyeramkan.
“Kau kenapa? Apa ada yang kau rasakan?”
Tanya Albert melihat wajah Emma yang jadi sedikit aneh. Emma tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Dia hanya merasa ada yang berputar – putar di perutnya dan seperti ada batu besar yang tertahan di tenggorokannya. Albert tertawa lebih keras mendengarnya. Walaupun dengan darah yang mulai keluar dari mulutnya, Albert tetap tertawa. Sesekali, wajahnya mengernyit merasakan lukanya yang semakin sakit.
“Bi.. bisa kau se..sedikit.. bernyanyi un..untuk daddy?”
“Enggak!”
Emma dengan tegas menolak permintaan konyol daddynya. Karena dia merasa tak yakin dengan suaranya.
“Daddy... akan .. kasih hadiah....”
“Enggak... tapi aku bisa bercerita”
Suaranya terbata – bata, menahan rasa sakit yang semakin menjadi. Tapi Albert tersenyum akhirnya mereka mencapai kesepakatan terakhir. Emma mulai bercerita tentang salah seorang seniornya yang bercerai dengan suaminya, hanya tiga hari setelah mereka menikah. Dan tentang bagaimana wajah seniornya itu selalu tampak lebih tua setiap kali dia datang ke rumah sakit karena suara dengkuran suaminya setiap malam yang membuatnya tak bisa tidur.
“Magenta.. 81..1..41”
Emma menghentikan ceritanya mendengar Albert mengatakan sesuatu. Dia menatapnya, dan memanggilnya beberapa kali, bertanya maksud dari ucapannya tadi. Tapi Albert hanya diam, matanya terpejam dan tubuhnya sudah lemas tak bernyawa. Emma hanya duduk terdiam di tempatnya, menyadari kedua orang tuanya telah tiada.
Tepat setelah itu terdengar suara ketukan pintu yang mengejutkannya. Dia menduga bahwa polisi sudah tiba. Dan benar saja, sebuah mobil patroli dan dua orang polisi sudah berada di depan rumahnya. Dengan senyum yang selalu dibuatnya, dia mengantar mereka ke lantai dua, ke ruang baca tempat tubuh kedua orang tuanya berada. Kedua polisi itu sontak terkejut, melihat ruangan penuh darah dengan kondisi kedua mayat yang mengenaskan. Mereka menatap Emma yang masih tersenyum dengan tatapan heran. Tak habis pikir, bagaimana seorang gadis muda masih bisa tersenyum setelah melihat semua ini.