PEEK A BOO

PEEK A BOO
UNGKAPAN HATI



Sepanjang malam, Emma terus memikirkan tentang apa yang akan dilakukannya nanti saat menemui Pradigta. Tapi perkataan Vian semalam bahwa seseorang harus berani mencoba untuk tahu apa yang bisa dilakukannya, membuat Emma berubah pikiran dan berniat untuk segera menemui Pradigta.


Sudah hampir siang, tapi Vian dan Viona masih belum bangun dari tidurnya. Emma sangat memaklumi hal ini karena dia tahu mereka sudah bekerja semalaman dan membutuhkan waktu beristirahat untuk memulihkan tenaganya.


Setelah olahraga paginya, Emma tak tahu harus melakukan apa karena kini dia juga sudah berhenti dari kerja paruh waktunya. Sambil menunggu kedua orang itu bangun, dia melihat – lihat meja kerja Viona. Dan tempat itu terlihat sedikit berantakan dengan komputer yang dibiarkan tetap menyala dan beberapa lembar data yang berserakan memenuhi meja.


“Harry Johnson”


Tanpa sengaja, dia melihat nama yang tak lagi asing baginya di salah satu dokumen. Belum sempat membaca isinya, Viona yang baru bangun menyapanya dan itu membuat perhatiannya teralihkan. Melihat Emma memegang dokumen tentang Harry Johnson, Viona berjalan menghampiri gadis itu dan duduk di sebelahnya.


“Aku hanya berhasil mendapatkan sedikit informasi tentang orang itu”


“Selain yang sudah kukatakan waktu itu, ternyata dia dan orangtuamu pernah berteman semasa mereka kuliah dulu dan menjadi rekan peneliti dalam proyek yang sama di Amerika”


“Tapi setelah beberapa tahun mereka dipindahkan ke Indonesia, tiba – tiba mereka berbeda jalan tanpa ada alasan yang jelas. Dan setelah itu tak ada kabar tentangnya sampai berita pernikahannya yang menjadi ramai waktu itu”


“Dan setelahnya, tak ada kabar sama sekali”


Dengan nyawa yang masih belum terkumpul, Viona berusaha menjelaskan dengan singkat tentang dokumen yang Emma pegang. ‘Kemungkinan besar daddy dan mommy memang ada hubungannya dengan kematian Anatari dan suaminya’ dengan serius Emma mencerna semua perkataan Emma tentang Harry Johnson. Meskipun dia menduga semua kejadian itu berhubungan dengan orangtuanya, dia tetap tak ingin menunda niatnya untuk menemui Pradigta hari ini. Dan Emma pun menyampaikan niatnya itu pada Viona.


Viona yang mendengar kabar itu langsung sadar dari rasa kantuknya dan terlihat sangat bersemangat tentang hal ini. Setelah memastikan bahwa titik merah di komputernya masih ada, tanpa mendengar penjelasan Emma lebih lanjut dia segera pergi menghampiri adiknya yang masih tertidur pulas dan meninggalkan Emma yang masih duduk sendirian di depan komputer.


“Hei bangun!”


“Bangun!!”


Sudah Beberapa kali Viona membangunkan Vian bahkan sampai mengguncang - guncangkan tubuhnya tapi dia tetap tak bergeming.


“Emma mau menemui Pradigta!”


Tapi saat mendengar hal itu, mata Vian langsung terbuka lebar. Dan itu membuat Viona merasa adiknya bersikap aneh, dan itu mungkin karena dia memukulnya terlalu keras kemarin.


“Um ... mandilah dulu baru kita bicara”


Dengan sedikit canggung karena dia merasa bersalah setelah melihat tingkah Vian, Viona menyuruh Vian untuk segera mandi sebelum mereka membicarakan masalah Pradigta lebih jauh dengan Emma.


“Ekhem! Sekarang bagaimana rencananya?”


Mereka bertiga yang kini sudah rapi tengah duduk bersama mengelilingi komputer Viona yang masih tetap menyala. Dengan semangat, Viona memulai pembicaraan. Kali ini, dia merasa sangat bersemangat karena dia senang dengan keputusan Emma untuk segera menemui pria itu, tanpa tahu bahwa gadis itu masih tak tahu apa yang akan dilakukannya nanti.


“Seseorang bilang padaku, bahwa kita harus berani bertindak dulu untuk tahu apa yang akan kita lakukan”


Dengan kata lain, Emma sama sekali tak memiliki rencana. Dia menatap Vian yang tertunduk malu, saat menjawab pertanyaan Viona. Namun Viona yang mendengar itu semua, tahu dengan pasti dari mana Emma mendengar kata – kata itu tanpa harus menanyakannya. Karena dia sangat mengenal orang yang selalu bertindak terlebih dahulu baru berfikir. Yaitu adiknya, Vian.


Meskipun Viona senang karena kata – kata itu membuat Emma lebih cepat mengambil tindakan, tapi dia tetap mengingatkan gadis itu bahwa setidaknya mereka tetap membutuhkan satu atau dua rencana sebelum mengambil tindakan.


“Karena kita akan membalas ... .”


“Aku tahu maksudmu”


“Tapi aku menemuinya bukan untuk membalas perbuatannya”


“Aku hanya ingin memastikan sesuatu”


Viona terkejut mendengar perkataan Emma. Karena selama ini dia terus membantunya dan percaya bahwa gadis itu ingin mencari keadilan untuk orangtuanya. Tapi kini dia sangat marah dengan sikap Emma yang terkesan menganggap remeh kematian orangtuanya. Untuk orang yang tak pernah merasakan kasih sayang orangtua sepertinya, hal itu sungguh membuatnya marah dan ingin memukul gadis itu. Tapi Vian berhasil menahannya dan menariknya keluar untuk berbicara empat mata, dan lagi – lagi meninggalkan Emma yang masih duduk sendiri di tempatnya.


“Kenapa kau menahanku!”


“Kau tidak dengar ucapannya tadi?”


“Dia sama sekali tak perduli dengan kematian orangtuanya!”


Viona berteriak, marah pada Vian yang menahannya untuk tidak memukul Emma. Dia tidak percaya dan merasa sudah ditipu mentah – mentah oleh Emma.


“Kita tahu bagaimana rasanya hidup tanpa orangtua, tapi dia ... .”


Kata – katanya terhenti saat Viona tak lagi bisa menahan air matanya yang mulai jatuh. Melihat kakaknya menangis, Vian langsung memeluknya erat berusaha menenangkannya. Dan dipeluk adiknya seperti itu, membuat tangis Viona semakin menjadi.


“Menangislah. Selesaikan dulu marahmu baru kita bicara”


Berbicara dengan nada serius tapi penuh rasa sayang, Vian terus memeluk Viona hingga akhirnya dia mulai tenang dan berhenti menangis. Kini mereka sudah berdiri berjajar membelakangi tembok dan siap untuk bicara.


“Sekarang kau diam dan dengarkan aku”


Vian mulai berbicara dan Viona dengan tenang mendengarkan setiap ucapannya. Perlahan, Vian menjelaskan apa yang dia dan Emma bicarakan semalam tentang alasannya tak ingin langsung menemui Pradigta.


Setelah mendengar penjelasan Vian, Viona mulai bisa melihat garis besar permasalah ini dan memahami bahwa gadis itu hanya berusaha untuk bertahan hidup. Dia menyesali sikapnya kali ini yang tak terkendali. Dan meminta maaf pada Vian karena tak bisa menunjukkan sisi dirinya yang lebih baik.


“Mungkin kali ini, kau yang harus memanggilku kakak”


Viona langsung menolak dan masuk menemui Emma untuk mempersiapkan keberangkatan mereka saat Vian menggodanya. Meskipun Vian tak mau mengatakannya, tapi dia selalu menganggap Viona sebagai kakak terbaik baginya. Dan melihat kakaknya sampai emosi seperti itu, Vian tahu bahwa Viona benar – benar sudah menganggap Emma sebagai saudaranya. Meskipun terasa aneh, tapi dia senang dengan hal ini.


Karena dalam ingatan Vian, selama ini di hidupnya hanya ada Viona dan begitu pula sebaliknya tanpa seorangpun yang bisa menyusup diantara mereka. Dia dan Viona hanya memiliki satu sama lain untuk saling bergantung. Tapi kali ini, seorang gadis tiba – tiba muncul dan berdiri diantara mereka. Walaupun tanpa senyum seperti didongeng – dongeng, dia tetap menggandeng tangan mereka dan berjalan bersama.


... .


Di tempat lain, Ares; Satria dan sekretarisnya yang tengah menginap di salah satu hotel bintang lima yang sangat terkenal di Jakarta Selatan sedang mempersiapkan diri untuk rapat final mereka nanti.


“Tuan, kakek Anda mengingatkan untuk tidak lupa membereskan orang itu setelah rapat final nanti”


Mendengar itu, Ares menatap tajam kearah sekretarisnya. Dia yang merasa terkhianati, berusaha keras menahan emosinya dan keinginannya untuk membunuh pria itu dan mengatakan bahwa dia tak perlu mengingatkannya berulang kali.